Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Dendam yang tersamarkan


__ADS_3

"Loh, Mauren?" Bola mata Varissa hampir keluar dari tempatnya saat tak sengaja melihat wajah Mauren tampak dilayar televisi. Kondisi wanita yang pernah merebut suaminya itu tampak memprihatinkan. Penampilannya sangat berantakan akibat amukan dari aktris terkenal yang hampir seluruh filmnya merupakan favorit Varissa.


"Saya hanya ingin menyampaikan kepada seluruh wanita di Indonesia yang memiliki nasib serupa dengan saya agar bisa tetap tegar. Jangan bertahan dan melukai diri kalian sendiri hanya karena anak yang kita miliki. Kalian harus tahu! Justru, anak-anak kita malah akan ikut tersakiti jika tahu kedua orang tua mereka sudah tak sejalan namun tetap bertahan. Lebih baik berpisah dan memberi pengertian kepada anak-anak kita bahwa Ayah dan Ibu mereka sudah berbeda paham. Saya yakin, kita sebagai wanita yang kuat pasti mampu membesarkan anak-anak kita sendiri dengan cinta kasih yang luar biasa tanpa bantuan dari lelaki tukang selingkuh seperti suami saya. Dan, jika kalian masih ragu untuk mengambil sikap, saya menghargai keputusan kalian. Karena, saya pribadi pun, butuh waktu sangat lama untuk akhirnya mau menempuh jalan ini!"


Begitu kurang lebih ucapan Gretha saat diwawancarai oleh para wartawan saat konferensi pers berlangsung.


"Nonton apaan, sih?" Dikta turut bergabung bersama Varissa. Pasta yang baru selesai ia buat untuk Varissa di letakkan diatas meja.


"Itu, Mauren ada di tivi!" tunjuk Varissa ke layar besar dihadapan mereka.


"Oh ya?" tanya Dikta pura-pura.


Varissa meraih piring berisi pasta diatas meja. Menyuapnya ke dalam mulut sembari menganggukkan kepala.


"Ternyata, dia selingkuh lagi sama lelaki lain. Suami artis terkenal, lagi. Kasihan, Mas Erik!" ucap Varissa di sela makannya.


Tampak, lelaki disampingnya sedikit tak suka mendengarkan kalimat terakhir Varissa. Meski begitu, gurat ketidaksukaan itu, tidak ia tonjolkan diwajahnya.


"Kamu kasihan sama Erik?" tanya Dikta dengan nada dingin.


"Sedikit. Biar bagaimanapun, dia sudah setengah mati memperjuangkan cintanya untuk Mauren. Tapi, ternyata, wanita itu malah selingkuh lagi."


Dikta menoleh. Menatap lamat-lamat wanita yang duduk disampingnya sembari menopang kepala dengan tangan kiri. Sedikit senyum kecil tersungging disudut bibirnya.


"Kok ngelihatin aku? Mau?" Wanita itu menawarkan pastanya pada Dikta.


Lelaki yang ditanya hanya menggeleng. Bukan itu yang dia mau.


"Kamu cemburu karena aku bilang kasihan ke Mas Erik?" tebak Varissa.


Tampak helaan nafas panjang dari lelaki disampingnya sebelum menganggukkan kepala. Sontak, mulut Varissa berhenti mengunyah. Piring pastanya ia letakkan kembali ke atas meja. Tubuhnya ia putar menghadap lelaki itu lalu mengelus kepala Dikta dengan jemari lentiknya.


"Kenapa harus cemburu? Mas Erik bukan siapa-siapa aku lagi. Aku kasihan ke dia cuma karena aku pernah kenal sama dia. Nggak lebih!"


Dikta masih diam. Hanya matanya yang terus memandangi wajah perempuan yang ada dihadapannya.


"Kamu nggak lihat, gimana ekspresi muka aku?" Mata Varissa berkedip-kedip. Kedua tangannya menangkup wajahnya sendiri. "Apa di raut wajah aku ada terlihat kalau aku masih ada perasaan ketika menyebut nama Mas Erik?"


Dikta menggeleng pelan.

__ADS_1


"Nggak ada, kan?" Wanita itu tersenyum puas. "Jangan terlalu cemburuan, Ta!" ujarnya seraya mencubit pipi Dikta.


Terdengar tawa kecil dari mulut lelaki itu. Lalu tangannya bergerak menusuk-nusuk dagu Varissa.


"Aku memang nggak lihat eskpresi cinta lagi dari kamu untuk Erik. Tapi, aku lihat ada jerawat kecil di bawah sini!" ucapnya datar.


"Hah? Masa sih?" ujar Varissa panik. Di ambilnya kaca kecil dari dalam tas yang memang tak pernah ketinggalan. Dan, benar saja. Terlihat ada jerawat yang muncul dibawah dagunya.


"Kok bisa ada, sih? Padahal, tadi pagi belum ada," ringisnya nyaris menangis.


"Aku jadi jelek, nggak?" tanya Varissa pada Dikta.


Lelaki itu menggeleng lagi.


"Dijawab, Ta!" bentak Varissa kesal. "Besok, kita ada foto prewed, loh! Ish! Kenapa bisa tumbuh jerawat, sih?" Dia menghentakkan kakinya dilantai dengan keras.


"Jerawat sekecil itu, mana kelihatan di kamera, Va!" tutur Dikta menenangkan.


Mata wanita itu mendelik. Bibirnya mencebik kesal mendengar penuturan Dikta.


"Itu bukan jawaban dari pertanyaan aku, Ta!" ucapnya marah.


Lagi-lagi Varissa mencebik. Dikta lupa atau pura-pura lupa?


"Aku kelihatan jelek nggak, gara-gara jerawat ini?" tanyanya sekali lagi meski dengan hati yang dongkol.


"Tetap cantik!" jawab Dikta seadanya.


"Kok jawabnya kayak gak niat gitu?"


"Niat kok!"


Hah! Varissa memutar bola matanya malas. Memang beginilah resiko kalau berbicara dengan manusia purba tahap evolusi. Dia harus banyak-banyak menahan emosi. Memperbesar rasa sabar dan belajar pengendalian diri agar tidak mencekik leher calon suaminya sendiri. Bahasa Dikta hanya terbatas seadanya. Mungkin, Dikta butuh les bahasa Indonesia untuk memperkaya kosakatanya.


"Ihhhh... Gemes aku!" ucap Varissa dengan rahang bergemelatuk dan kedua tangan yang terkepal didepan wajah Dikta. Jika tak ingat besok akan foto prewed, mungkin tinjunya sudah mendarat telak di hidung lelaki itu.


Tak ada respon yang berarti dari lelaki itu. Bahkan, ekspresi wajah dan cara duduknya masih tidak berubah. Hanya Varissa yang sejak tadi mencak-mencak sendiri seperti orang kena ambeien.


"Karma untuk orang-orang yang menyakiti kamu masih belum cukup, Va! Aku nggak akan pernah puas menyakiti mereka sampai mereka datang dan berlutut dibawah kaki kamu untuk memohon ampun," gumam Dikta dalam hati sambil terus menatap sang calon istri yang terus mengomel panjang lebar.

__ADS_1


Tatapannya lalu beralih pada layar televisi yang masih menampilkan wajah Gretha, Cipto dan Mauren secara bergantian. Sudut bibirnya kembali terangkat. Neraka untuk Mauren perlahan mulai terbentuk. Dan, Dikta akan memastikan bahwa neraka itu turut akan menelan Erik beserta keluarga besarnya.


"Jangan ngelamun!" tegur Varissa sambil menyikut perut liat Dikta.


Sepasang netra legam itu kembali beralih menatap Varissa. Kedua alisnya terangkat dengan senyum tipis yang mengembang.


"Aku lagi ngomong, kamu malah asyik nonton! Dasar cowok nggak peka!" tuding Varissa sambil bersedekap dada.


Alis Dikta makin terangkat. Hei! Dimana salahnya dia?


"Ngambek lagi?" tanya Dikta sambil menghela nafas.


"Nggak!" ketus Varissa.


"Ih, tukang ngambek!" goda Dikta seraya menjawil lengan Varissa. Sengaja ingin membuat wanita itu semakin bertambah kesal.


"Nggak, ya!" sangkal Varissa dengan berteriak.


Dikta meneguk ludahnya kasar. Belum apa-apa, suara Varissa sudah macam dinosaurus. Apa kabar setelah mereka menikah nanti?


"Aku nggak budeg, Va!" ucapnya dengan tatapan yang masih terlihat takjub.


"Siapa suruh mancing-mancing," tutur wanita itu dengan tampang merengut.


Permasalahan mengenai Mauren begitu cepat ia lupakan. Bagi Varissa, baik Erik maupun Mauren memang hanya sekadar bagian dari masa lalu. Tak ada simpati yang tersisa untuk Mauren yang pernah merusak kebahagiaan rumah tangganya. Kini, ia menganggap wanita itu tak lebih dari sekadar orang asing. Hidupnya kini sudah berbeda. Bukan lagi Erik yang ia simpan dalam hatinya melainkan Dikta. Lantas, untuk apalagi dia harus menaruh benci pada kedua orang yang pernah menorehkan luka menganga dihatinya itu? Bukankah itu sama saja dengan masih membiarkan diri terjebak di kubangan masa lalu?


Namun, yang tidak Varissa tahu adalah bahwa lelaki yang kini berada disampingnya itu justru berpikir sebaliknya. Tak ada kepuasan yang Dikta rasakan sebelum benar-benar membuat Mauren, Erik dan keluarganya terpuruk dalam kesengsaraan. Bagi Dikta, mengampuni orang-orang yang telah menyakiti Varissa bukan sesuatu hal yang mudah untuknya.


"Jangan merengut kayak gitu! Muka kamu makin tambah jelek!" ucap Dikta. Ekspresi datar yang sejak awal menjadi ciri khasnya mampu menyembunyikan dendam itu secara sempurna.


"Ta!" Varissa memekik keras.


"Apa sih?"


"Kalau aku jelek, ngapain kamu mau?"


"Biar nggak ada saingan," jawab Dikta sambil menahan tawa.


__ADS_1



__ADS_2