
Pulang ke rumah, kepala Erik terasa penuh dengan bayang-bayang senyum Varissa yang tampak begitu bahagia bersama Dikta. Diri Erik memanas. Rasa khawatir menyeruak dari dalam hatinya.
"Kenapa, Rik?" Retno menghampiri Erik yang tampak gelisah di ruang tamu rumah mereka.
"Tadi, aku ketemu Varissa, Ma!" jawab Erik.
"Terus gimana? Apa dia minta balikan sama kamu? Iya?" tanya Retno tak sabaran. "Udah Mama bilang, kan? Didiemin sebentar, nanti dia juga yang bakal balik ngemis di kaki kamu!" imbuhnya dengan wajah berbinar.
"Mana ada, Ma!" sergah Erik dengan wajah frustasi.
Senyum sumringah Retno perlahan terhapus dari wajah lelahnya. "Maksudnya?"
Erik menyandarkan punggungnya ke kursi ruang tamu. Kepalanya menengadah dengan telapak tangan yang menyugar kasar rambutnya.
"Dia sudah punya lelaki lain," tegas Erik dengan tatapan sayu.
"Le-lelaki lain?" ulang Retno.
Erik mengangguk yang sontak membuat sang Ibu tampak begitu syok. Pupus sudah harapan wanita tua itu untuk menjadi kaya kembali.
Pintu usang rumah mereka berderit saat seseorang baru saja memasuki rumah. Mauren yang baru pulang kerja tampak mendengus malas ketika melihat suami dan ibu mertuanya sedang berkumpul di ruang tamu dengan tatapan madesu. Masa depan suram.
Tanpa menghiraukan kedua orang itu, Mauren terus berjalan menuju kamarnya. Selang beberapa menit, wanita itu kembali keluar dengan membawa satu koper kecil berisi pakaian.
"Mau kemana kamu?" cegat Erik bingung saat melihat sang istri menggeret koper hendak keluar lagi dari rumah.
"Dinas ke luar kota," jawab wanita itu dengan nada judes.
"Sama siapa?" selidik Erik penasaran.
" Sama Bos aku lah! Mau sama siapa lagi?" dengus Mauren kasar.
"Berdua doang?"
"Memangnya harus berapa orang, Mas? Sekampung?"
Erik menghela nafas panjang. Berusaha mengumpulkan kesabaran ekstra mendengar jawaban kasar dari istrinya sendiri. Lagi-lagi, dengan alasan hamil, Erik harus banyak-banyak mengalah kepada Mauren.
__ADS_1
"Kehamilan kamu sudah hampir mencapai usia 7 bulan, Sayang! Apa nggak sebaiknya kamu cancel aja? Kan, masih ada sekretaris lain yang bisa mendampingi Bos kamu," tutur Erik dengan lembut.
"Mas!" Mauren membentak. "Kamu pikir, gara-gara siapa, aku harus kerja ekstra kayak begini? Semua gara-gara kamu! Andai aku nggak terlanjur nikah sama kamu, mungkin aku nggak akan semenderita ini!"
"Mauren, jaga bicara kamu!" ujar Erik memperingatkan.
"Kenapa dengan nada bicaraku, Mas?" Mauren menantang berani. "Kalau bisanya cuma numpang hidup sama istri, nggak usah banyak belagu. Urus aja keluarga kamu yang sama nggak tahu malunya sama kamu itu!" imbuhnya sembari menatap sinis Retno yang duduk terpaku di kursinya.
Mauren lalu melanjutkan langkahnya dengan menggeret kopernya terburu-buru menuju sebuah mobil BMW hitam yang ternyata sudah menunggu didepan pagar rumah kontrakan. Koper itu ia masukkan kedalam bagasi sebelum dia naik ke mobil dan duduk manis di samping seorang pria berusia 40-an ke atas yang tampak tersenyum genit ke arahnya.
"Gimana suami kamu?" tanya pria itu.
"Biarin aja, Mas! Mau dia marah, aku nggak peduli! Toh, aku cuma butuh dia untuk jadi Ayah atas anakku di atas kertas aja, kok! Setelah anak ini lahir, aku akan ceraikan dia dan memilih tinggal bersama kamu!" ujar Mauren sembari melingkarkan tangannya di lengan pria itu.
*******
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dikta saat menjumpai Varissa tampak tak bersemangat mencoba gaun untuk acara pertunangan resmi mereka.
Wanita itu hanya menggeleng pelan. Dia tersenyum kecil seraya menatap pantulan dirinya dan Dikta didepan cermin.
"Aku cuma sedikit khawatir, Ta." Dia menjawab lemah.
"Aku takut Mas Erik akan mengacaukan hidup kita ke depannya nanti."
Dikta tampak berpikir sejenak. Dipeluknya Varissa dari belakang seraya dagunya ia letakkan diatas kepala wanita cantik itu.
"Dia nggak akan pernah bisa melakukan itu, Va!" ujar Dikta dengan tenang.
"Aku akan memastikan kalau lelaki itu nggak akan pernah bisa menyakiti kamu bahkan seujung kuku sekalipun. Pegang janjiku!" imbuhnya penuh kesungguhan.
Varissa kembali tersenyum. Ia berbalik. Mendongak menatap lelaki tampan itu sebelum bergerak memeluknya dengan erat. Dikta bahkan tidak menyangka akan mendapatkan pelukan seerat itu dari Varissa.
"Iya, aku percaya. Terimakasih, ya!"
"Hanya itu?" tanya Dikta yang menatapnya dengan kedua alis yang terangkat.
"Memangnya, masih ada lagi?" Varissa balik bertanya. Bingung.
__ADS_1
Dikta menghela nafas. Dia mengira, Varissa sudah cukup berpengalaman dengan kode-kodean mesra khas kekasih mengingat wanita itu sudah pernah berumahtangga. Namun, sayangnya tidak. Varissa masih terlihat polos dan malah menatapnya menagih penjelasan.
"Ta?" Varissa menghentakkan tangannya yang masih betah memeluk pinggang pria didepannya.
Malu-malu, Dikta menundukkan sedikit kepalanya. Menyodorkan pipi sebelah kirinya, sembari menatap ke sekeliling untuk memastikan tak ada orang yang melihat aksinya.
Varissa berusaha mengulum senyum yang memaksa terbit kala mengerti apa yang diinginkan oleh si tiang telepon. Ia ikut melihat ke sekeliling lalu mendaratkan satu ciuman kilat ke pipi lelaki itu.
CUP!
Dikta memejamkan mata dengan bibir mengatup rapat sambil menegakkan kembali badannya. Sementara, Varissa sudah berbalik kembali menatap cermin. Mematut diri dihadapan benda yang memantulkan bayangan dirinya itu seraya tersenyum malu-malu.
Dapat ia lihat, Dikta sedang memegang pipi kiri bekas ciumannya tadi dengan wajah tersenyum lebar yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Aduhai! Manis sekali senyum Abang satu ini, gumam Varissa dalam hati. Ditambah lagi, tingkah Dikta yang tampak malu- malu kucing semakin menambah kesan imutnya. Kenapa lelaki ini harus punya segala yang disukai Varissa, sih?
"Va!" panggil Dikta pelan. Di toelnya bahu Varissa yang berpura-pura memeriksa detail gaunnya.
"Hmm?" jawab wanita itu menggumam.
"Ada yang iri," tukas Dikta setengah berbisik di telinga Varissa yang masih berdiri dihadapannya.
"Siapa?" Varissa menoleh ke sekitar. Tak ada siapa-siapa.
"Ini," tunjuk Dikta pada pipi kanannya. "Dia protes, katanya, kok cuma si kiri yang dicium? Masa' dianya nggak?" ucap lelaki itu.
Varissa kembali menatap Dikta. Meski pipinya sendiri sudah memerah seperti tomat matang, dia tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja. Telunjuk kanannya bergerak memberi isyarat agar Dikta sedikit membungkuk. Dan, dengan senang hati, tentu saja lelaki itu melakukannya dengan cepat sebelum Varissa berubah pikiran.
"Mana yang iri?" tanya Varissa yang mengikuti alur permainan Dikta. Terkesan norak memang. Tapi, entah kenapa justru sangat menyenangkan hati.
"Ini," jawab Dikta menunjuk pipi kanannya yang sudah ia sodorkan ke arah Varissa.
CUP!
Satu kecupan agak lama Varissa berikan disana. Lalu, dia mengelus pelan pipi itu kemudian menangkup wajah Dikta dengan kedua tangan mungilnya.
"Udah nggak iri lagi, kan?" tanyanya.
Dikta mengangguk.
__ADS_1