
Ara memutar otaknya untuk berfikir saat Caka tiba tiba berbicara seperti tadi . Tidak akan , Ara tidak mau Caka pergi meninggalkannya . Tambang emasnya tak boleh lepas begitu saja . harus , dia harus segera menyingkirkan Ajeng , bagaimana pun caranya .
Saat ini mereka berdua tengah duduk di sofa dekat ranjang tidur Arka di Rumah Sakit . Tidak ada percakapan anatara mereka , setelah tadi Caka meluapkan emosinya kepada Ara .
Caka yang sibuk dengan laptopnya , sedangkan Ara sibuk dengan pikirannya . Pikiran licik yang terus bergema untuk menyingkirkan Ajeng beserta Embun . Bagaimana pun harus Arka yang menjadi pewaris tunggal untuk keluarga Adiguna . Iya harus Arka , tidak boleh orang lain .
Ara tidak tahu , bahwasannya Anak yang terlahir dari hasil di luar pernikahan tidak akan mendapatkan Harta warisan apapun bentukannya . Termasuk Arka , Arka tidak berhak mendapatkan kekayaan keluarga Adiguna . Sebab Arka terlahir dari hasil perbuatan z***h . begitupula apabila Ara melahirkan Anak Perempuan . Tidak bisa Dia memakai nama Binti keluarga Adiguna . Dan tidak bisa pula jika menikah di Walikan oleh Ayahnya , harus di Walikan dengan Wali Hakim , walaupun Ayahnya masih hidup . Sebab , Anak Perempuan yang terlahir dari hasil Per*****an tak bisa mendapatkan itu .
****
Caka menaruh laptopnya dengan pelan lalu mematikannya . Dia berdiri menuju ranjang tidur sang Anak . Melihat alat medis yang terpasang ditubuh mungil sang Anak membuat Caka mersakan sakit . Kalau saja bisa digantikan , biarlah Dia yang menggantikan sakitnya untuk Arka . Biarkan Arka hidup layaknya seperti Anak Anak pada umumnya , yang bisa bebas bermain tanpa henti . Caka menginginkan itu semua . Caka merasakan ponselnya bergetar dengan segera melihat siapa yang menghubunginya .
" Dave " , Caka menaikan satu alisnya . Sudah pasti Dave mendapatakan imformasi yang caka minta .
Caka segera beranjak dari ruangan menuju tempat yang aman . Ara yang melihat itu tak mau ambil pusing . Pikirnya mungkin urusan pekerjaan .
Dengan cepat dia sudah di taman yang letaknya lumayan jauh dari kamar Arka . Segera Caka mengambil ponsel yang berada di kantong celananya . Informasi yang Caka dapatkan tak sampai satu jam berada di tangannya . Semuanya Dave lakukan dengan cepat , kinerja Dave memang pantas di acungi jempol . Dia tak main main dalam menemukan informasi siapapun , Caka sendiri selalu puas akan hasilnya .
" Hadi Wicaksana dan Citra Melawati " ucap Caka saat melihat nama kedua orang tua Rafki yang di sebut Ara tadi . "
" Keluarga Wicaksana , perusahaan kecil yang tak ada bandingannya dengan Perusahaan Adiguna " seringaian terlihat jelas di raut wajah Caka . Setelah membaca semua pesan yang Dave berikan untuknya , Caka mulai berfikir bahwa memang benar apakah Ara jahat selama ini atau tidak . Tetapi dia tak bisa gegabah begitu saja , Caka harus mengumpulkan bukti buktina terlebih dahulu , agar Ara tidak bisa mengelak ketika di tanyai Caka nantinya .
Caka yang masih betah duduk diam di taman , kembali mengecek ponselnya . Nama " Jiwaku " terpampang nyata menghubunginya beberapa kali . hampir sepuluh kali Ajeng menghubunginya tetapi tak di angkat oleh Caka .
" Ada apa Ajeng tiba tiba menelfon dirinya hampir sepuluh kali seperti ini " tanpa pikir panjang Caka kembali menghubungi Ajeng , tetapi tak ada jawaban .
Saat hendak memasukan ponselnya kedalam saku celama , Caka hampir lupa ada satu buah pesan yang dia abaikan dari Ajeng . Dibacanya pesan itu dengan seksama . Jantungnya bergemuruh manakala membaca pesan bahwa Embun dirawat akibat alerginya yang kambuh .
Caka yang saat ini posisinya menemani Arka menjadi bingung , kedua Anaknya kompak masuk kerumah sakit dengan waktu yang tak berselang lama . Kembali Caka menghubungi Ajeng tetapi tak ada jawaban sama sekali . Lalu dengan segera Caka menghubungi Sang Mama untuk bertanya bagaimana keadaan Embun .
Tut... Tut ... Tut...
" Masih ingat kamu Caka punya Anak yang bernama Embun ? Hah ? Enggak habis pikir Mamah sama Kamu . Kamu lebih mementingkan Anak yang hasil diluar pernikahan daripada Anakmu yang Sah ini Caka ?! " dengan Emosi Anastasya berucap .
Caka terdiam mendengar ucapan Sang Mamahnya . " Mah , bisa jangan marah marah dulu , posisi Caka juga sulit . Arka juga butuh Caka saat ini Mah . Caka mana tau kalau Embun masuk rumah sakit juga . Caka menghubungi Mamah ingin menanyakan kondisi Embun bagaimana ? Apakah sudah membaik atau belum ?".
__ADS_1
" Enggak ada yang sulit , jika kamu bisa sedikit tegas Caka . Entahlah Mamah bingung sifat plin plan kamu ini dapat darimana . Mau apa kamu tanya tanya tentang kondisi Cucu kesayangan Mamah ? Urus saja sana Anak kesayanganmu Caka . Engga usah kamu perdulikan Ajeng dan Embun disini . Tanpa perhatian dari kamu pun masih ada Mamah dan Papah disini untuk mereka ". Ucap Tasya dengan tegas .
" Mah .. Ayolah , Caka menghubungi Ajeng dari tadi tetapi engga di angkat angkat Mah . Plis lah Mah , Caka mohon , kasih tau Caka kondisi Embun bagaimana ? Caka janji , Caka pasti akan kesana untuk menjenguk dan menemani Embun Mah ".
" Engga usah bikin janji jika kamu tidak bisa menepatinya Caka . Mendingan kamu urus saja sana Anak kesayanganmu dengan Wanita Ular itu " . Dengan segera Anastasya menutup panggilannya dengan Caka .
" Mah .. Mah " ucap Caka setengah teriak saat panggilannya terputus sepihak oleh Sang Mamah .
Caka menyugar rambutnya kebelakang . Pikirannya pusing tak karuan , mana dulu yang harus dia prioritaskan . Arka butuh dirinya , Embun juga .
****
Rumah Sakit Tempat Embun di rawat ....
" Siapa yang telfon Mah ? " ucap Ajeng saat ini .
Anastasya mendadak tegang saat mengetahui bahwa ada Ajeng berada dibelakangnya .
" Mas Caka ya Mah " ucap Ajeng tanpa basa basi . Sambil duduk bersebelahan dengan Sang Mertua .
" Iya sayang , Caka tadi menelfon Mamah . Menanyakan kondisi Embun , Caka juga bilang dari tadi dia mencoba menghubungi kamu tetapi engga di angkat sama kamu " sambil memegang tangan sang menantu Tasya berucap .
Mereka berdua saat ini duduk di kursi taman dekat ruangan Embun . Tangan Anastasya masih setia menggenggam jemari Ajeng . Memberikan kekuatan pada sang Menantu saat ini . Tasya tau , hati Ajeng tengah terluka , tidak ada Caka yang menemaninya . Bisa di lihat dari sorot mata Ajeng .
" Ajeng engga apa apa Mah . Mamah engga perlu khawatir . Mamah sama Papah mendingan pulang , istirahat dirumah . Biar Ajeng yang jaga Embun . Nanti agak maleman baru Mamah kesini lagi sama Papah . Kasian Papah Mah ". Jawab Ajeng dengan tenang .
Ajeng tak mau menunjukan kesedihannya dihadapan Sang Mertua saat ini . Walaupun hatinya sedih karena sedikit mendengar percakapan Sang Mamah Mertua dengan Suaminya tadi . Tetapi Ajeng berusah terlihat baik baik saja agar tak menimbulkan keributan lagi . Ajeng sangat bersyukur , karena memiliki Mertua yang sangat menyayanginya sebegitu dalam tanpa memandang latar belakang silsilah Dia berasal darimana .
" Engga usah sayang , Mamah biar nemenin kamu aja disini . Biar Papah saja yang pulang . Kalau kami berdua pulang , lantas kamu sama siapa ? ".
" Ajeng engga apa apa Mah . Percaya sama Ajeng , Mamah sama Papah sekarang pulang . Nanti malam balik lagi kesini ya . Biar Mamah sama Papah engga sakit " sambil berucap meyakinkan Sang Mamah Mertua .
Anastaya menghela nafasnya pelan pelan . Kalau sudah begini dia tak bisa menolak . Ajeng yang sangat keras kepala tak bisa dia tolak .
" Oke , Mamah sama Papah pulang sebentar ya . Mamah pastikan nanti malam Kami berdua pasti kembali kesini " ucap Anatsya dengan tegas .
__ADS_1
Dia segera menghubungi Sang Suami menanyakan keberadaannya dimana saat ini . Sebab tadi pamit untuk melunasi Administrasi .
Tut .... Tut .... Tut ....
" Halo Pah , Papah ada dimana ? sudah selesai ? ".
" Iya Mah , Papah sudah selesai . Mah bisa kita pulang ? Ada hal yang mendesak untuk Papah segera pulang ". Dengan nada tak enak Rafael berucap .
" Kenapa Pah ? Papah ada urusan penting ? Kalo gitu kita pulang sekarang saja Pah , tadi Ajeng juga menyuruh kita untuk pulang ".
" Papah tunggu di mobil bisa Mah . Soalnya Urgent banget , salam sama Ajeng maaf Papah engga pamit " .
" Oke oke , nanti Mamah bilang sama Ajeng " . Jawab Anastasya sambil mematikan sambungan telfonnya .
Ajeng yang masih berada disamping Sang Mertua menoleh .
" Ada apa Mah ? Ada hal penting ya ? ".
" Iya sayang . Maaf Mamah harus pulang menemani Papah , engga apa apa kan sayang , tadi Papah juga nitip pesan , Maaf engga bisa pamit sama Kamu Sayang ". Jawab Anastasya , pasalnya dia merasa tidak enak pada Menantunya .
" Engga apa apa Mah . Take care ya Mah . Jangan ngebut ngebut bilangin ke Papah . Kalau sudah sampe jangan lupa kabarin Ajeng Mah " sambil mencium tangan Sang Mamah Mertua dengan takdzim .
" Maaf Ajeng engga bisa anterin Mamah ke loby rumah sakit , Embun engga ada yang jaga ".
" Engga usah , kalau begitu Mamah pamit . Sampai terjadi apa apa cepat hubungi Mamah dan Papah " . Anastasya mencium pipi kanan Sang Mantu dengan sayang .
" Iya Mah " .
Dengab tergesa Anastasya pamit kepada Ajeng , menyusul Sang Suami .
Ajeng berbalik badan tatkala sudah tak melihat Sang Mertua . Pertahanan dirinya runtuh begitu saja . Air mata deras membanjiri pipinya . Dia tahan selagi ada Mertuanya . Ajeng tidak ingin menimbulkan keributan di dalam Keluarga Adiguna.
Dengan perasaan yang sesak di dada , Ajeng berjalan menuju kamar Embun . Tanpa Ajeng sadari , Ajeng menabrak seseorang yang berada di hadapannya .
" Maaa.. Maaf Mas , saya engga sengaja " Ucap Ajeng sambil mencoba menghapus sisa air matanya , lalu menatap wajah laki laki yang ditabrak untuk meminta maaf .
__ADS_1
" Kakk .. Kakk .. Kak Angga " ucap Ajeng yang merasa kaget .
Bersambung ....