Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Mauren ditemukan


__ADS_3

BRUK!!


Seluruh barang-barang yang berada di teras di lempar keluar halaman oleh sang pemilik rumah. Dengan kalap, dia bahkan mendorong kasar tubuh Kakak dan kedua keponakannya tanpa rasa iba sedikitpun.


"Pergi kalian! Pergi!" teriak Ratna keras hingga mengundang perhatian para tetangga yang lewat.


"Ratna, tolong kasihani kami. Cuma kamu harapan kami satu-satunya," bujuk Retno memelas.


"Enak ya, Mbak ngomong gitu! Lupa sama yang Erik lakukan terhadap Om-nya?" Wajah Ratna memerah karena emosi. "Suamiku sekarang mendekam dipenjara, Mbak. Sementara Erik yang jadi biang keladi malah melenggang bebas seperti itu. Aku nggak terima. Sampai mati pun, aku tidak akan memaafkan kelakuan keluarga Mbak pada kami."


"Tapi, kan suamimu memang ikut bersalah, Ratna. Dia juga makan uang korupsi itu sama seperti kami. Apa bedanya?"


Mendengar ucapan kakaknya, Ratna semakin menggebu-gebu. Dia tak peduli meski kali ini dirinya akan kembali menjadi gunjingan tetangga karena dengan tega mengusir kakak dan keponakannya sendiri. Luka dihatinya karena pengkhianatan Erik terhadap sang suami sungguh begitu dalam. Apalagi, dampak dari terkuaknya kasus korupsi suaminya di perusahaan yang didalangi Erik juga sangat memengaruhi kehidupan mereka. Dikucilkan tetangga hingga putranya yang bernama Agung juga harus ikut dipecat karena ketahuan lolos menjadi PNS karena hasil suap.


"Mbak nggak usah banyak ngomong. Yang jelas, pergi saja dari sini. Aku nggak akan pernah menganggap Mbak sebagai kakakku lagi. Hubungan persaudaraan kita selesai sampai disini!"


"Mana bisa begitu, Ratna. Hubungan darah, mana mungkin bisa diputus begitu saja?" protes Retno kesal.


"Terserah! Mbak mau ngomong apa aja aku nggak peduli!" Ratna akhirnya masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan membanting pintu dengan kasar.


"Sekarang, kita harus gimana, Rik?" tanya Retno kepada putranya.


Erik menggeleng lemah. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Ditambah lagi, karena tidak masuk selama beberapa hari di tempat kerja, dia akhirnya juga kena pecat. Sebagai karyawan yang masih dalam tahap percobaan, kesalahannya terlalu banyak untuk dimaklumi.


Beberapa tetangga yang menyaksikan adegan barusan terlihat mulai bubar satu persatu. Namun, wajah-wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan iba. Mereka semua tahu apa yang sudah Retno dan Ratna lakukan selama ini terhadap Varissa.

__ADS_1


"Itu karma untuk mertua yang zalim," kata salah seorang tetangga.


"Ya, orang tamak seperti mereka memang pantas menderita. Tega sekali mereka mau mencuri harta anak yang sudah yatim," sahut yang lain.


"Si Erik juga nggak ada bersyukurnya. Sudah dapat istri cantik dan kaya, malah milih selingkuhan yang badannya cuma hasil permak operasi."


Mendengar sahut-sahutan itu, ketiganya hanya bisa menundukkan kepala. Mereka malu. Harga diri seolah sudah tak ada lagi. Sudah ditolak Varissa, ditolak Ratna, dan sekarang malah jadi gunjingan para tetangga.


"Jual HP Tika aja buat sewa kontrakan, Ma. Kost-kostan juga nggak apa-apa. Asal kita punya tempat untuk berteduh sementara waktu," kata Tika yang tiba-tiba menyahut. Ponsel keluaran terbaru pemberian terakhir Varissa ia angsurkan ke tangan sang Ibu.


"Tik, kamu yakin?" tanya Erik dengan tatapan kasihan. Akibat ulahnya yang salah memilih wanita, Tika juga harus ikut menderita.


"Mau gimana lagi, Bang? Abang memangnya punya solusi?" jawab Tika dengan helaan nafas.


"Tapi, kalau ada pemberitahuan tentang kuliah kamu, gimana?"


Lama menimbang, akhirnya Erik mengambil sebuah keputusan.


"Ya sudah, kita akan jual HP kamu buat sewa kontrakan dulu. Tapi, kamu tenang aja. Secepatnya, Abang janji akan gantiin yang baru buat kamu."


Mendengar janji manis Erik, wajah Tika malah semakin di tekuk. Gadis itu memilih meraih dua koper yang selalu dia bawa sedari tadi. Sementara, Erik hanya membawa satu tas besar sekaligus memapah ibunya yang masih belum sehat betul.


"Abang nggak usah janji-janji. Bisanya cuma bikin kecewa aja," ujar Tika sambil berjalan menggeret dua koper besar keluar dari halaman rumah kontrakan bibinya.


Sejenak Erik tertegun. Hatinya mencelos perih saat mendengar ucapan Tika yang terdengar sudah sepenuhnya putus harapan terhadap dirinya. Wajar! Karena, Erik memang selalu ingkar janji.

__ADS_1


******


"Sial!" Mauren mengumpat sambil terus berjalan tertatih menyusuri lorong sempit yang sepi.


Baru sejam yang lalu dia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki. Tanpa berniat melihat bagaimana rupa sang bayi, Mauren bergegas membungkus bayi yang masih merah itu ke dalam selimut lalu meletakkannya diatas tumpukan sampah. Hidupnya sudah sangat susah. Dia tak mau bayi itu akan semakin menambah beban hidupnya.


"Semoga ada yang menemukan kamu sebelum dimangsa sama kucing liar. Maaf, bukannya aku membenci kamu, tapi aku tidak mungkin membawa kamu dalam keadaan seperti ini. Tolong mengertilah!" ucap Mauren sebelum meninggalkan bayi yang bahkan tali pusarnya belum sempat ia potong itu.


Mauren tak peduli pada isak tangis bayinya. Dia tetap melangkah pergi tanpa menoleh sekali pun. Insting keibuan yang seharusnya ada pada setiap nurani seorang perempuan sepertinya sudah mati. Lolos dari kejaran polisi dan bisa menemukan kembali pria kaya adalah prioritas utamanya.


Sial bagi Mauren. Karena melahirkan tanpa dibantu siapapun, pendarahan hebat akhirnya terjadi. Namun, wanita itu awalnya menganggap itu hal yang biasa. Dia mengira bahwa itu hal yang wajar yang memang dialami oleh seluruh wanita yang melahirkan. Namun, Mauren yang belum pernah punya pengalaman melahirkan tidak sadar bahwa pendarahan yang dia alami jauh dari kata wajar. Darah itu terus mengucur. Membuat tubuhnya yang memang sudah lemah semakin bertambah lemah lagi.


"Kenapa darahnya nggak mau berhenti?" geramnya kesal sambil mengistirahatkan diri di bawah kolong jembatan.


Nafas wanita itu kian memburu. Penglihatannya terasa berputar-putar. Dan, akhirnya dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Kepala Mauren masih terasa pening ketika dia merasakan suara-suara bising yang mengganggu pendengarannya. Sayup-sayup, dapat dia dengar beberapa orang yang sedang berbicara. Lalu, begitu dia membuka mata, jantung wanita itu seolah berhenti berdetak.


"Anda sudah sadar, Saudari Mauren?" sapa seorang pria berseragam polisi.


"Sa-Saya dimana?" tanya Mauren gugup.


"Dirumah sakit. Dan, setelah Anda dinyatakan sudah lebih baik, kami akan segera membawa Anda ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Anda," ucap polisi itu.


"Sa-saya tidak pernah melakukan tindakan kriminal apapun, Pak. Lepaskan saya!" teriak Mauren histeris. Lebih histeris lagi saat melihat bahwa tangan yang tidak tertancap infus sudah di borgol di brankar tempatnya berbaring.

__ADS_1


"Nanti Anda bisa jelaskan di kantor saja, ya! Lebih baik Anda memulihkan diri dulu dan setelah itu bersiap melalui proses pemeriksaan di kantor."


Mauren hanya bisa menangis terisak. Kenapa malah seperti ini? Kenapa dia tak bisa lepas dari karma buruk yang bersumber dari keluarga Erik?


__ADS_2