
Mendengar ucapan sang Ayah , hati Angga mendadak risau . Tadinya Angga pikir , tidak akan pernah bertemu kembali dengan Sang pujaan hati . Tetapi nyatanya , Takdir lah yang mempertemukan mereka kembali .
" Pikirkan ucapan Papih . Tinggalkan urusan Perusahaan yang berada di Jerman . Biarkan Om kamu yang mengurusnya . Kamu kelola saja Perusahannmu sendiri disini . Sudah cukup bagi Papih untuk kamu pergi . Sekarang saatnya Kamu kembali , menjadi Angga yang tak pantang menyerah seperti dulu . Ingat kesempatan tidak akan datang dua kali Angga . Papih setuju jika kamu kembali mengejar Cinta Pertamamu " . Kembali menepuk pundak Angga .
Angga mengangguk mendengar pernyataan sang Ayah . Mereka berdua berpelukan sangat erat . Isabella yang melihat itu tersenyum , dan menghampiri mereka berdua .
" Tinggal kembali dengan Mamih Papih dan Kakakmu ya sayang . Jangan pergi lagi , Mamih engga sanggup jauh dari kamu Angga " . Ucap Isabella dengan mata yang berkaca kaca .
Kelemahan Angga cuma satu , yaitu tidak bisa melihat Sang Ibunda menangis .
" Iya Mih , Angga akan tinggal disini lagi , bareng Papih Mamih dan Kakak . Udah jangan nangis ya , kan Angga udah bilang mau tinggal disini lagi " . Seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi Sang Ibunda .
Isabella menggangguk dan tersenyum sambil memeluk Sang Anak kembali . Sulhan yang masih berada di dekat mereka hanya menepuk pundak Sang Anak . Sulhan tau , keputusan Angga untuk tinggal kembali bukanlah keputusan yang mudah . Sulhan pun tau saat Angga bilang ingin pergi ke Jerman dengan mendadak . Tetapi dia tak berani menegurnya , biarkan Angga menata hatinya terlebih dahulu .
****
Caka yang saat ini masih berada di rumah sakit dimana tempat Arka di rawat mendadak gelisah dan bingung . Pasalnya dia mencoba menghubungi Ajeng , tetapi mendadak nomernya tidak bisa di hubungi , tidak biasanya Ajeng seperti itu .
" Aku titip Arka sebentar sama Kamu . Tolong jaga dia , kalau sampai terjadi sesuatu , seger hubungi Aku Ara " ucap Caka kepada Ara yang dia lihat masih setia duduk di sofa .
" Hemm " hanya deheman yang terucap di bibir Ara .
Dengan gerakan cepat Caka berjalan keluar untuk menuju tempat dimana mobilnya terparkir .
Drap drap drap . . .
Caka berlari sekuat tenaga yang ia bisa . Tak perduli para mata memandangnya kini . Dengan nafas terengah dia memasuki lift menekan tombol lantai 1 .
__ADS_1
Tring . . .
Lift terbuka dan dengan segera Caka melangkahkan kaki besarnya menuju parkiran mobil . Setelah sampai dengan segera dia menyalakan mesin mobil . Tujuannya saat ini adalah rumah sakit yang menjadi tempat Anaknya di rawat .
Dengan kecepatan penuh dia kemudikan mobilnya . Sesaat melirik jam tangan mahal yang berada di tangannya , harus , dia harus secepatnya sampai disana . Caka tak ingin Ajeng semakin murka padanya .
" Dave , cari tau dimana Anak saya dirawat . Secepatnya Saya butuh informasi dari kamu ". Caka mematikan sambungan panggilannya dengan Dave Sang Asisten setianya .
Tak berselang lama ada notifikasi tertera nama salah satu Rumah Sakit dimana Anaknya dirawat . Memang kerja Dave benar benar terampil dan cekatan , kurang lebih setengah jam Caka sudah bisa mendapatkan alamat Rumah Sakitnya .
****
Ajeng yang masih setia duduk disamping ranjang tidur Embun segera mengecek ponselnya yang berada di dalam tas . Pasalnya dia lupa untuk memberitahukan kepada Ibu Panti bahwa Embun dirawat .
" Lowbet " ucap Ajeng saat melihat ponselnya tiba tiba mati total . Padahal tadi dia hanya menghindari panggilan dari Caka saja .
Ajeng berfikir kembali saat ingin menghubungi Sang Ibu . Dia urungkan niatnya untuk memberitahukan Embun berada di Rumah Sakit , Anak Anak Panti lebih membutuhkan Ibu daripada dirinya saat ini . Ajeng tak ingin meyusahkan Sang Ibu lagi kali ini . Biarlah dirinya yang merawat Sang Anak , tanpa memberitahukan Ibunya . Kembali Ajeng memasukkan ponselnya kedalam tas dalam keadaan mati total . Ajeng tidak ingin di ganggu siapapun termasuk Caka sang Suami . Biar , biarkan saja Caka kelimpungan mencari dimana dirinya dan Embun berada .
Caka saat ini sudah berada di Rumah Sakit tempat Embun dirawat . Dengan segera dia memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesinnya , tak lupa dia membelikan sesuatu untuk Ajeng dan Embun yang dia letakkan disamping kemudinya tadi .
Caka berjalan keluar mobil , memasuki area Rumah Sakit . Dia tak usah bertanya pada siapapun saat ini , karena dia sudah tau semua itu dari Dave . Sang informan terbaik untuknya .
Caka menekan tombol lift untuk menuju lantai dimana Embun dirawat . Dengan degup jantung yang tak beraturan , Caka mencoba menarik nafasnya dan membuangnya perlahan lahan sebelum sampai dikamar Sang Anak .
Tring . . .
Lift terbuka , dan Caka berjalan untuk masuk ke kamar Embun .
__ADS_1
Kriet . .
Pintu terbuka , dan terlihatlah Ajeng yang sedang menyuapi Embun makan dengan pelan . Iya , Embun sudah sadar beberapa jam yang lalu dan disuapi makanan oleh Ajeng .
" Ayahhhh " teriakkan Embun membuat Ajeng menoleh . Ajeng pikir , Caka tak pernah datang kesini , nyatanya datang juga . Ajeng berusaha untuk bersikap biasa saja saat ada Caka . Toh adapun atau tidaknya , tidak akan berpengaruh sama sekali untuk dirinya .
Caka mendekat kepada Ajeng juga Embun . Dia mencium pucuk kepala Embun dengan sayang . Lalu Caka beralih untuk mencium pucuk kepala Ajeng . " Maaf Mas , Ajeng mau mengambil minum untuk Embun " dengan segera Ajeng menggeserkan dirinya untuk mengambil minum yang berada di meja sebelahnya .
Caka yang merasakan ada penolakan , diam bagaikan patung . Baru kali ini dia di tolak oleh Ajeng . Dengan segera Caka merubah raut wajahnya menjadi ceria lagi di depan Anaknya .
" Ayah darimana saja ? Kenapa selalu ingkar janji sama Embun ? kenapa juga pagi ini Ayah tidak datang ke sekolahan Embun , padahal Ayah sudah janji sebelumnya ".
Ucapan Embun menohok di hati Caka . Dia memang selalu ingkar pada Sang Anak . Tetapi tak disangka Embun bertanya sampai sedetail seperti ini padanya . Ajeng yang hanya menjadi pendengar pun tak banyak bersuara . Dia diam tak mau ikut campur dalam menjawab pertanyaan Embun .
" Maaf sayang , maafin Ayah yang selalu ingkar janji sama Embun . Maaf ada hal yang memang sangat penting sekali yang tak bisa Ayah tinggalkan " sambil duduk di kursi dekat Embun seraya mengelus pipi dan rambutnya .
" penting sekali kah Ayah ? Sampai sampai Ayah tidak jadi datang ?". tanya Embun dengan sesekali memegang tang Sang Ayah .
Hati Caka mencelos mendengar ucapan Sang Anak . Bagaimana bisa , Anak usia enam tahun berbicara seperti itu padanya . Apa yang akan Caka jawab ?. Caka sedikit melirik Ajeng yang saat ini tengah mengupas buah Apel untuk pencuci mulut Embun . Tetapi tak ada pergerakan sama sekali dari Ajeng .
" Embun jauh lebih penting untuk Ayah . Tetapi untuk yang satu ini , Ayah minta pengertiannya sama Embun ya sayang . Oh iya , Ayah sampai lupa . Ayah punya sesuatu untuk Embun ". Ucap Caka yang saat ini untuk mengalihkan perhatiannya untuk pertanyaan Embun .
" Embun engga perlu Ayah . Embun hanya ingin Ayah selalu ada untuk Embun " .
Kembali ucapan Embun sangat menohok untuk Caka . Caka diam bergeming tak menjawab . Memang waktu Caka untuk Embun berubah drastis , saat mengetahui Arka mengidap penyakit jantung .
Caka memang mebih menghabiskan waktunya untuk Arka daripada Embun , Caka menyadari itu .
__ADS_1
Ajeng yang masih setia dengan pendiriannya untuk tidak berucap pun diam saja . Saat Anaknya bertanya seperti itu pada Sang Suami . Biarkan , biarkan Embun mengeluarkan semua unek uneknya pada Sang Ayah , yang kini berada di hadapannya . . .
Bersambung . .