
Erik menggeram, berusaha menyingkirkan rasa sakit yang kian terasa nyata kala menyaksikan wanita yang pernah begitu mencintainya dimasa lalu kini sedang memeluk pria lain. Terlebih lagi, saat Erik menemukan tatapan cinta yang dulu selalu diberikan untuknya kini sudah berpaling pada pria yang katanya adalah kakak angkat dari wanita itu sendiri. Sakit. Rasa itu semakin nyata sekarang. Keputusan untuk mengikuti Varissa secara diam-diam ternyata memberi efek sangat buruk untuk hatinya kini.
"Mas, kok lama?" tanya Mauren tak sabaran. Diikutinya langkah gontai Erik yang bergerak menuju ke meja kerjanya. "Gimana? Apa Varissa luluh?"
Erik menggeleng lemah. "Gagal."
"Gimana sih, Mas? Kok, ngebujuk mantan istri bodoh kamu aja, kamu nggak becus gitu?"
Erik memicing. Mendesis tajam memperingatkan Mauren melalui tatapan matanya yang tajam. Seketika, wanita itu meringis. Tertunduk takut andai amarah Erik terpancing tanpa sengaja lagi.
"Maaf, Mas!" bisik wanita itu pelan.
Dibanding perkataan Mauren yang memang selalu ceplas-ceplos seperti itu, Erik jauh lebih marah saat mengingat kembali pemandangan menyebalkan yang dia saksikan diatas rooftop barusan. Sejak kapan?
Sejak kapan Varissa dan Dikta berubah sedekat itu? Sejak kapan hubungan tak wajar diantara mereka mulai terjalin? Atau, jangan-jangan...
"Apa selama ini, kamu udah selingkuh sama saudara angkat kamu sendiri, Va?" Erik mendengus. Tak menyangka bahwa Varissa akan melakukan hal sama seperti yang dia lakukan. Tapi, apa benar? Kenapa Erik di sisi lain juga merasa ragu?
******
Pernikahan akbar yang dipersiapkan Erik dan Mauren dengan mewah akhirnya tiba. Sepasang pengantin yang tengah berbahagia itu tampak begitu sumringah. Pun, dengan kedua orang tua mereka yang terlihat begitu bangga akan pesta anak-anak mereka yang luar biasa meriah.
Para tamu undangan bergantian memberi selamat. Hiburan dari penyanyi terkenal semakin menambah riuh suasana pesta yang digelar didalam ballroom hotel ternama itu.
"Pestanya biasa!" komentar lelaki yang berdiri di samping Varissa. Wajahnya tampak tak bersemangat dan memilih memainkan gelas sampanye ditangannya.
"Oh ya?"
"Aku udah sering hadir di pesta yang jauh lebih hebat dari ini." Dikta menyombong.
Varissa tak berkomentar. Memilih diam dan menganggukkan kepala sambil mencari-cari dimana keberadaan Erik dan Mauren saat ini.
"Nanti, pesta kita akan jauh lebih bagus daripada ini," imbuh Dikta.
Wajah Varissa memerah. Apa tadi katanya? Pesta kita? Apa itu berarti bahwa Dikta sudah mulai memikirkan tentang pernikahan?
"Memangnya, kamu mau nikah sama aku?" tanya Varissa iseng. Ya, walaupun sebenarnya dia menanti dengan cemas akan jawaban dari pertanyaan itu.
__ADS_1
Tanpa ragu, Dikta menganggukkan kepala. "Kalau nggak mau nikah, ngapain aku ngejar kamu? Meski pengangguran, aku bukan tipe lelaki yang suka buang-buang waktu untuk main-main."
Varissa berdecak. Meski itu jawaban yang dia inginkan, namun dia sama sekali tak suka dengan cara penyampaian Dikta yang terdengar sangat tidak romantis.
"Kenapa?" tegur Dikta dengan wajah datarnya.
"Nggak apa-apa," jawab Varissa ketus.
"Ini orang, nggak bisa ngomong agak romantis ya? Nyebelin!"
"E-eh...," Varissa terkejut. Lelaki datar itu baru saja memasangkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati di lehernya.
"Suka?" tanya Dikta usai memasang kalung itu di leher wanita yang dia cintai.
Jemari lembut Varissa menggenggam liontin kalung yang kini sudah melingkar indah di lehernya. Dia mengangguk sambil bergumam terimakasih kepada sang pemberi.
"Kutarik lagi kata-kataku! Dia romantis!"
Wanita itu tersipu sementara lelaki yang berdiri di sampingnya tampak tersenyum puas.
"Akhirnya kalian datang juga!" ucap Erik yang datang bersama dengan istri barunya.
"Selamat untuk pernikahan kalian!"
Mengabaikan tatapan sinis Mauren, Varissa dengan senang hati mengulurkan tangan memberi selamat. Namun, mantan suaminya tampak enggan menerima uluran tangan itu. Sebaliknya, lelaki tersebut hanya terus menatap Varissa dengan tatapan yang tak dapat di mengerti.
"Terimakasih," jawab Mauren. Di wakilinya sang suami menjabat tangan Varissa sambil terus tertawa meremehkan mantan istri suaminya itu.
"Jangan sedih, ya! Bukan salahku kalau Mas Erik lebih memilih aku dibanding kamu!" ucap Mauren angkuh. Mencoba mengintimidasi mantan istri suaminya agar menjadi bahan tertawaan para tamu undangan.
"Kamu bangga akhirnya bisa menikah dengan mantan suami saya?" tanya Varissa dengan senyuman.
"Oh, jelas!" sahut Mauren yang semakin menambah erat pelukannya di lengan Erik.
Varissa tertawa kecil mendengar jawaban dari pelakor yang sudah merebut suaminya itu. Tak sedikitpun rasa sakit hati yang tersisa di diri Varissa untuk Mauren dan Erik kini. Dia sudah memilih berdamai. Mengikhlaskan masa lalu dan kenangan pahit itu pergi menjauh dari hidupnya.
Tak ada gunanya meratapi cinta yang memang tercipta bukan untuk kita. Jika Erik memilih selingkuh, maka Varissa memilih melepaskan. Tak ada gunanya berbagi dengan perempuan lain ketika dia sendiri sudah tahu akan lebih condong kemana kasih sayang Erik akan berlabuh. Dan, Varissa bukan ATM berjalan yang bisa seenaknya Erik manfaatkan untuk menghidupi kedua orangtuanya, adiknya, kerabatnya, apalagi selingkuhannya.
__ADS_1
"Mendapatkan suami dari hasil mencuri dari wanita lain, apa patut dibanggakan seperti ini? Mbak nggak malu?" tanya Varissa didepan semua orang.
Mauren menghela nafas kasar. Tangannya berusaha ia tahan untuk tidak melayangkan tamparan pada pipi mantan istri suaminya karena tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri didepan para tamu undangan.
"Aku ke sini bukan untuk berdebat dengan Mbak dan Mas Erik kok." Tampak Varissa mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. Diulurkannya amplop tersebut kepada Mauren yang diterima wanita itu dengan alis berkerut.
"Itu surat pemecatan resmi untuk kalian berdua." Dengan senang hati Varissa menerangkan isi dari amplop itu kepada Mauren.
"Didalamnya juga berisi surat persetujuan dari Mas Erik untuk menyerahkan sahamnya kembali kepada perusahaan sebagai ganti rugi atas penggelapan dana yang selama ini sudah kalian lakukan." Wanita cantik itu melanjutkan ucapannya dengan senyuman.
Mauren menatap Erik meminta konfirmasi atas pernyataan Varissa. Namun, lelaki itu hanya melengos. Tertunduk dengan mata terpejam dan tak mampu berkata apa-apa.
"Apa begini caramu membalas budi pada orang yang bersedia mendampingimu selama ini, Varissa?"
Itu teriakan dari mantan ibu mertuanya. Retno.
"Sejak kapan aku punya hutang budi sama Mas Erik, Tante?" ujar Varissa dengan tatapan heran.
"Sejauh yang Varissa tahu, justru Mas Erik-lah yang punya banyak hutang sama aku. Setidaknya, sampai akhir, aku masih memakai hati nurani dalam membalas perlakuan buruk Mas Erik terhadap aku selama ini. Jika tidak, maka bukan hanya saham Mas Erik saja yang akan aku sita. Tapi, mungkin sekarang Mas Erik bisa saja akan melangsungkan pernikahan mewah ini di penjara. Bukan disini!"
"Ka-kamu...," Retno bersiap menerjang ke arah Varissa.
"Aku cuma mau menyampaikan itu aja, Mas! Sekali lagi, selamat ya!" ucap Varissa sambil menepuk bahu Erik. Memilih mengacuhkan mantan ibu mertua yang sudah mulai kebakaran jenggot.
PRANG!!
Langkah Varissa terhenti saat suara gelas pecah terdengar nyaring di telinganya. Dengan gemetar, ia berbalik dan menemukan serpihan gelas yang sudah hancur berserakan di lantai. Kedua netranya bergetar kala dia mendongak dan mendapati lelaki bertubuh tinggi dengan rambut panjang itu sedang berdiri membelakanginya. Pelan, lelaki itu turut berbalik menghadapnya. Senyum manis terpancar di wajah tampannya yang kini sudah ternoda akibat kucuran darah yang berasal dari ujung pelipisnya.
"Ta! Ka-kamu berdarah!" ringis Varissa dengan airmata yang seketika luruh. Tangannya berusaha menyentuh luka lelaki itu namun ditahan.
"Jangan sentuh, tangan kamu nanti kotor!" ucap Dikta dengan tampang biasa saja. Tak ada gurat kesakitan yang dia perlihatkan dihadapan Varissa.
"Tapi, kamu luka! Darahnya banyak, Ta! Apa sakit? Perih? Kita ke rumah sakit, ya! Ayo!" Varissa panik. Bingung harus melakukan yang mana dulu.
Sementara, Retno sudah mematung ditempatnya sambil membuang muka. Sungguh! Tak ada niatnya untuk mencelakakan orang di pesta pernikahan sang putra. Semua itu hanya gerakan reflek karena emosi. Siapa sangka, jika lelaki yang sedari tadi diam di samping Varissa itu akan menjadi tameng saat Retno melemparkan gelasnya ke arah Varissa karena marah.
"Tante keterlaluan!" pekik Varissa setengah berteriak.
__ADS_1