
Mendengar bahwa Mauren sudah ditemukan, Erik segera menuju rumah sakit tempat Mauren dirawat bersama dengan Tika dan Ibunya. Kost-kostan sudah mereka temukan. Biaya perbulan 700 ribu dan sudah mereka bayar untuk tiga bulan ke depan. Tika juga dengan sangat terpaksa menerima HP Android bekas yang sangat jauh berbeda kualitasnya dengan HP yang sebelumnya dia miliki. Meski hati berdesir perih, Tika tetap memaksakan senyum dan menerima HP itu dengan senang.
"Kamu! Dasar perempuan Dajjal!" teriak Retno yang serta-merta langsung menjambak rambut panjang Mauren. "Tega kamu, membunuh suamiku, hah?"
"Sakit.... Tolong!" teriak Mauren yang berusaha melepaskan diri dari amukan Retno. Namun, semakin dia mencoba menarik tangan Retno untuk menjauh dari rambutnya, tarikan tangan Retno justru makin terasa kencang. Mauren bahkan bisa merasakan beberapa helai rambutnya tercabut dari kepalanya.
"Tenang, Bu! Jangan emosi," ujar seorang polisi yang langsung memisahkan Retno dan Mauren.
"Biarkan saya membunuh dia, Pak! Dia perempuan sundal. Gundik murahan yang tidak punya hati. Biarkan saya membunuh dia!" teriak Retno histeris.
Ya, semua gara-gara Mauren. Keluarganya hancur karena kehadiran perempuan setan itu. Andai Mauren tak pernah muncul, mungkin hidupnya masih tetap bahagia dengan aliran dana yang terus mengalir dari menantu kayanya.
"Tolong bawa Ibu ini keluar," perintah polisi yang tadi memegang Retno. Dua rekannya mengangguk. Mengambil alih tubuh Retno yang seketika ambruk begitu sampai diluar ruangan.
"Ma...," panggil Tika cemas saat melihat ibunya kembali pingsan.
Setelah memastikan ibunya baik -baik saja, Tika memutuskan untuk menemui Mauren. Gadis itu juga harus membuat perhitungan kepada kakak iparnya itu. Dendam sakit hati atas kepergian Ayahnya, juga masih menggunung di hati Tika.
"Kamu sudah melahirkan, Ren? Lantas, dimana anak itu? Dimana anak dari Papaku?" tanya Erik sambil berusaha menahan amarah. Ingin sekali dia memukuli Mauren seperti ibunya tadi. Namun, hal itu urung dia lakukan karena ada dua orang polisi yang bersiaga tepat dibelakangnya.
"Udah mati kali," jawab Mauren ketus. Tanpa rasa bersalah, dia sama sekali tidak memikirkan nasib anaknya kini.
"Kamu gila, Ren? Kamu apakan anak itu, hah?" tanya Erik sekali lagi. Tinjunya sudah terkepal erat menahan emosi yang membludak. Sekeji-keji dirinya, dia tak mungkin sampai hati mengabaikan bayi tak berdosa hasil perbuatan Ayahnya bersama sang istri.
"Nggak usah sok peduli, Mas! Sejak kapan kamu punya hati nurani? Lagian, emangnya kamu mau tambah lebih direndahkan lagi sama orang-orang? Sudah jatuh miskin, eh... sekarang malah mengasuh anak hasil perselingkuhan istri dan Papa kandung kamu sendiri!" Mauren tertawa sinis.
BUG!
Satu tinju Erik berhasil mengenai hidung Mauren hingga berdarah. Dua polisi dibelakang Erik terkesiap. Secepat mungkin, mereka berhasil mencekal Erik dan berniat mengusirnya keluar dari ruangan.
__ADS_1
Hal yang tidak mereka antisipasi adalah kedatangan Tika yang dengan tenang berjalan menghampiri Mauren saat mereka tengah sibuk menenangkan Erik. Dan...
Sret!!
Sebuah cutter berhasil Tika layangkan hingga mengenai pipi Mauren. Perempuan itu meringis menahan perih bercampur sakit. Sementara, Tika tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil merusak aset berharga Mauren dalam menggaet lelaki.
"Wajahku! Akh... Dasar bocah sinting!" teriak Mauren sambil memegang pipinya yang berdarah akibat sabetan cutter milik Tika.
Mata Erik membola melihat apa yang baru saja dilakukan oleh sang adik. Lebih kaget lagi saat melihat Tika dengan santainya memberikan cutter itu kepada polisi yang bergerak cepat mengamankan dirinya.
"Itu belum seberapa, Mbak Mauren! Tapi, setidaknya, kamu nggak akan bisa dapat menipu lelaki lain lagi. Cukup keluargaku saja yang kau hancurkan!" ucap Tika yang pasrah ketika tangannya diborgol oleh salah satu polisi yang tadi memegangi Erik.
*****
"Mas, ada Tuan Erik didepan," lapor Lastri dengan takut-takut.
Wajah Dikta yang sedang menonton tivi sambil memeluk mesra istrinya di ruang keluarga seketika berubah masam. Entah apa lagi yang Erik inginkan sampai-sampai datang kembali ke rumah mereka.
"Bentar aja. Aku cuma mau tahu apa maunya dia datang dimalam larut begini."
"Jangan pakai kekerasan ya! Aku nggak mau tangan kamu kotor," peringat Varissa.
Dikta tersenyum. Mengecup puncak kepala sang istri sebelum keluar menuju gerbang untuk menemui Erik.
"Buka, Pak!" perintah Dikta dingin kepada security yang berjaga.
Sang security mengangguk patuh. Dibukanya gerbang itu hingga wajah kusut Erik dapat Dikta lihat dengan jelas.
"Mau apa?" tanya Dikta begitu Erik melangkahkan kaki melewati gerbang.
__ADS_1
"Aku mau ketemu Varissa," ucap Erik.
"Anda tidak punya hak," tolak Dikta tegas. "Pulanglah!" Ia berbalik. Hendak menuju ke dalam rumah tanpa peduli pada Erik.
"Dikta, aku mohon! Sebentar saja!" mohon Erik putus asa. Kali ini, nada suaranya tidak seperti tadi siang. Terdengar, dia jauh lebih sopan dan sedikit tahu diri.
"Ku bilang tidak ya tidak! Anda tuli, Pak Erik?" ujar Dikta dengan bahasa yang kedengaran sopan namun sebenarnya tidak.
Erik tertunduk dalam. Air matanya mulai berkaca-kaca. Lalu, ketika dia mengangkat kepalanya kembali, butiran kristal bening itu tumpah juga dari tempatnya.
"Tolong aku, Dikta!" pintanya sambil menahan suara tangis.
Pupil Dikta sedikit melebar ketika melihat bagaimana sosok angkuh itu bisa berubah menjadi semenyedihkan ini. Namun, dia tetap mempertahankan wajah datar itu. Terkejut memang boleh, namun iba tak akan pernah sudi ia beri untuk Erik.
"Tika dibawa polisi karena melukai Mauren dengan senjata tajam. Tolong! Tolong bebaskan adikku dari penjara. Aku tidak mau masa depannya hancur hanya karena Mauren. Tolong!" mohon Erik.
"Bukan urusanku!" ujar Dikta dingin.
"Aku mohon! Setidaknya, pandang Tika saja. Jangan aku! Adikku tidak pernah bersalah pada Varissa. Hanya aku, Mama dan Papaku yang berdosa. Tika, tidak!" ucap Erik putus asa.
"Apa peduliku? Bagiku, kalian semua sama saja!" Mata Dikta menatap tajam Erik. Mencoba mencari kebohongan di sepasang mata yang sudah terbiasa berdusta itu. Namun, Dikta merasa ada yang aneh. Kemana kebohongan itu sekarang? Semuanya sirna dari mata Erik dan berganti keputus-asaan.
"Akan ku lakukan apapun asal kau mau membantu adikku! Tolong, Dikta!" Erik tiba-tiba berlutut. Memohon dibawah kaki Dikta yang bergeming sedari tadi.
Sudut bibir Dikta terangkat. Ada sesuatu yang sangat dia benci saat melihat Erik akhirnya benar-benar kalah. Di bawah kakinya, dapat dia lihat musuhnya sudah benar -benar hancur. Harusnya dia senang. Harusnya dia tertawa. Namun, kenapa justru hatinya merasakan sesuatu yang lain? Kenapa dia justru merasa kasihan pada manusia yang tak pantas dikasihani ini?
"Kau berjanji akan melakukan apapun?" Alis Dikta terangkat.
Erik mengangguk cepat. " Ya, apapun. Asal Tika tidak dipenjara dan masih bisa melanjutkan kuliah, akan ku lakukan apapun."
__ADS_1
Hening beberapa saat. Jantung Erik berdetak kencang menunggu jawaban dari lelaki yang kini resmi mempersunting mantan istrinya.
"Baguslah! Setidaknya, kamu masih punya hati!"