
Caka terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Embun . Anaknya yang saat ini berada di depannya tiba tiba saja berbicara seperti itu .
Ekhem . .
Caka berdehem untuk menetralkan jantungnya . Dia mencoba mencari kosa kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sang Anak .
" Maaf jika Ayah tidak banyak waktu untuk Embun . Ayah janji mulai sekarang , Ayah akan meluangkan waktu lebih banyak untuk Embun dan juga Bunda ". Ucap Caka untuk meyakinkan Embun kembali , dan menoleh kepada Ajeng .
Ajeng yang mendengar itu hanya tersenyum miring . " Apa katanya tadi ? Meluangkan waktu Untuknya dan Embun lebih banyak . Bulshit " Ucap Ajeng dengan geraman yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri .
" Sampai Ayah ingkar lagi , Embun engga mau ketemu sama Ayah dan berbicara sama Ayah lagi ". Jawabnya dengan mengkerucutkan bibir mungilnya .
" Iya Ayah janji ". Sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya lalu membentuk huruf v .
Embun mengangguk tanda mengerti .
Embun yang saat ini telah selesai makan dan meminum obat pun mulai merasakan kantuk yang luar biasa . Matanya yang tidak bisa di ajak kompromi pun mula mula terpejam . Caka yang masih setia berada disampingnya mengelus ngeluskan kepalanya dengan pelan .
Setelah memastikan Embun tertidur , Caka mendekati Ajeng yang berada di sofa letaknya tak jauh dari sana . Dengan perasaan yang bercampur , Caka duduk bersamaan dengan Ajeng saat ini .
Caka mencoba untuk memegang tangan Ajeng . Tetapi dengan gerakan cepat Ajeng menepisnya dan berdiri dari sofa yang dia duduki .
" Masih ingat punya Anak dan Istri disini Mas ? ". Ucapnya yang saat ini tengah melihat Caka .
Caka tertegun saat mendengar pertanyaan seperti itu . Baru kali ini Ajeng berucap seperti itu padanya .
" Kenapa diam Mas ? " .
" Mas .. Maafin Mas Ajeng " hanya itu yang terucap di mulut Caka .
" Masih ingat untuk kamu kembali pada kami berdua ? Urus saja Anakmu dan Istri tercintamu disana Mas . Kami sudah biasa hidup tanpamu selama ini " .
" Ajeng , Mas mohon . Disana juga membutuhkan Mas . Penyakit Arka lebih serius dibandingkan dengan Embun " Caka menutup mulutnya rapat rapat disaat dirinya salah berucap .
" Bukan hanya Dia Mas yang membutuhkanmu . Aku dan Embun pun sama halnya membutuhkanmu juga disini . Anakmu bukan hanya Arka Mas , ada Embun jika kamu lupa . Jangan kamu pikir , kamu mengingikan Anak lelaki , kamu dengan bebas tak perduli lagi pada kami , termasuk pada Embun " . Jawab Ajeng dengan mata yang sudah berkaca kaca .
__ADS_1
" Mas .. Mas minta maaf sayang . Mas salah , Maafin Mas ". Dengan bersimpuh di depan Ajeng Caka berucap .
Ajeng tak menggubris ucapan Caka . Hatinya sudah terlanjur sakit Dimadu , dan mengetahui bahwa Caka ternyata memiliki Anak selain Embun .
" Aku mau kita cerai Mas . Kita pisah saja ya . Biar tidak ada hati yang tersakiti lagi disini . Biarkan Aku mencari kebahagiaanku sendiri bersama Embun . Biarkan aku yang mengalah Mas . Rajutlah tali pernikahanmu dengan Mba Ara " . Jawab Ajeng sambil mencoba mengangkat Caka untuk berdiri .
Caka yang mendengar itu menegang .
" Enggak .. Mas enggak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun . Kasih Mas waktu , untuk bisa membawa Arka kesini " .
Apa katanya tadi . Membawa Anak hasil dari perselingkuhannya ? . Ajeng tak masalah dengan itu . Tetapi apakah Sang Anaknya mau untuk tinggal bersama dirinya atau tidak .
" Jangan menjadi lelaki egois Mas . Jika kamu terus mempertahankan Aku , akan ada hati yang semakin terluka . Aku tidak bisa membagi suamiku kepada Wanita lain . Apalagi Wanita itu adalah Wanita spesial yang ada dikehidupannya dahulu " .
" Enggak sayang . Mas mohon dengan sangat ". Jawab Caka dengen gelengan kepalanya .
" Kalau kamu tidak bisa memilih , Aku yang akan memilih Mas . Aku ikhlas melepasmu saat ini untuknya . Surat cerai akan segera kamu dapatkan . Aku tidak akan meminta harta gono gini sepeserpun padamu Mas . Biarkan Aku membawa Embun untuk tinggal bersamaku " . Ucap Ajeng dengan tenang , walaupun hatinya sudah tak berbentuk lagi saat ini . Tetapi dia harus rela melepas Caka didalam kehidupannya .
Dengan gerakan cepat Ajeng meraih tasnya dan berjalan keluar untuk meninggalkan Caka yang terdiam saat mendengar kata Cerai dari bibirnya . Tak bisa lagi dia bendung tangisannya Air mata terus saja membasahi pipi Ajeng tiada henti . Dia berusaha sekuat tenaga untuk tak menunjukan kesedihannya didepan Caka .
Dengan menghela nafasnya pelan pelan . Ajeng kembali menyeka Air matanya yang tak mau berhenti sedari tadi .
" Ini sudah menjadi pilihan yang terbaik Ajeng . Tidak usah menyesali keputusanmu untuk pergi dari Caka " Ucap Ajeng untuk menyemangati dirinya sendiri . " Semangat , Kamu harus semangat menjalani semuanya " Ajeng bermonolog sendiri .
Lantas dia mencoba untuk menyalakan ponselnya yang mati , untuk meminta bantuan kepada Angga guna mencari Pengacara yang akan mengurus perceraiannya dengan Caka . Hati Ajeng sudah mantap untuk berpisah dari Caka walaupun dalam hatinya dia tak rela. Tetapi demi kewarasan dirinya dan juga demi Embun , Ajeng harus melakukannya . Biarlah , urusan Embun bertanya , biar nanti akan menjadi urusannya .
****
Angga yang saat ini masih berada di ruang rawat Sang Kakak tak berkutik saat dia membuka pesan dari Juna Sang Asistennya .
Ingin sekali rasanya dia mencaci maki Caka saat ini juga . Bagaimana bisa Caka terang terangan menyianyiakan Ajeng selama enam tahun ? Gilaaa .
Isabella melihat gelagat aneh dari sang anak lantas mendekat dan mengusap lengannya . " Ada hal apa yang mengganggu kamu sampai menjadi tegang seperti ini ?" . Seraya memegang tangan Sang Anak .
Angga pun sontak menutup ponselnya , dia tidak ingin Sang Mamih tau dulu permasalahan yang menimpa Ajeng .
__ADS_1
" Tidak ada Mih . Hanya masalah kantor saja " . Angga berucap dusta pada Sang Mamih , Angga tidak ingin Mamihnya berfikiran macam macam saat ini .
" Angga keluar sebentar ya Mih " mengecup kening Isabella lalu bergegas untuk keluar mencari Ajeng .
Angga mengedarkan pandangannya saat sudah berada di luar . " **** " Umpat Angga saat mengingat tak mempunyai nomer handphone Ajeng .
" Dimana Kamu Ajeng . Kakak khawatir " sambil terus berjalan mencari sosok Ajeng .
Angga yang saat ini sudah berada di luar Rumah Sakit sejenak berlari , saat dia tak sengaja melihat sosok yang dicarinya sedari tadi . Dengan langkah besarnya Angga berlari untuk mendekati Ajeng .
Tinnn .... Tinnnn suara motor terdengar jelas .
Grep ..
Angga sekuat tenaga berlari saat akan ada motor yang menabrak Ajeng . Jantungnya seketika berhenti berdetak .
" Kamu baik baik saja ? Ada yang terluka ? " . Dengan teliti Angga memeriksa seluruh badan Ajeng .
" Kalo mau nyebrang lihat lihat dong Mba . Untungnya engga ketabrak " Ucap seseorang yang membawa motor tersebut .
Angga yang berada di situ pun langsung meminta maaf kepadanya .
" Maaf kan kami Pak " ucap Angga seraya tersenyum . Walaupun dalam hatinya berdegup kencang . Mengingat kejadian tadi .
Ajeng yang kaget pun hanya diam saja . Pasalnya dia tak mendengar suara klakson motor tersebut . Dengan segera dia memeluk Angga . Menumpahkan kembali tangisnya yang sempat mereda . Dia menumpahkan semuanya saat ini pada seseorang yang telah lama dia tunggu .
Angga mengusap belakang punggung Ajeng . " Sudah sudah tidak apa apa . jangan nangis lagi ya , kita cari tempat dulu biar kamu enakan dan rileks " .
" Bantu Ajeng untuk urus Perceraian dengan Mas Caka Kak " . Ajeng melepas pelukannya dan melihat Angga .
" Tolong bantu Ajeng untuk mengurus semua perceraian Ajeng kak . Ajeng udah engga kuat " kembali memeluk Angga dengan erat .
" Iya , pasti akan Kakak bantu . Pasti . Kamu tenang saja , sekarang ada Kakak disisi kamu . Jangan kamu buang air mata kamu hanya untuk dia Ajeng . Dia tidak pantas untuk kamu tangisi " .
Ajeng semakin terisak dalam pelukan Angga , saat mendengar Angga akan membantunya . Pilihannya kali ini tidak salah , Ajeng mantap ingin bercerai dengan Caka .
__ADS_1
Bersambung . . .