Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Gisam Butena datang lagi


__ADS_3

Senyum tak henti-hentinya terukir di wajah sumringah Varissa. Mendengar ucapan Dokter Indi tadi, sama seperti sedang meledakkan berjuta-juta kembang api diatas menara Eiffel bagi Varissa. Rasanya senang sekali. Terlebih, ketika Dokter berpipi Chubby itu mengatakan bahwa usia kehamilannya sudah menginjak empat minggu.


"Jangan senyum-senyum terus, Va! Nanti gigi kamu kering," ledek Dikta. Meski bahagianya tak kalah besar dengan sang istri,namun lelaki itu tetap bersikap jahil kepada Varissa.


"Namanya juga bahagia. Wajarlah kalau aku senyum," balas Varissa mencebik.


"Tapi, nggak sesering itu juga, Sayang. Nanti, orang-orang mikirnya kamu agak...," Dikta menempelkan telunjuknya dalam posisi miring didepan dahinya.


Mata Varissa seketika mendelik galak. Dicubitnya lengan sang suami yang tengah menyetir dengan sangat keras. Biarkan saja Dikta meringis. Varissa tidak peduli.


"Sakit, Sayang!" keluh Dikta sambil mengusap lengannya.


"Makanya, jadi orang jangan jahil-jahil, Ta! Masa' istri sendiri dikatai gila?" sungut Varissa yang masih merasa kesal.


Tangan Dikta lalu mengelus perut Varissa secara tiba-tiba. Bahkan, wanita itu pun tampak kaget saat mendapati perlakuan itu dari sang suami.


"Lihat tuh, Mama kamu, Nak! Jahat banget sama Papa. Nanti, kamu jangan galak kayak Mama, ya! Yang kalem-kalem aja kayak Papa," ujar Dikta pada calon bayinya sembari tetap berfokus ke jalan raya.


"Kalem?" Varissa mencebik. "Kalem dari Hongkong?" sanggahnya dengan sangat tidak setuju.


Dikta hanya tertawa lebar. Duh, kenapa istrinya selalu menggemaskan begitu, sih?


Tiba kembali di rumah, rupanya kedatangan mereka sudah dinantikan oleh ketiga ART yang menanti setia didepan teras. Begitu Varissa turun dari mobil, senyum terbit di wajah ketiga wanita itu. Lastri bahkan dengan sigap meraih tas jinjing yang dibawa Varissa kemudian menggandeng tangan majikan perempuannya itu memasuki rumah.


"Gimana, Mbak hasilnya?" tanya Lastri tak sabaran.


"Iya, Mbak? Gimana? Positif?" imbuh Bi Nunik dengan wajah harap-harap cemas.


"Dijawab Mbak! Jangan diem aja," celetuk Bi Darma yang semakin tak sabaran.


Dikta hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga wanita itu. Lihat saja! Istrinya sudah di kepung sementara dirinya seolah dilupakan.


"Kalian semua mau tahu?" tanya Varissa ketika dia sudah duduk di sofa dengan posisi Lastri yang duduk di bawah sembari menopang dagu diatas lututnya. Sementara, Bi Darma dan Bi Nunik duduk di sisi kanan-kiri Varissa.


Kompak ketiganya mengangguk. Rasa penasaran semakin tampak di gurat wajah mereka.


"Kasih tahu nggak, ya?" ucap Varissa dengan seringai jahil. Ditatapnya wajah ketiga ART-nya satu per satu yang kembali kompak mengangguk.


Dikta yang duduk di sofa tunggal tampak memperhatikan mereka dengan wajah datarnya. Ikut menikmati rasa penasaran ketiga wanita itu sembari mengedipkan mata kepada sang istri yang sepertinya sedang mencoba mengerjai para ART mereka.


"Ayo dong, Mbak! Jangan bikin jantung Lastri mau copot," protes Lastri seraya memukul paha Varissa tanpa sadar. Setelahnya, ART muda itu tersenyum kecut. Ia menyadari bahwa kelakuannya sedikit tidak sopan kepada orang yang telah mempekerjakannya selama ini.

__ADS_1


"Mau tahu, mau tahu?" Alis Varissa naik-turun berkali-kali.


"Mbak...," ringis Lastri putus asa.


"Bibi juga mau tahu?" Varissa menengok ke arah Bi Nunik.


"Ya, mau dong, Mbak. Kasih tahu dong. Jangan bikin Bibi spot jantung begini," jawab wanita paruh baya itu.


Menarik nafas dalam, Varissa mulai membenarkan posisi duduknya. Tas yang tergeletak diatas meja ia minta kepada Lastri untuk diberikan. Lalu, tas itu kemudian dibukanya sebelum tangannya mengeluarkan sebuah benda pipi berwarna putih dengan dua garis merah ditengahnya.


"Nih!" Varissa menyerahkan testpack itu kepada Bi Nunik yang menerimanya dengan alis berkerut.


Bi Darma dan Lastri ikut mendekat. Turut memperhatikan benda itu lamat-lamat.


Sedetik


Dua detik


Dan...


Tiga detik


"Alhamdulillah!" teriak ketiganya secara bersamaan.


"Iya, aku hamil!" jawab Varissa dengan senyum sumringah.


"Yey!" Lastri bertepuk kegirangan dan segera ikut memeluk Varissa yang sudah lebih dulu dipeluk oleh Bi Darma dan Bi Nunik.


"Ya Allah! Akhirnya...." ucap Bi Nunik dengan kalimat menggantung karena tangis yang tak mampu ia bendung.


"Selamat ya, Mbak! Mas Dikta!" kata Bi Darma yang hanya di angguki ringan oleh Dikta.


"Mulai sekarang, saya minta tolong kepada kalian semua untuk lebih memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi oleh Varissa. Dan, tolong juga awasi dia ketika saya sedang tidak berada dirumah. Jangan sampai, Varissa melakukan aktivitas yang bisa membuat dia dan calon anak saya jadi kelelahan."


"Pasti, Mas! Bibi akan mulai atur semua hal yang Mas Dikta inginkan. Mas Dikta nggak perlu khawatir." Bi Nunik mengangguk mengiyakan.


"Keluarga sudah dikabari semua, Mas?" tanya Bi Nunik.


Dikta nyengir. Digaruknya ujung pelipis yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Lupa," jawabnya singkat.


"Dikabarin dong, Mas! Masa' kabar bahagia begini, mesti ditunda-tunda ngabarinnya?" omel wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Dikta hanya mengangguk mendengar ucapan Bi Nunik yang terdengar seperti sedang mengomelinya. Wajar, diantara Lastri dan Bi Darma, Bi Nunik yang bisa dibilang membersamai Varissa dan Dikta hingga beranjak dewasa. Tentu dia yang lebih berani memberitahu dan menegur jika kedua majikannya itu melakukan hal yang keliru.


"Saya telfon Dokter Imran sama Nenek saya dulu kalau begitu. Bibi jagain Varissa, ya!" pamit Dikta seraya berdiri dan mengeluarkan ponsel dari saku jaket denimnya.


*********


Pukul setengah delapan malam, terdengar riuh beberapa kendaraan yang memasuki halaman. Baik Varissa dan Dikta tampak mengernyitkan alis mereka. Merasa bingung, kenapa ada begitu banyak bunyi kendaraan yang tampak memenuhi halaman depan rumah mereka.


"Siapa, Las?" tanya Dikta begitu Lastri yang dimintanya untuk ke depan mengecek sudah kembali.


"Anu, Mas...," Lastri bingung menjelaskan.


"Anu apa?" tanya Dikta penasaran.


"Katanya, saudara Mas Dikta. Tapi nggak ada mirip-miripnya," jawab Lastri meringis.


Dikta mengangkat kedua alisnya bingung. Siapa? Bang Rambo atau Gisam yang datang? Hanya dua makhluk halus itu saja yang suka mengaku-ngaku sebagai kakak kandungnya.


"Ganteng, nggak?" tanya Dikta.


Lastri menggeleng. "Sayangnya, nggak. Makanya saya bilang, nggak ada mirip-miripnya sama Mas Dikta."


"Terus, orangnya mana?"


Belum juga Lastri menjawab, tiba-tiba seorang lelaki dengan tampilan klimis nan rapi berjalan tergesa menghampiri mereka. Tangan pria itu terbuka dan langsung memeluk Dikta yang masih duduk di meja makan dengan sangat erat.


"Kau sudah benar-benar dewasa, ya? Kau bahkan sudah bisa menghamili perempuan. Hebat kau!" ucap Gisam yang entah sedang memuji atau malah sebaliknya.


Varissa sontak tersedak mendengar ucapan Gisam. Diraihnya dengan cepat gelas air minum yang berada disampingnya lalu menenggak air putih itu hingga tandas.


"Kenapa, Ibu Varissa? Anda baik-baik saja, kan?" tanya Gisam dengan nada khawatir.


"N-nggak apa-apa," jawab Varissa dengan ekspresi wajah yang memandangi Gisam dengan sedikit aneh.


"Apa dia naksir suamiku, ya? Tiap kali ketemu, pasti main langsung peluk." gumam Varissa yang langsung merinding membayangkan jika Gisam adalah seorang gay.


"Le-pas, Gisam!" perintah Dikta dengan nada rendah.


"Nggak," geleng lelaki itu. "Aku masih mau memeluk kamu, Adikku!" imbuhnya seraya mengelus rambut panjang Dikta lalu mengecup puncak kepala suami Varissa itu.


"Jijik woyyyyyy," teriak Dikta yang sontak mendorong Gisam hingga lelaki itu melangkah mundur.

__ADS_1


Dikta lalu gegas berdiri. Tubuhnya bergidik seraya menepuk-nepuk puncak kepalanya. "Hiiyyyyy...," ujarnya merinding jijik.


"Berani kau mendorong kakakmu?" tanya Gisam sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Dikta.


__ADS_2