
Caka yang pagi ini sudah rapih dalam balutan jasnya pun memanggil Ajeng yang masih setia memilih baju di dalam walk in closet . " Ajeng , Mas berangkat dulu ke Bandung . Hanya beberapa hari untuk menyelesaikan semuanya ." ucap Caka kepada Ajeng yang tengah mendekat kepadanya .
Ajeng menganggukan kepalanya . " Hati-hati dijalan Mas ."
"Sampaikan salam Mas untuk Embun . Maaf jika hari ini Mas tidak bisa menemaninya keluar dari Rumah Sakit ." seraya merapikan anak rambut Ajeng .
"Iya Mas ." jawab Ajeng singkat .
"Ya sudah kita turun ke bawah untuk sarapan . Kamu sudah menghubungi Mama dan berbicara kalau Mas enggak bisa datang ke Rumah Sakit hari ini?." Tanya Caka yang saat ini tengah menuruni anak tangga bersamaan dengan Ajeng .
"Belum Mas , nanti saja bicaranya . Ajeng langsung berangkat saja ke Rumah Sakit."
"Jangan bawa kendaraan sendiri . Mas suruh Andi yang mengantarmu ke sana."
Mereka saat ini tengah duduk berdua di meja makan . Ajeng yang telaten mengambilkan lauk untuk Caka pun mulai menyendokannya ke piring Caka .
"Terimakasih." Jawab Caka kepada Ajeng .
Ajeng hanya menganggukan kepalanya sambil memasukan kembali lauknya kedalam piringnya sendiri .
Setelah mereka sarapan dengan tenang , Caka beranjak untuk masuk kedalam ruangan kerjanya sekedar menghubungi Dave . Dia tidak ingin Ajeng mendengarkan obrolan apa yang akan Caka obrolkan dengan Dave .
Ajeng yang melihat punggung suaminya pergi hanya diam saja . Satu notifikasi berhasil masuk ke dalam ponselnya saat Caka sudah tidak ada .
"Kak Angga?." Gumam Ajeng .
Dibacanya dengan seksama isin pesan dari Angga . Intinya Angga sudah membicarakan masalah perceraian dirinya dengan Pak Leon , dan Pak Leon meminta bertemu dengannya hari ini jika Ajeng tidak sibuk .
Ajeng menghela nafasnya dengan kasar . Ajeng ingin tahu terlebih dahulu mengenai Arka . Apakah Arka memang anak Kak Chandra atau Caka . Maka dari itu , Ajeng berinisiatif mengatakan ingin bertemu dengan Arka . Mungkin dirinya bisa membedakan itu semua ketika melihat secara langsung .
Iya , Dan Caka pun setuju untuk membawa Arka .
Ajeng tersentak kaget saat tangannya di genggam . Ajeng fikir Caka akan lama berada di dalam ruangannya . Dengan gerakan cepat Ajeng menyembunyikan ponselnya . Dia tahu , bagaimana cemburunya Caka saat tahu Angga menghubunginya .
Ajeng tidak ingin mencari masalah pagi ini dengan Caka . Biarkan Caka tidak mengetahui rencananya saat ini , yang akan diam diam menemui Angga untuk membicarakan perihal surat suratnya pada Pak Leon .
"Kenapa tegang? Kamu menyembunyikan sesuatu dari Mas?." Tanya Caka kepada Ajeng .
"Em.. Enggak kok Mas , Ajeng cuma kaget saja . Ajeng fikir Mas masih diruangan kerja." Dusta Ajeng kepada Caka . "Mau berangkat sekarang Mas?." Kembali Ajeng bertanya .
"Iya , Mas mau berangkat sekarang Kamu hati hati , Mas usahakan urusan dengan Ara secepatnya akan Mas selesaikan . Tolong percaya sama Mas." Ucap Caka kepada Ajeng .
"Aku dulu pernah sangat percaya sama Kamu , Mas . Sampai akhirnya kepercayaan yang aku punya Kamu sia siakan begitu saja."
Caka terdiam saat mendengar ucapan Ajeng . Ucapan Ajeng langsung menghujam jantungnya .
"Ya sudah , Mas berangkat kalau begitu . Kabari Mas jika kamu sudah sampai Rumah Sakit."
"Iya Mas." Jawab Ajeng singkat .
__ADS_1
Caka dan Ajeng berjalan menuju teras rumah . Mobil yang sudah di panaskan dan di siapkan Andi terparkir rapih di depan rumah . Ajeng mengernyit saat melihat mobil Caka , tdak biasanya Caka memakai mobil ini . Caka yang mengetahui tatapan aneh istrinya pun , mengenggam jemarinya .
"Mas butuh mobil yang nyaman . Makanya Mas pakai mobil yang ini." Ucap Caka kepada Ajeng .
Pasalnya memang agak nyaman untuk dirinya memakai mobil Hyundai Santa Fe saat berpergian , maka tidak salah jika Ajeng bertanya dalam hati .
"Tidak bisakah memakai yang lain Mas? Di garasi bukankah ada banyak? Aku engga mau jika Wanita itu masuk kedalam mobil keluarga kita." Pikir Ajeng , Caka akan tetap memakai Mercedes Benz miliknya .
"Mas janji , Ara tidak akan masuk kedalam mobil ini Sayang . Mas juga tahu , ini adalah mobil keluarga kecil kita."
Ajeng mengehela nafasnya dengan pasrah .
"Mas berangkat ya. "
"Iya."
Dengan segera Caka berjalan menuju mobilnya untuk segera berangkat ke Bandung .
****
Angga yang sudah rapih dalam balutan Jas yang dia pakai pun tak henti hentinya melihat ponsel yang berada dalam genggamanntya .
"Itu ponsel tidak akan beubah menjadi yang lain Angga jika kamu sedari tadi melihatnya terus menerus!." Tegur Aksha yang berada di kasur rumah sakit .
"Diam bisa tidak Kak?."
"Lagian untuk apa kamu melihat ponsel sedari tadi."
"Memangnya Ajeng akan membalas pesanmu? Dia pasti pagi ini mengurusi Suaminya ya Angga."
"Shut up Kak , kamu membuat Moodku pagi ini berantakan."
Akhsa tertawa melihat wajah Angga yang terlihat lucu saat ini baginya .
"Mungkin Ajeng sibuk Angga , nanti juga pasti akan menghubungi kamu lagi jika memang sudah tidak sibuk . By The Way Embun kapan keluar dari rumah sakit?."
"Kemungkinan sih harusnya hari ini ya kak kalau Angga enggak salah dengar waktu itu."
"Enggak ada niat mau kesana? Jenguk dong calon anak lo , siapa tau jadi cerai kan?."
"Sialan lo kak , nanti aja gue kesananya."
"Tolong bantu gue , gue mau ke kamar mandi . Udah taro tuh ponsel . Engga akan juga dia berubah jadi Ajeng kan?."
"Kampret memang lo ini . Ke kamar mandi aja sendiri , males gur bantuin lo."
"Gue bilang Mami ya , liatin aja lo."
"Dasar tukang ngadu." Dengan gerakan cepat Angga menolong Aksha yang meminta bantuan dirinya untuk ke kamar mandi .
__ADS_1
Bagaimanapun ucapan Kakanya yang menurut dia agak Absurd tapi tetap saja dirinya sangat menyangi Akhsa . Walaupun terkadang Aksha membuat dia jengkel setengah mati . Seperti pagi ini yang ucapannya sedikit melantur . Apa kata dia? Calon Anak? .
Angga menggelengkan kepalanya jika mengingat ucapan Aksha tadi . Bagaimana bisa Kakaknya berbicara tentang calon Anak sepagi ini .
Aksha yang sudah selesai dari kamar mandi pun lantas tersenyum saat melihat Angga yang terlihat salting .
"Ngapain lo senyum senyum sendiri di sana? Kesambet baru tau rasa lo! Sini buruan bantuin gue."
"Kampret lo Kak , nyumpahin adeknya engga bener."
"Lagian , gue panggilin dari dalem kamar mandi lo engga nyahut nyahut . Apa namanya kalau bukan lagi kesambet?."
" Siapa yang ke sambet?." Tanya Isabella yang sudah ada di depan pintu ruangan Aksha
"Mami." Jawab Mereka secara kompak saat mendengar suara Isabella .
"Iya ini Mami , siapa yang ke sambet Aksha?."
"Angga Mi , pagi pagi udah kaya orang ke sambet senyum senyum sendiri enggak jelas." Jawab Aksha , dan di hadiahi pukulan oleh Maminya sendiri.
"Mi , ko Aksha di pukul." Protes Aksha .
"Mulut engga bisa banget di jaga . Masa Adik sendiri di sumpahin ke sambet , Kamu ini Aksha." Ucap Isabella .
"Maaf Mi , namanya juga bercanda."
"Bercanda Kamu enggak lucu sama sekali." Isabella kembali berucap kepada Aksha .
"Iya Mi , Maaf." Ucap Aksha kepada Maminya .
"Bagaimana dengan proses perceraian Ajeng , Angga?." Tanya Isabella dengan cepat .
"Angga baru saja mengirimi pesan ke Ajeng , tetapi belum ada balasan Mi."
"Mami berharapnya mereka berdua segera pisah saja . Mami enggak tega melihat Ajeng."
"Kita berdoa yang terbaik saja untuk Ajeng saat ini Mi . Mungkin pilihan ini agak sulit untuknya . Karena posisi Ajeng yang saat ini sudah ada Embun , yang jadi pertimbangan."
"Kalian ini pagi pagi sudah membicarakan masalah perceraian orang saja." Suara bariton terdengar didalam ruangan. Aksha .
"Papi , Papi sudah selesai urusannya?."
"Sudah Mi . Mi come on , biarkan Ajeng mengurus rumah tangganya sendiri , benar kata Angga . Kita hanya bisa berdoa untuk Ajeng . Jika memang keluarga Adiguna melukai Ajeng kembali , barulah saat itu kita bertindak."
"Ish Papi , Mami males bicara sama Papi . Papi enggak bakal ngerti . Sudah sanah pergi urus perusahaan , ngapai Papi masih di sini?."
"Mami ngusir Papi? Iya?."
"Iya , Mami ngusir Papi , sudah sana." Sambil berusah mendorong badan sang Suami sampi pintu keluar .
__ADS_1
Sulhan yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam saja . Dia tidak marah ataupun tersinggung kepada Istrinya . Dia tahu bagaimana Isabella sangat menyayangi Ajeng . Maka saat mendengar fakta bahwa Ajeng disakiti , dialah orang pertama yang akan seger bertindak untuk melindungi Ajeng .
Bersambung . . .