
Usai Gisam Butena pulang, Varissa terus menatap sengit Dikta penuh curiga. Apapun yang suaminya lakukan, selalu ia pantau bak CCTV 24 jam. Sesekali dahinya berkerut, lalu memonyongkan bibir saat sang suami tampak tersenyum tipis menatap layar ponselnya.
Tahu sedang diperhatikan sejak tadi, akhirnya Dikta memutuskan untuk menegur sang istri secara langsung. Bukan apa-apa, risih juga rasanya diperhatikan setajam itu dari jarak dekat.
"Kenapa sih, Sayang?" tanyanya seraya menurunkan gawai yang sejak tadi menjadi fokus utamanya.
"Nggak. Nggak apa-apa," jawab Varissa sinis sembari bersedekap. Sebuah buku yang terletak diatas nakas dia raih. Membuka lembar demi lembarnya namun tak dibaca sama sekali. Itu semua dia lakukan hanya demi mengalihkan perhatian Dikta.
"Cerita dong, ada apa! Aku kan risih kalau diperhatiin dari jarak sedekat itu sama kamu."
Varissa melengos. Dasar tidak peka!!
Menghela nafas panjang, Dikta meraih kedua tangan Varissa. Dikecupnya punggung tangan sang istri penuh cinta lalu menyentuh lembut bahu sang istri seraya mengusapnya dengan perlahan.
"Kenapa, sih?" tanyanya lagi.
Varissa menggeleng. Masih enggan mengutarakan isi hatinya.
"Aku ada bikin salah?" Dikta berujar lembut. "Maaf kalau gitu. Aku nggak sengaja, Sayang!" imbuhnya dengan tangan yang mengelus rambut panjang wanita itu.
Diperlakukan selembut dan sesayang itu oleh sang suami, akhirnya Varissa luluh juga. Aih! Siapa juga yang mampu berlama-lama curiga dan marah jika Dikta sudah berlaku seromantis itu padanya. Bahkan, Dikta juga berucap maaf untuk kesalahan yang sama sekali tidak ia ketahui. Hal itu semakin menambah luluh hati Varissa.
"Kamu sama Gisam, dulunya kayak gimana?" Akhirnya, Varissa mulai berbicara.
Dikta mengerutkan alisnya. Jujur, dia tak mengerti kenapa sang istri menanyakan hal seperti itu.
"Yaaa... Biasa aja," jawab Dikta.
"Biasa kayak gimana?" Tiba-tiba Varissa berbalik tiba-tiba. Matanya memicing menatap penuh selidik pada wajah rupawan sang suami.
"Yaaa... Kayak yang kamu lihat tadi," ujar Dikta dengan tangan yang menggaruk kepala.
"Kamu nggak pernah pacaran sama Pak Gisam, kan?"
Dan... Bola mata Dikta nyaris menggelinding keluar saat mendapati pertanyaan aneh dari istrinya.
__ADS_1
"Va, aku normal ya! Mana mau aku pacaran sama sesama jenis. Kamu yang bener aja dong, Sayang!" protes Dikta dengan wajah putus asa.
Varissa mencebik. Nge-gas sekali jawaban suaminya.
"Ya, siapa tahu aja, kan? Habisnya, tiap kali kalian ketemu, kenapa Pak Gisam selalu nemplok kayak cicak ke kamu? Kamu kan bukan tembok!" tutur Varissa sambil menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.
Dikta turut menyandarkan punggungnya disisi Varissa. Lelaki itu menghela nafas lalu meraih tangan sang istri kemudian mengecupnya lagi untuk ke sekian kali.
"Gisam memang begitu. Tapi, nggak ke semua orang. Cuma ke beberapa orang yang menurut dia sudah seperti keluarga." Sambil menepuk punggung tangan sang istri yang sedang mengandung anaknya, Dikta melanjutkan bercerita. "Dulu, ketika masih kuliah bareng di Amsterdam, dia juga kayak gitu ke Michelle kok. Sampai-sampai, mereka pernah di gosipin pacaran dan bikin Michelle ngamuk sambil ngelempar Gisam pakai sepatu dilorong kampus. Dan, tahu apa yang terjadi? Gisam langsung dibawa ke rumah sakit gara-gara pingsan karena kena timpuk," imbuh Dikta sambil tertawa kecil mengingat kenangan lampau.
"Maksud kamu, si gadis bermata hijau yang dulu itu?"
Dikta mengangguk dan Varissa mendadak tertunduk dengan wajah muram. Dibanding kecemburuannya kepada Gisam, rupanya kecemburuan terhadap sosok gadis bermata hijau itu jauh lebih besar. Bahkan, disaat gadis itu sudah tak pernah muncul dan memberi kabar lagi, tetap saja dia merasa cemburu saat suaminya menceritakan kisah gadis itu seraya tersenyum.
"Masih cemburu sama Michelle, ya?" tanya Dikta.
Istrinya cantiknya terdiam. Dari raut wajahnya, jelas sekali bahwa perempuan hamil itu sedang cemburu. Dalam sekejap, Dikta memeluk tubuh istrinya. Ia tak ingin Varissa tersakiti dengan pikiran-pikiran negatif yang seharusnya tak pernah terlintas dibenaknya.
"Dia nggak lebih dari sekadar sahabat, Va! Dia nggak pernah berhasil menggeser posisi kamu dihati aku sejak dulu apalagi sekarang. Ditambah lagi, Michelle bukan perempuan perebut. Dia perempuan yang tahu kapan seharusnya dia berhenti berjuang. Dan sekarang, dia juga sudah menikah. Dan, mungkin juga, aku bahkan sudah tidak dia ingat lagi dalam hidupnya." Dikta semakin mengeratkan pelukannya ditubuh sang istri. "Sayang, Michelle sudah bahagia dengan pilihan hidupnya. Meski mereka dijodohkan, tapi aku tahu bahwa Fernandez laki-laki yang baik. Aku bahkan yakin kalau Fernandez bisa membuat Michelle melupakan aku dalam waktu yang singkat. Jadi, tolong buang cemburu kamu dan jalani hidup kita bersama dengan bahagia."
"Maaf!" ucap Varissa lembut.
"Tapi, Ta...,"
"Tapi apa?"
"Gisam bukan gay, kan? Kamu juga nggak pernah belok, kan?"
Astaga! Kembali ke topik itu lagi. Dikta menepuk jidatnya. Astaga! Bumil ini kenapa curigaan sekali, sih?
"Jawab, Ta!" ucap Varissa mendesak.
"Sumpah, Sayang. Jangankan melakukan, membayangkan aja, aku udah jijik duluan," tutur Dikta memberi pembelaan.
"Yang bener?" selidik Varissa.
__ADS_1
"Bener, Sayang. Sumpah!" ucap Dikta sungguh-sungguh.
"Tapi, Pak Gisam gimana? Kamu jamin, kalau dia bukan Gay?"
Nah! Kalau yang ini, Dikta juga tidak bisa memastikan. Apakah Gisam, Gay? Entahlah! Karena selama bertahun-tahun bersahabat dengan lelaki itu, Dikta memang belum pernah melihatnya berpacaran dengan perempuan manapun. Jangankan pacaran, dekat dengan perempuan selain Michelle pun, dulu Gisam tak pernah.
"Kok nggak dijawab?" Varissa mencubit pinggang sang suami yang tampak melamun.
"Kalau itu, mana aku tahu. Aku kan nggak pernah mencampuri urusan pribadi orang lain, Sayang."
"Berarti ada kemungkinan, kan?" ucap Varissa dengan nada yang naik satu oktaf. Pelukan Dikta ia urai. Kini, wanita itu menatap suaminya dengan wajah gusar. Dadanya naik-turun seiring kepanikan yang mulai mendera.
"Apa jangan-jangan dugaanku benar? Apa Pak Gisam naksir suamiku, ya? Tidak, tidak, tidak!" Varissa menggeleng keras. "Kalau dia mau merebut suamiku, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Masa' pelakor dalam rumah tanggaku juga berbatang? Apa kata orang-orang? Memangnya, Dikta mau pedang-pedangan sama Pak Gisam?"
"Pasti pikirannya lagi traveling kemana-mana," sungut Dikta dengan tangan menyentil kening Varissa.
"Siapa bilang?" sangkal wanita hamil itu.
"Aku, barusan!" jawab Dikta dengan alis terangkat. "Kamu nggak lagi mikir yang aneh-aneh tentang aku dan Gisam, kan?" tebak lelaki itu tepat sasaran.
"Ma-mana ada. Kamu tuh kok kepedean banget jadi orang," tutur Varissa panik.
"Awas ya, Va! Kalau sampai kamu berani berkhayal yang nggak-nggak tentang aku sama Gisam, aku akan...," Dikta menjeda kalimatnya. Tidak tahu harus menyambung kalimat itu dengan kata apa lagi.
"Akan apa, hah?" tantang Varissa sambil menabrakkan bahunya ke bahu Dikta.
"Akan...," Kalimat itu masih menggantung. Volume suaranya bahkan nyaris hilang.
"Akan apa? Ayo diterusin!" Nada suara Varissa kembali naik dua oktaf.
"Jangan marah-marah, Sayang! Kasihan anak kita," ucap Dikta memenangkan.
"Akan apa? Ayo terusin dulu!"
"Akan tidur!" kata Dikta yang dengan kecepatan kilat membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut sampai menutupi kepala. Ini adalah jurus terampuh menghindari masalah versi Pradikta Anantavirya.
__ADS_1