Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Bayi koala


__ADS_3

Dikta memutar bola matanya malas saat melihat siapa yang datang. Dengan sigap, dia berniat menutup kembali pintu. Namun, orang yang datang jauh lebih cepat menahan pintu itu ketimbang Dikta


"Apaan sih? Tamu datang, bukannya disambut malah diusir!" gerutu Gisam Butena yang berusaha untuk menerobos masuk.


"Saya tidak butuh tamu seperti anda, Tuan Gisam Butena! Silahkan pergi!" usir Dikta yang juga mati-matian hendak menutup pintunya.


"Ini hotel punya gue, woy!! Masa' gue diusir?" ketus Gisam tak mau kalah. Sekuat tenaga, dia masih berusaha untuk melewati pintu yang dipertahankan Dikta.


"Dan saya, menginap disini, juga bayar! Tidak gratis!" jawab Dikta bersungut-sungut.


"Masih nyebelin juga lo, Ta!"


"Tidak ada bedanya dengan anda!"


Cih! Emosi Gisam terasa hampir mencapai ubun-ubun. Beginikah cara seorang Pradikta Anantavirya memperlakukan teman lama? Bukannya di sambut, ini malah diusir. Belum lagi, caranya dengan amat sangat tidak terhormat.


"Siapa, Ta?"


BRUK!!


Lengah akibat kedatangan Varissa, akhirnya Gisam Butena berhasil menerobos masuk. Lelaki berjas rapi dengan rambut klimis itu nyaris mencium lantai akibat tenaganya yang tidak terkontrol. Andai sepatunya licin, maka sudah pasti dia akan kehilangan muka jika jatuh terjerembab dilantai dihadapan Varissa.


"Pak Gisam?" sapa Varissa sedikit canggung. Wanita ber-dress maroon itu tampak tidak mengerti dengan yang baru saja dia lihat. Seorang Gisam Butena yang berkharisma tak ada bedanya dengan anak kecil saat beradu kekuatan dengan suaminya.


"Ha-halo, Ibu Varissa!" sapa Gisam dengan ramah. Penampilan ia benahi. Berusaha mengembalikan citra dirinya yang terkenal penuh kharisma.


"Silahkan duduk, Pak!" ucap Varissa mempersilahkan. Sementara, Dikta tampak menggerutu kesal. Bahkan, dia dengan sengaja membanting pintu agar tamu tak diundang itu peka sedikit.


"Ta, jangan gitu," tegur Varissa saat mendengar pintu ditutup dengan keras oleh suaminya.


"Mau ku suruh tanggung jawab 100 kali lipat kalau pintu hotelku rusak?" delik Gisam marah. Dia tak terima, properti yang disayanginya seperti anak sendiri, diperlakukan seburuk itu oleh orang lain.

__ADS_1


"Nyatanya, nggak rusak kan?" ujar Dikta mengendikkan bahu. Bibirnya menyeringai tipis yang semakin membuat emosi Gisam membludak.


"Pak Gisam mau minum apa?"


"Nggak usah! Dia nggak haus!"


Mulut Gisam baru terbuka hendak menyebutkan minuman yang dia mau ketika Dikta menyambar dan menjawab asal-asalan.


"Cih! Jahat lu sama gue?" dengus Gisam dalam hati dengan mata mendelik ke arah sahabat lamanya.


"Kalau gitu, Pak Gisam mau makan?" tanya Varissa lagi.


"Dia nggak biasa sarapan di jam segini."Lagi, Dikta menjawab yang membuat telinga Gisam nyaris mengeluarkan asap. Padahal, perutnya memang sedang kelaparan. Niatnya mampir pun, hendak meminta untuk makan bersama. Namun, belum sempat mulutnya terbuka, Dikta sudah lebih dulu mematahkan semua keinginannya. Benar-benar defenisi kawan tak ada akhlak!


"Ta, aku nanya Pak Gisam bukan kamu!" tegur Varissa sambil menghela nafas. Rasa tak enak hati terhadap Gisam Butena bercokol dihatinya.Biar bagaimanapun, sosok Gisam adalah orang terpandang dalam dunia bisnis. Mana layak ditindas seperti ini.


"Aku menjawab sebagai teman lama yang sudah kenal kebiasaannya selama bertahun-tahun," jawab Dikta tersenyum sembari menatap Gisam. "Bukan begitu, Bapak Gisam yang terhormat?"


Rahang Gisam bergemelatuk. Matanya melotot tajam ke arah Dikta. Entah kerasukan apa dirinya, sehingga bisa berteman dengan sosok menyebalkan seperti Dikta. Lebih heran lagi, kenapa justru dirinya yang terkesan jauh lebih butuh? Apa jangan-jangan, Dikta sengaja pakai pelet sehingga Gisam rela sebucin ini dalam berteman dengan lelaki itu?


"Ka-kalau gitu, saya permisi ke dalam ya! Silahkan mengobrol dengan santai!" ujar Varissa berpamitan.


Gisam dan Dikta kompak tersenyum ke arah Varissa. Hingga wanita itu menghilang dibalik pintu kamar, senyum keduanya juga kompak berubah menjadi ekspresi kesal. Sepasang mata mereka kini bahkan saling beradu tatap dengan sinis.


"Lo nggak bisa lebih sopan dalam menyambut kawan lama? Gini-gini, gue lebih tua dari Lo, Ta!" sembur Gisam. "Seengaknya, sediain air putih, kek!"


"Mau saya ambilkan air keran?" Alis Dikta terangkat.


"Dasar anak kurang ajar!" Gisam sudah berniat mencopot sepatunya. Mungkin, Dikta memang butuh ditimpuk agar otaknya yang geser bisa kembali ke tempat semula. Namun, hal itu urung dia lakukan. Sepatu itu adalah edisi khusus. Sengaja dia pesan dari Italia dan harus menunggu selama 6 bulan hingga barang datang. Sayang sekali, jika harus dipakai menimpuk Dikta. Kalau lecet, bagaimana?


"Apa anda tidak punya etika? Pengantin baru kok diganggu?" protes Dikta dengan tampang cemberut.

__ADS_1


"Memangnya, Lo pikir gue niat? Kalau nggak ada kepentingan mendesak, ngapain juga gue mesti kemari dan jadi obat nyamuk, hah?"


"Kepentingan mendesak apa?" tanya Dikta yang mulai melunak.


Wajah Gisam tampak begitu sedih. Lelaki itu mengusap wajah sendunya secara perlahan. Tak berselang lama, dia berpindah tempat duduk ke samping Dikta. Lalu, tiba-tiba saja dia memeluk Dikta dengan erat hingga lelaki berambut panjang itu kaget dan reflek memberontak.


"Woeee... Lepas!" ucap Dikta yang berusaha terlepas dari pelukan Gisam.


"Adikku!" panggil Gisam sambil menangis haru. "Rasanya baru kemarin kita ketemu di Amsterdam. Dan sekarang, Lo main nikah aja. Udah dewasa Lo ternyata."


"I-iya. Saya sudah dewasa. Sementara anda, bujang tua yang masih kekanak-kanakan."


"Omongan Lo, bisa nggak, agak lembut dikit? Jangan nyelekit kayak cabe rawit gitu, Ta!" peringat Gisam yang masih setia memeluk tubuh tinggi Dikta.


"Le-pas!" ucap Dikta yang sekuat tenaga berusaha menjauhkan Gisam darinya. Namun, tampaknya usaha itu gagal. Gisam menempel seperti bayi koala di tubuhnya.


"Bentaran aja, Ta!" bujuk Gisam sambil merebahkan kepala di dada bidang Dikta.


"Sumpah! Gue jijik!" teriak Dikta kesal.


"Gue nyaman!" balas Gisam tersenyum.


"Akhhhh!" erang Dikta frustasi. "Va! Tolong!" teriaknya meminta bantuan pada sang istri.


"Jangan teriak! Gue bukan mau perkaos lu!" ujar Gisam dengan tangan yang membekap mulut Dikta.


"Sampai gue lepas, awas lu, ya!" ancam Dikta penuh emosi.


Namun, Gisam seolah tak peduli. Malah, dia makin mengeratkan pelukannya di tubuh Dikta. Kakinya bahkan sengaja naik ke atas sofa dan ikut mengunci pergerakan Dikta. Dia benar-benar seperti bayi koala yang menempel pada ibunya.


Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Varissa berusaha menahan tawa melihat tingkah sang suami bersama kawan lamanya. "Ternyata, kamu bisa semenggemaskan itu sama orang lain juga, Ta! Aku pikir, aku harus khawatir tentang interaksi kamu sama orang lain. Tapi, ternyata itu semua nggak perlu. Kamu punya banyak teman yang peduli dan sayang meski sifat kamu sekaku itu."

__ADS_1




__ADS_2