Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Mau cium?


__ADS_3

Tak tahan dengan tatapan mata Dikta yang seolah sedang meledaknya semenjak kejadian di ruangan Bu Nani barusan, Varissa memilih berjalan lebih cepat didepan Dikta. Dan, ketika lelaki tampan itu berusaha mensejajarkan langkah mereka, Varissa kembali menambah kecepatan berjalannya. Ngebut seperti motor balap meski sepasang kaki indahnya terbilang pendek dibanding lelaki pengundang keresahan itu.


"Va, jalannya jangan cepet-cepet," tegur Dikta sambil menggeleng. Sisi kekanakan Varissa muncul lagi.


"Aku buru-buru," kilah Varissa sambil menambah lagi kecepatan berjalannya. Jika tidak ingin ketahuan malu, tentu saja saat ini dia sudah mengambil jurus langkah seribu alias kabur. Tapi, hal itu tentu saja akan menurunkan gengsinya. Dan, dia tak suka itu.


"Kan, kamu pulangnya juga bareng aku."


Langkah Varissa terhenti. Matanya terpejam sambil tangannya memukul jidatnya sendiri. Ish! Iya juga, ya?


"Sadar nggak sih?" Tiba-tiba saja, Dikta sudah berdiri disampingnya. Varissa mendongak. Menatap pria yang menjulang tinggi bak tiang telepon itu.


"Kamu tambah imut kalau lagi salting." Dikta berucap dengan wajah datarnya. Namun, pancaran sinar mata miliknya tak mampu berbohong. Ketulusan jelas terlihat disana.


"Apaan sih?" Varissa menggigit bibir bawahnya malu-malu. Ia tahu betul. Meski wajah Dikta terlihat datar tanpa ekspresi, namun pujian itu bermakna sungguh-sungguh. Bukan rayuan gombal semata layaknya yang pria lain lakukan dengan wajah tersenyum.


"Ngapain masih berdiri disitu? Katanya buru-buru," ucap Dikta yang ternyata sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Varissa yang masih sibuk menikmati pujian Dikta.


Wanita itu menghentakkan kakinya ke lantai. Berusaha mengejar Dikta yang melangkah sumringah meninggalkan Varissa dibelakang.


Makin Varissa mendekat, kini giliran Dikta yang menambah kecepatan berjalan dengan sengaja. Kedua bibirnya terkatup rapat menahan tawa sambil terus melirik Varissa yang tampak terengah mengikutinya dari belakang.


"Jahat banget! Aku kok ditinggal?" sungut Varissa begitu dia sampai di parkiran. Lelaki menyebalkan yang sayangnya sudah terlanjur mencuri hatinya itu sudah tiba lebih dulu dan bersandar di pintu mobil dan sedang menunggunya.


Dikta tertawa. Mulutnya bahkan terbuka lebar mendengar Varissa yang justru mengomel dan menyalahkannya. Hei, siapa tadi yang katanya sedang buru-buru? Dikta hanya berusaha membuat Varissa untuk tidak terlambat. Itu saja.


"Kok malah ngambek?"


"Siapa yang ngambek? Nggak tuh!" sangkal Varissa.


"Kalau nggak ngambek, mulutnya kenapa monyong gitu? Pengen dicium?"


Astaga! Kenapa lelaki ini semakin hari semakin frontal saja bicaranya? Apa memang semua lelaki sama? Sifat mesumnya akan kelihatan jika sudah mendapatkan hati wanita yang disukainya.


"Ta! Kamu nggak lihat kita lagi dimana? Banyak anak-anak."

__ADS_1


Dikta memandang ke sekeliling. Memang banyak anak-anak panti yang sedang asyik bermain bola dihalaman tepat di samping tempat parkir. Beberapa diantaranya bahkan menyapa dengan ramah yang hanya dibalas Dikta dengan lambaian tangan dan bibir tersenyum tipis.


"Jadi, kalau ditempat sepi, boleh?" tanyanya sambil mencerna makna yang tersirat di kalimat Varissa.


"Jangan ngaco, Ta!"


"Aku serius nanya. Kok malah dibilang ngaco?"


Varissa menghirup nafas dalam. Oksigen disekitarnya mendadak hilang saat mendengar ucapan Dikta.


"Yang bilang mau jaga jarak, siapa?" tanya Varissa panik.


"Yang selalu mancing duluan, siapa?" debat Dikta tak mau kalah.


End.


Varissa kalah dalam perdebatan ini. Suaranya bahkan mendadak hilang dengan pikiran yang tiba-tiba buyar. Kini, satu mitos bisa terpecahkan. Wanita tidak selamanya menang dalam perdebatan.


"Masuk!" perintah Dikta sambil membuka pintu mobil untuk wanita yang masih berdiri dengan tampang melongo.


"Aww...," pekik Dikta dengan tampang tak percaya. "Kamu kok mainnya KDRT?" Ia sedikit membungkukkan badan. Bertanya pada wanita yang sudah memperoleh posisi nyaman didalam mobil miliknya.


"Siapa suruh jahat," sungut Varissa menjawab.


"Gemesshhh!" Satu cubitan di hidung ia dapatkan dari lelaki yang kini bergegas menutup pintu mobil sebelum dia kembali mengamuk.


Perjalanan kembali ke rumah berlangsung sedikit hening. Hanya terdengar suara kecil Dikta yang bersenandung mengikuti alunan lagu dari radio mobil.


Wanita yang duduk disampingnya hanya takzim mendengarkan. Terlanjur terpesona pada suara indah milik pria yang lagi-lagi mencuri kepingan hatinya. Bagi Varissa, sosok pria yang saat ini sedang asyik menikmati dunianya sendiri dan larut dalam alunan lagu itu adalah segalanya untuknya. Hanya Dikta tempat bersandar terakhir yang diandalkannya. Tak ada lagi. Sehingga harapan dirinya juga semakin besar.


"Pah... Terimakasih telah membawa dia kedalam hidup Va. Ternyata Papa memang benar. Dikta adalah orang yang tepat untuk Va."


Tanpa sadar, air matanya menetes disudut mata. Buru-buru jemarinya menghapus bulir bening itu sebelum Dikta menyadari.


"Hei, kok nangis?"

__ADS_1


Hah! Gagal. Rupanya Dikta menyadari perubahan kecil itu di wajahnya. Tangan lelaki itu bahkan kini memegang pipinya. Mengelus lembut dengan wajah yang menyiratkan khawatir dengan fokus yang terbagi dua. Memperhatikan jalan dan Varissa adalah dua hal yang sama-sama penting untuk dia lakukan saat ini.


"Nggak. Ini cuma kelilipan aja, kok." Varissa berusaha berkelit. Tak ingin Dikta tahu bahwa baru saja dia tiba-tiba merindukan sosok Papa yang sudah tiada.


"Kamu yakin? Kamu nggak lagi bohong, kan? Apa kamu sakit? Mau aku antar ke tempat Om Imran?"


Rentetan pertanyaan itu membuat Varissa terkekeh. Ditambah lagi, saat dia memperhatikan mimik wajah si pengundang keresahan yang duduk disampingnya, dia makin merasa dicintai.


Pernahkah Erik menampakkan rasa khawatir setulus itu? Tentu saja pernah. Namun, hal itu sudah berlangsung sudah lama sekali. Masih ketika zaman mereka pacaran di bangku kuliah. Dan, setelah menikah? Hanya Varissa yang selalu menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa Erik yang dia cintai masih Erik yang dulu terlepas dari segala perubahan yang tampak signifikan di diri lelaki itu.


"Jangan ketawa, Va!"


Tawa dan penjelajahan masa lalu terhenti. Wanita itu menoleh memperhatikan Dikta yang sedang berbicara.


"Kamu yakin, nggak lagi sakit?"


Mantap, Varissa menggelengkan kepala. "Serius. Aku cuma kelilipan aja."


Dikta menghela nafas lega setelah mendengar jawaban yang tampak meyakinkan dari Varissa. Lelaki itu mengangguk. Kembali berfokus pada tugasnya untuk membawa Varissa pulang dengan selamat sampai ke rumah.


"Bi, titip Varissa, ya! Makannya tolong di perhatiin. Kalau dia telat atau malas makan, lapor ke saya!" pinta Dikta pada Bi Nunik sebelum berpamitan pulang.


"Iya, Mas! Pasti Bibi lakukan," angguk Bi Nunik dengan jempol yang teracung.


"Aku bukan anak kecil," protes Varissa sembari menyikut perut yang terasa liat itu.


"Bukan cuma anak kecil yang harus di perhatiin, Va!" Dikta menasehati.


Varissa memanyunkan bibirnya. Menatap ketus ke arah Bi Nunik yang selalu berada di pihak Dikta dibanding dirinya. Memangnya, yang gaji Bi Nunik siapa? Itu Varissa, kan?


"Aku pamit ya, Bi!"


"Iya, Mas! Hati-hati, ya." Bi Nunik melambaikan tangan perpisahan.


__ADS_1



__ADS_2