
" Kita bercerai saja mas , kembalilah kepada Mba Ara , biarkan Aku dan Embun yg pergi " ucap Ajeng dengan suara paraunya .
Dengan air mata yang terus banjir membasahi pipi Ajeng , Ajeng mengungkapkan isi hatinya . Dia tak bisa selamanya seperti ini terus kesabaran yang dia punya tak sebesar itu .
" Engga sayang , Mas engga mau , jangan ngomong seperti itu . Kita habiskan dulu ya makanannya , jangan bahas masalah ini dulu , sesampainya dirumah mas akan ceritakan sejelas jelasnya sama Kamu . Kasian Embun , nanti Mas yg disalahkan oleh Embun jika Kamu masih menangis seperti ini . " ucapnya sambil mengusap air mata sisa yg berada di pipi Ajeng .
Embun menoleh , saat namanya begitu saja di sebut oleh sang Ayah .
" ada apa Ayah menyebut nama Embun ? " sambil melihat sang Ayah dan juga Bundanya . Embun yang merasa aneh dengan muka sang Bunda pun bertanya .
" Bunda , Bunda Kenapa nangis Ayah ? " tanyanya pada sang Ayah .
" Bunda tadi habis melihat ponselnya , tiba tiba saja ada vidio sedih , Bunda ikutan sedih jadinya nangis deh " jawab Caka sekenanya .
Embun mengangguk tanda mengerti . Lalu menghampiri Ajeng yang masih mengusap sisa air matanya .
" Jangan nangis lagi Bunda , ada Embun disini " sambil mencium pipi Ajeng dan mengusap air matanya .
Ajeng tersenyum penuh tenang saat menatap Embun . Ya hany Embun penguat dari segala luka yg Caka torehkan untuknya.
Ajeng menyeka air matanya , lalu pelan pelan dia melanjutkan makanan yang sudah Caka pesan tadi . Embunpun begitu melanjutkan makannya yang tadi tertunda akibat menghibur sang Bunda .
****
Setelah mereka semua makan dan membayar makanannya , mereka semua keluar dari Restaurant menuju parkiran mobil .
Sepanjang perjalanan , Ajeng tak banyak berbicara . sedangkan Embun sudah tertidur dalam Gendongan Caka . Ajeng segera mengambil embun saat caka hendak mengambil mobil .
Ajeng berusaha menepuk nepuk pundak Embun agar sang Anak tertidur lagi dalam pangkuannya . Mobil Caka sudah terlihat di depan mata . Dengan segera Caka turun dari mobil membukakan pintu untuk sang Istri dan menutupnya pelan pelan.
Caka berbalik dan berlari menuju kemudinya , dengan segera Caka menyalakan mobil sedannya untuk melaju membelah jalanan malam yang indah ini .
Tak ada percakapan apapun yang terjadi selama didalam mobil , Ajeng yang terus menatap keluar jendela membuat Caka mendesah pelan . Pikirannya kacau , bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Ajeng .
Mobil terus membelah jalanan ibukota , tangan Caka yang tadinya berada pada kemudi mobil . Tiba tiba saja menggenggam jemari Ajeng .
Ajeng yang merasakan sentuhan pada tangannya tak sedikitpun menoleh . Dia masih tetap bergeming sambil melihat keindahan malam hari .
Hatinya kembali sakit saat mengetahui kenyataannya . Kenyataan bahwa Caka menikahinya hanyalah semata mata karna warisan sang Kakek . Tidak ada unsur Cinta didalamnya .
kembali air matanya turun tanpa bisa dia cegah . tak ada tempat sandaran untuk dirinya berkeluh kesah menceritakan semuanya .
__ADS_1
Caka membawa jemari Ajeng untuk ia kecup . Sebelah tangannya fokus pada kemudi yang dia jalankan .
Hampir empat puluh menit Caka membawa Mercedes Benznya menuju komplek rumahnya .
Pak ujang satpam rumah Caka dengan segera membuka pintu pagar rumah Sang Tuan agar mobil bisa masuk .
Caka segera mamasukan mobilnya kedalam garasi lalu memarkirkannya . Dengan segera Caka turun untuk membukakan pintu mobil Ajeng .
Caka segera membawa Embun dalam gendongannya . Lalu kemudian disusul Ajeng di belakangnya .
" Pak ujang , kapan datang , gimana dikabar Aina sehat , bayinya sehat juga kan Pak , Loh bapak engga pulang bareng Andi Pak ? " tanya Ajeng saat melihat Pak Ujang sudah kembali kerumah ini sendiri tidak bersama sang anak .
Pasalnya sang satpam rumah dan supir pribadi Ajeng juga Caka meminta ijin bahwasannya , Istri Andi yaitu menantu Pak Ujang akan Melahirkan , jadi mereka berdua sama sama untuk pulang kampung.
" sekitar sepuluh menit yang lalu saya datang Bu , Andi kemungkinan besok akan pulang , mengingat kondisi Aina menantu saya sudah membaik . Alhamdulilah Ibu juga bayinya sehat walafiat bu " ucapnga dengan tulus .
" Alhamdulillah kalo begitu Pak , biarkan saja Pak Ujang , jika memang Andi masih mau disana , saya mengerti ko " .
" Gapapa Bu , malahan saya mengucapkan terimakasih sekali kepada Bapak dan Ibu yg sudah membantu untuk membiayai persalinan Menantu saya . padahal itu semua engga perlu Bu Pak " jawab Ujang .
" Enggak apa apa Pak Ujang , Uangnya kan bisa di tabung untuk kebutuhan Aqiqah nanti . Saya senang kalo Andi dan juga Bayinya dan menantu Bapak sehat semua , kalo begitu kami pamit masuk kedalam dulu Pak " Ucap caka sambil menarik pinggang sang istri dengan lembut .
****
Dengan gerakan cepat Caka melangkahkan kakinya menuju kamar Embun , untuk membaringkan sang anak .
Setelah dirasaa Embun sudah tidur pulas , Caka menutup pintu kamar Embun dengan pelan , agar sang anak tak terbangun .
Saat sudah sampai dibawah Caka menuju dapur untuk memanggil si mbok.
" Mbok nanti tolong kekamar saya , balurkan ramuan yang si Mbok bikin kepada kaki Istri Saya . Soalnya kaki Istri Saya agak sedikit bengkak mbok akibat jalan tadi " .
Si mbok yang mendengar penuturan sang majikan mengangguk patuh .
" Nggih pak " jawab si mbok dengan cepat .
Caka segera meninggalkan mbok lalu menuju ruang tengah . Melihat Ajeng yang masih duduk setia menunggunya sambil memijit kakinya pelan pelan .
Caka duduk disebelah Ajeng sambil memperhatikan Ajeng dengan seksama , Cantik . satu kata yang Caka ucap dalam hatinya.
Bagaimana bisa dia berselingkuh dengan Ara . Padahal notabennya Ajeng jauh Lebih cantik jika di bandingkan Ara . Jika dilihat lihat lagi , Ajeng memiliki mata yang bulat , Hidung mungil kecil , begitu juga bibirnya yang kecil nan tipis berwarna pink .
__ADS_1
Ah sial . Ucapa caka didalam hati.
" Kita masuk kekamar yuk , Mas sudah bawa Embun tadi kekamar , kasihan dia kelihatan kelelahan " sambil mengelus puncak kepala Ajeng.
Ajeng mengangguk dengan patuh .
" Hiyaaa Mas , Apa yg kamu lakukan " teriak Ajeng saat Caka sudah mengangkatnya ala Bridal .
" Diam , Kakimu masih bengkak , jangan berisik Sayang " Ucap Caka sambil menaiki anak tangga menuju kamar .
Ajeng dengan segera memeluk leher Caka , diam tanpa sepatah katapun.
Setelah sampai dikamar Caka dengan pelan membaringkan Ajeng di tempat tidur . Jarak mereka yang sangat dekat membuat nafas keduanya serasa tercekat .
Tanpa aba aba lagi Caka mulai ******* bibir tipis Ajeng yang menjadi Candunya . Sambil menahan tengkuk Ajeng untuk memperdalam ciuman mereka.
Caka ********** dengan pelan , meresapi setiap inci , layaknya seperti anak kecil yang tengah menikmati makanan kesukannya .
" Mmmhhh Mas " lenguhan Ajeng terdengar seksi ditelinganya .
******* ******* kecil yang Caka berikan berubah menjadi ******* kasar , penuh gairah . Caka sedikit menggigit bibir bawah Ajeng agar bibirnya sedikit terbuka . Tak butuh waktu lama , bibir Ajeng merespon dengan baik .
Caka membelitkan lidahnya di dalam rongga Ajeng , mengabsen setiap inci deretan gigi Ajeng . Nafasnya semakin memburu menginginkan lebih .
Ajeng melingkarkan tangannya dileher Caka saat dia rasa N**sunya udah berada di ubun ubun .
Sial memang sentuhan Caka tidak bisa ia abaikan . Sentuhan yang bikin dia mabuk kepayang . Walaupun saat ini dia marah dengan Caka , tetapi dia tidak munafik kalau Caka adalah seorang kisser yang handal .
Caka melepas ciuman mereka dengan pelan . Dilihatnya bibir Ajeng yang sudah bengkak akibat ulahnya. Lalu mengelap sisa sisa salivanya yg berada pada bibir Ajeng .
" Mas bersih bersih dulu , sebentar lagi akan ada si mbok datang untuk memberikan ramuannya agar di olesi di kaki kamu " sambil mencuri ciuman di bibir Ajeng .
Ajeng diam mematung saat ciuman itu terlepas .
" Iya mas , terimakasih sudah memberitahu Ajeng " .
Sekali lagi , Caka mencuri ciuman dibibir Ajeng sebelum masuk kedalam kamar mandi .
kalau saja Caka tadi tidak menyuruh si mbok untuk mengoleskan ramuan dikaki Ajeng , sudah dipastikan malam ini bakal menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua . .
Bersambung . . .
__ADS_1