Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Percaya padaku!


__ADS_3

"You okay?" Dikta melambaikan tangannya di depan wajah Varissa yang masih tertegun semenjak Dhena Rasyanda pamit untuk pulang. Usut punya usut, kedatangan wanita tua itu berkat kegigihan dan usaha keras dari Dikta selama beberapa hari terakhir dalam meyakinkan dirinya untuk datang hari ini.


Varissa menggeleng. Mengerjap beberapa kali demi mengembalikan fokus yang sempat terbuyarkan akibat fakta yang baru saja dia ketahui hari ini. Dikta Anantavirya yang dia kenal adalah Ryan Edgar yang selama ini selalu membuat dia menderita. Orang yang begitu sulit dia temui ternyata orang yang selama ini selalu berada di sekitarnya. Bukankah itu lucu?


"Kamu benar Ryan Edgar?" tanya Varissa memastikan bahwa pendengaran yang dia miliki memang masih berfungsi baik.


Tanpa rasa bersalah, Dikta mengangguk.


"Sejak kapan kamu ganti nama dan kenapa nggak pernah kasih tahu aku?" selidik Varissa lagi.


Dikta mengendikkan bahunya sambil meneguk kopi yang tersaji dihadapannya. "Sejak Papa Hadi menitipkan saham itu untuk aku jaga."


"Papa kasih kamu 15 persen sementara dia cuma kasih aku 10 persen?" Varissa ternganga mendengar penuturan Dikta.


"Karena Papa Hadi tahu kalau kamu akan berbuat bodoh seperti hari ini cepat atau lambat!"


NYES!!


Rasanya hati Varissa mencelos seketika. To the point sekali lelaki ini. Tidakkah seharusnya Dikta mengatakan sesuatu yang sedikit lebih lembut? Biar bagaimanapun, hati wanita itu serapuh kertas. Jadi, meski kebodohannya terbilang fatal, terlalu blak-blakan akan semakin menambah sakitnya.


"Ya, aku salah! Aku memang bodoh! Nggak seharusnya saham 5 persen itu aku percayakan ke Erik!" ujar Varissa seraya tertunduk.


Dikta tersenyum. Mengusap rambut panjang Varissa yang wajahnya terlihat masih mendung.


"Cinta memang buta, Va! Kamu nggak sepenuhnya salah!" hibur Dikta yang hanya dibalas anggukan oleh Varissa.


"Kamu kok lambat datang? Kenapa?"


Lelaki yang duduk di samping Varissa tak langsung menjawab. Seringai tipis justru muncul di sudut bibirnya saat Varissa bertanya seperti itu.


"Ta?"


"Tadi aku sedikit bermain sama calon istri Erik sebelum kemari!"


"Maksudnya?" Sepasang alis indah itu berkerut.


"Nanti, kamu juga akan tahu!"


"Dikta!" panggil Gisam Butena yang datang menghampiri keduanya. Mulut Varissa yang semula hendak bertanya, kembali terkatup rapat dan berganti senyum saat pria berpenampilan klimis itu datang dan memeluk Dikta begitu saja. Seolah, keduanya sudah saling mengenal sejak lama.


"Makin cakep aja lu!" puji Gisam sambil menepuk bahu Dikta.


Lelaki berambut panjang itu tak merespons apa-apa. Hanya mengusap bahunya tanpa berniat menjawab.


"Ck! Kelakuanmu nggak berubah, Dikta! Masih menyebalkan!" decak Gisam mengeluh.


Dikta hanya mendengus mendengar lelaki itu berkomentar tentang dirinya. Masa bodoh! Dia tak peduli.


"Setidaknya, ucapkan terimakasih pada kawan lama lu ini!" ketus Gisam berucap.


"Ya, terimakasih!" ucap Dikta datar.


"Yang tulus, Dikta!" pinta Gisam setengah memaksa.

__ADS_1


"Makasih," ucap Dikta sekali lagi.


"Hanya itu?"


Dikta mengangguk. Sedikit tersenyum tipis saat matanya tak sengaja bertatapan dengan sekretaris cantik yang berdiri tepat dibelakang Gisam Butena.


"Dinda! Ini Dikta! Kawanku yang dulu pernah ku ceritakan. Dan ini...," Gisam menunjuk Varissa. "Perempuan yang membuat lelaki sekelas dia tidak bisa move on selama hampir belasan tahun!"


Dinda mengangguk. Sedikit rasa kecewa hinggap dihatinya. Namun, senyum dan sapaan manis tetap dia berikan kepada Dikta dan Varissa dengan cara yang sopan.


"Bukannya sudah ku ingatkan?" Gisam menatap Dinda sambil bergumam dalam hati.


Dan, Sekretaris cantik itu tampaknya mengerti maksud dari tatapan atasannya itu. Benar kata Bosnya beberapa waktu lalu. Seorang Pradikta Anantavirya, mudah mengambil hati namun juga gampang mematahkan hati.


*****


"Mas," panggil Mauren sambil melangkah pincang menuju ke ruangan Erik.


"Mas!" panggilnya sekali lagi saat sang kekasih tampak tak merespons.


"Kenapa, Ren?" tanya Erik dengan pikiran yang kalut bukan kepalang.


"Aku kecelakaan! Mobil aku ringsek di bagian depan. Kamu bayarin ongkos bengkelnya, ya!" kata Mauren dengan tatapan mata yang manja seperti biasa. "Sekalian, minta uang buat ke dokter, dong!" Tangannya terulur ke hadapan wajah Erik.


"Kamu nggak lihat kalau aku lagi pusing, Ren?" bentak Erik frustrasi. Mauren datang-datang malah menambah beban.


"Kenapa, Mas? Ada masalah?" Wanita seksi itu mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.


"A-apa?" Mauren menganga lebar. "Ka-kamu lagi bercandain aku, ya? Jangan gitu dong, Mas! Ini nggak lucu sama sekali, loh!"


"Siapa yang bercanda, Ren? Aku serius?" Erik memejamkan mata. Memijit pangkal hidungnya frustasi.


Gegas, Mauren duduk sofa berdampingan dengan Erik. Wanita itu memegang lengan sang kekasih sambil berusaha tetap tersenyum meski seluruh tubuhnya mulai berdesir takut.


"Siapa yang berani mecat kamu, Mas? Bukannya hampir semua pemegang saham berpihak sama kamu? Apa ada yang berkhianat?"


"Tiga orang menyebalkan yang nggak pernah muncul tiba-tiba datang hari ini. Bukannya itu aneh?"


"Maksud kamu, siapa, Mas?"


"Pak Gisam, Bu Dhena dan... Anak angkatnya Papa Hadi!"


"Tumben mereka hadir? Pakai apa mantan istri kamu sampai-sampai bisa ngebujuk mereka untuk datang, Mas? Dan, anak angkat itu ngapain ke sini?" tanya Mauren penasaran.


"Aku nggak tahu, Mauren!" geleng Erik. "Dan, tentang anak angkat Papa Hadi, ternyata dia pemilik saham 15 persen yang selama ini dicari-cari oleh semua orang. Bukannya ini kedengaran gila?"


"A-apa?"


Oksigen mana oksigen? Dada Mauren terasa sesak seolah oksigen baru saja menghilang seluruhnya dari paru-paru yang dia miliki. Kenapa Varissa selalu memiliki keberuntungan sebesar itu dalam hidupnya?


"Terus, kalau kamu dipecat, pernikahan kita gimana, Mas? Hutang-hutang kita siapa yang bayar? Aku nggak mau ya, kamu sampai minta uang tabungan aku!"


"Mau gimana lagi? Semua aset aku udah di sita. Pak Reno si*lan itu berhasil bikin Om Sugandi ngaku kalau uang perusahaan yang selama ini kita gelapkan dia kasih ke aku. Ditambah lagi, ternyata lelaki tua itu juga ngerekam hampir seluruh pembicaraan kita selama ini dan menyerahkannya ke Pak Reno sebagai bukti kuat."

__ADS_1


"Jadi, maksud kamu, kita semua akan di penjara?"Kepala Mauren mulai terasa pening. Perutnya bergejolak hebat seperti hendak mengeluarkan sesuatu.


"Jangan tanya terus, bisa nggak? Aku juga nggak tahu!" dengus Erik semakin kesal.


Mauren menatap nanar pada calon suaminya. Bagaimana jika dia juga ikut terseret dan ikut-ikutan di penjara? No!


"Ini semua salah kamu, Mas! Aku nggak ikut-ikutan, ya!" Mauren menggeleng. Melempar semua kesalahan kepada Erik seorang.


Mendengar penuturan dari mulut Mauren, kepala Erik semakin tambah memanas. Tanpa sadar, dia menampar keras pipi wanita itu hingga sudut bibir Mauren berdarah.


"Perempuan si*lan! Jadi, sekarang kamu mau main cuci tangan gitu aja, hah? Aku begini juga karena kamu, si*lan! Gara-gara kamu, hidup indahku bersama Varissa harus hancur seperti ini!"


"Jadi, kamu sekarang nyalahin aku, Mas? Kamu yang memilih meninggalkan istri kamu itu! Bukan aku!" ujar Mauren membela diri.


"Itu karena kamu yang menggoda aku!" balas Erik berteriak.


"Siapa suruh kamu mau!" Teriakan Mauren tak kalah kencang.


Jika tak ingat bahwa Mauren saat ini sedang hamil, mungkin saja Erik akan benar-benar membunuh perempuan itu saat ini juga. Betapa menyebalkannya sikap Mauren yang hanya mau enaknya saja tanpa mau ikut menderita.


"Astaga, Va! Apa aku selama ini sudah keliru?"


*****


"Kamu yang bikin Mauren kecelakaan?" tanya Varissa pada Dikta usai tak sengaja menguping pembicaraan Erik dan Mauren tadi.


"Ya," angguk lelaki itu jujur.


"Ta, Mauren lagi hamil. Gimana kalau dia keguguran?" tanya Varissa cemas.


"Dia yang duluan nyakitin kamu. Aku cuma mau balas dia dengan cara yang setimpal!"


"Tapi, ini keterlaluan, Ta!" Varissa menatap putus asa pada lelaki yang bahkan belum pernah berkedip sekali pun itu. Tampaknya, Dikta memang tidak memiliki rasa bersalah ataupun keraguan meski telah hampir membuat Mauren mengalami kecelakaan yang bisa saja membahayakan nyawa. Itulah alasan kenapa lelaki itu datang terlambat di rapat tadi.


"Aku nggak peduli!" tegas lelaki itu dengan netra yang mulai memerah.


Varissa menyerah. Berdebat dengan Dikta tak akan menghasilkan apa-apa. Lelaki itu tak bisa di luluhkan dengan cara yang kasar.


Tanpa pikir panjang, Varissa memeluk tubuh Dikta dengan erat. Mengusap punggung lebar Dikta naik turun secara perlahan demi meredakan rasa sakit yang diderita lelaki itu. Dibanding dia, rupanya Dikta jauh lebih terluka saat dirinya terluka.


"Sekarang aku udah baik-baik aja, Ta! Sudah cukup! Jangan balas Mauren lagi!"


"Kamu ngebela dia? Perempuan yang udah hancurin pernikahan kamu?" tanya Dikta parau.


Varissa menggeleng dalam pelukan lelaki itu. "Aku nggak membela Mauren sama sekali. Aku cuma mencemaskan kondisi bayi nggak berdosa yang sedang dia kandung. Bukan bayi itu yang salah sama aku, Ta! Nggak sepantasnya dia yang bahkan belum terlahir ke dunia harus menderita karena kelakuan ibunya."


"Tapi, aku nggak mau perempuan itu jauh lebih bahagia dari kamu, Va!"


Varissa mendongak. Mengelus pipi Dikta dengan jemari tangannya yang halus seraya tersenyum lebar.


"Siapa bilang dia lebih bahagia dari aku? Kamu lihat sendiri yang terjadi barusan, kan? Aku jauh lebih bahagia bersama kamu dibanding bersama lelaki yang sudah dia rebut itu. Percaya sama aku, Ta!"


__ADS_1


__ADS_2