
Wira yang sudah mengetahui hasilnya pagi ini pun , segera mungkin mengatur rencana agar Wanita ular itu tidak bisa berkutik .
" S***an , berani sekali Wanita ini bermain main dengan keluatga Adiguna . Dasar Caka bodoh , bisa bisanya kamu mengurusi Anak yang bukan darah dagingmu sendiri selama ini " Geram Wira sambil meremas hasil test yang berada di tangannya .
" Jhon , pantau keadaan Chandra , jangan biarkan dia kabur . Dan kamu harus pastikan bahwa Chandra harus selalu berada didalam rumah sakit tersebut . Saya tidak mau mendengar kalau kalau Chandra akan pergi lagi " Ucap Wira didalam sambungan telfonnya kepasa Jhon .
" Baik Tuan , saya akan suruh perketat lagi pantauan kepada Tuan Chandra melalui anak buah saya Tuan "
" Good , jangan sampai kehilangan jejaknya Jhon "
" Akan saya pastikan tidak akan terjadi Tuan "
" Oke , saya percayakan semuanya sama kamu Jhon "
" Apakah Tuan akan datang ke Indonesia setelah mengetahui hasilnya saat ini ? " Tanya Jhon dengan hati hati .
" Saya pasti akan kesana Jhon , tapi tidak sekarang . Kita harus punya strategi terlebih dahulu , untuk mengalahkan Wanita ular itu Jhon "
" Baik Tuan ". Sambil mengangguk , Jhon menyimak ucapan Majikannya . " Ada lagi yang ingin Tuan sampaikan ? "
" Sudah tidak ada Jhon , kalau begitu saya tutup telfonnya Jhon " Dengan cepat Wira mematikan panggilannya dengan Jhon pagi ini .
Wira kembali duduk dikursi kebesarannya sambil terus meremas kertas hasil test tersebut . Bagaimana bisa dirinya bisa tertipu sampai selama ini , Wira pun menggelengkan kepalanya tanda tak percaya akan pada sebuah fakta yang berada didepannya .
Cara Ara menjebak Caka sangatlah cerdik , sampai sampai tidak ada jejak sedikitpun yang Wira dapatkan untuk membuktikannya pada saat itu . Dengan kekuasaan dan uang yang Wira punya , ternyata tidak bisa mengungkapkan semuanya . Dan Wira pun mengapa baru menyadari akan semua yang ada pada diri Arka , bahwasannya semua yang melekat di diri Arka sangat familiar sekali .
****
Ara yang saat inu tengah berjalan mondar mandir didalam rumahnya pun semakin tidak karuan . Pasalnya , rencana yang dia susun dengan rapih dan matang tiba tiba saja hancur saat kedatangan Chandra .
Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini . Ara fikir dirinya telah tidur bersama dengan Caka dan menghabiskan malam panas yang begitu indah . Tetapi kenyatannya tidak seperti itu , dia malah di jebak oleh Chandra .
" Sial sial sial " sambil teriak dan melempari semua barang yang ada di hadapannya .
Bagaimana jika Caka sampai mengetahui semua tentang ini? Bisa bisa tamat riwayatnya . Sumber utama Ara bisa saja hilang saat Caka mengetahui kebenarannya .
__ADS_1
Tidak , tidak akan Ara biarkan untuk Caka mengetahui kebenarannya . Bagaimanapun Caka tidak boleh lepas dari dirinya .
Ara tidak bisa kehilangan sumber utama uangnya saat ini , walaupun Chandra saat ini mempunyai segalanya . Tetapi tetal saja tidak bisa menang dengan Caka , bagi Ara Caka di atas segalanya dari Chandra . Walaupun rupa mereka berdua sama sama tampan . Tetapi Ara lebih memilih Caka yang notabennya memiliki segalanya .
Dasar saja Chandra yang bodoh lebih memilih menjadi Model , daripada mengurus perusahaan keluarga milik Adiguna . Padahal jika Chandra mau mengelola perusahaan Adiguna , sudah pasti Ara akan sudi untuk menjadi milik Chandra , walaupun dia tidak cinta sama sekali dengan Chandra . Tetapi uang di atas segalanya untuk Ara .
Melihat kamar yang biasa di tempatinya acak acakan pun , Ara hanya bisa menghela nafasnya pelan pelan . Otaknya sudah buntu saat ini , rencana yang sudah matang berjalan tiba tiba saja hancur lebur di depan matanya . Ini semua gara gara Chandra , dasar sialan .
Ara yang masih mengumpati Chandra pun tidak henti hentinya berbicara kasar di dalam kamar .
Ya , dirinya meninggalkan Chandra juga Arka di rumah sakit berdua saja . Dia muak harus melihat Chandra untuk saat ini . Melihat Chandra , sama saja memunculkan kembali emosinya . Ara berharap , agar besok pagi saat dirinya pergi kerumah sakit , Chandra sudah tidak ada di sana . Kalaupun masih ada , Ara takut tiba tiba Caka datang kerumah sakit tersebut dan terkejut saat mengetahui bahwa kembarannya berada disana .
Tidak , Ara tidak ingin seperti itu . Dia harus memikirkan bagaimana cara untuk mengusir Chandra dari sana sebelum kedatangan Caka dirumah sakit tempat Arka di rawat .
Ara menyugar rambutnya kebelakamg sambil terus memijit keningnya yang terasa sedikit pusing . Bagaimana tidak pusing , menghadapi Chandra yang sangat luar biasa keras kepalanya .
Ara mulai tahu , sifat keras yang di miliki oleh Arka ternyata menurun dari Chandra . Ya , buah tidak akan jatub jauh dari pohonnya . Dan Ara baru menyadari , kebiasaan kebiasaan yang Arka tunjukan ternyata mirip dengan Chandra .
Betapa bodohnya dia selama ini .
Embun yang tengah Asyik mendengarkan cerita dongeng dari Oma dan Opanya pun mulai merasakan kantuk .
" Tidur ya sayang sudah malam , kalau enggak tidur nanti besok bangun kesiangan lagi . Kan besok Embun udah boleh pulang ke rumah " sambil berbaring miring di ranjang rumah sakit Anastasya pun berkata pada Embun
" Huum Oma " tak sampai sepuluh menit , Embun sudah berada di alam mimpinya .
Anastasya menaikan selimut yang dipakai Embun sampai sebatas dadanya . Dan berjalan menghampiri sang Suaminya yang masih setia duduk di sofa rumah sakit .
" Firasat Mama ko enggak enak ya Pa "
" Kenapa Ma? ada yang mengganjal di hati Mama "
" Apakah Kakek sudah mengetahui permasalahan rumah tangga mereka ya Pa "
" Kita doakan saja , semoga Kakek tidak mengetahui masalah ini Ma "
__ADS_1
" Semoga aja Pa , Mama hanya takut nanti jika Kakek tahu . Takut Kakek murka saat mengetahuinya"
" Percaya deh sama Papa , Ma ." sambil memegang tangan Istrinya yang berada di dekatnya . " Kakek tidak akan sejahat itu ."
" Ya semoga saja Kakek tidak lepas kendali ya Pa ."
" Tidak , Papa jamin . Kakek tidak akan meluapkan emosinya jika sampai mendengar Menantu kesayangannya di sakiti ."
" Sudah sudah , jangan membahas wanita ular itu dihadapan Papa , Ma ."
" Iya iya Pa , Mama berdoa semoga saja Caka cepat cepat melepas wanita itu ya Pa , dan kembali kepada Ajeng . Mama engga mau rasanya punya menantu kurang ajar seperti dia ."
" Iya semoga saja Caka tidak plin plan dalam memilih sesuatu ya Ma ."
Anastasya menganggukan kepalanya tanda mengerti mendengar ucapan sang suami .
" Mama isturahat saja sana dikamar sebelah . Papa masih banyak kerjaan yang mesti di urus dahulu , sebelum Caka masuk kembali ke perusahaan ."
" Jangan terlalu di forsir Pa tenaganya . Hubungi saja Dave atau Tria , orang kepercayaan Caka . Masa harus Papa juga yang turun tangan? Gunanya Papa bayar mereka untuk apa? "
Rafael terkekeh mendengarnya .
" Bukannya Papa tidak percaya pada mereka Ma . Tetapi ini adalah sebagian hasil kerjaan Papa tadi saat memegang Rapat bersama Dave ."
" Lantas untuk apa Papa bayar mereka mahal mahal jika Papa juga yang mengerjakan ."
" Udah ah , jangan membahas ini . Lebih baik Mama istirahat dikamar sebelah . Papa sudah siapkan semuanya ."
" Iya iya , Mama istirahat . Papa jangan malam malam melihat hasil kerjaannya . Ingat besok cucunya akan pulang kerumah yang di tempati Caka juga Ajeng disana ."
" Iya Ma , Papa tahu ko ."
Anastasya berjalan memasuki kamar yang terhubung dengan ruang rawat inap Embun . Iya , Rafael sengaja memilih kamar yang bisa untuk istirahat keluarganya juga .
Rafael ingin memberikan kesan nyaman pada Embun juga keluarganya saat berada dirumah sakit . Dia tidak ingin memilih sembarang kamar untuk Cucu kesayangannya .
__ADS_1
Bersambung . . .