Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Hadiah 2 Kontainer


__ADS_3

Meja makan mendadak suram. Sejak kedatangan Pengusaha Hotel ternama itu ke rumah Varissa dan Dikta, atmosfer udara juga mendadak jadi tak enak. Namun, jangan salah paham! Perubahan atmosfer yang terjadi tentu bukan karena Gisam penganut ilmu hitam atau apapun. Tapi, lebih ke sifatnya yang tiba-tiba kekanakan yang membuat Varissa sontak melongo tanpa berkedip.


Dimeja makan berbentuk persegi panjang itu, Gisam Butena duduk disalah satu kursi sambil menangis. Entah sudah lembar ke berapa tisu ia tarik dari tempatnya untuk dijadikan lap ingus. Lastri yang sedari tadi memperhatikan dibelakang Varissa hanya meringis pasrah. Tisu berserakan bekas ingus lelaki berpenampilan klimis itu tentu akan menjadi tambahan tugas untuknya malam ini.


Setengah jam berlalu dan tangis Gisam Butena belum juga reda. Varissa yang tak enak hati dan mulai sedikit risih perlahan melempar kode ke arah sang suami melalui lirikan mata dan anggukan kepala.


"Apa?" tanya Dikta tanpa suara. Kedua tangannya terangkat ke udara,menandakan bahwa itu bukan urusannya.


Mata Varissa kian melotot. Terus memberi kode agar Dikta mau menghibur Pengusaha Perhotelan itu agar menghentikan adegan sedihnya.


Diakhir cerita, Dikta pasrah mengalah. Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, dia harus melakukan apapun yang diinginkan sang istri yang tengah mengandung buah cinta mereka. Perlahan namun pasti, Dikta mulai berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke kursi yang berada disamping Gisam Butena. Sulit sekali, bokongnya di ajak bekerja sama untuk duduk dengan ikhlas hati. Gurat keterpaksaan amat sangat tergambar melalui ekspresi dan alisnya yang berkerut nyaris menyatu. Namun, karena gertakan dari Varissa yang memperlihatkan tatapan garang, Dikta akhirnya bersedia menurunkan ego.


Tangannya terangkat hendak menepuk bahu Gisam. Sedetik, dua detik, tangan itu masih mengambang ragu diudara. Dan... PUK! PUK! PUK!


Akhirnya tangan itu mendarat dengan pelan dibahu Gisam.


"Maaf, gue nggak bermaksud kasar," kata Dikta membujuk.


Jika ditanya, menyesalkah ia? Jawabannya tentu tidak. Kembali lagi, semua ini murni karena suruhan bidadari cintanya yang sedang mengandung malaikat kecil mereka.


"Sudahlah! Selama ini, memang hanya saya yang terlalu ge-er menganggap anda sebagai saudara. Harusnya saya tahu, bahwa anda tidak begitu," ujar Gisam seraya melengos. Enggan menatap wajah tampan Dikta yang entah mengapa selalu membuat dia merasa harus melindungi lelaki yang sudah ia klaim sebagai saudara secara sepihak itu.


Dikta kembali menatap sang istri. Bahunya terangkat menandakan dia telah pasrah. Namun, lagi-lagi Varissa memberi kode agar dia mau membujuk Gisam agar tak bersedih lagi.


"Gue yang salah. Maaf!" kata Dikta pelan.


"Anda tidak salah. Saya yang salah. Maaf karena terlalu memaksakan diri untuk menjadi Kakak bagi anda," tutur Gisam yang masih enggan menatap wajah Dikta. "Lain kali, tidak akan terjadi lagi," imbuhnya dengan kalimat yang mendadak formal.


Menarik nafas panjang, Dikta kembali mengembuskan udara yang ia hirup melalui mulutnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah dengan menurunkan ego lebih rendah dari sebelumnya. Hanya itu jalan satu-satunya membuat Gisam kembali ceria seperti masa-masa saat mereka kuliah dulu.


"Brother, i'm sorry!" ucap Dikta dengan tangan meremas pundak Gisam yang duduk membelakanginya.


Gisam terdiam. Ingin mencari tahu sampai mana Dikta akan membujuknya.


"Ayolah, Kakak! Jangan ngambek. Maaf karena adikmu ini dari dulu selalu bersikap kasar."


"Maaf, ya!"

__ADS_1


Bujukan demi bujukan Dikta lancarkan dan Varissa hanya diam menyaksikan. Permasalahan yang Varissa kira akan berlangsung alot dan lama nyatanya hanya membutuhkan hitungan menit untuk diselesaikan. Lihatlah! Gisam Butena sudah berbalik. Menatap wajah suaminya kemudian memeluk Dikta sembari tertawa senang.


"Jadi, Lo ngaku kalau Lo salah, Adik?" tanya Gisam yang kesedihannya entah menguap kemana.


"Ya. I'm Sorry, My Brother!" jawab Dikta dengan anggukan.


Mendengar itu, Gisam kembali tergelak. Dipeluknya lagi tubuh Dikta yang tanpa sepengetahuannya sedang memasang tampang meringis minta pertolongan kepada Varissa. Aih! Bukannya ingin membantu, Varissa justru terlihat menikmati adegan keterpaksaan sang suami dalam meminta maaf pada Gisam.


"Saya ada hadiah untuk keponakan saya, Bu Varissa!" ucap Gisam setelah kondisinya sudah sangat membaik.


"Ha-hadiah?" tanya Varissa tergagap. Alisnya terangkat bingung. Usia kandungannya saja baru 4 Minggu, kenapa cepat sekali diberikan hadiah?


"Mari ikut saya keluar!" ajak Gisam yang sudah lebih dulu melenggang menuju halaman depan.


Dikta mengendikkan bahunya saat Varissa bertanya memalui sorot matanya. Lalu, dengan pasrah dia menggandeng tangan Dikta dan menyusul langkah sumringah Gisam menuju keluar.


"Surprise!!!" teriak Gisam dengan bangga.


Ada dua truk kontainer yang parkir dihalaman rumah yang sontak membuat Varissa nyaris kehilangan kata-kata.


"Hadiah untuk keponakanku tentu saja," jawab Gisam.


"T-Truk?" Pandangan mata Varissa masih tampak kebingungan.


"Tentu saja bukan, Bu Varissa! Memangnya, aku ingin keponakanku jadi supir Truk?" gerutu Gisam sambil menghela tangannya ke udara.


"Terus apa?"


Gisam tertawa kecil. Satu tepukan tangan darinya cukup membuat beberapa orang tiba-tiba turun dari dalam truk dan mulai membongkar muatan yang mereka bawa.


"Itu hadiahnya. Saya harap Bu Varissa berkenan menerima hadiah dari saya yang tidak seberapa," ucap pria itu.


Nafas Varissa tercekat. Tanpa sadar, dicengkeramnya lengan sang suami yang setia berdiri di sisinya. Sementara, beberapa orang anak buah Gisam mulai bergerak menurunkan barang dari dalam kontainer dan memasukkannya ke dalam rumah sambil membungkukkan badan sejenak ke arah Varissa dan Dikta saat mereka melewati sang tuan rumah.


"Ba-banyak sekali, Pak!" ringis Varissa saat melihat bahwa isi dua truk yang dibawa Gisam ternyata full perlengkapan bayi. Mulai dari kereta bayi, pakaian-pakaian bayi, sepatu-sepatu bayi hingga beberapa mainan mahal semuanya ada. Bahkan, bedak dan popok berbagai ukuran pun ada. Luar biasa!


"Ini baru sedikit, Bu! Nanti baru akan saya beri banyak jika keponakan saya terlahir ke dunia dengan selamat."

__ADS_1


"Hah?" Varissa kembali melongo. Seketika, otaknya mulai berkelana. Memikirkan seberapa kaya sebenarnya seorang Gisam Butena. Jika barang yang lebih dari cukup untuk mengisi sebuah toko baru yang ia bawa sekarang dianggapnya sedikit, lantas seberapa banyak nantinya hadiah yang akan diberikan lagi untuk anaknya?


"Gisam memang begitu, Sayang," bisik Dikta yang merasa kasihan melihat ekspresi sang istri yang tampak kelimpungan. Kalau dia sih, biasa saja. Saat kuliah di Amsterdam dulu, Gisam juga selalu mengiriminya hadiah saat berulangtahun dua truk besar berisi pakaian dan sepatu-sepatu mahal. Jadi, dia merasa tak heran jika Gisam melakukan hal yang sama untuk calon anaknya.


"Hadiahnya banyak banget, Ta. Kayaknya cukup deh, kalau kita buka toko perlengkapan bayi," jawab Varissa asal.


Dikta tertawa kecil. "Jangan sampai Gisam denger kalau hadiahnya mau kamu pakai buat buka toko. Nanti, dia ngambek lagi loh. Mau nampung orang aneh itu nangis di rumah kita lagi?"


Seketika, Varissa menggeleng keras. Ogah!


"Semoga bulan depan, keponakanku terlahir sehat, ya Bu!" ujar Gisam tersenyum.


"Hah?" Lagi, Varissa melongo.


"Pffttt...," Dikta kelepasan. Entah kenapa, kebodohan Gisam masih saja bertahan. Wajar, jika dulu kuliahnya tidak lulus-lulus dan nyaris jadi mahasiswa abadi. Dan masalah kekayaan? Nasib Gisam saja yang terlahir beruntung karena berasal dari keturunan yang sudah kaya sejak zaman penjajahan Belanda.


"Loh, kenapa?" tanya Gisam bingung. Digaruknya tengkuk yang tidak gatal sembari menepuk bahu salah satu pekerjanya yang nyaris menabrak dirinya saat mengangkat satu buah dus besar menuju ke dalam rumah.


"Usia kehamilan Varissa baru satu bulan, Gisam. Artinya, 8 bulan lagi baru bisa melihatnya melahirkan," terang Dikta dengan hati-hati.


Gisam terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri mendengar penjelasan Dikta.


"Ja-jadi, bukan bulan depan lahirannya?" tanya Gisam terkejut.


Varissa dan Dikta mengangguk bersamaan.


"Lah, jadi saya bawa hadiahnya kecepetan ya, Bu?" tanyanya pada Varissa.


Entah harus menjawab apa, Varissa hanya nyengir tak enak. Sementara, Bi Nunik, Bi Darma dan Lastri nyaris ingin pingsan saat melihat ruang tamu sudah penuh dengan berbagai macam perlengkapan bayi yang tentu saja akan kembali menjadi tugas mereka untuk merapikan dan memikirkan harus ditempatkan dimana benda-benda yang bahkan dipakainya masih sangat lama itu.


"Kalau orang itu datang lagi, kita bilang aja kalau Mas Dikta sama Mbak Varissa keluar, Bi!" kata Lastri dengan tatapan mendendam.


"Iya, Las! Orang itu cuma bisanya bikin kita kerepotan. Dasar nggak peka," imbuh Bi Darma.


"Lagian, siapa juga yang kasih hadiah sampai dua kontainer segala? Belum lagi, jenis kelamin calon dedeknya aja masih belum tahu, ini malah dikasih perlengkapan untuk anak cowok semua," sahut Bi Nunik.


"Ini sih, fix, Bi! Pasti bakalan bikin pinggangku encok selama seminggu!" tutur Lastri disertai helaan nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2