Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Bakso laknat


__ADS_3

4 bulan berlalu terasa begitu sangat lama dan juga terasa singkat secara bersamaan. Perubahan demi perubahan terjadi di hidup Varissa. Kini, wanita itu mulai menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Kesehariannya dia habiskan untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan serta menikmati kebersamaan bersama orang terdekat yang dulu nyaris tak pernah ia lakukan.


Waktu hampir tiga tahun yang dia lalui bersama Erik terasa sangat berbeda. Seolah, dia adalah seorang yang asing akan dunia luar. Hidupnya hanya dihabiskan di rumah dengan aktifitas seputaran menyenangkan Erik semata. Tak ada yang lain lagi. Bahkan, untuk sekadar menyenangkan diri sendiri, Varissa seolah lupa. Dan kini, ketika matanya kembali dapat melihat dengan jelas usai kabut yang diciptakan Erik menghilang, Varissa mulai sadar bahwa hidupnya jauh lebih indah ketika dia memulai untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Memberi penghargaan untuk dirinya sendiri sebelum bergerak menyenangkan orang lain.


Sudah menjadi jadwal rutin di malam Rabu, Varissa akan makan malam bersama keluarga kecil Dokter Imran. Sahabat baik Papa-nya itu selalu menyambut dia dengan ramah. Layaknya anak sendiri, Dokter Imran tak pernah segan memuji atau bahkan menegur Varissa secara terang-terangan. Tak ada bedanya dengan kedua putri kembarnya.


"Makan pelan-pelan, Ci!" Hesti, istri Dokter Imran menasehati salah putrinya.


"Kalau nggak makan cepat, sisa ayamnya nanti direbut Kak Ica," jawab Nessi dengan mulut penuh ayam goreng lengkuas.


Tante Hesti menggeleng. Menatap sekilas pada Varissa yang sudah melotot kesal pada Nessi.


"Kakak nggak serakus itu, ya!" dengus Varissa.


"Dusta," balas Nessi tak mau kalah.


"Husss!! Udah! Jangan berantem. Dibelakang masih banyak kok. Nanti kalau habis, tinggal minta Bibi buat bawain lagi." Tante Hesti menengahi perdebatan dengan suara lembut keibuannya.


Makan malam kembali berlangsung dengan tenang. Setidaknya, sampai Nessa datang dan membuat kegaduhan yang jauh lebih besar dibanding perkara ayam goreng lengkuas.


"Kak Ica," pekik Nessa girang sambil memeluk Varissa dari belakang.


Nessi yang menyaksikan dari seberang meja segera bereaksi. Dengan mulut yang masih penuh dengan nasi, dia bangkit dari kursinya. Berlari mendorong Nessa agar menjauh dari Varissa.


"Dia Kakakku!" delik Nessi marah.


"Dia juga Kakakku!" Nessa melotot tak kalah garang.


"Tapi, Kak Ica jauh lebih sayang Eci, tuh!" Nessi menyombong. Merangkul leher Varissa sembari membubuhkan ciuman dipipi wanita cantik itu.


"Ih... Berminyak, Ci!" keluh Varissa sambil menghapus bekas minyak dari wajahnya dengan punggung tangan.


"Hehehe.. Nggak sengaja," ucap Nessi seraya menelan sisa makanan didalam mulut.


"Ish," Nessa memukul pundak Nessi sambil mendelik marah. "Tuh, pipi Kak Ica jadi berminyak. Gara-gara kamu, sih! Kalau Kak Ica tumbuh jerawat, gimana?" imbuhnya sembari meraih tisu dan mengusap pelan pipi Varissa.

__ADS_1


"Biar aku aja," ucap Nessi sambil menyikut saudari kembarnya. Gantian, kini dia yang beralih menguasai dan membersihkan pipi Varissa.


"Aku aja," kata Nessa yang balas menyikut Nessi.


"Kakak kalian lagi makan, Nak! Nanti kalau ke...," belum selesai kalimat yang diucapkan ibu mereka, hal yang paling dikhawatirkan kini malah terjadi.


Tiba-tiba saja, Varissa tersedak Bakso campuran capcay yang sedang ia nikmati ditengah perdebatan dua gadis cantik super menggemaskan itu.


"Va? Kenapa?" tanya Tante Hesti panik. Dia dan suaminya lekas berdiri. Menghampiri Varissa yang memberi isyarat dengan menunjuk-nunjuk tenggorokannya. Matanya mulai memerah. Dia seperti hendak mengeluarkan sesuatu dari mulut tapi tidak bisa. Rasanya sangat menyiksa.


"Biar Om bantu," tukas Dokter Imran yang bergerak tangkas menghampiri Varissa. Dengan cekatan, dia memukul tengkuk Varissa beberapa kali tapi tak juga berhasil mengeluarkan bakso itu dari tenggorokan Varissa.


Memang sudah kebiasaan Tante Hesti jika memasak capcay baksonya tidak di potong-potong. Hal itu dia sengaja karena suaminya lebih suka memakan bakso utuh daripada yang dipotong kecil-kecil. Kata Dokter Imran, bakso itu baru enak dinikmati jika dalam keadaan utuh. Rasanya jauh lebih enak sekalipun hanya sebagai campuran Capcay.


"Om tepuk sedikit lebih keras ya, Va!" ujar Dokter Imran bersiap.


Varissa hanya mengangguk pasrah. Terserah! Bahkan dengan kekuatan penuh sekalipun, asal baksonya keluar, itu tidak ada masalah.


"1... 2... 3!"


BUK!


BUK!!


Bakso itu melayang dan telak mengenai wajah seseorang.


"Itu apaan?" tanya Dikta sambil mengusap wajahnya yang basah akibat terkena sesuatu yang asing.


Dokter Imran tampak bernafas lega. Pun dengan Tante Hesti. Sementara, Nessi dan Nessa sudah mengkerut dan duduk diam di meja makan tanpa suara. Dan, Varissa kini ikut tertunduk dalam. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan rasa malu karena bakso muntahannya malah mendarat di wajah Dikta.


"Untung bisa keluar. Kalau nggak, bisa celaka kamu,Va!" ucap Dokter Imran.


"Duh... Tolong jangan dibahas lagi, Om!" mohon Varissa dalam hati.


"Tadi itu apa sih?" keluh Dikta sambil melangkah dan mengambil tempat duduk disebelah Varissa yang sudah hampir memasukkan kepalanya dikolong meja.

__ADS_1


"Kena kamu, Ta?" tanya Tante Hesti dengan mata sedikit terbelalak.


Dikta mengangguk. Memandang aneh ke arah Varissa yang tampak berbeda dari biasanya. Entah kenapa, Varissa malam ini seolah enggan menatap bahkan mengajaknya berbicara.


"Iya, Tan. Tapi, itu apa?" tanya Dikta penasaran.


Tante Hesti dan Dokter Imran kompak tertawa. Sementara, Varissa sudah memberi kode kepada sepasang suami-istri itu agar tidak memberi tahu kejadian tadi dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Tadi, Kak Ica keselek bakso gara-gara Eci," jawab Nessa cepat.


Varissa sontak menoleh. Memelototi Nessa sambil memperlihatkan tinjunya secara sembunyi-sembunyi. Gadis berusia 21 tahun itu langsung menciut.


"Enak aja! Itu gara-gara Eca, tau!" ujar Nessi membela diri.


Dikta melongo. Menatap Varissa lekat dengan alis terangkat heran. Dia menagih penjelasan pada wanita itu melalui isyarat mata.


"Bener, Va?" tanya Dikta seraya memegang lengan Varissa.


Sambil menahan malu, Varissa mengangguk. Hilang sudah harga dirinya gara-gara sebiji bakso laknat itu.


"Maaf, Ta! Aku nggak sengaja ngena-in muka kamu," tutur Varissa dengan nada suara nyaris tenggelam. Tak ada sedikitpun niat dalam hatinya untuk menatap wajah tampan yang selalu mengundang keresahan itu seperti biasanya.


"Tapi, kamu nggak apa-apa, kan? Tenggorokan kamu, gimana? Masih sakit?"


"Sedikit, tapi aku baik-baik aja kok."


"Yakin? Gimana kalau aku anter ke dokter?"


Varissa lagi-lagi menggeleng. Kenapa pula pria ini selalu menganggap segala sesuatu yang berhubungan dengannya harus dibawa ke dokter?


"Dikta! Dokternya sudah di sini, buat apa kamu mesti repot nganter jauh-jauh?" celetuk Dokter Imran yang merasa tersinggung karena kehadirannya seolah tidak terlihat.


"Oh iya, ya? Maaf, Om!" tukas Dikta datar seperti biasa.


Dokter Imran hanya menggeleng pasrah. Seperti inilah karakter Dikta.

__ADS_1



__ADS_2