
Caka saat ini sudah sampai di rumah sakit tempat Arka di rawat . Dengan perasaan campur aduk Caka turun dari dalam mobil . "Bagaimana Dave? Kamu sudah mendapatkan buktinya?." Caka menghubungi Dave saat sudah berada di parkiran .
"Sudah Pak . Bapak nanti tinggal menemui Dokter Iriawan." Jawab Dave di seberang sana .
"Oke , saya titip perusahaan beberapa hari ke depan sama kamu dan Tria ya , Dave . Sementara Papa hanya mengontrol saja."
"Baik Pak."
Dengan segera Caka mematikan panggilannya dengan Dave dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui Dokter Iriawan yang di bicarakan Dave .
Tring . . .
Satu notifikasi masuk kedalam ponsel Caka . Nama dan nomer ponsel milik Dokter sudah Caka dapatkan . Caka berjalan dengan gagahnya memasuki rumah sakit . Tak perlu lagi dia menanyakan keberadaan dimana Dokter Iriawan . Pandangan matanya tertuju pada satu sosok saat hendak menemui sang Dokter .
"Chandra." gumam Caka saat melihat laki laki kembarannya . Untuk apa dia ada disini? Apakah menemui Ara?. Dengan cepat Caka berlari untuk menemui Chandra .
Drap
Drap
Drap
"Kak." Ucap Caka sambil tengah mengatur nafasnya . Chandra tegang saat melihat Caka . Sudah enam tahun lamanya dia tidak pernah melihat Caka . Tidak ada yang berubah dari diri Caka selama ini .
"Cakaa." Chandra tegang saat siapa yang berada di depannya saat ini .
"Lo ngapain di sini? Ada urusan? Papa sama Mama udah tau kalo lo ada di sini Kak?." Tanya Caka bertubi tubi pada Chandra .
"Bisa ikut gue sebentar? Ada hal penting yang harus gue kasih tau sama lo." Chandra berusaha untuk mengatakan semuanya pada Caka saat ini juga . Tidak perduli bagaimana nantinya Caka akan menghajarnya atau tidak , Chandra tidak perduli .
"Boleh." Dengan jawaban cepat Caka berucap pada Chandra .
__ADS_1
Caka mengambil ponselnya dan mengirimi pesan pada Dokter karena akan datang terlambat untuk menemuinya .
Mereka berjalan beriringan . Bagaikan pinang di belah dua , Caka dan Chandra menjadi sorotan saat ini . Bagaimana tidak , mereka kembar identik . Yang tidak tahu pastinya akan salah mengenali mereka berdua.
Mereka saat sini sudah sampai di sebuah restaurant dengan area privat . Ya , Chandra memesan area privat karena tidak ingin ada yang mendengar sekaligus melihat betapa bringasnya Caka saat dirinya nanti memberitahukan sebuah fakta yang mengejutkan .
"Kapan lo sampen sini Kak?." Caka mengawali pembicaraanya kali ini dengan Chandra .
"Kemaren . Gue kemaren sampe sini dan belum sempat kabarin orang rumah." Jawab Chandra .
"Jadi , Mama sama Papa belum tau kalo lo udah balik ke indonesia?."
"Belum , bahkan Kakek pun belum tau kalo gue ada di sini."
"Ada masalah? Kenapa tiba tiba dateng kesini?."
"Ada satu hal yang mau gue omongin sama lo . Tapi , gue mohon redan amarah lo ya ini tempat umum , gue enggak mau jadi sorotan dan kenapa napa sama keluarga besar kita."
"Memang penting , ini sangat penting." Jawab Chandra dengan tegas . "Gue mau cerita , tapi jangan lo sela dulu cerita gue . Gue pengen lo denger semuanya tanpa menyela ucapan gue sedikitpun."
Caka menganggukan kepalanya tanda mengerti .
Chandra mulai menjelaskan tanpa ada yang di lebih lebihkan maupun di kurangkan . Caka yang setia mendengar penjelasan Chandra , mengepalkan kedua tangannya sampai uratnya terlihat .
Tidak tahan mendengar semua penjelasannya Caka berdiri dan mengangkat kerah baju Chandra lalu mencekiknya .
Chandra pasrah saat ini , apapun yang akan Caka lakukan dia terima konsekuensinya .
"Maafi gue Caka." Berusaha sekuat tenaga untuk tidak membalas perbuatan saudara kembarnya .
"Lo tau ? Pernikahan gue di ambang perceraian Kak . Dan itu semua gara gara lo , lo yang udah bikin hidup gue menderita selama enam tahun ini . Gue memang enggak cinta sama Ajeng dari awal Kak . Tapi dengan sikap dan perbuatan Ajeng sama gue , akhirnya gue luluh juga sama dia . Dan lo tau betapa hancurnya hati dia saat tahu bahwa gue punya anak dari perempuan lain? Lo tau engga betapa sakitnya jadi dia?." Ucap Caka yang saat ini masih setia mencekik leher Chandra .
__ADS_1
"Ma.. Maafin gue." Sesal Chandra saat ini .
"Kalo gue engga inget kita satu darah , udah gue bunuh lo saat ini juga Kak . Salah apa gue sama lo Kak? Harta? Kakek bahkan membagi hartanya sangat adil untuk kita?."
"Gue , Gue iri . Gue iri , setiap lihat lo dengan Ara . Gue cinta sama Ara Ka . Tapi dia enggak pernah sedikitpun lihat gue yang selalu ada buat dia . Maafin gue Ka , gua nyesel ."
"Heh , lo terlambat Kak . Pernikahan gue udah engga bisa di selamatkan lagi . Ajeng hancur , hatinya patah berkeping keping . Gue engga tau mesti gimana lagi Kak , gue cinta sama Ajeng . Tapi gue juga engga bisa maksa dia untuk terus tetap sama gue."
Perlahan lahan cekikan di leher Chandra mengendur . Caka berlutut menangis mengingat semua kesakitan yang dia berikan pada Ajeng .
"Gue bakal jelasin semuanya sama Ajeng . Gue bakal ngaku semuanya."
"Pengakuan lo engga akan membuat dia berubah fikiran untuk engga meminta cerai dari gue Kak." Dengan senyum getir dan menghapus air matanya Caka berucap .
"Semuanya enggak akan sama lagi Kak . Percuma lo jelasin juga , Ajeng bakal tetap pada pendiriannya . Sedangkan Embun , pastinya akan ikut dengan Ajeng . Kenapa lo tega Kak?." Kembali Caka bersuara dan menatap mata Chandra .
Chandra bisa melihat mata Caka yang penuh luka . Dirinya yang menyebabkan luka itu . Caka dan Ajeng lah disini yang menjadi korban ke egoisan Chandra . Dia terlalu menurut dan terlalu larut dalam cintanya untuk Ara . Sampai sampai Chandra lupa akan ada hati yang sakit dan patah .
"Kalo gue engga inget dengan Kakek , udah gue abisin lo hari ini Kak . Penyesalan lo engga akan ada gunanya . Mau lo jelasin kaya gimana pun pernikahan gue tetap di ambang perceraian . Gue engga mungkin ngotorin tangan gue ini untuk bunuh lo Kak . Gue pastiin jika Kakek mengetahui ini semua , Beliau yang akan turun tangan langsung . Dan saat itu terjadi , gue orang pertama yang bakal lihat lo dalam kesengsaraan."
Dengan segera Caka berdiri menjauh untuk tidak melihat Chandra . Emosinya yang sedari tadi sudah di ubun ubun pun dia tahan jika tidak mengingat mereka adalah saudara .
Chandra yang di tinggal Caka sendirian pun hanya bisa duduk termenung . Apa yang di ucap Caka memang benar , jika Kakek sampai mengetahui ini semuanya . Sudah di pastikan hidup dia dan Ara tidak akan lama lagi . Chandra tau sepak terjang seorang Wirayuda . Walaupun umurnya tidak muda lagi , bagi dia membunuh tikus tikus kecil yang menganggu keluarganya akan dibinasakan tanpa ampun .
Chandra menyugarkan rambutnya kebelakang . Bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada Kakeknya . Chandra tidak ingin melihat kembali ada yang di bunuh oleh Kakeknya kali ini . Wira sang Kakek pasti tidak akan tinggal diam jika mendengar semua ini .
Caka yang saat ini di dalam mobil pun hanya bisa meninju setir mobil yang berada di depannya . Bagaimana bisa selama enam tahun ini dia tidak menyadari bahwa itu adalah anak Chandra? Enam tahun lamanya dia mengabaikan Ajeng serta Embun yang jelas jelas butuh perhatian darinya . Tapi Caka menutup mata , dia selama ini sibuk mencari pendonor untuk jantung Arka . Caka tersenyum getir saat mengingat kembali ucapan Chandra .
Iri? Apa yang harus di irikan? Soal perasaan? Dia tidak bisa untuk membuat Ara berhenti mencintainya . Dia tidak punya kuasa akan hal itu .
Bersambung . .
__ADS_1