
Wira yang masih setia melihat pemandangan di depan matanya hanya bisa diam . Saat Jhon Sang Asisten kepercayaannya memberitahukan informasi kepada nya .
Sambil terus menikamati pemandangan , Wira segera mengambil Ponselnya yang berada didalam saku celana nya.
Dilihat nya foto foto Ajeng saat itu yang penuh dengan keceriaan .
Berbeda dengan saat ini , tak ada raut kebahagiaan yang terpancar dari matanya maupun dari dalam dirinya . Dia menutupi itu semua dengan senyum kepalsuan . Agar sang anak tak mencurigai bahwa keluarga nya sedang tidak baik baik saja .
Ajeng hanyalah korban keegoisan Wira saat ini . Wira tak ingin cucunya salah memilih pasangan hidup yang hanya akan morotin kekayaan keluarga Adiguna saja . dia yakin bahwa Ajeng dapat merubah sikap dan sifat Sang Cucu . Tapi ternyata Caka malah bermain api di belakang Ajeng saat ini .
" Maafkan Kakek Ajeng , Maafkan Kakek yang membuatmu berada di dalam posisi ini . Dan maafkan Kakek karna kamu terjebak dengan situasi menyakitkan seperti ini ".
Wira tetap memandang foto foto Ajeng , beberapa anak buahnya dia tempati di sekeliling Ajeng tanpa Ajeng tau . Sengaja Wira menyiapkan semuanya , karena Dia tau bahwa Wanita Ular itu tidak akan pernah berhenti untuk menyakiti Ajeng sampai Ajeng benar benar pergi dari kehidupan Cucu nya . Wira tidak mau itu semua terjadi kepada Ajeng .
Wira mencoba menelfon seseorang di seberang sana untuk memastikan keadaan semua nya .
" Pantau terus pergerakan Wanita Ular itu , jangan sampai dia mendekati Ajeng juga Cicitku , dan jangan biarkan Wanita Ular itu menyentuh mereka berdua sedikit pun . Berani dia menyentuh Ajeng dan juga Cicitku , Aku sendiri yang akan turun tangan " .
" Baik Tuan akan saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi " Ucap anak buah Wira diseberang sana.
Wira menutup panggilan dengan anak buahnya , lalu beranjak dari tempat nya menuju ruang kerja , untuk memantau pergerakan perusahaan yang di pegang Caka saat ini .
Selama ini tidak ada yang berubah sedikitpun pada Perusahaannya , dalam sekala grafik saham yang di pegang Caka , Perusahaannya terus berkembang pesat . Menjadikannya saat ini salah satu Perusahaan bergengsi di kota nya .
Wira sangat suka gaya kepemimpinan Caka yang tegas dan tak pandang bulu terhadap apapun . Tetapi Dia lemah ketika berhadapan dengan Ara . Entah hipnotis apa yang ara pakai sampai sampai Caka bertekuk lutut ke padanya .
Mengingat itu Wira pusing sendiri jadi nya .
****
Rumah Sakit .
Ara yang kesal sejak tadi menunggu Arka hanya bisa berdiam diri untuk terus tetap menjaganya . Mau tidak mau Dia harus bersikap baik di depan Caka saat ini . Kalau tidak bisa saja Caka akan murka ke padanya .
" Menyebalkan sekali , seharusnya ini jam ku untuk pergi dengan teman teman menghabiskan uang Caka . Menyusahkan saja hidupmu Arka . " gumam Ara sambil tangannya bersidekap di depan dada .
__ADS_1
Krek ...
Pintu ruangan Arka terbuka pelan pelan . Caka berjalan mendekati ranjang Arka , lalu mencium kepala Arka dengan sayang .
Arka yang di cium sang Ayah nyatanya masih betah untuk tetap tak membuka matanya . Kondisi fisiknya yang lemah membuat dia jarang bersosialisasi . Caka tidak mau sampai terjadi apa apa dengan Arka .
Dia beranjak dari ranjang , menuju Ara yang tengah duduk disamping Arka .
" Bagaimana hasilnya ? " .
pelipis Caka berdenyut saat mendapat pertanyaan dari Ara .
" Kita harus sesegera mungkin mencari pendonor untuk Arka , kalau tidak Arka tidak bisa bertahan lebih lama lagi ".
Ara beranjak dari duduknya dan berbalik menatap Caka .
" Lantas ? Kamu ini kaya Caka , masa mencari donor untuk Arka tidak bisa ? ".
" Ini bukan masalah Aku kaya atau tidak Ara , karena memang belum ada jantung yang pas untuk Arka selama ini . Kamu tau sendiri , Aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kamu dan juga Arka . Aku tinggalkan Embun juga Ajeng hanya untuk kalian berdua . Hanya untuk memastikan kesehatan Arka dan juga memastikan pendonor untuk Arka itu pas atau tidak . Ini tidak semudah yang kamu bayangkan Ara ".
Caka mencengkram kuat kuat lengan Ara saat mendengar ucapannya .
" Jaga mulut kamu Ara . Aku memang mencintai Kamu. Tapi jangan salahkan Aku jika Aku tidak akan segan segan untuk menyakiti Kamu saat ini juga . Aku sudah kerahkan semua kemampuanku untuk kesembuhan Arka Ara . Tapi nyatanya saat ini memang belum ada yang cocok " . Ucap caka yang masih meremas lengan Ara .
Tak ia pedulikan wajah Ara yang tengah menahan sakit atas perbuatannya .
Ara yang merasakan nyeri di lengannya hanya bisa pasrah , tenaganya kalah telak dengan Caka .
" Lepas Caka . Kamu menyakitiku " jawabnya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Caka pada lengannya .
Caka melepaskan cengkramannya , lalu berjalan duduk di sofa . Dia menyugar rambutnya kebelakang . Pikirannya tengah kalut dan kacau .
Ara yang melihat itu mendapatkan ide yang menarik dipikirannya . Senyum semirik tersungging di bibirnya .
" Ada satu orang yang bisa menyelamatkan Arka Caka " .
__ADS_1
Caka menaikan satu alisnya saat mendengarkan ucapan Ara .
" Embun , kamu bisa mendonorkan Jantung Embun untuk Arka Caka " ucap Ara tanpa rasa bersalah .
Caka lantas berdiri menghampiri Ara segera dia menarik dagunya dengan kasar .
" Jangan gila kamu Ara . Sampai kapanpun Aku tak akan pernah mendonorkannya pada Arka " .
" Ho ho ho . . . Jadi kamu lebih memilih Arka mati Caka , iya begitu ?".
" sampai kapan pun Aku tidak akan pernah membawa Embun dalam urusan donor jantung ini . Dia juga anakku Ara , dan Aku adalah Ayahnya , jangan lupa kamu akan hal itu ".
Cih . . .
Ara berdecih mendengarkan ucapan Caka . Kalo dia tidak bisa meyakini Caka . dia akan pastikan meyakini Ajeng untuk memberikan jantungnya pada Arka .
Ara ingin Ajeng merasakan kehilangan yang teramat dalam . Setelah suamianya yang kini hidup bersama dengannya . Ara akan pastikan bahwa Ajeng juga akan kehilangan Embun .
Ara ingin melihat Ajeng menderita teramat dalam .
" Aku memang tidak lupa Caka . Tetapi aku hanya ingin Arka secepatnya sembuh dan bisa bermain layaknya anak anak seusianya ". Ucapnya dengan nada yang ia buat sesedih mungkin agar Caka mempercayai nya .
caka melepaskan tangannya dari dagu Ara .
" Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan donor untuk Arka . Aku peringatkan kamu untuk tak menyentuh Embun maupun Ajeng Ara ".
Ara dengan cepat mengangguk . dipikirannya sudah tersusun rencana untuk menghancurkan Ajeng . dia tak sudi Ajeng hidup bahagia dan mendapatkan apa yang dia inginkan .
Tetapi Ara lupa , bahwa tak semudah itu membuat Ajeng menderita . Ara bahkan lupa seberapa besar kekuasaan keluarga Adiguna untuknya .
beberapa pengawal yang Wira tempatkan tak pernah terendus oleh Caka maupun Ara . Pengawal yang Wira kirim sangat Rapih dan Cekatan. Sehingga info apapun segera Wira dapatkan dari sang anak buah .
Sudah bisa dipastikan , jika Ara berbuat nekad , maka Wira lah yang akan menghabisi Ara dengan tangannya sendiri .
Akankah rencana yang sudah ia susun dengan rapih di otaknya akan terlaksana dengan baik ? .?
__ADS_1
Bersambung . . .