Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Akhirnya....


__ADS_3

2 Bulan kemudian...


"Va... Mau sampai kapan kayak gini?" tanya Dikta dengan lembut.


"10 menit lagi, Yang!" jawab Varissa.


"Aku udah telat 50 menit loh, Va. Gisam nanti marah," ujar Dikta berusaha memberi pengertian.


"Biarin aja. Paling marahnya juga cuma sekadar ngomel. Dia kan sayang sama kamu," balas Varissa tak mau kalah.


"Tapi, Va...,"


"10 menit aja, Yang! Pelit banget, sih!"


"Bukannya pelit, tapi ini sudah 10 menit ketiga kali yang kamu minta."


Bukannya mau mengerti, Varissa makin mengeratkan pelukannya di pinggang Dikta. Sedangkan, kepalanya masih betah menyender di dada bidang sang suami dengan hidung yang terus mengendus aroma tubuh suaminya.


"Enak banget, Yang! Kok kamu wangi banget, sih?"


"Va, nggak enak dilihat Bibi," ucap Dikta yang merasa risih di perhatikan oleh Bi Nunik, Bi Darma serta Lastri yang sedang membersihkan seisi rumah. Sementara, posisi mereka memang sedang berada di ruang tamu. Duduk dalam posisi Varissa yang memeluk erat tubuh Dikta dan sesekali mendusel-duselkan wajahnya di dada suaminya.


"Nggak usah dipeduliin. Toh, dunia ini milik kita berdua doang kok. Mereka mah cuma ngontrak!"


"Iya, Mas! Kami nggak usah dipeduliin. Kami sadar diri kok. Siapalah kami dimuka bumi ini. Cuma makhluk-makhluk yang ngontrak di dunia kalian. Hiks...," celetuk Lastri dengan tampang sedih. Lap yang bertengger di bahunya di gunakan untuk menghapus air mata palsu demi mendukung akting yang sedang di lakukannya.


Dikta memijit ujung pelipisnya. Sudah dua minggu kelakuan Varissa mendadak manja seperti ini. Enggan ditinggal bahkan cenderung menempel seperti prangko padanya. Alhasil, beberapa pekerjaan terpaksa harus Dikta tunda demi menjaga mood sang istri yang terkadang tiba-tiba mellow jika diberi ketegasan sedikit saja oleh Dikta.


"Berasa nonton Drakor, Bi!" bisik Lastri kepada Bi Darma.


Wanita paruh baya itu ikut terkikik bersama Lastri. Sedikit banyak, dia juga sering nimbrung nonton Drakor bersama Varissa dan Lastri. Bahkan, tak jarang mereka nobar bersama supir dan juga security jika ada tontonan yang menarik.


"Jangan digosipin, Bi! Suamiku malu," ucap Varissa menegur dua orang ART-nya.


"Oh, iya maaf, Mbak!" kata Bi Darma sembari menutup mulut lalu izin ke belakang sambil membawa air bekas pelnya. Namun, tawa cekikikan dari perempuan paruh baya itu masih bisa didengar Dikta dan Varissa.

__ADS_1


Dikta masih terdiam. Pusing memikirkan kenapa sifat Varissa mendadak manja dan gampang sensitif akhir-akhir ini. Dibiarkannya wanita itu berbuat sesuka hati dengan tubuhnya. Mau di cium, dipeluk, bahkan sesekali lengannya di gigit dia sudah tak mempermasalahkan. Dia sudah terbiasa selama dua Minggu terakhir.


Hingga pukul 10 pagi, Dikta belum kunjung keluar dari rumah. Panggilan demi panggilan datang dari Gisam yang hanya ia balas dengan pesan singkat Aku nggak jadi datang," bunyinya.


Masa bodoh! Mau Gisam mencak-mencak bahkan memanjat tower sekalipun, Dikta hanya bisa pasrah. Biar bagaimanapun, kebahagiaan Varissa jauh lebih penting dibanding bisnis yang akan dimulainya bersama Gisam.


"Kamu boleh pergi sekarang. Hati-hati, ya!"


Seketika Dikta melongo. What!? Begitu saja!? Tanpa basa-basi dan seenak jidatnya saja, Varissa sudah melenggang manis naik ke atas kamar sambil bersenandung kecil. Meninggalkan Dikta begitu saja tanpa pembahasan atau penjelasan lebih lanjut.


"Sebenarnya Varissa kenapa, sih?" gumam Dikta tak mengerti.


"Mas!" Bi Nunik datang dan menepuk bahu Dikta dari belakang.


"Ya, Bi. Ada apa?" tanya Dikta.


Bi Nunik duduk di sofa tunggal yang tak jauh dari tempat duduk Dikta. Wanita paruh baya itu tampak mengawasi Varissa terlebih dulu lalu mulai berbicara setelah memastikan bahwa majikan perempuannya tidak mendengarkan.


"Kayaknya ada yang aneh sama Mbak Varissa, Mas!" kata Bi Nunik setengah berbisik.


"Bibi curiga deh, Mas!" Raut wajah wanita paruh baya itu terlihat serius.


"Curiga kenapa, Bi?"


"Jangan-jangan, Mbak Va hamil."


Mata Dikta membulat mendengar ucapan Bi Nunik. Jika dugaan ART yang sudah ikut lama dengan Varissa itu benar, maka betapa senangnya dia nantinya.


"Yang bener, Bi?" tanya Dikta antusias.


"Ini sih baru perasaan Bibi aja, Mas. Mungkin saja keliru. Tapi, ada bagusnya kalau Mas Dikta konfirmasi langsung ke Mbak Varissa. Tanyain, Mbak Varissa ada telat haid apa nggak."


"Kalau telat haid, beberapa hari yang lalu sih, Varissa pernah ngeluh, Bi! Tapi, katanya paling itu cuma pengaruh hormon aja."


Bi Nunik membenarkan posisi duduknya. Diwajahnya yang mulai berkerut halus tergambar semangat yang berkobar-kobar.

__ADS_1


"Mending Mas Dikta ajak Mbak Va periksa deh! Biar semuanya jadi jelas!" saran wanita paruh baya itu.


Dikta tampak berpikir sesaat. Lalu, tak lama dia menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Oke, Bi! Sekarang juga saya akan bawa Varissa ke dokter. Semoga, kecurigaan Bibi benar, ya!" ucap Dikta seraya bangkit dari duduknya. "Doain semoga Varissa beneran isi ya, Bi!" imbuhnya bersemangat.


"Pasti, Mas! Tiap hari doa Bibi selalu untuk kebahagiaan kalian," sahut wanita paruh baya itu.


Dengan bersemangat, Dikta berlari menaiki tangga mencari keberadaan istrinya. Dia pun memaksa wanita itu berganti pakaian dengan cepat lalu berangkat menuju rumah sakit untuk periksa.


"Wah, Va! Selamat ya, kamu positif hamil!" ucap Dokter Indi seraya memperlihatkan hasil testpack milik Varissa.


"A-Apa?" Wajah Varissa tampak begitu syok. Dirinya bahkan seperti orang linglung saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh dokter sekaligus teman baiknya itu.


"Kamu bisa ulang ucapan kamu, Ndi?" pinta Varissa.


"Aku bilang, selamat ya, Va! Kamu positif hamil!" ulang Dokter Indi dengan tutur kata yang dibuat sepelan mungkin.


Varissa menutup mulutnya tak percaya. Sementara, Dikta yang duduk disampingnya tersenyum lebar untuk pertama kalinya dihadapan orang lain yang bukan keluarga.


"Kamu lagi nggak nge-prank aku kan, Ndi?" tanya Varissa memastikan.


Dokter Indi menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, Va! Aku memang teman kamu. Diluar, kita memang sering bercanda. Tapi, didalam ruangan ini, dengan jas kedokteran yang aku pakai, nggak mungkin aku tega bercanda seserius ini!" tukas wanita berambut Bob dengan pipi chubby disertai dua lesung dikedua pipinya.


"Jadi, ini beneran, Ndi? Aku beneran hamil?"


Dokter Indi memutar bola matanya malas. "Kalau kamu nggak percaya, cek ke rumah sakit sebelah!" sungutnya setengah kesal.


Varissa menutup mata sambil mengucapkan syukur kepada Tuhan berulangkali. Lalu, dengan airmata berderai, dia memeluk suaminya yang memang telah siap menyambutnya.


"Aku hamil, Ta! Aku hamil!" kata Varissa sambil menangis haru.


"Ya, kamu hamil, Sayang! Selamat, ya!" balas Dikta dengan perasaan haru yang sama.


"Kok jadi ikutan nangis sih!" celetuk Dokter Indi kepada dirinya sendiri. Air matanya ia hapus dengan ibu jarinya sambil terus memperhatikan sepasang suami istri yang masih menangis bahagia sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2