Aku Menyerah , MAS !!

Aku Menyerah , MAS !!
Bab 48


__ADS_3

"Terimakasih untuk bonekanya ya Om , Embun suka sekali." Tercetak jelas di wajah mungil Embun yang tersenyum senang mendapatkan hadiah .


"Sama sama Cantik." Jawab Angga .


"Bundaa , Ayah kemana ko Embun engga lihat Ayah? Ayah kerja lagi ya Bun?." Tanya Embun yang saat ini masih memegang boneka pemberian Angga .


Ajeng menghela nafasnya dalam dalam . "Maafin Ayah ya Sayang , Ayah hari ini engga bisa nemenin Embun keluar dari rumah sakit . Ayah harus pergi karena ada urusan yang memang sangat penting sekali." Ucap Ajeng pelan pelan guna memberitahukan Embun .


"Kapan Ayah engga pernah sibuk Bun? Ayah selalu saja sibuk dengan pekerjaannya . Embun juga kepingin kaya teman teman yang lain , yang bisa main setiap hari sama Ayah." Jawaban Embun menusuk jantung Ajeng .


Angga yang di situ pun merasakan bagaimana cara Embun berbicara kalau dirinya memang sangat rindu padaa Ayahnya , Caka .


Angga yang merasakan situasinya agak lain pun mendadak berbicara kepada Embun . "Mau beli boneka bareng Om lagi engga?."


Embun pun mengalihkan pandangannya kepada Angga yang berada di samping kirinya . "Om temannya Bunda? Ko Embun engga pernah lihat Om ya? Mau Om sekarang belinya? ."


Ajeng pun bernafas lega saat Angga mengalihkan topik pembicaraan mengenai mengapa Caka tidak jadi datang ke rumah sakit .


Angga mengelus pucuk kepala Embun . "Iya , Om temannya Bunda . Tapi Om baru datang ke sini , karena Om tinggalnya jauh . Maka dari itu , Om baru bisa ketemu Bunda sama Embun . Nanti ya Sayang belinya kalau Embun sudah sehat , nanti kita beli sama sama , gimana?."


Embun menganggukan kepalanya . "Iya Om , Embun tunggu ya . Om jangan bohong sama Embun." Ucap Embun , gadis kecil berusia lima tahun itu pun sudah mulai kritis akan ke adaan sekitarnya .


Ajeng tersenyum menatap Angga . Pandangan mata mereka bersirobok bertemu . " Terimakasih." Ucap Ajeng tanpa bersuara kepada Angga . Angga mengangguk tanda mengiyakan , dia tahu bagaimana susahnya menjelaskan kepada Embun .


****


"Lepasin tangan Mama , Pa." Sentak Anastasya kepada Rafael .


Mereka saat ini tengah masuk kedalam sebuah restaurant yang Rafael pesan . "Mama bisa diam engga . Nanti Papa jelasih ketika sudah di dalam." Jawab Rafael yang masih setia menggenggam jemari istrinya .


Anastasya hanya bisa mendengus saat Rafael berbicara seperti itu . Mereka saat ini sudah masuk ke dalam ruangan private di dalam restaurant tersebut . Iya , Rafael meminta ruangan private agar dia lebih leluasa berbicara dengan Istrinya .

__ADS_1


"Apalagi kali ini alasannya Pa? Hem? Mama sudah yakin , pasti Caka menemui Lacur itu kan? Iya? Dimana anak itu otaknya , Mama engga habis fikir deh Pa . Anak mau pulang dari rumah sakit , tetapi dia malah menemui Lacur itu? Aishhh." Geram Anastasya saat ini akan perilaku Caka .


"Caka bilang dia akan segera menyelesaikan masalahnya Ma . Kita lihat saja dulu sampai dimana . Kalau memang masih jalan di tempat , baru kita yang harus turun tangan."


"Kita? Mimpi . Mama yang akan turun tangan untuk memberikan Lacur itu pelajaran." Anastasya berucap . "Ajeng tahu masalah ini Pa , kalau Caka akan pergi ke Bandung?."


Rafael menganggukan kepalanya . "Iya , Ajeng tahu untuk masalah ini." Jawab Rafael Pasrah .


Anastasya menghembuskan nafasnya dengan kasar . "Terserah , Papa dan Caka mau berbuat apa , Mama tidak perduli." Dengan segera dia menyambar tasnya yang setara dengan harga satu buah mobil untuk pergi dari hadapan Suaminya , Rafael .


Rafael menghela nafasnya dan menyugarkan rambutnya ke belakang saat melihat Istrinya yang dalam mode reog seperti ini . Rafael pun akhirnya berdiri untuk mencari keberadaan Istrinya . Dia tidak ingin ini semua menjadi salah paham , bahkan Rafael pun belum menjelaskan yang sebenarnya pada Anastasya .


Anastasya pun berjalan dengan buru buru guna menghindari sang Suami . Dirinya kadung dongkol saat mendengar ucapan Rafael tadi . Iya , sepanjang jalan Anastasya tak henti hentinya menggerutu . Bagaimana bisa , Suaminya mengijinkan Caka bertemy dengan Lacur itu . Anastasya pun menghentakan kakinya dengan kesal saat ini . Lihat saja nanti kalau Caka pulang , akan dia omeli habis habisan pastinya .


Rafael pun berjalan menyusuri jalan untuk melihat Istrinya . Iya , dia memang mencari restaurant yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit , takutnya jika Ajeng membutuhkan dirinya dan juga Istrinya , Rafael dengan sigap akan segera datang .


Hatinya sesak manakala melihat Menantu kesayangannya datang bersama dengan salah satu anak dari keluarga Muneer . Dia tidak menyangka , jika Angga akan datang menjenguk Cucu kesayangannya . Dan yang membuat dirinya sesak juga adalah , Embun bahagia hanya sekedar di beri hadiah sebuah boneka .


Rafael dengan segera memegang tangan Anastasya . "Ma jangan marah sama Papa dong . Masa Caka yang pergi , Papa yang kena marah Mama." Ucap Rafael dengan memasang tampang sedihnya .


Anastasya masih memasang wajah juteknya untuk Suaminya . Biar , biar Rafael tau rasa betapa dia marahnya saat ini . Apalagi saat dia melihat Angga yang menjenguk Embun . Iya , Anastasya melihat bagaimana sikap Angga saat melihat Ajeng tadi . Tatapan mata Angga tidak bohong , Anastasya bisa merasakan bahwa Angga memiliki perasaan lebih untuk Ajeng .


"Ma , ayolah . Masa Papa yang kena marah , lagian Caka ke sana juga kan ingin mencari tahu kebenarannya seperti apa."


"Kebenaran yang mana? Kenapa baru sekaramg mencari tahunya Pa? Otak anakmu itu agak gesrek memang."


"Kita bisa bahasnya nanti Ma , kan malu di lihat orang orang." Ucap Rafael yang menyadarkan Anastasya saat ini .


Mereka saat ini sudah sampai di depan ruang rawat Embun . Demgan segera Rafael dan Anastasya membuk pintu ruangan tersebut . Betapa kagetnya mereka saat ini , melihat Embun yang tertawa lepas dengan Angga , membuat hati mereka sedikit sakit melihatnya .


Angga yang menyadari dirinya tengah di perhatikan , lantas dengan segera menyapa orang tua Caka . "Om Tante , saya pamit mau pergi undur diri." Ucap Angga saat itu .

__ADS_1


"Om mau pulang?." Tanya Embun dengan sedih .


"Iya Sayang , Om pulang ya . Om ada urusan yang penting soalnya . Nanti lain waktu kita ketemu lagi , Oke." Jawab Angga seraya mengusap kepala Embun .


"Maaf ya Nak Angga , Om jadi engga enak tadi ninggalin Angga . Masalahnya Om ada urusan sama Tante sebentar . Angga mau pulang sekarang?." Rafael Berucap kepada Angga .


"Iya , engga apa apa ko Om . Iya Om , Angga ada urusan penting soalnya." Dusta Angga kepada Rafael , Papanya Caka .


"Terimakasih sudah mau menjenguk Embun ya Angga . Kalau begitu hati hati di jalannya." Jawab Rafael .


"Iya Om sama sama . Terimakasih , kalau begitu Angga pamit Om ,Tante." Ucap Angga . "Kaka pamit ya , Embun yang cantik Om pulang ya Sayang." Kembali Angga pamit kepada Ajeng juga Embun .


Embun pun menganggukan kepalanya tanda iya .


"Hati hati Ka." Ucap Ajeng kepada Angga .


Angga lantas mengangguk dan berjalan menuju pintu keluar . Dia tahu , bahwa sedari tadi pandangan Mama Caka telah beda kepada dirinya saat kembali masuk kedalam kamar Embun . Maka dari itu , Angga memutuskan untuk pamit dari kamar Embun .


Angga yang sudah di luar pun berjalan menuju kamar sang Kaka yang di rawat . Tidak jauh memang , hanya beberapa kamar dari kamar Embun saja .


"Gimana , gimana? Ajeng jadi pisah dengan Caka?." Tanya Isabella , Mami Angga saat Angga membuka pintu ruangan Kakanya .


"Astaga Mi , kenapa mesti itu dulu yang di bahas." Ucap Angga kepada Maminya .


"Lihat Aksha , adik kamu itu . Di tanya sama orang tua malah jawabannya begitu." Gerutu Isabella .


"Bukannya begitu Cintaku . Masa Anak gantengnya dateng langsung di tanya jadi apa engga Ajeng pisah." Angga berjalan mendekati Maminya . "Dengerin Angga ya Angelina Jolie ku yang Cantik . Angga belum sempat nanya masalah Ajeng jadi pisah atau engga . Tetapi , Ajeng memang tadi meminta kontak Pak Leon pada Angga . Mungkin Ajeng mau konsultasi masalah rumah tangganya." Ucap Angga sembari memegang jemari Maminya .


"Kita berdoa aja yang terbaik untuk Ajeng ya Mi . Jangan memaksakan kehendak agar Ajeng harus pisah dengan Caka . Semua keputusan kan Ajeng yang pegang . Angga disini hanya membantu saja."


Iya , Isabella menganggukan kepalanya . Apa yang di ucap Angga memang ada benarnya . Semua memang keputusan ada di Ajeng . Tapi , kalau Isabella boleh meminta dia ingin Ajeng pisah dengan Caka . Dia tidak rela Ajeng di sakiti berkali kali oleh Caka .

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2