
Ajeng yang masih berada di jalan menuju Rumah Sakit tempat dimana sang Anak dirawat , terus menerus untuk tetap mencoba menghubungi Caka . Bagaimana pun Embun juga butuh dirinya , butuh dia sebagai sosok Ayah yang selalu ada untuknya .
Dengan rasa kesal dan kecewa , dia meremas ponsel yang berada pada genggaman tangannya saat ketika tak ada jawaban sama sekali dari seberang sana . air mata Ajeng yang sudah mengembun dipelupuk matanya segera ia singkirkan dengan perlahan.
Ajeng menarik nafasnya pelan pelan seraya untuk menghilangkan sesak di dalam dadanya .
Hampir satu jam Ajeng melakukan perjalanan , dan saat ini dia sudah tiba di rumah sakit .
" Kamu pulang saja dulu ya ndi , tolong bilang sama si Mbok suruh siapkan keperluan saya dan juga Embun " . ucap Ajeng saat Andi tengah menutup pintu mobil .
" Baik Bu akan saya sampaikan kepada Mbok , kalo gitu saya pamit undur diri Bu . Semoga Non Embun segera sehat dan pulih kembali " ucapnya dengan tulus.
" terimakasih atas doanya " Ajeng tersenyum .
Setelah kepergian Andi sang supir , Ajeng mencoba menghubungi sang Mamah Mertua untuk menanyakan dikamar berapa Embun di rawat .
Tut .. tut . .
" Assalamualaikum Mah , Mah Ajeng udah di depan rumah sakit , Mamah sama Papah dimana ? ".
" Waalikumsalam sayang. Sudah sampai Nak ? Papah ada , tetapi lagi ada urusan sama dokter , Mamah lagi di ruang rawat Embun . VVIP nomer 04 ya sayang , kamu kesini aja ke lantai Lima . Nanti belok kiri langsung ketemu kamarnya Nak " . Ucap Tasya kepada Menantunya agar tidak tersesat .
" Oke Mah , terimakasih ya Mah , Ajeng keatas sekarang " jawabnya sambil mematikan panggilannya dengan Sang Mamah Mertua.
Dia melewati beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah sakit dan berjalan menuju lift . Saat pintu lift terbuka , dengan segera dia masuk kedalamnya . Dengan perasaan resah dan gelisah yang berada di dalam dirinya.
Ting. .
Pintu lift terbuka , lalu dia berlari menuju kamar yang tadi sudah di beritahukan oleh sang Mamah Mertua .
" Assalamualaikum Mah " ucapnya saat membuka pintu ruang rawat sang Anak , dengan nafas yang naik turun tak beraturan Ajeng mendekati sang Mertua sambil menciumi tangan dengan takzim.
" Waalaikumsalam sayang " Anastasya yang melihat itu segera mengambilkan segelas air minum di sampingnya .
__ADS_1
" Gimana kondisinya Mah ? Baik baik saja kan ? ".
" Beruntungnya kita semua bawa Embun dengan cepat kerumah sakit . maafkan Mamah dan Papah yang tidak bisa menjaga Embun dengan Baik Ajeng " ucap Sang Mamah Mertua dengan penuh nada menyesal .
" Ini semua musibah Mah . Kita kan gapernah tau. Lagi pula mungkin Papah juga engga sempet baca di kemasan Ice creamnya , apakah mengandung Kacang Almond atau tidak kan ? " sambil mengusap wajah Sang Anak yang terdapat banyak ruam merah.
" Bagaimana dengan Caka , apakah kamu sudah menghubunginya ? ".
" Sudah Mah , tetapi tak ada jawaban dari Mas Caka , kemungkinan Mas Caka sibuk " jawab Ajeng dengan seutas senyum dibibirnya , walaupun hatinya saat ini terasa nyeri .
" Biar Mamah yang telfon kalau begitu . Dasar anak tak tau di untung , Anak sedang sakit Dia malah sibuk ".
***
Caka yang masih berada dalam ruangan Arka tak bergeming sedikitpun. Ponsel yang menyala terus meneruspun tak ia hiraukan . Dia yang saat ini tengah memangku laptopnya sambil melihat beberapa pekerjaannya saat dia tak berada di kantor tadi .
Ara pun tak bisa berkutik jika Caka berada terus menerus menjaga Arka . dia harus selalu saja bersikap manis di depan Caka untuk tak membiarkan Caka tau , Bahwa selama ini dia sudah sangat kejam terhadap Arka.
" Ponselmu terus menerus berbunyi Caka , lihatlah dulu siapa tau itu dari wanita s****an itu " ucap Ara tiba tiba .
Caka langsung menaruh laptopnya dengan kasar dan menarik pergelangan tangan Ara dengan keras.
" Sekali lagi kudengar kau memanggil Ajeng dengan sebutan itu , tak akan ku ampuni " jawab Caka mendesis .
Ara yang merasakan ngilu dan sakit di pergelangan tangannya hanya bisa diam tak menjawab .
" Jangan mentang mentang kamu adalah cinta pertamaku , kamu berhak memanggil Ajeng dengan sebutan seperti itu Arasheline , dia adalah Istriku , Istri Sahku dimata Hukum dan Negara , ingat itu baik baik " .
Ara yang mulai geram mendengarnya , dengan segera menatap mata Caka . Terpancar bahwa sudah tak ada cinta untuk dirinya . Dia tau , Caka telah jatuh hati terhadap perempuan S***an itu. Ara tak menampik itu .
" wohoooo . . . Aku juga Istrimu Caka , jika kamu Lupa . Kalo bukan karena perjodohan yang Kakek Tua itu lakukan , mungkin sekarang hanya Aku yang akan menjadi Istrimu satu satunya Caka " .
" Hanya Istri Siri ingat itu Ara , Stop menyebut kakekku dengan seperti itu. Aku bersyukur karena telah menikah dengannya . Kamu dimana pada saat itu ? Kamu pergi Entah dimana meninggalkanku . Dan saat aku telah bersama dengan Ajeng , kamu menjebakku dengan memasukan minuman Laknat itu , dan berakhir dengan Aku menikahimu Ara " .
__ADS_1
Ara terkejut bukan main , Caka telah mengetahuinya .
" Kenapa diam Ara ? Kamu kaget aku mengetahui semuanya ? " Caka menaikan satu Alisnya .
" Ka .. Kamu " Ara diam mematung , " sialnya Caka mengetahuinya sekarang . Bagaimana bisa " .
Seringai terlihat dari raut wajah Caka saat ini .
" Aku melakukan itu semua untuk kamu Caka . Aku cinta sama kamu Caka . Makanya aku melakukan hal semacam itu " ucap Ara untuk membela dirinya .
" yang kamu lakukan itu salah Ara . Lihatlah sekarang , Embun , Ajeng dan Arka yang akan menjadi keegoisan sikap kamu " . Ucap Caka menggebu gebu .
Caka yang tak sengaja mendengarkan obrolan Ara dan seseorang diseberang sana mengenai Malam Panas itu bersama Ara , diam diam menguping pembicaraan Mereka .
Darahnya mendidih tatkala mendengar semua rahasia Ara selama ini . Dimana seharusnya dia harus menemani sang Istri yang tengah berjuang demi Hidup dan Mati .
Dia malah tiba tiba menikah dengan Ara . Yang notabennya adalah kekasihnya terdahulu. Dia jelas tak ingat pada malam itu , dan ternyata itu semua adalah Skenario Ara untuk menjebaknya.
Sial sial sial ....
Ibarat Nasi sudah menjadi bubur , mau bagaimana lagi ? Semuanya sudah terlanjur terjadi . Dia menyesali perbuatannya .
Ajeng yang sedari tadi menelfon dia terus meneruspun tak di angkatnya . Pikirannya tengah pusing dan kalut saat ini , saat mendengar bahwa Ara hanya menjebaknya .
Perasaannya pada Ara pun entah hilang kemana . Yang saat ini Caka pikirkan adalah untuk mendapatkan Hak Asuh Arka . bagaimanapun caranya harus dia yang mendapatkan . Dia tak ingin Arka di bawa pergi oleh Ara .
Caka melepas genggamannya pada tangan Ara .
" Jangan tinggalin Aku Caka . Maafkan Aku , hanya itu satu satunya cara agar Aku bisa mendapatkan mu . Ingat Caka , ada Arka bersama kita . Kamu lepas Mereka , lalu kita bisa hidup bahagia bersama Caka " dengan mengiba Ara berkata seperti itu .
" Sinting kamu Ara . Kamu rela mengorbankan kebahagiaan Embun dan juga Ajeng hanya untuk kepentingan kamu sendiri . Ingat Ara , sampai kapanpun Aku engga akan pernah menceraikan Ajeng. Hanya dia yang akan menjadi istri ku satu satunya ".
Ara yang mendengar itu menjadi murka . Tak boleh , itu tak boleh terjadi , Caka hanya akan menjadi miliknya . Tambang Emas nya tak boleh Lepas . Bagaimanapun caranya dia harus segera menyingkirkan Ajeng dari kehidupan Caka .
__ADS_1