
sambil menggenggam jemari sang Ayah , Embun berjalan penuh ceria . Pasalnya sang Ayah jarang sekali memiliki waktu luang seperti ini . Waktunya tersita hanya untuk bekerja , pikir Embun seperti itu .
" Ayah , tolong telfon Om Dave dong , embun takut bunga untuk Bunda layu " .
Caka segera merogoh ponselnya yg berada di saku jasnya , mencoba untuk menelfon dave yg entah berada dimana .
setelah dua kali panggilan tak terhubung , akhirnya panggilan yang ketiga terhubung dan terangkat juga oleh dave .
" Halo Dave , kamu dimana? bunga untuk Istri saya lupa Embun bawa , bunganya masih di dalam mobil , bisakah kamu kemari sebentar , saya sudah berada di samping mobil bersama Embun " seraya melihat sekeliling panti memastikan dave masih berada disini atau tidak .
" iya halo Pak Caka . Maaf engga kedengeran Bapak tadi menelfon . Baik Pak saya akan segera menuju mobil Pak " ucap Dave sambil mematikan sambungan panggilannya .
Dave berjalan terburu buru saat Caka menelfon bahwa dirinya sudah berada di samping mobilnya .
" Om Dave , bunga untuk Bunda ketinggalan didalem mobil . Boleh minta tolong cepetan bukain pintu mobilnya , takut layu bunganya " dengan nada gemasnya Embun berucap pada Dave .
Dave segera mengambil kunci mobil yg berada di saku celananya , dan membuka pintu mobil . Saat sudah terbuka dengan segera Dave mengambil bunga yang terletak di dalam jok mobil .
" ini Nona Embun bunganya " sambil memberikan bunga kesukaan sang Bundanya .
" terimakasih Om Dave , ayok yah kita masuk lagi kedalam , embun mau kasih bunganya buat Bunda " menarik tangan sang Ayah untuk menuju kedalem rumah .
" sebentar sayang , Ayah mau bicara sama Om Dave dulu " mengusap kepala sang anak .
" Dave , apa jadwal saya besok ? " melihat Dave yang sedang melihat catatannya .
" Bapak besok ada meeting evaluasi dengan para petingi perusahaan jam sembilan pagi Pak , dan jam dua siang Bapak lanjut meeting dengan perusahaan Samudera " sambil menutup catatannya .
" jam sembilan pagi , tolong kamu wakilkan saya , soalnya saya harus menemani anak saya karna disekolahannya sedang ada acara Dave " melihat Dave dengan tatapan tegasnya .
Dave terdiam memikirkan omongan sang bos , pasalnya ini adalah meeting evaluasi tahunan yg harus di hadiri olehnya .
" tapi Pak , ini meeting tahunan yg sangat penting , kalo bukan Bapak yg hadir , bisakah Tuan Besar bisa ikut hadir juga menggantikan Bapak? " .
Caka memijit pelipisnya pelan pelan , yg dikatakan Dave memanglah benar , meeting ini adalah penting . Karna evaluasi tahunan yg akan di hadiri para petinggi termasuk Sang Ayah .
__ADS_1
" Papah saya pasti hadir Dave mengenai meeting ini . Nanti saya akan telfon Papah saya untuk bicara dengannya kalo saya tidak bisa hadir , saya masuk kedalem dulu Dave " .
" baik Pak kalo gitu , nanti saya akan koordinasikan lagi dengan yg lainnya Pak " .
Caka berjalan bersama Embun yg sedang membawa bunga kesukaan sang istri . Caka menyadari selama ini dia tidak pernah perhatian pada Ajeng , yang hanya dia pikirkan adalah Ara dan Ara . Sampai sampai dia lupa bahwa istri sahnya Ajeng tidak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dan sikap lembutnya .
****
Setelah sampai di dalam kamar ajeng , embun segera memberikan bucket bunga yg berada di tangannya kepada sang bunda.
" ini bunga buat bunda , sehat sehat bunda , jangan sakit , kalo bunda sakit , embun jadi sedih " embun dengan segera memeluk ajeng .
" terimakasih anak bunda , kapan bunda sakit nak ? Ini hanya sebentar aja kok sakitnya , bunda udah gapapa . Dengerin bunda , besok eyang yg anter untuk nemenin embun disekolah ya nak sebelum ayah datang ke sekolah . "
Embun mengangguk dengan patuh apa yg di ucapkan sang bunda.
" kita pulang sekarang gimana sayang ? Sudah siang juga , Embun harus istirahat " tanya caka sambil memandang ajeng .
" boleh Mas , sebentar ya . Ibu Ajeng pamit untuk pulang engga apa apa ya bu , besok ada supir yg jemput Ibu sekalian bawa Embun ke sekolah , tolongin Ajeng untuk nemenin Embun selama kaki Ajeng belum baikan gapapa kan bu ? " ucap Ajeng kepada Hartati yg masih setia menemani sang anak dikamarnya .
" jangan hawatir bu , Caka yg akan pantau Ajeng selama berada dirumah , ibu gausah banyak pikiran takut darah tinggi ibu kumat bahaya bu " ucap caka kepada hartati .
" makasih nak Caka , telfon ibu kalau terjadi apa apa ya , ayok ibu bantu kamu berdiri keluar kamar " .
****
Setelah berada diluar , Caka segera membuka pintu mobil untuk Ajeng agar segera bisa duduk . Setelah memastikan Ajeng duduk dengan nyaman , Caka menutup pintu mobil pelan pelan , dan menghampiri Dave yg masih berada disana .
" saya pulang dulu Dave , jangan lupa besok kamu lihat pembahasan apa saja selama berlangsungnya rapat evaluasi tahunan bersama Papah , nanti kabari saya " menepuk pundak Dave dan berjalan menuju mobil .
" baik pak " jawab dave dengan patuh .
Embun yg sudah duduk manis di kursi penumpang melambaikan tangannya pada Hartati . Caka yg menyadari hal itu lantas tersenyum .
" dadah Eyang , Embun pulang dulu ya Eyang " teriaknya saat mobil sudah menyala ,
__ADS_1
Hartati tersenyum mengangguk mendengar suara Embun .
" kami pamit pulang Bu " ucap caka kepada hartati .
" hati hati nak Caka , jangan ngebut ngebut bawa mobilnya " sambil mengingatkan Caka sang menantu .
" iya bu , kita pamit pulang ," ucap Caka sekali lagi , lalu menjalankan mobilnya dan memberikan suara klakson sebagai tanda pamit .
Selama berkendara tak henti hentinya Embun bercerita dengan riang kepada Caka dan Ajeng . Pasalnya jarang sekali mereka untuk pulang bertiga seperti ini .
Mereka berkendara sekitar hampir empat puluh lima menit untuk sampai menuju rumahnya . Caka membunyikan klakson agar pagar rumahnya terbuka . Berhasil hanya dengan satu kali bunyi pagar sudah terbuka oleh satpam yg berada dirumah .
Caka segera mematikan mesin mobil lalu turun dan langsung mengitari mobilnya untuk membantu ajeng , caka dengan pelan memapah ajeng untuk masuk kedalam rumah , tak luoa pula dia berpesan pada embun agar segera mengganti pakaian lalu istirahat dikamar ,
" Embun sayang , Embun masuk kedalam duluan ya nak , minta tolong mbok nah untuk membantu Embun , karna sus Embun belum datang dari kampung kan sayang " ucap Caka yang sambil terus memapah Ajeng .
" iya Ayah , Embun masuk kedalam duluan Bunda Ayah " .
Caka mengangguk mendengar ucapan Embun .
" pelan pelan sayang jalannya , " sahut Caka kepada ajeng .
" iya Mas , terimakasih " .
Ajeng tersenyum saat mengatakannya .
Senyuman yang saat ini ditampilkan Ajeng selalu ingin Caka lihat terus . Caka menyadari bahwa Ajenglah istri yang tepat untuknya . Bagaimana tidak , Ajeng yang tahan akan sikap acuh dan cueknya selama ini tidak pernah mengeluh sedikitpun .
Berbeda dengan Arasheline , yang hanya di diami olehnya selama beberapa jam saja sudah mengomel kesana kemari .
Caka semakin menyadari , bahwa yang Caka rasakan kepada Ajeng saat ini adalah cinta . Cinta yg diam diam tumbuh di dalam hatinya . Walaupun pada awalnya caka menolak perjodohan pernikahan ini.
Akankan caka bertahan dengan Ajeng ? Atau justru melepaskan Arasheline , cinta pertamanya yg begitu melekat . Biarlah waktu yg menjawab semuanya pikir Caka begitu.
Bersambung . . .
__ADS_1