
Sejam berlalu. Perlahan, pintu itu terbuka. Dikta yang sempat tertidur pun akhirnya membuka mata. Wajah lelahnya tak dapat ditutupi. Namun, seketika bibirnya menarik secarik senyum saat dia melihat Varissa kini telah berdiri dihadapannya.
Wanita berparas cantik itu tampak mengusap airmatanya. Dia tak menyangka bahwa Dikta benar-benar akan menunggu seperti yang lelaki itu katakan beberapa waktu lalu. Ia lalu duduk disebelah Dikta. Menekuk kedua lututnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
"Apa benar aku mandul ya, Ta?" tanya Varissa memulai topik pembicaraan. Tak perlu ada basa-basi.
"Siapa yang bilang?" ujar Dikta balik bertanya.
"Mamanya Mas Erik," jawab wanita itu seraya kembali meneteskan air matanya. Ia bahkan sengaja menggigit bibir bawahnya demi menekan suara isak tangis yang hendak bergemuruh keluar.
"Kenapa dia bisa bilang begitu?" tanya Dikta kembali sambil berusaha memiringkan tubuhnya agar Varissa bisa bersandar dengan nyaman dibahunya.
"Katanya, Mas Erik selingkuh karena aku nggak bisa kasih dia keturunan." Suara Varissa mencicit. Kedua tangannya sibuk meremas lututnya yang tertekuk.
"Itu nggak benar. Mama Erik cuma bilang begitu agar kamu merasa bersalah ke mereka. Nggak ada maksud yang lain."
"Tapi, Ta!! Omongannya tetap aja nyakitin," ujar Varissa mengadu. Sesak di dadanya tak kunjung berkurang. Perasaannya sungguh hancur saat ibu mertuanya sendiri menuding dirinya mandul tanpa basa-basi.
"Kalaupun kamu mandul, memangnya kenapa?"
Varissa menegakkan kepalanya. Menatap wajah Dikta yang tetap datar seperti biasa meski pertanyaannya sedikit menyinggung Varissa.
"Kok kamu nanyanya gitu?" protes Varissa.
"Salah, aku nanya gitu?" Dikta menatap Varissa dengan kedua alis yang terangkat. "Baik kamu mandul ataupun tidak, itu bukan alasan untuk membenarkan semua perbuatan Erik. Lagipula, kalau dia memang benar cinta, enggak mungkin dia tega nyakitin kamu kayak gini."
Varissa tertunduk. Ternyata Dikta memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
Kedua tangan Varissa tiba-tiba digenggam oleh pria berpostur tinggi itu. Senyum lebar yang memperlihatkan gigi gingsulnya membuat ketampanan Dikta meningkat berkali-kali lipat. Hanya dengan melihat itu, mampu membuat segala beban pikiran Varissa yang menumpuk sejak pagi menguap entah kemana.
"Va! Erik nggak baik kamu. Semakin cepat kamu mengakhiri hubungan toxic kamu dengan dia, semakin cepat pula kamu akan merasakan kebahagiaan."
"Tapi, aku takut sendirian, Ta!"
"Hei!" Dikta ikut menegakkan punggungnya. Diusapnya kepala Varissa dengan lembut lalu menangkup pipi sembab wanita itu.
"Siapa bilang kamu akan sendiri, hm? Kan, ada aku!" imbuh Dikta. "Aku janji. Aku akan selalu di sisi kamu sampai kapan pun. Dan, sama seperti dulu, aku hanya akan pergi kalau kamu sendiri yang meminta hal itu ke aku."
Air mata Varissa kembali menetes. Rasa bersalah itu lagi-lagi menyeruak.
"Aku nggak pantas dapat semua ini dari kamu, Ta!" lirih Varissa.
"Kenapa?" tanya Dikta. Diangkatnya wajah Varissa agar mata wanita itu bisa menatap matanya.
"Karena dulu aku udah jahat banget sama kamu. Aku...,"
Varissa mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Merasa tak memiliki apapun yang sanggup untuk dia utarakan lagi kepada Dikta. Karena, sejauh apapun dia mendorong lelaki itu untuk pergi, maka Varissa sendiri yang akan tersakiti. Sebab, perasaan itu semakin lama semakin membesar untuk Dikta.
"Tugas kamu cuma satu, Va! Selesaikan urusan kamu dengan Erik lalu silahkan tentukan, apa kamu akan membalas perasaan aku atau tidak! Jangan bahas lagi masalah pantas dan tidak pantas. Karena, jika itu yang kamu lakukan, selamanya justru aku yang malah nggak pantas buat kamu!"
Varissa reflek mengangkat kepalanya. Ditatapnya Dikta dengan tatapan yang minta penjelasan akan kalimat yang baru saja lelaki itu lontarkan.
Tangan Dikta perlahan terlepas dari pipi Varissa. Lelaki itu kembali bersandar di dinding sambil menengadah ke atas. Ia tertawa kecil lalu menatap Varissa kembali.
"Apa menurut kamu, seorang anak lelaki yang diangkat dari lumpur yang hina, pantas bersanding dengan anak dari malaikat yang menolongnya?" Dikta tertawa sambil menggeleng. "Nggak, Va! Orang-orang justru akan berpikir kalau aku ini ngelunjak. Nggak tahu diuntung, bahkan nggak tahu diri! Ibarat anjing, dikasih makan sesuap malah minta semangkuk. Kan, kurang ajar!" Lagi-lagi dia tertawa.
__ADS_1
BUK!!
Varissa memukul lengan Dikta berulangkali. Air matanya semakin deras mengalir. Sementara, lelaki itu hanya diam. Membiarkan Varissa melampiaskan segala emosi yang dipendamnya agar tersalurkan sepenuhnya.
"Kamu jahat!" ucap Varissa terbata. Lelah memukul lengan Dikta yang terasa seperti batu baginya, ia akhirnya menyerah. Memilih menenggelamkan wajahnya dilengan lelaki itu sambil mencengkram erat lengan baju Dikta.
"Jangan nangis, Va!" hibur Dikta.
"Siapa yang berani bilang kamu ngelunjak, hah?" tanya Varissa setengah berteriak. Dikta bahkan terperanjat lalu menengok kanan-kiri karena merasa tak enak hati pada penghuni rumah yang lain.
"Jangan keras-keras, Va!" bisik Dikta membujuk.
BUK!
Varissa lagi-lagi memukul lengan pria berambut panjang itu. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Papa aja nggak pernah nyamain kamu sama anjing! Terus, kenapa kamu malah bilang diri kamu kayak gitu?"
BUK!
Pukulan kembali Dikta terima.
"Kamu tahu nggak, seberapa sayangnya Papa sama kamu?" Varissa masih terisak. Masa bodoh dengan ingus yang meleber kemana-mana. Dibanding ucapan Ibu mertua yang menuding bahwa Varissa mandul, Varissa ternyata jauh lebih sakit hati saat Dikta mengumpamakan dirinya sendiri setara dengan anjing.
"Papa lebih perhatian sama kamu dibanding aku, tahu! Papa jauh lebih hafal makanan favorit kamu dibanding makanan favorit putri kandungnya sendiri. Bagi Papa, kamu anak lelaki yang paling disayang! Nggak pernah sekalipun Papa menganggap kamu itu bukan anaknya. Papa bahkan rela-relain begadang saat kamu pulang terlambat demi mastiin kamu nggak apa-apa! Dan, di nama kamu bahkan disematkan nama belakangnya. Sementara aku yang putri kandung, nggak punya sama sekali. Dan kamu masih menganggap diri kamu bukan siapa-siapa?"
Panjang lebar Varissa mengomel. Lelaki ini harus tahu arti dirinya bagi sang Ayah. Bagi seorang Hadi Ananta, Dikta Anantavirya adalah putra kebanggaannya. Mungkin Dikta tidak tahu. Tapi, Varissa sangat tahu. Setiap kali ada orang yang berkunjung ke rumah mereka, atau saat mereka dibawa pergi ke sebuah acara, Hadi Ananta selalu memperkenalkan sosok anak lelaki yang selalu menjaga jarak dan memilih duduk menyendiri itu sebagai putra kebanggaannya. Sosok pengganti dirinya yang akan meneruskan bisnisnya serta menjaga anak perempuan satu-satunya kelak. Hal itu terbukti dengan diberinya separuh jantung kehidupan keluarga mereka untuk Dikta pegang. Sesuatu yang akan menjadi penentu masa depan Varissa dan perusahaannya nanti.
__ADS_1