
Induk semang menampakkan tampang tak bersahabat ketika Erik datang meminta kembali uang pembayaran kost yang sudah mereka bayar untuk tiga bulan ke depan. Wanita berbadan gempal dengan daster pink bunga-bunga itu menyerahkan uang ditangan Erik dengan sedikit kasar.
"Terimakasih ya, Bu!" ucap Erik.
"Itu saya kasih cuma satu juta sembilan ratus. Dua ratusnya untuk bayar denda pembatalan sekaligus bayar biaya kalian menginap tadi malam," terang sang induk semang ketika melihat alis Erik bertaut ketika menghitung uang ditangannya.
"Nggak apa-apa, Bu. Maaf, ya!" kata Erik. Tak mengapa. Dipotong 200 ribu saja itu sudah termasuk sedikit. Mungkin, induk semang itu juga menaruh iba pada keluarga mereka. Sudah ibunya pucat karena sakit, adiknya yang selalu murung, ditambah dirinya yang juga tak kalah suram. Siapapun yang melihat pasti akan merasa kasihan.
"Lain kali, kalau belum yakin, jangan langsung ambil keputusan tergesa. Kan, saya juga yang rugi. Padahal, kemarin ada yang mau masuk juga. Mau bayar 6 bulan, malah. Tapi, karena kasihan sama kalian, saya kasih ke kalian. Tapi, kalau tahu begini, mana mau saya. Yang ada malah rugi bantuin kalian."
"Eh, mulut ibu dijaga, ya! Siapa juga yang minta dikasihani?" Tiba-tiba Retno menyambar tak terima.
"Loh, kok situ nyolot? Udah bagus saya bantuin situ," Induk semang membelalakkan matanya.
"Udah, Ma!" Erik sedikit meninggikan suaranya sehingga sang Ibu langsung bungkam. Kata yang tadi sudah hampir keluar, kembali tertelan ditenggorokan.
"Maafin, Mama saya, Bu!" kata Erik dengan wajah tak enak.
Induk semang mendengus sebal. "Ya udah, sana pergi! Bawa Mama-mu jauh-jauh dari tempatku."
Mata Retno mendelik. Namun, suaranya urung dia keluarkan karena lagi-lagi Erik memberi kode melalui tatapan matanya yang tajam.
******
Varissa menggeliat ketika sinar matahari terasa menyilaukan matanya. Perlahan, wanita itu membuka mata. Meraba kasur disampingnya yang ternyata masih kosong seperti semalam.
"Apa Dikta nggak pulang, ya?" gumamnya masih dengan mata yang berusaha menyesuaikan dengan sinar mentari.
"Good Morning, My beautiful wife!" Pintu terbuka dan menampilkan sosok tampan sang suami yang semakin menawan hanya dengan celana cargo selutut dan kaos oblong putih.
Lelaki itu melompat ke atas kasur kemudian merebahkan kepalanya diperut Varissa.
"Kamu semalam nggak pulang, ya?" tanya Varissa masih dengan suara serak khas bangun tidur. Rambutnya membelai rambut panjang Dikta yang tergerai bebas.
"Pulang, kok." Lelaki itu menjawab sambil memainkan jemari Varissa. Sesekali, dia menciumi telapak tangan sang istri yang menurutnya sangat menyenangkan untuk disentuh.
"Terus, kamu tidur dimana? Nggak tidur didekat aku, ya?"
Dikta tersenyum. Kepalanya berpindah ke lengan sang istri.
__ADS_1
"Kalau bukan didekat kamu, aku mau tidur dimana lagi, hah?" tanyanya sambil mengecup pipi Varissa sekilas. "Aku tuh pulangnya jam 9 malam. Cuma, karena kamu ternyata udah tidur duluan, ya mana tega aku bangunin."
"Tapi, aku kan jadi nggak nyambut kamu dateng," tukas Varissa dengan bibir cemberut. Posisi berbaringnya ia miringkan ke samping agar bisa melihat wajah tampan suaminya.
"Aku nggak butuh di sambut kamu, Sayang! Kalau memang capek, ya tidur.Nggak usah mikir buat nyenengin aku. Dengan kamu istirahat cukup, nggak banyak beban pikiran, itu sudah bikin aku senang. Kamu ingat 'kan apa kata dokter? Kalau mau punya anak cepet, kondisi badan dan mental harus dijaga."
"Kalau misalnya suatu saat aku nggak hamil-hamil juga, gimana?" Raut sedih terpancar diwajah Varissa.
"Kita bisa cara yang lain. Bayi tabung, misalnya?" jawab Dikta enteng. Tak ada kekhawatiran di wajah lelaki itu. "Kamu dengar sendiri kan, apa kata dokter? Kamu sehat. Cuma, mungkin waktu kamu sama Erik memang belum dikasih kepercayaan sama yang diatas."
Wajah Varissa seketika tersenyum cerah. Dikta memang selalu memberinya semangat positif.
"Sejak kapan kamu jadi cerewet gini?" tanya Varissa seraya mengelus wajah suaminya.
"Aku cerewet cuma kalau lagi sama kamu," jawab lelaki itu tersenyum.
Setelah mandi, Varissa segera turun ke bawah untuk sarapan. Dia tak perlu lagi ke kantor. Jabatannya sudah ia percayakan kepada Pak Beni sesuai saran Dikta. Lelaki itu hanya tak mau istrinya kelelahan ataupun stres akibat bekerja. Toh,tanpa bekerja pun, uang akan tetap menghampiri mereka tanpa perlu dikejar dengan susah payah.
"Mbak Va udah mandi?" sapa Lastri sambil tersenyum lebar. Dia sedang sibuk menata sarapan di meja makan tanpa dibantu oleh dua orang seniornya.
"Loh, Bi Nunik sama Bi Darma kemana, Las? Kok kamu sendirian?" tanya Varissa heran.
"Mereka lagi ke pasar Mbak. Mau beli sayur sama ayam dan daging. Stok di kulkas sama di freezer udah mau habis soalnya. Sekalian, kata Bi Darma mau lihat-lihat emas buat kado anaknya yang ulangtahun di kampung."
"Diantar sama Pak Diki pakai mobil Mas Dikta, Mbak!" jawab Lastri seraya menyebutkan nama salah satu security.
"Maksudnya, mobil sport yang merah itu?" tanya Varissa tercekat. Seingatnya, Dikta hanya membawa satu mobil kemari. Itu pun mobil sport yang hanya muat untuk dua orang. Lah, ini malah dipakai tiga orang. Mana muat? Ditambah lagi, ukuran badan Bi Darma dan Bi Nunik terbilang cukup jumbo.
"Bukan, Mbak!" sela Lastri. "Oh iya, Mbak kan semalam ketiduran pas Mas Dikta pulang, ya? Pantas nggak tahu kalau Mas Dikta bawa Alphard yang baru."
"Alphard?" Alis Varissa terangkat heran. Katanya, Dikta hanya punya satu mobil. Ini kok, ada lagi?
"Iya, Mbak. Uang belanja sama buat beli kado anaknya Bi Darma juga dari Mas Dikta loh. Kata Mas Dikta, mulai sekarang, kami kalau ada perlu tinggal bilang ke beliau. Jangan sama Mbak Va lagi."
"Emang iya?" Varissa tersenyum. Ada rasa bangga saat Lastri bercerita tentang kebaikan dan tanggung jawab suaminya.
"Iya. Lastri seneng deh. Mas Dikta baru berapa hari nikah sama Mbak Va aja, tanggung jawabnya udah kayak gitu. Beda banget sama Tuan Erik dulu. Boro-boro, masalah uang belanja, bensin aja disuruh minta ke Mbak Va. Kan, nyebelin!"
"Kok aku dulu bisa jatuh cinta sama Mas Erik ya, Las?"
__ADS_1
Lastri mengendikkan bahunya. " Kesambet kali," jawabnya yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Varissa.
Tak berselang lama, Dikta terlihat menghampiri keduanya. Lastri segera memberi kode kepada majikan perempuannya melalui kerlingan mata.
"Tuh, pangerannya Mbak Va udah dateng. Lastri pamit ke belakang lagi, ya Mbak. Ogah tinggal disini. Nanti malah jadi obat nyamuk," ujar Lastri sambil terkekeh.
"Kenapa belum sarapan?" tanya Dikta begitu ia sampai di meja makan. Satu kursi di sebelah sang istri dia tarik kemudian duduk dengan merapat ke istrinya.
"Nungguin kamu," jawab Varissa manja.
"Mau di suapi ?" Dikta menawarkan diri yang langsung diangguki Varissa.
Rasa senang Varissa bertambah berkali-kali lipat. Senyum rasanya enggan menghilang dari wajahnya. Di tambah lagi, Dikta kelihatan sangat tulus mengambilkannya sarapan. Bertanya ini-itu tentang apa saja yang Varissa inginkan diatas piringnya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dikta disela dirinya yang menyuapi Varissa.
"Nggak apa-apa," geleng Varissa sambil terus menatap wajah suaminya.
"Aku tahu aku ganteng kok, Sayang. Nggak usah diliatin sampe segitunya."
Varissa tertawa mendengar ucapan Dikta. Memang terdengar narsis tapi sayangnya itu juga fakta.
CUP!
Tiba-tiba saja Varissa berinisiatif mencium bibir suaminya. Dikta seketika mematung. Matanya bahkan tak berkedip sama sekali. Selang beberapa detik, barulah bibirnya tersenyum.
"Itu kode, ya?" tanyanya jahil.
"Kode apa?" ujar Varissa sedikit bingung. Namun, otaknya menanggapi dengan cepat. Lalu, dia pun memukul lengan sang suami yang sudah mulai menyeringai genit.
"Ma-maksud aku nggak menjurus ke situ loh!" Varissa mulai panik sendiri.
"Alah!" Dikta mengibaskan tangannya ke udara. "Kalau memang mau, tinggal bilang. Suamimu lelaki bugar kok, Sayang. Mau berapa ronde sehari pun, aku bisa."
Wajah Varissa kembali memerah. Hei! Ini masih pagi hari. Mana mungkin dia memberi kode sepagi ini.
"Mau aku gendong atau jalan sendiri?" Kini Dikta bertopang dagu sambil menatap Varissa.
Varissa membelalakkan matanya. Ini serius? Pikirnya dalam hati. Dia mulai panik sendiri. Berusaha agar terbebas dari situasi yang mengundang kebiasaan buruk jantungnya kumat lagi. Berdetak kencang macam kuda perang.
__ADS_1
Melihat keterdiaman Varissa, Dikta mulai mengambil kesimpulan sendiri. Sigap ia berdiri. Lalu tak lama, dia pun menggendong sang istri hingga wanita itu memekik karena kaget.
"Jangan teriak, Va! Nanti ketahuan sama yang lain kalau kita lagi pengen bikin Dikta junior buat mereka," bisik Dikta yang sontak membungkam mulut Varissa. Apalagi, dapat Varissa lihat Lastri sedang mengintip dari kejauhan sambil menahan tawa. Varissa merasa sangat malu. Yang ia lakukan hanyalah menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.