
"Selamat datang kembali, Nyonya Va, Tuan Dikta!" sambut Bi Nunik dan karyawan lain di rumah besar itu.
"Terimakasih banyak, Bi!" jawab Varissa tersenyum. Dibelakangnya, ada Dikta yang mengikuti sambil menggeret koper pakaian mereka.
"Tuan sama Nyonya pasti laper, kan? Bibi sama yang lain udah siapin makanan loh! Makan sekarang, yuk!" ajak Bi Nunik sumringah. Digandengnya tangan Varissa dan Dikta menuju ke meja makan.
"Kopernya gimana, Bi?" tanya Dikta bingung.
"Ada Lastri. Biar dia yang bawa ke kamar," jawab Bi Nunik yang tetap menyeret kedua majikannya menuju meja makan.
"Keluarga saya, nggak datang ke sini, Bi?" tanya Dikta disela makannya.
Bi Nunik yang sedang menuang air minum ke dalam gelas tampak tersenyum kembali mendengar pertanyaan Dikta. Meski tahu bahwa Dikta berpura-pura masih belum ramah kepada keluarga yang dulu pernah mengabaikannnya, namun Bi Nunik tahu isi hati anak itu. Dikta sebenarnya diam-diam tetap memperhatikan mereka.
"Kata Nyonya Widya, besok baru kemari, Tuan! Masih pengen keliling ibukota katanya."
"Siapa yang nganter? Kalau tersesat, gimana?" Ada kekhawatiran yang mampu Varissa dan Bi Nunik tangkap di wajah datar itu. Namun, keduanya hanya kompak saling melempar pandang dan tersenyum tipis.
"Ada utusan Dokter Imran yang menemani. Tuan Dikta tidak perlu khawatir."
Dikta berdehem. Makanan tiba-tiba tersangkut di tenggorokan ketika Bi Nunik mengucap kalimat barusan. Siapa juga yang khawatir, pikirnya.
"Jangan panggil saya Tuan, Bi! Kedengaran aneh." Lelaki itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lah, Tuan kan sudah resmi jadi suaminya Nyonya. Masa' tetap saya panggil, Mas?"
"Saya lebih nyaman dipanggil Mas seperti sebelumnya, Bi. Tolong, jangan sebut pakai kata Tuan lagi. Agak ganggu di kuping saya!"
Bi Nunik tampak kebingungan. Diliriknya Varissa meminta persetujuan. Lalu, Varissa hanya mengangguk. Mengizinkan apapun yang diminta oleh sang suami.
"Mulai sekarang, Bibi sama yang lain juga panggil saya Mbak aja, ya! Kayak dulu ketika Papa masih ada." Varissa berucap dengan santai. Namun, tidak bagi Bi Nunik yang mendengar. Pun, dengan Lastri dan Bi Darma yang menguping didapur. Ketiganya bingung akan permintaan Varissa yang tiba-tiba.
"Loh, kenapa, Nya? Eh, Mbak?" Mendapat pelototan tajam dari Varissa, Bi Nunik lekas mengoreksi kata-katanya.
"Kan, yang minta panggil saya Nyonya itu, Mas Erik kan? Sekarang, berhubung parasit itu sudah pergi, jadi kayaknya nggak perlu lagi. Lagipula, saya juga merasa lebih nyaman dipanggil Mbak Va, ketimbang Nyonya Va."
Dikta yang mendengar ucapan sang istri sontak tersenyum. Ya, semua kebiasaan yang dulu Erik tanamkan di rumah ini memang harus sepenuhnya di rubah. Dia tak ingin ada jejak lelaki kardus itu di manapun didalam rumah yang sekarang akan ia huni.
__ADS_1
Menjual rumah itu sangatlah mustahil. Jejak kenangan Papa Hadi tersebar dimana-mana. Apalagi, pesan terakhir Papa Hadi sebelum meninggal kepada Dikta adalah menetap dirumah itu sampai ajal menjemput dan membangun keluarga bahagia didalam istana yang menjadi saksi perjuangannnya membesarkan Varissa dulu. Jatuh bangun Papa Hadi lalui didalam rumah itu hanya berdua saja dengan Varissa. Istrinya, sudah lama meninggal saat melahirkan Varissa dulu akibat pendarahan hebat. Dan, sejak saat itu dia menjalani peran sebagai orangtua tunggal tanpa mengeluh sedikitpun.
Banyak perempuan yang dulu berusaha merebut hati Varissa agar bisa menjadi ibu sambung bagi perempuan cantik itu. Namun, Papa Hadi dengan sikap tegasnya menghalau mereka semua. Papa Hadi tidak pernah mempercayakan putrinya kepada wanita manapun untuk di asuh. Kecemasan tentang rumor ibu tiri yang jahat membuat Papa Hadi takut Varissa akan mengalami nasib malang itu. Jadilah, dia membesarkan Varissa sendirian tanpa pendamping meski sebenarnya dia juga terkadang merasa sepi.
Ditengah nikmatnya santap siang mereka, suara orang berteriak langsung membuyarkan semua perasaan itu. Varissa dan Dikta saling berpandangan dengan tatapan bingung. Mereka tahu siapa yang datang. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah apakah orang-orang itu masih punya muka menginjakkan kaki dirumah itu?
"Biar aku, Ta! Kamu lanjut makannya aja, ya!" ucap Varissa yang mencegah sang suami untuk berdiri.
"Tapi, kalau mereka macam-macam, gimana?"
"Kamu tenang aja. Aku bisa kok, hadapi mereka sendiri." Varissa tersenyum. Mengecup pipi Dikta sekilas sebelum melangkah keluar ke ruang tamu.
"Varissa!" Nyaring Retno berteriak.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Varissa yang muncul dari ruang makan.
Wajah Retno terlihat pucat pasi. Wajar, pastilah wanita paruh baya itu baru keluar dari rumah sakit. Disampingnya, ada Erik yang memapah sang Ibu sambil membawa sebuah tas besar. Dibelakangnya, berdiri Tika yang menunduk lesu sembari menggeret dua koper besar.
"Bagus ya, kamu! Papa mertuamu meninggal, bukannya melayat malah sibuk menikah lagi? Nggak punya hati kamu,Va!" tuding Retno tanpa tedeng aling-aling.
"Apa hubungannya pernikahan saya dengan pemakaman suami Tante? Hak saya dong, mau menikah kapan saja."
Retno mendengus. Tanpa dipersilahkan, dia tetap mendaratkan bokongnya di sofa empuk milik Varissa. Pun, dengan Erik. Dua makhluk tak tahu malu itu berlaku layaknya yang punya rumah. Hanya Tika yang tetap berdiri mematung. Wajahnya semakin tertunduk dalam melihat betapa tidak terhormatnya kelakuan Abang dan Ibunya.
"Kita ini pernah jadi keluarga, Va! Apa kamu lupa, seperti apa kami memperlakukan kamu selama ini? Jangan jadi kacang lupa kulitnya mentang-mentang kamu sudah dapat lelaki yang sedikit lebih tampan dari Erik."
"Saya nggak lupa, kok! Saya masih ingat bagaimana kalian memperlakukan saya. Tidak ada ubahnya dengan ATM berjalan yang hanya dibutuhkan saat kalian meminta uang."
"Jaga mulut kamu, Va! Yang sopan bicara sama Mama!" sergah Erik dengan nada tak terima.
"Mama kamu aja kali, Mas!" Varissa menatap geli mantan suaminya. "Mau kalian datang kemari apa sih? Nggak malu?"
"Memangnya, kenapa kami harus malu?" Retno menjawab ketus.
Varissa menganga tak percaya. Ada ya, orang seperti ini hidup dimuka bumi? Benar-benar tidak waras.
"Katakan saja! Mau apa kalian datang kemari?"
__ADS_1
"Kami minta dibelikan rumah!" pinta Retno dengan angkuh.
"Ru-rumah?" Bola mata Varissa hampir loncat gara-gara perkataan tidak tahu malu mantan mertuanya.
"Iya, rumah," angguk Retno tanpa rasa bersalah. "Mama mau yang dua lantai. Kamar mandi dalam plus lengkap sama AC dimasing-masing kamar. Kalau bisa, yang nggak jauhlah dari sini. Biar, kalau ada apa-apa, Mama bisa langsung minta kamu untuk datang."
"Kalian waras?"
Mendengar pertanyaan Varissa, mata Retno membulat tak terima. Enak saja, Varissa berucap sesuka hati seperti itu.
"Jaga ya, bicara kamu!"peringat Retno dengan telunjuk mengacung ke arah Varissa.
"Kenapa nggak minta sama anak dan menantu Tante aja?" tanya Varissa sembari menatap Erik dengan sinis.
"Kamu kan tahu, kalau Mauren j*Lang itu yang sudah membunuh Papa. Dan sekarang, dia masih belum ditangkap juga sama polisi. Lalu, seluruh uang Erik sudah habis buat biaya perawatan Mama dirumah sakit dan juga biaya pemakaman Papa," jawab Retno dengan air mata yang menetes. Sakit rasanya saat harus mengungkit lagi cerita kelam keluarganya akibat ulah Mauren.
"Iya, Va! Motor aku juga sudah terpaksa dijual. Kami benar-benar nggak punya apa-apa lagi. Tolong, bantu kami! Ya?" bujuk Erik memelas.
Varissa berdecak sinis. Begitu mudahnya Erik dan Retno melupakan semua yang sudah mereka lakukan pada Varissa. Bahkan, tanpa rasa bersalah mereka datang kemari dan meminta suatu hal besar tanpa beban sama sekali. Benar-benar manusia tanpa urat malu.
"Semua yang terjadi di hidup kamu, itu semua karma buat kamu, Mas! Kok sekarang kalian malah minta aku yang tanggung jawab, sih?" protes Varissa keberatan.
"Ya mesti tanggung jawablah! Kan, kamu yang bikin Erik dipecat. Kamu juga yang menggugat putraku ke pengadilan untuk bercerai. Andai waktu itu kamu mau menerima dimadu oleh Erik, pasti kami nggak akan semalang ini nasibnya." Kembali, suara Retno terdengar ketus dan malah menyalahkan Varissa. "Lagian, mandul aja sok-sok'an menolak di poligami."
Tinju Varissa terkepal erat. Rupanya, Retno masih saja menjadikan anak sebagai alasan untuk menekan dirinya. Memang sungguh durjana mantan mertuanya itu.
"Urat malu kalian benar-benar sudah putus ya? Dan Tante! Apa Tante nggak mikir kalau ucapan Tante itu sangat menyakitkan? Sebagai sesama wanita, harusnya Tante mendukung dan mensupport saya waktu itu, bukan malah membiarkan perzinahan Mas Erik terus menerus terjadi dan justru kalian sembunyikan rapat-rapat."
"Itu kan sudah lewat. Kenapa masih di bahas, sih?" ketus Retno tanpa rasa bersalah. "Lagipula, palingan suami kamu yang sekarang juga cuma ngincar harta kamu. Pas tahu kamu mandul, pasti kamu langsung di cerai. Dan, ujung-ujungnya pasti kamu bakal ngejar-ngejar anakku lagi, kan?"
Wah! Ingin sekali Varissa bertepuk tangan dan memberi penghargaan tertinggi kepada Retno sebagai tukang halu nomor satu didunia. Khayalan mantan mertuanya benar-benar luar biasa. Berhasil menembus tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan tanah sekaligus.
"Va! Lebih baik kamu tinggalkan Dikta dan rujuk sama aku, ya! Aku janji, meski kamu mandul, kali ini aku akan setia sama kamu. Mau, ya?"
Bulu kuduk Varissa meremang sempurna mendengar ucapan kepedean mantan suaminya. Bagi Varissa, ucapan Erik terdengar seperti bisikan makhluk halus. Sangat seram.
"Bahkan, andai kamu satu-satunya pria yang tersisa dimuka bumi, aku lebih baik mati sendirian ketimbang harus menikahi manusia tak tahu diri macam kamu, Mas! Ngaca, gih! Sadar diri dikit jadi orang! Kamu nggak seperfect yang kamu pikirkan, Mas! Bangun! Jangan tidur terlalu miring!"
__ADS_1