Aku Menyerah , MAS !!

Aku Menyerah , MAS !!
Bab 9


__ADS_3

sambil menggenggam jemari sang Ayah , Embun berjalan penuh ceria . Pasalnya sang Ayah jarang sekali memiliki waktu luang seperti ini . Waktunya tersita hanya untuk bekerja , pikir Embun seperti itu .


" Ayah , tolong telfon Om Dave dong , embun takut bunga untuk Bunda layu " .


Caka segera merogoh ponselnya yg berada di saku jasnya , mencoba untuk menelfon dave yg entah berada dimana .


setelah dua kali panggilan tak terhubung , akhirnya panggilan yang ketiga terhubung dan terangkat juga oleh dave .


" Halo Dave , kamu dimana? bunga untuk Istri saya lupa Embun bawa , bunganya masih di dalam mobil , bisakah kamu kemari sebentar , saya sudah berada di samping mobil bersama Embun " seraya melihat sekeliling panti memastikan dave masih berada disini atau tidak .


" iya halo Pak Caka . Maaf engga kedengeran Bapak tadi menelfon . Baik Pak saya akan segera menuju mobil Pak " ucap Dave sambil mematikan sambungan panggilannya .


Dave berjalan terburu buru saat Caka menelfon bahwa dirinya sudah berada di samping mobilnya .


" Om Dave , bunga untuk Bunda ketinggalan didalem mobil . Boleh minta tolong cepetan bukain pintu mobilnya , takut layu bunganya " dengan nada gemasnya Embun berucap pada Dave .


Dave segera mengambil kunci mobil yg berada di saku celananya , dan membuka pintu mobil . Saat sudah terbuka dengan segera Dave mengambil bunga yang terletak di dalam jok mobil .


" ini Nona Embun bunganya " sambil memberikan bunga kesukaan sang Bundanya .


" terimakasih Om Dave , ayok yah kita masuk lagi kedalam , embun mau kasih bunganya buat Bunda " menarik tangan sang Ayah untuk menuju kedalem rumah .


" sebentar sayang , Ayah mau bicara sama Om Dave dulu " mengusap kepala sang anak .


" Dave , apa jadwal saya besok ? " melihat Dave yang sedang melihat catatannya .


" Bapak besok ada meeting evaluasi dengan para petingi perusahaan jam sembilan pagi Pak , dan jam dua siang Bapak lanjut meeting dengan perusahaan Samudera " sambil menutup catatannya .


" jam sembilan pagi , tolong kamu wakilkan saya , soalnya saya harus menemani anak saya karna disekolahannya sedang ada acara Dave " melihat Dave dengan tatapan tegasnya .


Dave terdiam memikirkan omongan sang bos , pasalnya ini adalah meeting evaluasi tahunan yg harus di hadiri olehnya .


" tapi Pak , ini meeting tahunan yg sangat penting , kalo bukan Bapak yg hadir , bisakah Tuan Besar bisa ikut hadir juga menggantikan Bapak? " .


Caka memijit pelipisnya pelan pelan , yg dikatakan Dave memanglah benar , meeting ini adalah penting . Karna evaluasi tahunan yg akan di hadiri para petinggi termasuk Sang Ayah .

__ADS_1


" Papah saya pasti hadir Dave mengenai meeting ini . Nanti saya akan telfon Papah saya untuk bicara dengannya kalo saya tidak bisa hadir , saya masuk kedalem dulu Dave " .


" baik Pak kalo gitu , nanti saya akan koordinasikan lagi dengan yg lainnya Pak " .


Caka berjalan bersama Embun yg sedang membawa bunga kesukaan sang istri . Caka menyadari selama ini dia tidak pernah perhatian pada Ajeng , yang hanya dia pikirkan adalah Ara dan Ara . Sampai sampai dia lupa bahwa istri sahnya Ajeng tidak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dan sikap lembutnya .


****


Setelah sampai di dalam kamar ajeng , embun segera memberikan bucket bunga yg berada di tangannya kepada sang bunda.


" ini bunga buat bunda , sehat sehat bunda , jangan sakit , kalo bunda sakit , embun jadi sedih " embun dengan segera memeluk ajeng .


" terimakasih anak bunda , kapan bunda sakit nak ? Ini hanya sebentar aja kok sakitnya , bunda udah gapapa . Dengerin bunda , besok eyang yg anter untuk nemenin embun disekolah ya nak sebelum ayah datang ke sekolah . "


Embun mengangguk dengan patuh apa yg di ucapkan sang bunda.


" kita pulang sekarang gimana sayang ? Sudah siang juga , Embun harus istirahat " tanya caka sambil memandang ajeng .


" boleh Mas , sebentar ya . Ibu Ajeng pamit untuk pulang engga apa apa ya bu , besok ada supir yg jemput Ibu sekalian bawa Embun ke sekolah , tolongin Ajeng untuk nemenin Embun selama kaki Ajeng belum baikan gapapa kan bu ? " ucap Ajeng kepada Hartati yg masih setia menemani sang anak dikamarnya .


" jangan hawatir bu , Caka yg akan pantau Ajeng selama berada dirumah , ibu gausah banyak pikiran takut darah tinggi ibu kumat bahaya bu " ucap caka kepada hartati .


" makasih nak Caka , telfon ibu kalau terjadi apa apa ya , ayok ibu bantu kamu berdiri keluar kamar " .


****


Setelah berada diluar , Caka segera membuka pintu mobil untuk Ajeng agar segera bisa duduk . Setelah memastikan Ajeng duduk dengan nyaman , Caka menutup pintu mobil pelan pelan , dan menghampiri Dave yg masih berada disana .


" saya pulang dulu Dave , jangan lupa besok kamu lihat pembahasan apa saja selama berlangsungnya rapat evaluasi tahunan bersama Papah , nanti kabari saya " menepuk pundak Dave dan berjalan menuju mobil .


" baik pak " jawab dave dengan patuh .


Embun yg sudah duduk manis di kursi penumpang melambaikan tangannya pada Hartati . Caka yg menyadari hal itu lantas tersenyum .


" dadah Eyang , Embun pulang dulu ya Eyang " teriaknya saat mobil sudah menyala ,

__ADS_1


Hartati tersenyum mengangguk mendengar suara Embun .


" kami pamit pulang Bu " ucap caka kepada hartati .


" hati hati nak Caka , jangan ngebut ngebut bawa mobilnya " sambil mengingatkan Caka sang menantu .


" iya bu , kita pamit pulang ," ucap Caka sekali lagi , lalu menjalankan mobilnya dan memberikan suara klakson sebagai tanda pamit .


Selama berkendara tak henti hentinya Embun bercerita dengan riang kepada Caka dan Ajeng . Pasalnya jarang sekali mereka untuk pulang bertiga seperti ini .


Mereka berkendara sekitar hampir empat puluh lima menit untuk sampai menuju rumahnya . Caka membunyikan klakson agar pagar rumahnya terbuka . Berhasil hanya dengan satu kali bunyi pagar sudah terbuka oleh satpam yg berada dirumah .


Caka segera mematikan mesin mobil lalu turun dan langsung mengitari mobilnya untuk membantu ajeng , caka dengan pelan memapah ajeng untuk masuk kedalam rumah , tak luoa pula dia berpesan pada embun agar segera mengganti pakaian lalu istirahat dikamar ,


" Embun sayang , Embun masuk kedalam duluan ya nak , minta tolong mbok nah untuk membantu Embun , karna sus Embun belum datang dari kampung kan sayang " ucap Caka yang sambil terus memapah Ajeng .


" iya Ayah , Embun masuk kedalam duluan Bunda Ayah " .


Caka mengangguk mendengar ucapan Embun .


" pelan pelan sayang jalannya , " sahut Caka kepada ajeng .


" iya Mas , terimakasih " .


Ajeng tersenyum saat mengatakannya .


Senyuman yang saat ini ditampilkan Ajeng selalu ingin Caka lihat terus . Caka menyadari bahwa Ajenglah istri yang tepat untuknya . Bagaimana tidak , Ajeng yang tahan akan sikap acuh dan cueknya selama ini tidak pernah mengeluh sedikitpun .


Berbeda dengan Arasheline , yang hanya di diami olehnya selama beberapa jam saja sudah mengomel kesana kemari .


Caka semakin menyadari , bahwa yang Caka rasakan kepada Ajeng saat ini adalah cinta . Cinta yg diam diam tumbuh di dalam hatinya . Walaupun pada awalnya caka menolak perjodohan pernikahan ini.


Akankan caka bertahan dengan Ajeng ? Atau justru melepaskan Arasheline , cinta pertamanya yg begitu melekat . Biarlah waktu yg menjawab semuanya pikir Caka begitu.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2