
Widya menyeka sudut mata yang berair. Diperbaikinya posisi kacamata yang dia kenakan itu. Memandangi lagi lengan atas serta bagian dada Dikta yang terlihat dengan tatapan prihatin. Pelan, tangan keriput miliknya bergetar menyentuh permukaan kulit lengan cucunya. Dia merasakan lagi perih itu. Luka cucunya tidak sepenuhnya sembuh.
"Kau menutupi bekasnya dengan tato. Apa itu cukup?" lirih Widya penuh rasa kasihan.
Dikta sejenak menunduk. Butiran kristal bening kembali mengumpul di kelopak mata. Ia menggeleng. Menggigit bibir bawah demi meredakan sakit yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sembuh.
Ya, dia memang memiliki banyak tato. Hampir memenuhi seluruh permukaan dada, perut, punggung, lengan atas, paha, bahkan betis kanannya. Namun, itu bukan pilihan yang ia tempuh untuk memuaskan diri terhadap seni seperti segelintir orang. Berbanding jauh, ia memenuhi hampir seluruh tubuh dengan gambar yang takkan pernah pudar justru demi menyembunyikan luka akibat kebakaran hebat itu.
"Sekali lagi, maafkan Nenek. Maaf karena kamu harus kehilangan waktu yang begitu banyak dengan keluarga karena keegoisan kami," ucap Widya seraya menarik cucu satu-satunya ke dalam pelukannya.
Bukan tanpa alasan dulu dia begitu menyalahkan cucunya. Karena, dibalik sebuah musibah, pasti akan selalu ada yang menjadi kambing hitam demi meringankan sedikit tekanan yang dirasakan. Apalagi, Tama adalah anak satu-satunya yang dia miliki. Pun, dengan Risma. Dia adalah satu-satunya saudari Sani yang masih hidup saat itu. Mereka saling bergantung satu sama lain. Membentuk satu keluarga utuh dan saling berbagi kasih dalam hangatnya kekeluargaan.
Dan, saat kebakaran itu terjadi, baik Widya ataupun Sani, dua-duanya sama sekali belum siap kehilangan orang-orang yang menjadi tumpuan dan harapan hidup mereka. Lalu, saat melihat hanya Dikta yang selamat, hanya anak itu yang mereka anggap pas sebagai pelampiasan emosi sesaat tanpa tahu dampak besar yang akan terjadi setelahnya.
Selalu ada penyesalan di akhir cerita. Namun, kepala yang panas seringkali terlalu abai dan ogah mempertimbangkan segalanya. Apalagi, jika mulut jauh lebih cepat berbicara dibanding hati yang harusnya lebih dulu menimbang rasa. Maka, tentu petaka yang menunggu akan menjadi hukuman yang dengan senang hati ikhlas memberi luka.
"Dikta, perempuan ini siapa?" tanya Widya usai seluruh keadaan menjadi sedikit tenang. Setidaknya, Dikta mau memaafkan mereka meski tingkah lakunya masih terlihat berusaha memberi jarak.
"Dia Varissa. Calon istriku," ucap Dikta dengan bangga.
Wajah suram Widya seketika berubah cerah. Pun, dengan Sani dan Wildan. Senyum lebar langsung memenuhi wajah mereka yang semula hanya berkubang duka dan penyesalan.
Sedikit canggung, Varissa bergerak menyalami Widya, Sani dan Wildan secara bergantian. Memang, momen perkenalannya terasa sangat tidak pas. Tapi, apa boleh buat? Tujuannya kemari memang untuk membanggakan diri kepada keluarga yang dulu membuang calon suaminya bahwa dia adalah perempuan yang paling bisa menerima Dikta tanpa peduli apapun kurangnya. Tapi, siapa sangka, endingnya malah jadi begini. Ia mengira, keluarga Dikta akan tetap membenci Dikta. Namun, syukurnya ternyata firasat buruk itu tidak terbukti. Malah sebaliknya, kesalahpahaman yang terjadi selama bertahun-tahun malah telah berakhir.
__ADS_1
"Cantik sekali!" puji Widya sambil mengelus rambut panjang Varissa ketika perempuan cantik itu menyalami tangannya.
Varissa tersipu malu. Hanya bisa menebar senyum sambil melirik Dikta sesekali.
"Putri Borneo memang cantik-cantik, Nek!" celetuk Dikta memuji calon istrinya.
Dahi Widya nampak terlipat. Hal itu membuat kekhawatiran dalam diri Varissa. Apa Widya akan sama seperti Retno? Tidak menyukai perempuan dari suku lain bercampur dalam keluarganya.
Namun, kekhawatiran itu seketika berubah saat tawa renyah Widya terdengar. Sani dan Wildan juga ikut tersenyum.
"Wah, makin bervariasi keluarga kita ini, Ni!" ucap Widya kepada Sani. Adik kandung mendiang menantu kesayangannya.
"Iya, Bu! Aku sama Mbakku kan orang Palembang campur Tagalog, Ibu asli orang Jawa, dan sekarang, kita mau punya mantu orang Kalimantan. Sani nggak sabar mau lihat cucu Sani nantinya akan seperti apa." Wajah wanita berkisar 45 tahunan itu tampak makin berbinar.
Wajah Varissa mendadak memerah. Belum juga nikah, sudah membicarakan kawin. Ia merasa begitu sangat malu. Meski pernikahan kedua, namun rasanya tak kalah mendebarkan dari pernikahan yang pertama.
"Itu bagusnya, punya keluarga dari berbagai macam suku, Bu! Lihat tuh, anakku! Persilangan Palembang-Tagalog dan Bugis bikin wajahnya ganteng kayak artis sinetron. Di SMA aja, cewek yang ngejar dia banyak banget. Kata mereka, Gilang-ku manis." Sani mulai membanggakan putranya.
"Yang terpenting, akhlak yang nomer satu. Mau apapun sukunya, darimana asalnya atau apapun latar belakang keluarganya, itu tidak masalah. Keburukan bukan berasal dari suku mana kamu berasal. Keburukan muncul dari pribadi diri sendiri. Tidak ada itu kaitannya sama suku A lebih baik atau suku B lebih santun. Omong kosong! Satu yang jelek, bukan berarti semua jadi ikut jelek," ujar Wildan panjang lebar menengahi.
Varissa mengangguk penuh semangat. Itu betul! Aku padamu, Om!" gumamnya dalam hati. Ya, orangtua memang harus sebijak ini. Tidak seperti mertuanya yang dulu. Yang hanya memandang derajat seseorang melalui sukunya. Memangnya, kenapa jika berbeda suku? Bukankah semua orangtua, agama, ras dan golongan sama-sama mengajarkan kebaikan? Lalu, kenapa harus dibedakan?
"Varissa sudah pernah menikah sebelumnya," ucap Dikta memutus tawa Widya dan Sani yang tadinya terdengar begitu renyah di telinga.
__ADS_1
Kedua wanita berbeda generasi itu saling pandang. Menatap Varissa sesaat lalu beralih kepada Dikta meminta penjelasan.
"Sampai sekarang, mantan suaminya masih terus meneror dia. Dan, untuk itu, apa aku bisa minta tolong?" tanya Dikta kepada Nenek, Bibi dan Pamannya.
Ketiga orangtua itu mengangguk kompak. Widya lekas meraih tangan Dikta. Mengusap punggung tangan cucunya dengan lembut seraya tersenyum.
"Minta tolong apa, Nak? Katakan!"
"Tolong jangan percaya siapapun yang berniat menjelekkan nama Varissa. Aku yang paling tahu calon istriku seperti apa. Jadi, sekalipun kalian menentang, pernikahan ini akan tetap terlaksana dengan atau tanpa restu kalian."
"Ta...," tegur Varissa tak enak. Suasana bahagia hanya bertahan beberapa menit. Kini, suram kembali menaungi.
"Nenek sudah pernah berbuat keliru, sekali. Apa kamu pikir, Nenek akan berbuat hal yang serupa dan siap kehilangan kamu lagi?"
Dikta memalingkan wajah. Ia iba. Ia tak ingin wajah tua itu diliputi kesedihan lagi. Namun, Varissa adalah perempuan yang paling dia cintai saat ini. Sekalipun musuh yang dihadapinya harus keluarganya sendiri, ia takkan mundur. Varissa akan dia pertahankan hingga detik terakhir.
*****
Mendung sudah mulai menggantung di langit-langit kota. Dikta perlahan menekuk kedua lututnya. Bersimpuh diantara tiga pusara yang sedari lama sudah sangat rindu untuk dia kunjungi. Sejak hari itu, tak sekalipun Dikta pernah melihat pusara orangtua dan saudaranya lagi. Dan kini, rindu itu terobati. Bersamaan dengan diciumnya nisan dari orangtua yang telah membuatnya terlahir kedunia satu pe rsatu.
"Dikta pulang. Maaf, karena ternyata butuh waktu yang sangat lama."
Varissa berdiri tak jauh dari sana. Ia membiarkan Dikta sendiri. Sengaja memberi ruang, untuk melepas rindu yang sudah mencekik Dikta selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Kini, kisah masa lalu Dikta benar-benar telah usai. Tuntas.