
Angga yang saat ini tengah berjalan di lorong Rumah Sakit , saat menjenguk Sang Kakak tersayang , tak sengaja menabrak seorang Wanita didepannya .
Betapa terkejutnya saat Wanita dihadapannya ini mememinta maaf dengan penuh derai air mata di wajahnya yang sangat Dia rindukan .
" Kak .. Kak.. Kak Angga " ucap Ajeng terbata , sambil terus menghapus sisa air mata yang mengalir deras di pipinya .
Angga yang melihat itu , mengeraskan rahangnya . Bagaimana tidak. Dia tidak pernah melihat Ajeng menangis seperti ini . Hatinya hancur seketika melihatnya saat ini .
" **Cak**a Adiguna , sudah kuperingatkan Kamu untuk tidak membuat Ajeng menitikan Air Matanya , tetapi apa yang kulihat saat ini , Kamu membuat Ajeng hancur sehancur hancurnya , akan kurebut Ajeng darimu Caka ". Ucap Angga dalam hati .
Angga yang melihat itu langsung merengkuh tubuh mungil Ajeng dan langsung memeluknya . Tak Dia perdulikan akan gimana nantinya . Yang saat ini ada di fikirannya adalah menenangkan Ajeng .
" Menangislah sepuasmu , jangan di tahan tahan . Ada Kakak disini sekarang , Maaf jika Kakak meninggalkanmu disaat Kamu membutuhkan Kakak . Menangislah Ajeng , tumpahkan semuanya pada Kakak saat ini . Sekarang ada Kakak yang menjadi tempat sandaranmu ". Jawab Angga sambil mengelus surai Ajeng yang lembut dan Wangi yang membuat Angga mabuk kepayang .
Ajeng yang mendengar ucapan Angga tak henti hentinya menangis dalam pelukan Angga . Tak sungkan sungkan lagi ketika Angga membawanya dalam pelukan , Ajeng tak menolak . Memang saat ini Dia butuh sandaran untuk menguatkan hatinya yang terlampau rapuh .
Angga mengeratkan pelukannya pada Ajeng . Seraya mengelus punggu Ajeng agar sedikit merasa tenang . Tak ada pergerakan sama sekali dari Ajeng . Angga lantas melihat dan menyingkirkan rambut Ajeng yang terjuntai kebawah , takutnya Ajeng tiba tiba saja pingsan .
" Sudah Oke ? Bisa kita duduk disana ? ". Tunjuk Angga pada sebuah kursi yang terletak ditaman dekat kamar Embun .
Ajeng mengangguk tanpa menjawab . Dengan segera Angga membawa Ajeng , untuk duduk disalah satu kursi yang berada di taman tersebut . Sambil terus menggenggam jemarinya mereka duduk berdua berhadapan .
" Are you okay ? " tanya Angga sambil menatap wajah Ajeng saat ini .
" Kak ... " Ajeng kembali memeluk Angga , Hatinya sudah tak berbentuk saat ini . Dimana Caka saat Anaknya dirawat . Dimana Dia saat Ajeng membutuhkannya ? .
" Tumpahkan semuanya Ajeng , tumpahkan semua keluh kesah dan kesedihanmu kepada Kakak . Jangan sampai ada yang dipendam lagi . Tetapi , setelah ini jangan sampai Kakak lihat Kamu kembali meneteskan air matamu untuknya yang tidak pernah menghargai Kamu " Ucap Angga dengan jelas .
" Ajeng .. Ajeng mesti gimana Kak ? Ajeng ingin pergi tetapi .. " ucapannya terhenti saat dering ponsel Angga berbunyi .
__ADS_1
Dengan segera angga mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jasnya .
" Ya halo , Angga di taman Mih . Coba tebak Angga sama siapa disini . Angga lagi ngobrol sama seseorang Mih . Sebentar lagi Angga kesana ko " jawab Angga .
" Kamu sama siapa Angga ? Jangan bikin Mamih penasaran . Yasudah , Mamih tunggu di ruangan Kakakmu ya . Mamih sudah sampai tapi kamu malah engga ada " jawab Arini Sang Ibunda Airlangga sambil mematikan panggilannya dengan sang Anak .
" Maaf , Mamih barusan menelfon " sambil menaruh kembali ponselnya didalam saku jasnya .
Ajeng mengangguk . " Maaf jas Kakak jadi rusak dan kotor terkena air mata Ajeng " . Ajeng mengusap sisa air mata yang berada dipipinya .
" Engga masalah . Gimana? Sudah mendingan perasaannya ?". Mengelus pucuk kepala Ajeng dengan sayang .
Iya perasaan Angga bukan hanya sekedar sayang sebagai " Adik " . Tetapi Dia mencintai Ajeng , Entah kapan perasaan itu tiba tiba hadir dan muncul . Mungkin faktor kebersamaan mereka dulu lah yang menimbulkan percikan Cinta didalam hati Angga . Usia Angga tak berbeda jauh dengan Caka . Hanya saja saat Angga menerima berita bahwa Ajeng akan menikah dengan salah satu keluarga Adiguna , hatinya teramat sakit dan hancur . dengan segera dia mengemasi barangnya , pergi menjauh dari Ajeng . Melupakan cinta pertamanya . Mengubur dalam dalam perasaannya selama ini kepada Ajeng .
Angga membuktikan ucapannya , Dia pergi membawa sekeping hatinya yang hancur . Angga ingin membuktikan juga kepada semua keluarganya , bahwa Angga bisa membangun perusahannya sendiri tanpa campur tangan atas Nama Keluarga MUNEER .
Angga datang kembali ke indonesia atas permintaan sang Ibunda . Kakaknya yang bernama " Akshara Tabraiz Muneer " tiba tiba saja kecelakaan dan harus di rawat intesif . Angga yang mendengar itu pun langsung terbang ke Indonesia tanpa pikir panjang .
****
" Kak , Ajeng mesti balik ke kamar Embun . Engga ada yang menjaganya " ucap Ajeng yang hendak melangkah pergi .
" Kakak temani , setelah mengantar Kamu , baru Kakak akan menemui Mas Aksha " . sambil melangkah mengikuti Ajeng .
Mereka berjalan beriringan bersama . Saat sudah berada didepan ruangan Embun .
" Masuk Kak " ucap Ajeng , dengan segera membuka pintu dan masuk ke dalam , lalu mempersilahkan Angga untuk masuk menyusul Ajeng .
Angga mengangguk mengiyakan . Perasaanya bercampur saat ini . Ajengnya yang dulu adalah gadis kecilnya , kini menjelma sebagai sosok Ibu . Bagaimana tidak , Ajeng menikah dengan Caka saat usianya masih 19 tahun .
__ADS_1
Seharusnya masa itu adalah masa dimana Ajeng melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah tetapi , keadaan Ekonomi yang memaksanya untuk bekerja memenuhi kebutuhan Panti dan juga dirinya . Ajeng tak bisa melanjutkan pendidikannya . Dan memilih bekerja di salah satu minimarket pada saat itu.
Angga yang saat ini tengah duduk di sofa dalam ruangan Embun , sama sekali tak melihat batang hidung Caka .
" Kemana Caka ? Mengapa ia tak ada disaat anaknya di rawat di rumah sakit ? Mengapa hanya ada Ajeng ? . Dimana dirinya sebagai seorang Ayah dana sosok Suami siaga untuk Ajeng dan Embun ? " . Pikir Angga dalam hati .
Angga yang tak melihat Caka pun akhirnya bersuara . " Caka dimana Ajeng ? Kakak engga melihat Caka ada disini menemani kamu dan Embun " . Ucapan Angga menohok di hati Ajeng . bagaimana mau menemani dia ? Caka lebih mengutamakan Arka daripada dirinya dan juga Embun .
Ajeng dan Embun adalah nomor sekian untuk Caka . Tetapi untuk Arka dan Ara , Caka menjadikannya nomor satu di atas segalanya.
Apakah Ajeng jujur saja kepada Angga . Menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi dengan Caka saat ini ? . Ajeng dilema , benar benar dilema . Ajeng tau Angga tidak akan tinggal diam , Pasti Angga akan marah besar terhadap Caka , jikalau mendengar dirinya dimadu oleh Caka dengan kekasihnya terdahulu dan memiliki Anak .
Ajeng tak ingin melibatkan dan menyulitkan semuanya . Ajeng akan bercerita jika sudah waktunya . Jika ia rasa sudah tak bisa menampung beban kesedihannya , Ajeng akan bercerita pelan pelan dengan Angga laki laki satu satunya , yang Ajeng pikir tak pernah menyakiti hatinya .
" Mas Caka sedang ada urusan di luar kota kak . Ada hal yang sangat penting yang tak bisa ia wakilkan atau tinggalkan Kak " ucap Ajeng penuh dengan dusta .
" Sepenting apa ? Masa anak sakit dia engga datang menjenguk atau menemani kamu ? " Pertanyaan penuh denga selidik pun di layangkan Angga kepada Ajeng .
Ajeng menunduk sat mendengar ucapan Angga . Memang benar , sepenting apa sampai sampai Caka tidak datang menemuinya . Menurut Ajeng sangatlah penting , dunia Caka hanya di penuhi dengan Ara dan Arka saat ini .
Angga yang melihat itu , menarik dagu Ajeng . Dilihatnya mata Ajeng yang tersirat penuh luka dan kekecewaan bisa Angga rasakan . Mata mereka beradu tatap saling pandang .
" Ceritakan semuanya atau Kakak yang akan cari tau sendiri Ajeng ? Hem ?" . Jawab Angga dengan tegas . Angga merasa bahwa Ajeng sedang menyembunyikan sesuatu kepada dirinya.
Ajeng menegang saat Angga tiba tiba berbicara akan mencari tau dengan sendirinya . Tidak boleh , jangan sampai itu terjadi , Ajeng tak mau seperti itu .
Ajeng tak ingin membuat keributan . Dia perlu waktu untuk menjelaskan semuanya pada Angga yang sudah ia anggap sebagai Kakak sendiri .
Bersambung . . .
__ADS_1