
Caka yang sedang berjalan masuk kedalam rumah setelah mengantarkan Dokter Tirto , tiba tiba saja di cegat oleh Dion dan Satria .
" gimana keadaan Kak Ajeng Mas , Baik baik saja kan ? " ucap Dion dan di angguki kepala oleh Satria yg ingin mengetahui kabar Kakaknya .
" kaka kalian baik baik saja , hanya saja kakinya sedikit terkilir , jadi Dokter bilang diusahakan jangan terlalu banyak bergerak " jawab caka kepada mereka berdua .
" syukurlah kalo begitu Mas , kami berdua sangat khawatir " tanya satria .
Caka tersenyum kepada mereka berdua sambil mengelus kepalanya .
" kalian gausah khawatir kakak kalian baik baik saja , kalo gitu Mas mau masuk kedalem mau lihat Kakakmu dulu ya " .
" iya Mas " jawab mereka dengan kompak .
Saat hendak membuka pintu kamar , Caka tak sengaja mendengar obrolan Ibu dan Ajeng , Caka berdiam diri saat apa yang akan Ajeng dan Ibu obrolkan , untungya saja Embun , dan Anak Anak Panti lain tidak ada , jadi Caka bisa bebas mendengarkan apa yg mereka obrolkan .
" nduk , mukamu pucet sekali nak , yakin gamau kerumah sakit kita periksa saja ya , Ibu hawatir takut kamu kenapa napa , Dokter bilang tadi tensimu rendah , kamu engga tidur semalem ya ? ".
" Ajeng gapapa bu , jangan hawatirin Ajeng . Ajeng tidur ko bu , tetapi hanya berapa jam saja . Udah ah Ibu gausah hawatir begini " sambil menggenggam tangan sang ibu.
" gimana Ibu engga hawatir. Kamu tiba tiba dateng langsung nangis bersimpuh dikaki ibu nduk . Bilang Ibu kalau kamu sudah engga kuat ya nak , jangan menyakiti dirimu sendiri , kalau memang Caka benar mencintai kamu. Sudah pasti Caka akan memilih Kamu , tetapi jika Caka tidak mencintai Kamu. Kamu tau harus apa kan nduk " jawab hartati sambil terus mengusap tangan sang anak .
" iya bu , Ajeng tau mesti apa ko . Kalau bukan Mas Caka sendiri yg meminta Ajeng untuk pergi darinya , dan menceraikan Ajeng , Ajeng akan tetap berada di sampingnya sampai batas kesabaran Ajeng habis bu . Tetapi jika sampai dimana kesabaran Ajeng telah habis dan hilang , seperti yang Ibu bilang , Ajeng akan menyerah bu . Biarlah Mas Caka berbahagia dengan Arka anaknya dan Mba Arasheline " sahut Aeng yg saat ini air mata telah banjir di pipinya .
" yang sabar nduk , jangan nangis lagi , hati Ibu sakit tiap kali air mata kamu turun nak " hartati mengusap air mata yg jatuh dipipi ajeng . Melihat sang anak yg telah dia besarkan selama ini dengan kasih sayang dan penuh cinta , telah berurai air mata didepannya , hati hartati bagaikan tercabik cabik .
" doain Ajeng untuk selalu bahagia bu , penguatku sekarang hanyalah Ibu dan Embun . tolong tetap semangati Ajeng ya bu , tetap berada disisi Ajeng bu meskipun Ibu bukan Ibu kandung Ajeng " dengan memeluk bu Hartati , Ajeng menumpahkan semua kesakitannya .
__ADS_1
" tanpa kamu minta , ibu selalu mendoakan kamu nduk. Semoga kamu selalu bahagia selama menjalani kehidupan ini . ingat ibu selalu ada untukmu , rumah ini tempatmu pulang ketika hati dan jiwa raga kamu telah lelah nak . Ketika semua pengorbanan kamu di anggap sia sia , pulanglah nak , rumah selalu terbuka lebar untukmu dan juga embun ."
Caka yg mendengar ucapan Ajeng dan Ibu Hartati , bagaikan tersayat sayat. Bagaimana tidak , dia tidak bisa meninggalkan Ajeng dan Ara secara bersamaan . Mereka berdua adalah wanita yg sama pentingnya untuk kehidupan Caka , karna telah malahirkan Anak Anaknya .
Biarlah Caka dikatakan egois sebagai laki laki , ingin memiliki dua wanita sekaligus . Tetapi pada kenyataannya Caka telah terpesona pada Ajeng , istri sahnya sendiri . Caka lupa bahwa dia menikahi Ajeng karna misi tertentu .
Setelah lama Caka mendengar percakapan mereka berdua. Caka tiba tiba saja masuk kedalam kamar Ajeng .
" Mendingan , mana yg masih sakit , hem ? " tanyanya kepada Ajeng sambil duduk di sebelah pinggiran kasur .
Ajeng mengurai pelukannya dari Ibu dan mengusap sisa air mata yg membekas dimata dan pipinya .
" Aku udah engga apa pa Mas , Embun di jemput siapa Mas aku baru inget , maaf ya Mas ." sambil senyum menatap Caka , agar caka tak curiga bahwa dia sedang tidak baik baik saja .
" gausah kamu pikirkan Embun , tadi Mas udah menghubungi Dave buat jemput Embun , dan sekarang Embun lagi dijalan , kemungkinan sebentar lagi sampai " sambil megusap pipi Ajeng , Caka melihat ada sisa jejak air mata yg masih menggenang dimatanya , sedalam itukah luka yg Caka torehkan untuk Aeng .
Ajeng berusaha untuk tidak menampakan bahwa dia sehabis menangis mengadu pada sang ibu . Bukan .. Bukannya Ajeng tak mau memberitahu Caka , tetapi perasaannya saat ini tidak bisa di toleransi . Kesakitan dimadu dengan wanita yg dicintai Caka , telah mampu memporak porandakan hatinya .
selama enam tahun , dia sudah berusaha menjadi istri yg baik dan penurut untuk Caka . Tetapi selama itu pula , Caka tak pernah bersikap manis layaknya seorang suami , sikap acuh dan dingin yg dia tunjukan pada Ajeng , sudah menjawab semuanya .
Tetapi , kenapa saat ini sikap Caka berubah seratus delapan puluh derajat . Kehangatan , perhatian yg Caka tunjukan padanya seperti angin yang berlalu begitu saja . Dulu Ajeng menginginkan sikap Caka yg penuh perhatian seperti ini , tetapi saat tau mengapa Caka berubah demikian. membuat hatinya pun berubah remuk .
sekuat tenaga Ajeng membentengi hatinya agar tak terlalu goyah dengan sikap manis dan perbuatan Caka . Bagaimanapun Ajeng tau , selamanya hanya ada Ara dihati Caka . Tidak mungkin ada dia .
Tiba tiba saja Embun menerobos masuk langsung menuju pangkuan sang Bunda .
" Bundaaaaaa . . ." seraya menaiki ranjang kasur Ajeng , dan memeluk Ajeng dengan sangat kuat .
__ADS_1
" hei hei , ada apa ini anak Bunda , dateng dateng langsung meluk Bunda begini ? " tangannya terulur mengelus surai panjang Embun dan menciuminya .
" Kok engga ucap salam sayang ? , ada apa tiba tiba embun langsung meluk Bunda " tanya Hartati kepada Embun.
" Jangan sakit Bunda , besok embun ada acara disekolahan Eyang , kalo Bunda sakit siapa yg akan nemenin Embun untuk tampil di acara besok " jawabnya sambil terus mendekap sang Bunda .
" Ayah usahakan akan datang ke acara Embun ya nak , Ayah janji " ucap Caka kepada Embun sambil mengambilnya untuk di gendong oleh Caka .
" bener ya Ayah , janji sama Embun , kalo sampe Ayah engga dateng , Embun bakal marah sama Ayah " sambil melingkarkan tanganya di leher Caka .
" Eyang temenin kesekolah ya , Eyang juga kan pengen liat Embun tampil , boleh kan manisnya Eyang " .
Embun menganggukan kepalanya saat mendengar sang Eyang berucap seperti itu .
" Embun sampe lupa , Embun punya sesuatu buat Bunda , sebentar Embun ambil dulu di Om Dave , Ayah bisa tolong turunin Embun, Embun mau ketemu Om Dave " .
Caka menimbang nimbang perkataan Embun untuk menurunkannya . Selama ini jarang sekali dia menemani Embun. Waktunya tersita semua untuk Arka . mungkin Caka lupa kapan terakhir kali Caka menggendong Embun seperti bayi koala saat ini . Dan mungkin juga Caka lupa kapan dia bercengkarama dengan anaknya .
" Ayah anter aja untuk menemui Om Davenya ya. Sambil Ayah mau ngobrol juga sam Om Dave ".
" Mas keluar sebentar , nemenin Embun untuk mengambil barangnya yg tertinggal pada Dave " mengelus pipi Ajeng dan mencium keningnya .
Ajeng tersenyum menampakan lensung pipinya .
Caka baru menyadari , betapa cantiknya Ajeng saat ini . Bodoh , Caka memang bodoh , selama ini diam diam tak pernah peduli padanya . Dan akan Caka pastikan untuk sekarang dan selamanya Ajeng adalah wanita yg dia cintai saat ini . Perasaan itu tidak salah , hanya saja Caka yg tak bisa memilih .
Bersambung . . .
__ADS_1