
Mereka saat ini tengah berada didalam mobil untuk menuju kediaman Caka . Lebih tepatnya kediaman keluarga kecil Caka , Caka yang fokus dengan kemudinya , sedangkan Ajeng hanya bisa menatap kearah jendela , tanpa bersuara sedikitpun .
Caka yang fokus pada kemudi , menoleh untuk melihat Ajeng sang Istri tercinta . Dia sedang menunggu kabar dari Dave , ya Caka meminta Dave untuk membuktikan apakah Arka adalah Anaknya atau bukan . Bukan maksud Caka tidak ingin menuduh yang tidak tidak . Tetapi , sikap dan sifat Arka , lebih mirip dengan Chandra , saudara Kembarnya yang notabennya Caka sendiri tidak tau dimana rimbanya saat ini .
Caka tidak menuduh siapapun disini , tetapi fakta yang dia lihat sendiri baru dia simpulkan selama ini . Jika memang Arka adalah Anak Chandra , mengapa Chandra begitu tega untuk menghancurkan rumah tangga yang dia bina selama enam tahun ini ?. Apakah harta dari Sang Kakek tidak cukup untuknya sampai sampai Caka yang menanggung semuanya , pikir Caka seperti itu .
Perjalanan mereka terhenti saat Caka tengah memarkirkan Mercedes Benznya . Caka membunyikan Klakson mobil sebagai tanda bahwa dia telah pulang . Pak Ujang, satpam yang berjaga pun dengan sigap membukakan pintu pagar yang menjulan tinggi , agar mobil Sang Majikan segera masuk .
" Malam Pak , Bu . Gimana kabar Non Embun Bu ". Tanya Pak Ujang ketika mendengar dari Andi bahwa Embun masuk rumah sakit .
" Alhamdulillah Baik Pak . Kata Dokter , besok sudah bisa kembali kerumah ini ". Jawab Ajeng sambil menutup pintu mobil.
" Alhamdulillah kalau begitu Bu , Saya turut senang mendengarnya ". Ucap Ujang , Satpam rumah Caka .
" Kami berdua masuk kedalam dulu ya Pak ". Ucap Caka kepada Ujang .
" Iya Pak , selamat istirahat Pak , Bu ". Kembali Ujang berucap .
Mereka berdua mengganggukan kepalanya saat Ujang berkata.
Ujang kembali menutup pintu pagar , dan berjalan menuju pos penjagaan .
" Mau makan dulu ? Mas , belum makan soalnya , dari tadi nungguin kamu ". Tanya Caka , saat sudah membuka pintu rumahnya.
" Mas belum makan ? ". Tanya Ajeng dengan heran , pasalnya Caka jarang sekali lalai seperti ini.
" Belum , dari siang Mas belum makan , mau engga makan malem bareng ? ". Dengan hati hati Caka bertanya pada Sang Istri .
" Ajeng kedapur dulu , mau lihat Mbok masak atau enggak . Mas bersih bersih saja dulu , nanti kalau sudah selesai Ajeng panggil Mas ". Ucap Ajeng , ya bagaimanapun posisi Ajeng masihlah Istri Caka , yang harus melayaninya terlepas dari beratnya masalah yang mereka hadapi .
Dengan gerakan cepat Caka mencuri ciuman di bibir mungil Ajeng , lantas segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya . Senyum mengembang di wajah Caka , saat melihat Ajeng yang tidak berkedip saat diciumnya tadi .
__ADS_1
Ajeng yang terpaku menjadi sadar dan segera menuju kedapur untuk melihat hari ini Mbok masak atau enggak . Saat sudah berada didapur , Ajeng dikagetkan oleh si Mbok yang tengah di belakangnya .
" Astaga Mbok , bikin Ajeng jantungan tau ". Ucap Ajeng kepada Mbok .
" Maaf Bu , habis Mbok panggil dari tadi ibu enggak nyahut nyahut . Ibu mau masak buat Bapak ? ".
" Maaf Mbok , Ajeng enggak denger . Mbok hari ini masak apa ? ". Tanya Ajeng .
" Mbok hari ini enggak masak Bu . Mengingat Ibu bilang kepada Andi , bahwa katanya Ibu akan menginap di rumah sakit menjaga Non Embun . Jadi setelah menyiapkan keperluan Ibu dan Bapak , Mbok lanjut beres beres rumah saja Bu ". Dengan menyesal Mbok berkata , pasalnya memang begitu . Ketika Ajeng bilang untuk tidak usah memaksa , Mbok akan menurut .
" Oke engga apa apa Mbok , kalau gitu Mbok mau nemenin Ajeng masak disini . Kira kira kita masak apa ya Mbok buat Mas Caka . Yang simpel simpel saja lah Mbok , lagian ini sudah agak larut malam ".
Mbok dan Ajeng pun berfikir sambil membuka kulkas , melihat ada persedian apa saja yang ada didalamnya .
" Chicken Teriyaki saja lah Mbok . Bagaimana ? ". Tanya Ajeng yang meminta pendapat Mbok .
" Boleh Bu , Mbok siapkan bahan bahannya ya Bu ". Dengan segera Mbok menyiapkan semuanya untuk Ajeng .
" Mbok , Ajeng ke atas dulu mau manggil Mas Caka ".
" Nggih Bu , kalau begitu Mbok pamit kebelakang lagi , kalau Ibu butuh sesuatu panggil Mbok saja ". Ucap Mbok kepada Ajeng .
" Iya Mbok ". Dengan tersenyum Ajeng berucap .
Ajeng terus menaiki anak tangga untuk sampai dikamar Caka , dibukanya pelan pelan pintu kamar tersebut , terlihatlah Caka yang sudah mengenakan pakaian santainya di hadapan Ajeng .
Pesona Caka memang gila , seperti dihipnotis Ajeng terus memandangi Caka dalam diam . Hatinya kembali bergetar saat melihat Caka . " Jantung , tetaplah ditempat , jangan membuat ulah ". Kembali Ajeng menahan degupan jantungnya tatkala melihat Suaminya sendiri .
" Mas , Makanan sudah siap . Ajeng tunggu di bawah ya ". Ucap Ajeng terburu buru . Dia tidak ingin Caka mendengar degupan jantung Ajeng yang seperti ingin keluar dari tempatnya .
Dengan segera Ajeng kembali menuruni anak tangga setelah memberitahukan Caka , bahwa makan malam untuknya sudah siap .
__ADS_1
****
Chandra yang saat ini masih setia menemani Arka pun , merasa teramat senang . Pasalnya dari dulu Chandra hanya bisa melihat Arka dari kejauhan saja , tanpa berani mendekati Arka .
Chandra akan menunggu momen tersebut . Ya , disinilah Chandra berada , dikamar rawat Arka , akan Chandran pastikan , Arka dan Ara akan dia dapatkan kembali . Chandra ingin menebus dosa dosanya dimasa lalu , dan akan memberitahukan kejadian ini kepada Kakek Wira dan seluruh keluarga Adiguna .
Dia sudah siap akan konsekuensinya yang akan diterima nanti , apapun akan Chandra lakukan untuk bisa menebus semuanya . Chandra pun tidak tinggal diam , saat Arka dinyatakan memiliki riwayat penyakit jantung . Dia mencari informasi kesana kemari untuk bisa segera mendapatkan donor untuk Arka .
Chandra juga tau , bahwa Ara mencoba untuk mengusik kembali Caka agar Embun bisa menjadi pendonor untuk Arka , dia sendiri tidak tau mengapa bisa bisanya Ara mempunya pikiran sampai kesana .
" Ngapain masih disini ? Engga ada niatan untuk pulang ? " . Tanya Ara yang sudah ada duduk di sofa dekat ranjang Arka .
Chandra yang masih setia menatap Sang Putra pun tersenyum mendengar ucapa Ara . " Pulang ? rumahku adalah kalian berdua Baby , jangan lupa itu . Jika Aku pulang saat ini juga , maka kamu juga harus ikut pulang bersamaku ". Ucap Chandra dengan tenang , dia tidak ingin sampai emosinya meledak tidak karuan.
Ara memutar bola matanya dengan malas , saat mendengar ucapan Chandra . " Ayolah Chandra , untuk apa kamu kembali lagi ? . Aku tidak pernah mencintaimu Chandra , Jika memang Arka adalah Anakmu , Aku tidak akan membatasi waktu kalian berdua . Tetapi tolong , jangan sampai Caka tau , Aku tidak ingin kehilangan dia ". Jawab Ara setengah memohon kepada Chandra , dia tidak ingin kehilangan Caka dan melihat kehidupa Ajeng bahagia .
Chandra menaikan alisnya saat mendengar ucapan Ara . " Kamu gila Ara , bagaimana bisa , aku membiarkan kamu terus menerus mengusik Keluarga kecil Caka . Belum puas kamu sudah melihat Caka yang hampir frustasi akibat akan ditinggalkan Ajeng juga Embun . Jangan egois Ara , aku akan tetap pada pendirianku , akan kubongkar semuanya dihadapan Kakek Wira ".
Tubuh Ara sedikit menegang , saat mendengar nama Wira . Ya , Wira tidak kenal ampun pada siapapun yang berbuat kesalahan , jika kematian adalah hukuman paling mudah untuk orang yang telah macam macam dengan dirinya . Bagaimana dengan dia nantinya , konsekuensi apa yang akan Ara dapatkan , karena sudah bermain main dengan Wirayuda Adiguna . Ara meneguk salivanya dengan kasar , tidak , Wira tidak boleh sampai datang kemari . Bisa bisa rencana yang sudah diatur sedemikian rupa akan hancur begitu saja , akibat Wira datang ke Indonesia .
Chandra yang melihat itu pun tersenyum mengejek , Ara memang benar benar takut kepada Sang Kakek . Buktinya Chandra hanya menyebut nama saja , Ara sudah mendadak tegang .
" Dengar Ara , jika kamu ingin masih hidup dan melihat kondisi Arka sampai tumbuh Dewasa , bersikaplah dengan baik . Ikuti apa perkataanku , jika kamu tidak ingin menjadi santapan kesayangan Kakek dirumah utama " .
" Jangan gila kamu Chandra , mana mungkin Kakek kamu akan kesini dalam waktu dekat . Sudah aku katakan berapa kali kepadamu Chandra , aku engga mau bercerai dengan Caka . Bagaimanapun Caka harus tetap menjadi milikku ".
" Kamu gila Ara . Aku tau , kamu hanya terobsesi ingin memiliki Caka . Jika kamu benar benar mencintainya , seharusnya kamu akan rela melihat Caka bahagia walaupun bukan dengan kamu ".
Ara bungkam , diam tidak menjawab . Dia hanya ingin memiliki Caka seutuhnya , dia mencintai Caka dengan sepenuh jiwa raganya .
" Pikirkan kembali ucapan aku Ara , waktu kamu belum terlambat jika mengaku kepada Ajeng . Jangan sampai Kakek dulu yang akan bertindak , jka sampai ini semua terdengar ketelinga Kakek , aku tidak akan bisa memastikan semuanya akan baik baik saja ". Dengan helaan nafas kasar Chamdra berucap , ya dirinya pun pasti akan menerima konsekuensi apa yang akan Kakeknya perbuat , dia sudah sangat hafal bagaiman Wira jika sudah beraksi .
__ADS_1
Bersambung ...