
Setelah menangis lama, Varissa akhirnya menyerah pada rasa lapar yang menggerogoti perutnya sejak tadi. Beberapa kali, perutnya bahkan mengeluarkan bunyi pertanda minta diisi sesegera mungkin.
"Mau makan apa?" tanya Dikta. Lelaki itu bergerak membuka tudung saji diatas meja. Terdapat beberapa lauk yang kembali dingin meski sudah dipanaskan oleh Bi Nunik sekitar satu setengah jam yang lalu.
"Nggak ah! Nggak pengen makan itu," geleng Varissa dengan tatapan tak tertarik pada lauk yang tersaji di meja makan.
"Terus, maunya makan apa?" tanya Dikta sambil menghela nafas.
Lihatlah, Varissa sekarang! Sejak tadi, wanita itu terus memegang perutnya yang mulai terasa melilit akibat kelaparan. Namun, begitu sampai dapur, lauk yang nyata sudah dapat disantap masih saja ditolak. Defenisi mengundang penyakit maag untuk datang menghampiri.
"Mi instan," jawab Varissa singkat.
"Mi instan nggak baik, Va! Nggak sehat! Yang lain aja, deh!" saran Dikta sembari melangkah memasuki pantry. Membuka kulkas sambil memeriksa bahan makanan yang mungkin bisa dia olah untuk Varissa.
"Aku maunya mi instan, Ta!" sungut Varissa bersikeras. Dia duduk di kursi pantry. Bertopang dagu dengan kedua tangannya sambil memperlihatkan tatapan sengit keras kepalanya.
"Itu nggak sehat, Va!" Sekali lagi Dikta menasehati dengan kalimat lembut.
"Tapi, aku maunya itu. Bikinin Mi Instan aja! Yang rasa kari ekstra rawit pedas pakai telur dua!" pintanya sambil menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Va!"
"Ta!"
Dikta menyerah. Ditatapnya Varissa yang juga balas menatapnya tak kalah sengit. Lelaki itu hanya bisa menggeleng. Keras kepala Varissa sejak dulu tidak pernah berubah.
"Mi instan-nya ada dimana?" tanya Dikta pada akhirnya.
"Di lemari atas yang nomor dua!" jawab Varissa sambil menunjuk deretan pintu laci kecil yang berderet diatas kepala Dikta.
Lelaki itu meraih satu bungkus Mie permintaan Varissa. Kemudian, ia bergerak meraih panci berukuran kecil. Mengeluarkan dua butir telur dari dalam kulkas sebelum bergerak mengisi panci kecil tadi dengan air secukupnya.
"Pakai sayur, nggak?" tanya Dikta berkacak pinggang.
"Nggak usah," geleng Varissa.
Dikta mengangguk. Memasak Mie permintaan Varissa kemudian menyajikannya diatas meja pantry usai masakan tersebut matang.
"Masih panas. Makannya hati-hati," ucap lelaki itu memperingatkan.
Tanpa peduli peringatan Dikta, Varissa makan dengan lahap. Tak butuh waktu lama, semangkuk Mie lengkap dengan dua telur itu ludes tak bersisa.
"Nggak enek makan telur dua sekaligus?" tanya Dikta sedikit ngeri.
"Nggak!" jawab wanita itu sambil mendorong pelan mangkuk kosongnya. Ia lalu mengambil air minum yang memang sudah disediakan Dikta untuknya kemudian meminum air tersebut hingga tandas.
"Udah ngerasa lebih baik?"
Varissa menoleh. Tersenyum manis ke arah Dikta sebelum mengangkat mangkuk berikut gelas bekasnya tadi menuju wastafel.
__ADS_1
"Better!" jawab Varissa singkat.
"Jangan terlalu banyak pikiran. Jangan hanya fokus ke lelaki brengsek itu aja. Kamu juga harus berpikir untuk membahagiakan diri kamu sendiri mulai sekarang!"
"Iya!"
"Besok, mau aku anterin ketemu Om Reno, nggak?"
"Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok!"
Terdengar helaan nafas dari lelaki yang kini berdiri dihadapan Varissa itu. Mungkin, dia kecewa. Namun, kembali lagi. Perasaan itu harus ia tahan sebentar lagi sampai Varissa benar-benar sah berpisah dari Erik.
"Ya udah! Kalau gitu, kamu kabarin aku hasil pertemuan kamu sama Om Reno, ya!"
"Loh, besok kamu nggak hadir?" tanya Varissa dengan alis berkerut
"Nggak. Ada hal lain yang harus aku urus untuk jaga-jaga," jawab Dikta tersenyum.
Ya, akhir-akhir ini memang lelaki itu sering tersenyum. Tapi, hanya didepan Varissa saja.
"Apa?" Varissa mulai terpancing. Penasaran pada urusan yang dimaksud Dikta.
"Pokoknya ada deh. Bukan sesuatu yang penting-penting amat, tapi mungkin nanti bakal dibutuhkan," jawab Dikta ambigu. "Aku pulang sekarang, ya!"
"Pu-lang?" tanya Varissa terbata. Jika boleh jujur, dia masih ingin lelaki itu berada disana. Menemaninya bicara, berbagi keluh kesah atau bahkan hanya sekedar diam dan memandang satu sama lain.
Selesai mengucapkan kalimat itu, Dikta berbalik. Berjalan dengan langkah lebar hendak pergi meninggalkan rumah itu setelah memastikan orang yang dicintainya baik-baik saja.
"Tapi, aku belum mau istirahat, kok!" teriak Varissa yang sedetik kemudian mulai merasa menyesal.
Haruskah suaranya sekencang itu? Lalu, kenapa dia harus mengatakan kalimat itu? Kenapa?
Langkah Dikta terhenti. Lelaki itu mengulum senyumnya sembari berbalik kembali menghadap wanita yang kini sedang sibuk menampar mulutnya sendiri.
"Ngomong apaan sih? Malu-maluin!"
"Kamu ngomong apa, Va?" tanya Dikta pura-pura.
Varissa melebarkan matanya. Berdehem sesaat sambil berusaha memikirkan kalimat pengalihan dari kata-kata memalukannya barusan.
"A-ku bilang... Aku ma...u tidur sekarang!" teriak wanita itu diakhir kalimat sambil berlari kencang menuju kamarnya. "Bye, Ta!" pamitnya pada Dikta sambil menahan malu.
Dikta menggelengkan kepala sambil tertawa. Hei! Sejak kapan Varissa bertambah imut begitu?
"Hiks... Demi kebahagiaan Nyonya Varissa, terpaksa aku harus melepaskan kamu, Mas Dikta!" ucap Lastri yang mengintip dari kejauhan.
"Hus!! Ngomong ngawur apaan sih kamu, Las?" protes Bi Darma sambil memukul kepala Lastri.
"Sakit...," ringis Lastri tak terima.
__ADS_1
"Makanya, mimpi jangan ketinggian! Mana mau Mas Dikta sama modelan kayak kamu! Udah centil, pacarnya dimana-mana pula!" sentil Bi Nunik yang ikut-ikutan kesal pada Lastri.
"Nanti deh! Kalau Mas Dikta setuju jadi pacarku, yang lainnya itu ta' putusin satu-satu. Gimana?"
Gemas. Bi Nunik sampai menjewer telinga Lastri. Kepedean sekali ART junior satu ini.
"Kamu jangan-jangan coba jadi pelakor ya! Kalau sampai itu terjadi, nanti aku blender kamu!" ancam Bi Nunik.
"Bercanda, Bi! Lagian, mana mau Mas Dikta sama aku!" Lastri tertawa. Nyengir ngeri-ngeri sedap mendengar ancaman dari fans couple 'VaTA' garis keras.
Bi Nunik dan Bi Darma mendengus. Dua wanita paruh baya itu bergandengan pergi meninggalkan Lastri sendirian.
"Ibu-ibu itu... Kan, cuma bercanda! Baperan amat!"
*******
Di apartemen Mauren, lagi-lagi keributan tak dapat dihindarkan. Setelah mendengar bahwa Erik akan bercerai dari Varissa tanpa mendapatkan apa-apa, Mauren sontak naik pitam. Jika jadi begini, maka dia pun tak akan memperoleh barang sepeser pun.
"Kok kamu main setuju-setuju aja sih, Mas? Harusnya, kamu itu bujuk Varissa agar nggak jadi cerai. Kalau perlu, kamu berlutut dihadapan dia!" kata Mauren penuh emosi.
"Kamu kok malah marah ke aku? Ini semua kan, juga gara-gara kamu! Kita bisa ketahuan selingkuh, itu karena kamu yang sering nantangin Varissa secara terang-terangan!" Erik tak mau kalah.
"Gimana aku nggak nantangin kalau tingkah perempuan bodoh itu selalu sok-sok'an, Mas? Kamu nggak tahu aja gimana rasanya ditindas sama istri sah kamu itu selama ini!" Mauren menundukkan kepala. Berpura-pura sedih atas segala perlakuan Varissa selama ini terhadapnya.
Erik berusaha meredam kemarahannya saat melihat Mauren jadi sesedih itu. Lelaki itu mendekat. Memeluk tubuh seksi kekasihnya sambil mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Aku minta maaf, ya! Aku nggak bermaksud marah sama kamu. Maafin aku juga karena selama ini aku udah biarin orang-orang menghina kamu. Tapi, mulai sekarang itu nggak akan terjadi lagi. Segera setelah aku dan Varissa cerai, kita akan menikah!"
"Yang benar, Mas?" Mauren tersenyum. Berbinar bahagia mendengar janji yang diucapkan Erik.
"Tapi, rencana kamu, gimana?"
"Udah, kamu tenang aja. Varissa itu nggak bakalan sanggup hidup tanpa aku, Sayang! Paling lama, sebulan setelah aku dan dia cerai, dia pasti bakalan cari aku lagi dan memohon agar aku kembali sama dia."
"Kamu yakin, Mas?"
"Yakinlah!" angguk Erik mantap. "Memangnya, siapa lagi yang tersisa dihidup Varissa selain aku? Orangtuanya udah meninggal semua. Saudara dari Ayahnya pada di Kalimantan. Saudara dari ibunya, juga sama. Kebanyakan menetap di luar negeri bahkan nyaris nggak ada yang kenal sama Varissa. Terus, anak angkat ayahnya juga hilang entah kemana!"
"Iya juga ya, Mas! Tapi, kalau Varissa nemuin laki-laki lain, gimana?"
Erik tampak tertegun mendengar pertanyaan itu. Hal itu sama sekali tidak pernah terlintas dipikirannya.
"Mas?" panggil Mauren yang melihat Erik melamun.
"Nggak mungkin, Sayang! Kamu nggak tahu aja gimana cintanya Varissa sama aku! Nggak bakalan ada laki-laki lain yang sanggup menggeser posisi aku dari hati Varissa sampai kapanpun!"
__ADS_1