
Tak pernah terlintas dibenak Varissa bahwa rasanya memukul balik lawan akan semenyenangkan ini. Terlebih lagi, yang baru saja dia kalahkan adalah mantan suaminya sendiri. Seorang pria yang pernah memberi warna indah dalam hidupnya sekaligus orang yang pernah dia cintai sepenuh hati.
Entah karena nasib buruk apa, dia dan Erik kini harus berakhir senaas ini. Padahal, dalam kehidupan Varissa yang terkesan biasa-biasa saja, yang dia inginkan hanya satu. Hidup bahagia bersama Erik sampai tua.
Akan tetapi, mimpi itu hanya tinggal sebatas mimpi. Seperti yang selalu orang bijak katakan, Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.Makna dari petuah lama itu baru Varissa mampu pahami dan telaah dengan baik saat usianya kini telah menginjak 28 tahun.
Belajar dari kisah cintanya bersama Erik yang harus kandas karena adanya orang ketiga, harusnya Varissa tidak akan mudah percaya kepada makhluk yang bernama laki-laki lagi. Namun, yang dia lakukan kini justru sangat berbeda dari kebanyakan wanita diluar sana. Dia mempercayai seorang pria sekali lagi untuk menjaga hatinya meski resiko yang sama mungkin saja akan terjadi dikemudian hari. Terlebih lagi, bukankah ini terlampau cepat?
"Jangan cuma diliatin." Lelaki itu bersuara meski fokus matanya tetap mengarah pada jalan. "Aku bukan artefak kuno yang cuma bisa kamu liatin doang!"
Varissa mengerjapkan matanya beberapa kali. Melempar pandangan ke arah depan, setelah sadar bahwa sejak tadi yang dia perhatikan hanya figur lelaki yang duduk disampingnya.
"Maaf!"
Dikta tersenyum. Sedikit geli melihat tingkah Varissa yang semakin hari semakin kembali ke sosok Varissa yang dulu pernah Dikta kenal. Sok-sok'an membenci, padahal selalu memperhatikan Dikta diam-diam. Sok-sok'an mengusir, padahal selalu bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya saat tidak dapat menemukan Dikta. Ya, itulah alasan mengapa Dikta tidak mampu membenci Varissa dari dulu meski perlakuan wanita itu selalu saja jahat terhadapnya. Sebab, sejauh yang Dikta tahu, Varissa berusaha menyembunyikan perasaannya lewat sikap angkuh yang selalu dia tunjukkan.
"Baru nyadar ya, kalau aku ganteng?"
Mata Varissa membulat. Ditatapnya wajah lelaki yang masih berfokus pada jalanan disampingnya. Bibirnya mengerucut dengan dahi terlipat.
"Ih, kepedean," ucap Varissa bergidik.
"Jadi, menurut kamu, aku nggak ganteng?"
"Nggak!" sambar Varissa cepat.
"Ow..," Dikta mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti, mata kamu ada masalah. Mau aku antar buat periksa mata, nggak?"
"Mataku sehat, ya!" protes Varissa kesal.
"Masa sih? Kalau memang sehat, nggak mungkin kamu bilang aku nggak ganteng. Karena, sejauh yang aku tahu, semua orang yang kenal sama aku selalu bilang kalau aku ini gan-teng!" Dikta sengaja menekankan kata 'ganteng' agar wanita disebelahnya sadar akan fakta itu.
Varissa mendengus. Ikut mengangguk-anggukkan kepala menerima pernyataan kepedean dari lelaki jangkung disebelahnya. Memperpanjang masalah ketampanan Dikta hanya akan membuat pipi Varissa kian merona merah.
__ADS_1
"Gimana sama Erik?" Lelaki itu kini mengalihkan pembicaraan.
"Selesai," ucap Varissa lemas. Dia menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi mobil seraya menatap lurus ke arah depan.
"Kamu nggak senang, pisah sama dia?" Wajah Dikta harap-harap cemas.
Wanita disampingnya menoleh lalu tertawa kecil. "Justru karena itu. Kok aku nggak ada sedih-sedihnya ya, pisah sama Erik? Padahal, selama ini aku selalu berpikir kalau cinta aku ke dia nggak akan pernah mungkin bisa pudar begitu aja."
"Mungkin, sejak awal kamu memang nggak cinta sama dia. Kamu cuma butuh dia untuk mengurai rasa kesepian kamu."
"Apa mungkin?" Varissa menatap lurus pada Dikta.
"I don't know. Ask to your heart!" jawab Dikta seraya mengendikkan bahunya.
Urusan hati Varissa itu urusan wanita itu sendiri. Dikta tak berhak ikut campur sedikitpun. Jadi, daripada dia memberi jawaban yang tentu akan menyesatkan Varissa demi menguntungkan dirinya, Dikta memilih mengembalikan semua pertanyaan itu pada diri Varissa. Apakah dia mencintai Erik, atau hanya sekedar membutuhkan pria itu?
"Pusing ah, Ta!" gerutu Varissa sembari mengacak-acak rambutnya.
Dikta disampingnya tertawa. Kali ini benar-benar tertawa lepas. Momen yang terbilang langka namun tak bisa Varissa abadikan melalui kamera ponsel karena malu jika ketahuan begitu mengagumi sosok pria itu.
Apalagi, dasar saingan cinta Varissa sudah pernah wanita itu lihat. Saat di apartemen Dikta, dia bertemu dengan sosok perempuan pemilik netra kehijauan yang begitu cantik mempesona. Namun, bersyukur Dikta menolak perempuan itu dan malah memilihnya.
Memilih sosok perempuan yang sudah pernah berumahtangga dengan penampilan biasa-biasa saja dibanding putri tunggal seorang konglomerat kaya raya dengan segudang kelebihan yang nyaris mencapai sempurna.
"Oh iya, kabar perempuan itu, gimana?" Penasaran, Varissa memberanikan diri menanyakan kabar saingan cintanya.
Lelaki disebelahnya tersenyum kecil. Namun, dari senyum itu, dapat Varissa tangkap segaris luka yang Dikta pendam. Sontak, ekspresi itu membuat Varissa menanggalkan senyum di wajahnya yang sesaat tadi masih terukir cerah.
"Maksudnya, Michelle?" tanya Dikta untuk memastikan siapa perempuan yang Varissa maksud.
Varissa mengangguk. Berpura-pura baik-baik saja saat melihat ada luka di wajah Dikta kala nama wanita itu kembali di ungkit.
"Dia udah tunangan," jawab Dikta sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Tunangan?"
"Aku pernah bilang, kan?" Lelaki itu menoleh sesaat. "Dia tunangan sama lelaki pilihan Ayahnya. Dan, aku sama sekali nggak bisa hadir dan menyaksikan momen bahagia itu."
"Kenapa? Karena aku, ya?"
Dikta menggeleng. "Bukan, Va! Ini sama sekali nggak ada kaitannya sama kamu. Hanya saja, Michelle yang memintaku untuk nggak hadir."
Varissa diam. Menghirup oksigen yang mendadak hilang dari dalam mobil saat Dikta mulai bercerita tentang wanita itu. Meski awalnya Varissa yang memulai, namun kini dia yang justru menjadi tidak senang. Sangat tidak suka karena Dikta harus berubah sesedih ini hanya karena wanita lain.
"Dia takut, tekadnya yang udah bulat untuk ngelupain aku akan goyah kembali andai aku hadir. Padahal, dia satu-satunya teman yang paling peduli ketika aku tinggal di Amsterdam. Rasanya berat, untuk nggak bisa ngeliat dia di hari bahagianya."
"Apa dia sepenting itu, untuk kamu?"
Laju mobil perlahan berubah menjadi pelan. Tak lama, kuda besi itu benar-benar berhenti tepat di sebuah parkiran yang lumayan sepi. Mata Varissa terbelalak. Tak mengerti sama sekali akan maksud lelaki itu berhenti tiba-tiba.
Dikta lalu mendekat. Bergerak semakin condong ke arah Varissa hingga wangi dari tubuhnya mampu wanita itu cium dari jarak dekat. Dari jarak yang kian menipis, kini deru nafas lelaki itu bahkan sudah menerpa wajah Varissa. Wanita itu menyerah. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Mungkin terlalu cepat bagi mereka sampai pada tahap ini, namun Varissa juga tidak berniat untuk menolak. Baiklah! Pejamkan mata dan persiapkan hati untuk tidak bereaksi berlebihan. Mungkin, hanya sebatas kecupan ringan.
TEK!
Seatbelt Varissa berhasil dilepas Dikta dan lelaki itu kembali ke posisi semula. Sama sekali tak peduli pada wajah Varissa yang terlanjur sudah memerah bak kepiting rebus karena pikirannya yang terlampau ngawur kemana-mana.
"Kamu mau tahu jawabannya?" Dikta membuka pintu mobil. "Makan dulu, yuk! Sekalian, nanti aku jawab didalam."
Varissa mengamuk. Memukul-mukul sandaran kursi yang ia duduki saat sang pemilik mobil sudah melenggang masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji. Ingin rasanya Varissa membakar mobil lelaki itu saat ini juga mumpung sang pemilik tampak tak peduli.
"Awas ya kamu, Ta! Aku bales kamu!" ucap Varissa menggebu-gebu.
"Va! Ngapain? Ayo!" teriak Dikta saat dia sudah hampir sampai di pintu masuk.
"Bentar!" Varissa balas berteriak. "Bawel banget, sih! Dasar tukang PHP!"
__ADS_1