
Melalui hari-hari yang sulit sudah mulai membuat Erik terbiasa. Meski tinggal di kontrakan kecil bersama Ibu dan Adiknya, setidaknya lelaki itu tak lagi mengeluh dan pilih-pilih dalam hal pekerjaan. Hampir semua lowongan kerja yang ada ia kirimkan surat lamaran. Pengalaman kerja juga tidak ia bahas berlebihan. Apalagi, membanggakan statusnya sebagai seorang Dirut di perusahaan mantan istrinya dulu, Erik sudah enggan.
Untuk apa mengungkit kisah itu jika akhirnya hanya berimbas pada penolakan kerja nantinya? Sementara, Erik sudah memahami bahwa urusan perut jauh lebih penting ketimbang gengsi. Berbangga diri tak akan membuat ia mengenyangkan perut.
Satu Minggu sejak kepindahannya, Erik akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai seorang sales promosi peralatan Elektronik milik seorang janda kaya di daerah itu. Namanya Nining Indarsih, janda muda yang ditinggal mati dengan warisan toko Elektronik, butik pakaian serta beberapa konter HP dari suami terdahulunya.
Erik betah kerja disana. Meski gajinya berbeda jauh dengan gaji seorang Direktur, namun Erik menyukai segala bentuk perhatian Nining akhir-akhir ini kepadanya dan juga keluarganya. Sering kali, Nining bahkan datang ke kontrakan Erik untuk menjenguk Retno sambil membawa oleh-oleh. Dan, tentu saja wanita paruh baya itu akan tersenyum lebar menerima hadiah pemberian Bos anaknya.
"Udah pulang, Rik?" sapa Retno saat melihat anak sulungnya memasuki rumah kontrakan mereka.
"Iya, Ma," jawab Erik sembari mendaratkan bokongnya di sisi sang Ibu. "Gelang dari siapa, Ma?" tanya Erik dengan alis mengernyit saat melihat gelang emas berbentuk rantai yang melingkar manis di pergelangan tangan Retno.
"Dari bos kamu lah," jawab Retno tersenyum sumringah.
"Bu Nining mampir ke sini lagi, Ma?" tanya Erik penasaran.
Retno mengangguk. "Kayaknya, Bos kamu itu naksir kamu deh, Rik! Pepet gih, sebelum keduluan orang. Kan, lumayan. Meski dia janda, tapi dia kaya. "
"Ma, mana mau Bu Nining sama laki-laki kere kayak aku?" ringis Erik tak percaya diri.
"Ya jelas maulah. Anak Mama kan, ganteng! Untuk perempuan sekelas Nining, pasti dia bakal klepek-klepek sama penampilan kamu. Kalaupun dia nggak mau, ya kamu usaha terus. Emangnya, kamu mau hidup bersusah-susah terus kayak gini? Belum lagi, apa kamu nggak merasa panas mendengar omongan keluarga Papa kamu yang selalu merendahkan kita? Ayolah, Rik! Cuma kamu harapan Mama satu-satunya untuk mengangkat derajat kita lagi. Mama sudah nggak kuat tinggal dirumah sekecil dan sepanas ini, Rik!" keluh Retno panjang lebar.
"Iya juga sih, Ma. Erik juga sebenarnya juga udah capek banget harus keliling terus cari pelanggan. Mana cuma pakai motor butut pula. Panas kepanasan, hujan kehujanan," sungut Erik yang ikutan mengeluh.
"Nggak usah nyari jalan pintas terus, Bang! Nanti, mau untung malah kembali buntung. Mau, kehilangan malu untuk kedua kali?" sambar Tika yang juga baru pulang dari kampus.
__ADS_1
"Tik, ngomongnya bisa enakan dikit, nggak? Anak kecil kok ngomongnya nggak pernah sopan sama Mama dan Abangnya?" gerutu Retno.
"Gimana mau sopan? Mama sama Abang kalau dikasih tahu baik-baik malah nggak nge-denger. Jadi, jangan salahin Tika kalau Tika kasih tahunya pakai nada kasar." Gadis itu mendengus kesal.
"Nggak usah ngomel Mulu, Tika. Nih!" Retno meletakkan sebuah kotak perhiasan dengan sedikit kasar ke pangkuan Tika. "Itu hadiah dari Nining buat kamu."
Tika mengamati kotak perhiasan itu dengan senyuman sinis. Ada kecurigaan yang terus menjalar dihati dan pikiran Tika mengenai modus Bos dari Abangnya itu. Tika selalu merasa ada yang aneh dari sikap Nining yang mendadak baik kepada Erik selama satu bulan belakangan dan juga sering datang bertandang ke kontrakan mereka dengan membawa banyak hadiah. Padahal, sebelumnya wanita itu selalu judes. Berbicara kepada Erik pun selalu pakai urat.
"Nggak usah!" Tika mengembalikan kotak perhiasan itu ke tangan Retno. "Bilangin sama Bos Abang, Tika nggak butuh!" imbuhnya seraya melenggang memasuki kamar.
"Tuh, lihat kelakuan adik kamu, Rik! Mentang-mentang dibiayai kuliah sama mantan kakak iparnya, kelakuannya juga jadi ikut-ikutan si perempuan mandul itu. Sok baik, sok jual mahal sama sok alim. Gedeg Mama lihatnya. Kalau bukan anak kandung, udah Mama buang si Tika itu."
"Jangan ngomong gitu, Ma! Tika adik Erik satu-satunya. Masa' mau dibuang?" kata Erik yang mencoba mengurai emosi Retno yang kusut.
"Boleh juga tuh, Ma! Besok Erik coba ya!"
"Semoga sukses, Rik!"
Didalam kamar, Tika yang menguping pembicaraan ibu dan kakaknya hanya bisa menggeleng prihatin. Bahkan, setelah diberi teguran sekeras ini pun, ibu dan kakaknya sepertinya tak juga berubah. Padahal, sebelumnya Erik sudah terlihat jauh lebih baik. Tapi, kenapa sekarang berubah lagi?
******
"A-Apa ini, Bu?" tanya Erik dengan mulut setengah terbuka saat melihat sebuah motor sport baru berwarna hijau terparkir manis didepan toko.
"Hadiah buat kamu. Katanya, motor yang lama udah nggak bagus, kan?" ucap Nining dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Ta-tapi, saya nggak enak jika harus memperoleh fasilitas sebagus ini dari Ibu. Apa kata karyawan yang lain nanti?"
Nining tiba-tiba mendekat. Disentuhnya bahu Erik dengan pelan disertai sedikit remasan genit. Janda muda itu juga sengaja menggigit bibir bawahnya dengan sensual demi menggoda mantan suami Varissa itu.
"Karyawan lain tahu kok kalau kamu istimewa buatku, Mas!" jawab Nining dengan pipi merona. Ia tersenyum malu-malu sambil menatap duda Varissa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mas...," lirih Nining memanggil.
"Kenapa, Bu?" tanya Erik yang berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Ini kesempatan bagus. Lepas Varissa, dapat Nining. Meskipun, Nining tak sekaya Varissa, namun setidaknya wanita itu bisa memberikan apapun yang Erik mau.
"Kamu mau nggak, nikah sama aku?"
Sepasang mata Erik terbelalak mendengar permintaan dari Bosnya itu. Namun, sepersekian detik berikutnya, senyum menyeringai terbit disudut bibir lelaki bermata sipit itu.
"Tapi, Bu...," Erik berpura-pura berpikir.
"Ayolah, Rik! Aku beneran cinta sama kamu. Please, kita nikah, ya!" pinta Nining mengiba.
Erik semakin merasa diatas awan. Permintaan Nining sungguh tak mungkin ia lewatkan begitu saja.
"Mungkin, ini jalan gue buat bisa membalas dendam pada Varissa dan Dikta yang udah ngerendahin gue selama ini. Tunggu saja kalian! Erik yang baru akan segera datang untuk membuat perhitungan."
"Gimana, Mas? Kamu mau 'kan?" tanya Nining yang sontak membuyarkan lamunan Erik.
"Kita tanya Mama dulu, ya! Kalau Mama setuju, aku juga akan setuju," jawab Erik dengan senyuman.
__ADS_1