
Katanya, wanita itu paling senang jika sedang jalan sambil dipegang tangannya oleh sang kekasih. Harapan Varissa sebenarnya juga begitu. Hanya saja, sejak ciuman yang berlangsung beberapa menit yang lalu, si tiang telepon kembali ke sosoknya yang semula. Datar, suka jalan lebih dulu, dan yang pasti, seolah ciuman itu tak pernah terjadi.
Sisa detakan jantung yang tak beraturan saja, masih terasa menggebu di dada Varissa. Sementara, untuk Dikta? Hah! Sepertinya normal-normal saja. Dia malah meneriaki Varissa saat lift sudah terbuka sementara Varissa masih mematung didepan pintu unit apartemen Dikta.
"Jadi jalan, nggak?"
Begitu bunyi seruannya. Varissa yang melamun langsung tersentak. Sepasang kaki pendeknya berusaha berlari menyusul si tiang telepon yang sudah berada didalam kotak besi persegi empat itu sembari menahan pintu lift untuknya.
Saat dia tiba dan berdiri disamping Dikta, tampak lelaki itu hanya menyeringai lebar. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana jeans biru dongker yang ia kenakan.
Aish! Tak ada kah rangkulan mesra untuk saat ini?
TING!
Tiba di lantai dasar, Dikta keluar lift terlebih dulu. Dibelakangnya, Varissa menyusul dengan langkah cepat sambil mulutnya mengomel tanpa suara. Labil sekali lelaki itu. Kadang kepekaannya terlalu tajam. Namun, kadang pula malah terlalu tumpul seperti saat ini.
"Ta! tungguin!" seru Varissa setengah berlari.
Lelaki bertubuh tinggi itu sontak berhenti. Menoleh ke belakang dengan alis terangkat heran.
"Langkah kamu kok lambat banget, Va?" tanyanya begitu Varissa berhasil menyusulnya.
Wanita yang hanya setinggi dadanya itu mencebik. Menatapnya dengan kesal sembari mendengus keras.
"Kaki aku kan, pendek. Beda sama kamu yang kakinya kayak jerapah," gerutu Varissa.
Dikta menatap ke bawah. Tepatnya, memperhatikan sepasang kakinya yang memang tergolong panjang.
"Loh, kok malah nyalahin kakiku? Bukan aku yang mau, kakiku sepanjang ini, Va!" jawabnya mengendikkan bahu.
Ck! Varissa berdecak. Memang benar, sih. Lagipula, dia juga tidak sebenci itu pada kaki panjang Dikta. Karena, berkat sepasang kaki panjang itu, tunangannya justru terlihat semakin mempesona. Model saja, mungkin kalah.
Jiahhhhh! Baru beberapa hari lalu disematkan cincin oleh Dikta di jari manisnya, Varissa sudah meng-klaim bahwa Dikta adalah tunangannya. Padahal, seumur-umur dia tak pernah berpikir hal ini akan terjadi di hidupnya. Bahkan, sekadar membayangkan saja, tak pernah. Defenisi jodoh, tak ada yang tahu selain Tuhan.
"Va!" Dikta sedikit membungkuk. Menatap lamat-lamat wajah Varissa dengan mata menyipit.
Varissa reflek mundur selangkah. Dia masih saja gugup jika Dikta tiba-tiba sedekat ini dengannya. Kedua tangannya bergerak mengantisipasi kejadian tak terduga dengan cara menutup mulutnya rapat-rapat. Jujur saja, jika mendapat serangan sekali lagi, jantungnya mungkin tak dapat diselamatkan lagi.
"Ini lagi di lobby, Va! Banyak orang. Aku nggak mungkin cium kamu disini," ujar lelaki itu setengah berbisik seraya menahan tawa. Bibir kemerahannya tampak basah oleh jilatan lidahnya sendiri.
__ADS_1
Otak Varissa kembali memikirkan sesuatu. Bibir itu tidak jauh lebih indah dari bibir wanita. Padahal, si empu, adalah tipe perokok berat. Lantas, bagaimana caranya bibir itu tidak menghitam seperti lelaki kebanyakan? Dirawatkah?
"Mikirin hal jorok tentang aku, ya?" imbuh Dikta.
Varissa menegakkan kepala. Berusaha bersikap normal agar rasa gugup serta rasa penasarannya tidak terlalu kentara.
"Sembarangan!" Varissa mendengus. "Aku cuma mau bilang, kamu jangan bikin yang aneh-aneh."
"Aneh-aneh, gimana maksudnya?"
"Ya... Aneh-aneh."
"Yang kayak gimana? Aku nggak tahu, yang aneh-aneh menurut kamu itu, seperti apa?"
Varissa menyerah. Mustahil kan, dia bilang kalau dia tak mau Dikta tiba-tiba menciumnya lagi seperti tadi?
"Nggak usah dibahas. Jalan aja, yuk!" Varissa berjalan tergesa-gesa menuju parkiran.
"Bentar!" Dikta menahan lengan wanita itu.
"Apa lagi?"
Ya, bisa dibilang, hampir seluruh fasilitas tersedia di gedung itu. Mulai dari, restoran, cafe, bakery hingga minimarket. Semuanya ada dilantai bawah untuk memudahkan seluruh penghuni yang ada. Tak jarang, karena tempatnya yang memang indah dengan interior yang mewah, orang luar pun sering memilih ke sana untuk sekadar nongkrong menikmati secangkir kopi dan mengambil foto untuk kebutuhan media sosial.
"Boleh!" angguk Varissa. Tenggorokannya yang memang sedari tadi terasa kering, perlu dibasahi oleh sesuatu.
"Ya udah, kamu tunggu disini! Biar aku yang pesan ke dalam," ucap Dikta seraya menuntun Varissa duduk di kursi yang berada diluar coffeeshop.
Wanita itu mengangguk. Duduk dengan manis di kursi yang sudah ditarik Dikta untuknya lalu mengeluarkan ponsel untuk mengusir mengecek beberapa pekerjaan.
"Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu, Va?" geram Erik yang ternyata masih mengintai Varissa. Dia bahkan rela menunggu sampai Varissa turun kembali.
Diperhatikannya sang mantan istri yang tampak tidak tertekan sama sekali usai bercerai dengannya. Sebaliknya, wajah wanita itu tampak sumringah dengan senyum lebar yang enggan hilang dari sudut bibirnya.
"Jadi, karena saudara angkat kamu itu, kamu jadi lupa sama aku?" gumam Erik sembari terus menatap Varissa yang asyik bermain ponsel.
"Atau... Kamu sengaja bikin aku cemburu dengan memanfaatkan lelaki bodoh itu?"
Selang 5 menit, Dikta keluar dengan membawa dua gelas berisi es Americano. Satu ia berikan kepada Varissa yang langsung menyambutnya dengan ucapan terimakasih seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Tak lama kemudian, keduanya melangkah keluar ke tempat parkir. Erik tetap membuntuti dari belakang.
__ADS_1
"Kuncinya mana?" Tangan Dikta tersodor meminta kunci mobil Varissa begitu mereka sampai di parkiran.
"Nih!" Wanita itu memberikan kuncinya pada Dikta.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar. Varissa dan Dikta yang sudah hendak membuka pintu mobil sontak menoleh bersamaan.
"Mas Erik?" ujar Varissa dengan alis berkerut.
"Ya, ini aku, Va!" ucap Erik. "Bagus ya! Baru beberapa bulan kita bercerai, kamu sudah berhubungan terlarang dengan saudara angkat kamu sendiri!" tudingnya dengan tatapan sinis.
Dikta hanya menanggapi santai. Lelaki itu bersandar di badan mobil seraya menyaksikan apa yang ingin dilakukan Erik. Dia merasa tak berhak mencampuri urusan antara Varissa dan mantan suaminya selama lelaki itu tidak melakukan kekerasan. Hanya mata tajamnya saja yang terus meneliti gerak-gerik Erik.
"Hubungan terlarang? Maksud kamu apa, Mas?" tanya Varissa heran.
"Kamu pacaran kan, sama saudara angkat kamu ini?" tanya Erik dengan suara keras sembari menunjuk Dikta.
Varissa menghela nafas panjang. Lelaki benalu ini tiba-tiba muncul hanya untuk memancing kekesalannya.
"Kalau iya, kenapa? Apa itu ada hubungannya sama kamu? Nggak ada, kan? Lagipula, nggak ada satu hukum pun yang mengatakan bahwa kami tidak bisa saling mencintai dan memiliki."
Dada Erik terasa bergemuruh mendengar jawaban Varissa. Kata-kata mantan istrinya terdengar lantang dan penuh keyakinan.
"Apa kamu nggak malu sama orang-orang? Masa' pacaran sama saudara angkat sendiri?" ejek Erik meremehkan.
Varissa kembali menghela nafas. "Memangnya, kenapa sih, Mas? Yang malu kan, juga aku. Kenapa mesti kamu yang repot? Lagipula, asal kamu tahu! Dikta dibawa sama Papa, bukan untuk dijadikan saudara buat aku. Sebaliknya, Papa bawa dia justru untuk menjaga aku."
"Dia jodoh yang dipersiapkan Papa untuk aku!" ujar Varissa penuh penekanan.
Erik tak bisa berkata-kata. Apa kata Varissa tadi? Jodoh yang dipersiapkan oleh Papanya? Heh!!
"Kalau memang dia jodoh yang dipersiapkan Papa kamu untuk kamu, kenapa kamu justru menikah dengan aku?"
"Karena aku bodoh!" Varissa tertunduk sesaat sebelum menatap Erik kembali. "Aku terlalu buta untuk melihat ketulusan Papa dan kebohongan kamu, Mas! Tapi sekarang, mata aku sudah terbuka lebar. Aku kembali ke jalan yang Papa pilihkan karena memang hal itu adalah jalan yang terbaik." Ditatapnya Dikta sambil tersenyum.
"Kamu pikir, dia berbeda dari aku, Va?" Erik kembali menunjuk Dikta. "Aku bisa jamin, kamu akan menyesal sudah memilih dia," teriaknya keras sambil berjalan menjauh dari sana dengan nafas naik-turun.
*Note: Untuk para readers setiaku, update-nya jangan ditungguin ya, Sayang! Soalnya, Thor ngerasa bersalah kalau baca komen kalian, ada yang sampai rela-rela begadang demi nungguin novel ini. Jujur, Thor udah sering curhat di seri novel Thor yang lain kalau Thor ini Ibu rumah tangga sekaligus pekerja juga. Jadi, update hanya sesempat Thor saja. Tapi, Thor selalu usahakan sehari setidaknya ada satu bab. Dengan jadwal yang sudah pasti tidak menentu jam update-nya. Kadang bisa tengah malam, subuh, pagi, siang, bahkan sore. Kadang juga nggak update sama sekali.
Jadi,nggak usah ditungguin tengah malam ya! Cukup Thor yang begadang, kalian jangan! Nggak baik buat kesehatan! Love you all*!
__ADS_1