
Angga yang menunggu di parkiran rumah sakit pun memandang kesana kemari untuk melihat mobil yang Ajeng pakai sudah ada di sana atau belum? Nyantanya pandangan Angga menyapu seluruh mobil yang terparkir , tapi tidak menemukan mobil Ajeng . Dengan berbekal buah tangan yang berada di tangannya untuk Embun , Angga dengan setia menunggu Ajeng .
Tadi Ajeng sempat mengirimi pesan padanya , bahwa sebentar lagi dirinya akan datang . Boneka Teady Bear yang lucu pun Angga pilih untuk buah tangannya bertemu Embun . Iya , Ajeng tadi menyarankan membawa boneka saja saat dirinya menawarkan untuk membawa apa untuk Embun , daripada membawa buah-buahan yang pastinya tidak akan di makan oleh Embun . Karena Embun tidak terlalu begitu suka dengan buah .
Mobil Lexus LS Executive yang di kendarai Andi terpakir dengan nyaman di halaman rumah sakit . Ajeng menolak keras saat akan di suruh memakai mobil Mercedes Benz AMG GT 53 milik Caka .
Andi turun dari mobil dan berputar guna membukakan pintu untuk Majikannya .
"Terimakasih Andi." Ucap Ajeng tulus saat hendak turun .
"Sama-sama Bu." Jawab Andi .
"Kamu tunggu di sini dulu bisa Ndi? Takutnya Mama dan Papa enggak bawa mobil . Biar nanti kita pulang sama-sama , enggak apa-apa kan Ndi? Saya pamit masuk ke dalam ya."
"Enggak apa-apa Bu , saya akan tunggu di sini." Jawab Andi tulus
Angga berjalan mendekat ke arah Ajeng . Ajeng tersenyum mana kala melihat Angga membawa boneka Teady Bear kesukaan Embun .
Andi yang melihat itu pun merasa tersenyum . Dia tahu siapa keluarga Muneer dan dia juga tahu bahwa Angga menaruh hati pada Majikannya . Tepat saat pandangan mata Andi melihat mata Angga yang penuh dengan cinta untuk Majikannya . Andi hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa , semoga Majikannya selalu bahagia tanpa pernah menitikan air mata lagi . Iya Andi tidak mau tahu banyak mengenai ada hubungan apa sang Majikan dengan salah satu Anak dari keluarga Muneer .
"Sudah lama ya Kak? Maaf hehehe." Ucap Ajeng sambil tertawa di hadapan Angga .
Angga pun yang gemas mengacak rambut Ajeng . "Enggak masalah . Mau masuk sekarang atau nanti? Sudah sarapan?."
"Sudah di rumah bareng Mas Caka . Kaka sudah sarapan?." Tanya Ajeng yang masih setia berhadapan dengan Angga .
"Hanya sarapan roti tadi di kamar Ka Aksha." Jawab Angga .
Ajeng mengernyit saat Angga mengatakan hanya sarapan roti , dia tahu bahwa Angga tidak akan pernah bisa sarapan tanpa nasi . " Are you sure? Roti? Sejak kapan Kaka sarapan pakai roti?."
Dengan anggukan kepala Angga menjawab . "Ternyata kamu masih hafal ya gimana Kaka? Hem?."
"Kita cari sarapan saat ini juga." Ucap Ajeng kepada Angga .
"No , Kaka mau jenguk Embun dulu . Lagian Kaka udah kenyang kok." Dusta Angga kepada Ajeng .
Ajeng pasrah jika Angga dalam mode keras kepala seperti ini . "Tapi sehabis menjenguk Embun , cari makan Kak ngerti?."
"Siap Bos." Jawab Angga dengan gerak hormat dan tegap .
****
Mereka berdua berjalan menyusuri loby rumah sakit , tidak banyak yang datang di jam ini . Karena memang belum jam besuk para keluarga pasien yang di rawat disini .
"Tante ada di sini Kak?." Tanya Ajeng yang saat ini sudah masuk ke dalam lift .
__ADS_1
"Mami? Iya , Mami tadi ke sini sama Papi buat jaga dan lihat kondisi Kak Aksha . Mau ketemu Mami? Mami kangen katanya sama kamu." Angga berucap seraya melihat Perempuan mungil yang berada di sampingnya .
Ingin rasanya Angga membawa Perempuan yang ada di sampingnya ini dalam dekapannya dan menghirup dalam dalam wangi yang selalu menjadi candu untuk Angga . Wangi yang selama ini tidak pernah bisa Angga lupakan .
"Nanti boleh Kak? Takut Embun menunggu Ajeng , dan kasihan juga Mama dan Papa yang semalam harus menjaga Embun . Sampaikan salam Ajeng untuk Tante ya Kak." Jawab Ajeng kepada Angga .
"Ya sudah enggak apa-apa . Nanti Kaka sampaikan salamnya."
Tidak terasa pintu lift terbuka , Ajeng dan Angga pun berjalan beriringan menuju kamar Embun .
Tok
Tok
Tok
Anastasya dan Rafael pun saling memandang saat pintu kamar Cucunya di ketuk dari luar .
"Ada tamu ya Oma?." Tanya Embun kepada Omanya .
"Oma juga engga tahu Sayang . Coba Oma buka pintu dulu ya."
Saat akan membuka pintu , ternyata Ajeng sudah lebih dulu masuk .
"Bundaaaaaaa." Teriak Embun saat melihat siapa yang datang .
"Sama siapa Sayang? Sama Caka?." Anastasya bertanya kepada Ajeng .
"Enggak Ma , Mas Caka ada urusan ke luar kota." Jawab Ajeng kepada Mama Mertuanya .
Angga yang masih setia di balik pintu pun akhirnya masuk .
"Selamat pagi Om , Tante." Sapa Angga kepada keluarga Adiguna .
Anastasya dan Rafael terpaku saat siapa yang datang ke kamar cucunya tersebut . Airlangga Tabrazzi Muneer Putra ke dua dari pasangan Isabella dan juga Sulhan .
"Wah Teady Bear." Ucap Embun memecah keheningan . "Untuk Aku Om?." lagi lagi Embun bertanya .
"Yes Princess , For you." Angga menjawab sambil memberikan bonekanya kepada Embun dan mengusap pucuk kepalanya .
Angga berjalan menuju Rafael dan Anastasya yang masih terpaku , di ciumnya tangan kedua orang tua Caka dengan takdzim . Bagaimanapun Angga menjunjung tinggi sopan santun kepada orang tua .
"Pagi juga , Kamu Airlangga Bukan?." Tanya Rafael kepada Angga .
"Iya , Saya Airlangga Om . Tapi Om bisa panggil saya Angga saja . Saya datang kesini untuk menjenguk Embun Om." Jawab Angga dengan sopan kepada Rafael .
__ADS_1
"Iya , silahkan."
"Terimakasih ya Om bonekanya , Embun suka sekali." Sambil memeluk Teady Bear Embun berkata .
"Sama sama Cantik."
"Ma , semuanya sudah siap? Kapan Embun bisa keluar?." Tanya Ajeng kepada Anastasya .
"Semua sudah di siapkan Sayang . Sekarang juga bisa , tadi Dokter sudah kemari dan menjelaskan kalau pagi ini Embun bisa langsung pulang ke rumah." Jawab Anastasya kepada Ajeng .
"Terimakasih Ma , Pa . Sudah mau jaga Embun."
"Kamu enggak perlu berterimakasih Ajeng . Selagi Mama sama Papa bisa , Kamu engga perlu sungkan . Mama juga senang kok nemenin Cucu di sini . Ngomong ngomong Ibu Pantu Kamu kasih tahu enggak kalau Embun masuk rumah sakit?."
Ajeng menggelengkan kepalanya . "Enggak Ma , Ajeng enggak mau Ibu kepikiran . Kasihan anak anak panti jika Ibu sampai tahu."
Anastasya menganggukan kepalanya tanda mengerti .
"Pa , Mama ingin bicara berdua bisa?." Tatapan tajam Anastasya menusuk jantung Rafael . Rafael sudah tahu apa penyebab Istri Cantiknya ini yang menampakan wajah juteknya .
Rafael beranjak dari sofa yang dia duduki . "Kita bicara di luar saja , cari tempat yang enak . Agar tidak di dengar orang lain." Ucap Rafael sedikit berbisik .
"Ajeng , Mama sama Papa pamit sebentar keluar ya . Engga apa apa kan Sayang?." Tanya Anastasya .
"Enggak apa apa Ma."
"Angga , Om dan Tante pamit keluar sebentar ya." Sapa Anastasya kepada Angga .
"Iya Om." Jawab Angga kepada Rafael .
Mereka berjalan keluar untuk membicarakan mengapa Caka sampai hati tidak menjemput Embun . Untung saja ada boneka pemberian Angga yang menjadi perhatian Embun yang tidak menanyakan keberadaan Ayahnya dimana .
Bisa di pastikan jika tidak ada Angga yang membawa Boneka tersebut , sudah pasti Embun akan sedih sekali .
Memang dasar Anak tidak tahu di untung yang bernama Caka .
"Mau alasan apa lagi Pa kali ini?." Sentak Anastasya yang sudah berada di luar dengan Rafael .
"Ma , Plis jangan bahas di sini . Bisa malu jika di lihat orang orang." Jawab Rafael yang meredakan emosi Anastasya .
"Terserah." Ucap Anastasya sambil berjalan maju ke depan tanpa menoleh ke belakang . Apakah suaminya akan menyusul atau tidak . Tidak dia hiraukan , hatinya kadung dongkol saat melihat Caka tidak datang .
Bagaimana bisa perhatian Embun teralihkan oleh Angga yang notabennya mereka baru bertemu pertama kali . Melihat Embun yang bahagia saat mendapatkan Boneka membuat hati Anastasya teriris . Bagaimana bisa Ayahnya sendiri tidak menjemput Anaknya yang akan keluar dari rumah sakit ?
Keterlaluan memang Caka .
__ADS_1
Bersambung . .