
"Ibu sudah tahu jika Kamu sudah mengguggat Caka, Jeng?." Tanya Angga kepada Ajeng.
Ajeng menggelengkan kepalanya. "Ibu belum mengetahuinya Kak. Ajeng tidak ingin membuat darah tinggi Ibu kumat. Apalagi Satria, jika dia mengetahui ini mungkin bisa marah. Ajeng tidak ingin terjadi apa-apa dengan Mas Caka, Kak."
"Kamu masih memikirkan perasaan Caka? Dia sudah menyakiti Kamu, Ajeng." Ucap Angga frustasi. Bisa-bisanya Ajeng masih membela Caka yang sudah kelewat brengsek. Tidak habis fikir dengan cara Ajeng berfikir.
"Ajeng tidak ingin Embun terluka apabila semua orang menghakimi Caka. Ajeng hanya ingin semuanya berjalan biasa saja Kak." Ucap Ajeng sambil menarik nafasnya. "Ajeng tahu Kaka marah dan kecewa sama Ajeng, tapi Ajeng mohon dengan sangat kepada Kaka untuk tidak memberitahukan permasalahan ini kepada Satria maupun Ibu. Kaka tahu kan Satria bagaimana? Dia bisa nekat untuk berbuat apa saja kepada Mas Caka."
Angga terdiam, iya Satria memang sangat sayang kepada Ajeng sebagai Kakak. Sebagai pelindungnya dan sebagai panutannya. Maka apabila ada yang berani menyakiti Ajeng, Satria lah yang menjadi garda depan untuk Ajeng. Tidak segan segan pula Satria akan adu jotos jika ada orang-orang yang membicarakan atau menyakiti Ajeng.
"Baiklah jika itu memang ke inginan Kamu, Kakak bisa apa?."
"Terimakasih ya Kak. Aku pastikan akan secepat mungkn ceritakan mengenai gugatan perceraian aku kepada Ibu. Tapi tidak sekarang." Jawab Ajeng dengan senyuman.
"Sama-sama, jika Kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk kembali minta tolong kepada Kaka ya."
Ajeng menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Ajeng tahu pria di depannya ini sudah sangat banyak membantunya. Dan Ajeng pun tahu bagaimana perasaan Angga kepadanya. Ajeng bukanlah anak kemarin sore yang tidak tahu akan semua perhatian dan kasih sayang yang Angg tunjukan padanya dan juga Embun. Ajeng bisa merasakan itu. Tetapi, Ajeng tidak ingin memikirkan itu terlebih dahulu. Dia hanya ingin segera berpisah dengan Caka secepat mungki.
Walaupun Kakek Wira pastinya tidak akan menyetujui jika dirinya dan Caka berpisah. Tapi pada kenyataannnya memang Ajeng sudah lelah akan semua ini.
"Bagaimana dengan Kakek Wira? Bagaimana jika Kakek menentang peceraian Kamu dengan cucu kesayangannya?." Tanya Angga yang begitu penasaran akan jawaban Ajeng.
"Ajeng akan tetap pada pendirian Ajeng untuk berpisah dengan Mas Caka, Kak. Walaupun Kakek menentangnya."
"Kamu yakin?."
"Kakak meragukan Ajeng? Jahat sekali." Ucap Ajeng dengan wajah yang di buat buat cemberut.
"Hahaha tidak, tidak Ajeng. Bukan begitu maksud Kakak, yang Kakak takutkan Kamu akan kembali goyah jika Kakek yang meminta."
__ADS_1
"Tidak semudah itu Kak, luka yang Mas Caka berikan sudah cukup membekas di hati Ajeng."
"Good girl." seraya menyeruput minuman yang berada di depannya.
"Kamu mau pulang atau ada janji temu lagi hari ini?."
"Ajeng kayanya langsung pulang kerumah Mama dan Papa kayanya Kak. Why?."
"No,. Hanya saja Mama menanyakan kabar Kamu. Kuping Kakak panas, setiap Mama bicara ingin Kamu main ke rumah bersama Embun."
"Kapan kapan ya Kak, nanti Ajeng ketemu sama Tante. Untuk saat ini Ajeng belum bisa, tolong sampaikan salam dan maaf Ajeng untuk Tante Bella." Ucap Ajeng dengan tulus. Dia tahu bagaimana sayangnya wanita paruh baya itu pada dirinya. Dia hanya tidak ingin menumpahkan kesedihannya jika bersama Tante Bella.
Angga mengangguk seraya tersenyum. Angga tahu, Ajeng saat ini tengah bersedih akan keputusannya. Bisa bisa jika bertemu dengan sang Mama pastinya Ajeng langsung menangis. Angga tahu persis bagaimana sang Mama sangat menyayangi Ajeng. Apalagi saat mendengar Ajeng di sakiti oleh Caka.
"Ajeng pamit pulang tidak apa Kak? Ajeng ingin menyusul Embun di rumah Mama dan Papa."
"Mau Kakak antar?." Tawar Angga kepada Ajeng.
"Biar Kakak yang bayar ini semua. Tidak ada penolakan, tunggu Kakak disini dan jangan kemana mana." Dengan tegas Angga berkata.
Angga berjalan untuk membayar semua pesanan yang Ajeng pesan tadi dengan Pak Leon.
Tanpa butuh waktu lama, Angga sudah kembali menghampiri Ajeng. Mereka jalan bersama menuju parkiran kafe tersebut. Tanpa sepengetahuan Angga dan juga Ajeng, ada beberapa bodyguard suruhan Jhon tengah berada di dekatnya tanpa mengenakan pakaian yang mencolok.
Mobil Ajeng telah sampai di depannya. "Ajeng pamit ya Kak. Salam sama Tante dan Om. Kaka hati hati di jalannya. Kabari Ajeng jika sudah sampai." Ucap Ajeng sambil membuka pintu belakang mobil.
"Bawel sekali Kamu ini." Jawab Angga seraya menjawil pipi Ajeng.
Ajeng mendengus manakala pipinya merah akibat ulah Angga.
__ADS_1
"Take care ya, Kabari Kaka jika sudah sampai disana. Salamkan sayang Kakak untuk Embun." Ucap Angga seraya mengelus pucuk kepala Ajeng.
Ajeng mengangguk tersenyum.
"Titip Ajeng ya Ndi, usahakan jangan terlalu ngebut." Ucap Angga kepadan Andi.
"Baik Tuan." Jawab Andi dengan cepat.
Mobil mewah yang di tumpangi Ajeng perlahan lahan hilang tanpa jejak. Angga pun menyusul untuk masuk ke dalam mobilnya.
*****
"Pantau terus pergerakan Bu Ajeng. Kalian jangan sampai lengah sedikitpun. Saya tidak ingin sampai ada informasi yang terlewat mengenai Bu Ajeng." Ucap Jhon kepada Anak buahnya di seberang sana.
Jhon menghembuskan nafasnya dengan berat. Pertemuan Ajeng dengan Angga begitu intens. Jhon bukannya takut jika Angga menaruh perasaan pada Ajeng, tetapi yang Jhon fikirkan adalah Caka. Apa jadinya jika Caka mengetahui Angg telah kembali dan akan merebut Ajeng?
Pasalnya, Angga pernah menyatakan jika Caka membuat Ajeng menderita dia akan kembali merebutnya.
Jhon mengusap wajahnya dengan kasar. Aksinya itu tidak luput dari pandangan Wira yang berada di belakangnya. Percakapan Jhon tadi pun tidak luput dari pendengaran Wira.
Wira berbalik kembali menuju kamarnya. "Apakah aku terlalu egois Ya Tuhan." Ucap Wira sambil menatap keluar jendela. Dirinya masih dalam perjalanan menuju Indonesia.
Wira hanya ingin melihat Caka bahagia bersama Ajeng. Tetapi jika keputusan Ajeng sudah bulat Wira bisa apa? Wira hanya bisa pasrah menerimanya, walaupun dalam hati ingin sekali marah.
Wira memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Wira akan memberi pelajaran pada Chandra karena sudah berusaha merusak rumah tangga saudara kembarnya. Tega? Wira harus tega kalau tidak, Chandra akan terus mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.
Dan untuk wanita ular itu, sudah Wira pikirkan hukuman apa yang akan Ara dapatkan. Kematian? Oh tentu tidak. Itu sangat mudah baginya. Memasukan Ara ke dalam kandang hewan kesayangannya mungkin?. Iya, Wira mempunya hewan peliharaan seperti Harimau dan Buaya di kediaman tua miliknya. Walaupun Wira tidak berada di indonesia, tetapi hewan peliharaannya sangat terurus oleh penjaga rumah di sana.
Wira tidak sabar memberi ara hukuman setelah tiba di indonesia. "Silahkan nikmati waktu bersenang senangmu ******. Dan lihat saja jika Kamu sudah dalam genggamanku Ara. Akan kupastikan Kamu menderita kali ini, dan memohon ampun untuk seger di bunuh." Senyum menyeringai terlintas di bibir Wira.
__ADS_1
Bersambung. . .