
Lelah menunggu suaminya yang tak kunjung datang, Varissa memutuskan untuk membersihkan diri dikamar mandi. Beruntung, ada ketiga ART-nya yang menemani hingga dia tak perlu kesusahan dalam melepas gaun dan aksesoris pengantinnya. Sekali lagi, ia tersenyum kala melihat cincin indah di jari manis kirinya. Cincin itu menjadi bukti bahwa kini dia telah resmi menikahi seorang lelaki pelit senyum seperti Dikta.
"Ehemmm... Dilihatin teroooossss... Bikin yang jomblo makin iri aja," sindir Lastri sembari mengurai rambut Varissa.
"Makanya, buruan nikah! Jangan cuma mau dipacari terus aja," balas Varissa. Ditatapnya tampang Lastri dari pantulan cermin dihadapannya. Tampak, ART termuda di rumahnya itu mencebik kesal.
"Namanya juga, belum nemu yang cocok. Mau gimana lagi, Nya?" ujar Lastri membela diri.
"Bukannya belum nemu yang cocok. Kamunya aja yang dikit-dikit minta putus. Kamu pikir, karena perbedaan sedikit, orang itu sudah serta merta buruk semuanya, gitu?" sergah Bi Nunik menasehati.
Tambah masam-lah wajah Lastri. Dia merasa sedang dikepung oleh sekumpulan ibu-ibu tukang omel.
"Kamu, kalau pilih-pilih terus, bisa-bisa nggak laku loh, Las!" Bi Darma ikut berkomentar.
"Ih... Kok pada jahat sama Lastri, sih?" Lastri semakin masam.
Satu jam berlalu, akhirnya batang hidung Dikta kelihatan juga. Bi Nunik dan yang lain lekas berpamitan. Tak ingin menganggu malam pertama majikan mereka.
"Nungguin daritadi?" tanya Dikta seraya mengecup pundak putih Varissa. Kedua lengannya melingkar sempurna di perut ramping sang istri.
Jantung Varissa mulai berdetak tak karuan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menyengat seluruh tubuhnya kala bibir lembap sang suami mendarat di pundak dan punggungnya berkali-kali.
Bulu kuduknya bahkan meremang merasakan sentuhan demi sentuhan yang lelaki itu berikan.
"Kok lama?" tanya Varissa yang mencoba untuk tetap tenang. Namun, rasa gelisah itu semakin memuncak dan membuat bibirnya terasa kering saat Dikta mulai menggoda dengan menggigit ringan daun telinganya.
"Kenapa? Nggak sabar ya, mau dipeluk kayak gini?" tanya Dikta sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Varissa. Wajahnya sengaja dia tenggelamkan di ceruk leher wanita yang kini sah menjadi miliknya itu.
"Bukan gitu, Ta!" sangkal Varissa.
"Kalau bukan dipeluk, berarti mau dicium kayak gini?" Lagi, lelaki itu mencium leher Varissa hingga wanita itu terkekeh geli.
"Ta, ada Bi Nunik sama yang lain di luar," ujar Varissa seraya melotot kepada suaminya.
__ADS_1
"Udah aku usir daritadi," jawab Dikta tanpa rasa bersalah.
"Kok diusir? Mereka mau tidur dimana?" tanya Varissa setengah tak percaya. Malam sudah larut. Apa setega itu Dikta membiarkan ketiga ART-nya pulang di jam seperti ini?
"Tenang aja, aku udah pesan lima kamar lain buat jaga-jaga. Kali aja, masih ada yang mau nginep,mereka bisa pakai itu."
"Bener?"
Dikta memutar bola matanya malas. Lelaki itu melangkah mundur. Memilih mendaratkan bokongnya di pinggiran kasur sembari melepaskan jas dan dasi yang sedari tadi terasa mencekik.
"Aku nggak setega itu buat ngebiarin orangtua kayak Bi Nunik dan Bi Darma pulang selarut ini, Va! Kalau masuk angin, gimana?"
Varissa terdiam sesaat. Sibuk menimbang situasi. Benar juga kata Dikta. Mustahil lelaki itu sampai hati membiarkan ART mereka yang mayoritas sudah berusia senja untuk pulang sendiri dimalam selarut ini.
"Mau aku bantuin?" tanya Varissa seraya mendekati sang suami yang tengah membuka kancing kemejanya.
Dikta mengangkat alisnya. Membiarkan jemari lentik Varissa mengambil alih tugasnya untuk membuka kancing kemeja yang ia kenakan.
"Jangan ngiler, Va!" bisiknya ketika Varissa seolah terpana dan terus saja melihat ke arah perut dan dadanya yang berotot.
"Malu-maluin banget sih kamu, Va!" umpat Varissa dalam hati.
Dikta tergelak diatas tempat tidur. Seraya memegang perut yang terasa sakit karena menertawakan kelakuan sang istri, lelaki itu berguling kesana kemari.
"Nyebelin!" Varissa melempar suaminya dengan bantal.
"Abisnya, kamu lucu sih! Masa' ngelihatin suami sendiri, sampai ileran gitu!" ucap lelaki yang kini menumpukan kepalanya di kedua paha Varissa. Bantal yang tadi di lempar istrinya ia jadikan guling.
"Namanya juga belum terbiasa," cicit Varissa membela diri. Rasa malu itu masih bercokol dihati.Apalagi, jika netranya sampai bertabrakan dengan netra tajam sang suami. Rasanya dua kali lipat lagi rasa malu itu.
"Mau aku bikin terbiasa?" tanya Dikta sembari meraih telapak tangan Varissa. Lalu, telapak tangan itu sengaja ia tempelkan ke dadanya. Pelan, turun hingga ke perut.
"Ta,ngapain sih?" tanya Varissa dengan wajah bersemu merah. Namun, tak ada niat sedikitpun untuk menarik tangannya dari perut liat sang suami.
__ADS_1
"Sesuai dugaan.Keras!" gumamnya dalam hati. Selama ini, dia selalu menerka-nerka akan seperti apa rasanya jika memegang langsung perut sixpack itu. Dan kini, rasa penasaran itu terjawab sudah. Sangat sesuai dengan ekspektasi yang selama ini ada dalam khayalannya.
"Kalau yang ini aja keras, gimana yang lain?"
Semakin memerah pipi itu saat membayangkan hal yang tidak-tidak. Aih! Sejak kapan Varissa jadi wanita mesum seperti ini? Merasa tersadar, Varissa buru-buru menarik tangannya dari otot perut Dikta.
"Aku pasti udah gila," ujarnya nyaris tak terdengar. Ditepuknya pipinya sendiri berulangkali.
Dikta tak bisa berbuat apa-apa selain tertawa melihat tingkah polos sang istri. Kenapa menggemaskan sekali? Inikah yang dinamakan mau tapi malu?
"Tangannya kenapa diangkat? Nggak suka ya, pegang-pegang suami sendiri?" goda Dikta.
"Suka kok," sambar Varissa cepat. Hal itu lagi-lagi mengundang tawa Dikta.
"Jangan terlalu nge-gemesin, Va! Kamu bikin aku makin nggak tahan!" ucap Dikta yang semakin lama semakin gencar menggoda istrinya.
Ia bangkit. Merapat ke sisi Varissa lalu mengunci tubuh mungil sang istri diantara kedua kakinya yang tertekuk. Kedua tangannya turut mengunci pergerakan Varissa agar tak kemana-mana.
Begitu dekat dengan wajah Dikta, membuat Varissa semakin merasa salah tingkah. Jangankan bergerak,bernafas pun rasanya ia sudah tak sanggup lagi. Belum lagi, saat tangannya dibawah sana tak sengaja menyenggol sesuatu yang pastinya bukan tangan atau kaki Dikta.
"Jangan di goda gitu, dong! Kan jadi tegak," ucap Dikta semakin menggoda.
Mata Varissa melotot. Salivanya terasa payah melewati tenggorokan. Harus apa dia sekarang demi terbebas dari lelaki yang mendadak mesum ini? Belum lagi, senyum dan pandangan Dikta seolah mengisyaratkan sesuatu. Hal yang sudah pasti Varissa sangat tahu kemana arahnya.
"Ta...," panggil Varissa dengan suara bergetar. Demi apapun, tubuhnya terasa lemas tak bertulang saat sorot mata itu semakin sayu memandangnya.
"Nggak sekarang, Va!"ucap Dikta yang langsung menempelkan bibirnya ke bibir Varissa. Sudah cukup dia mendengarkan ocehan Varissa malam ini hanya demi kabur darinya.
Malam itu, akhirnya terlewati dengan penuh kebahagiaan bersamaan dengan harapan dan doa semoga malaikat kecil yang mereka nantikan akan segera bertumbuh dirahim Varissa.
Semoga saja! Doa itu terbang mencapai langit. Menembus indahnya nirwana hingga sang Khalik dengan senang hati memberi restu. Selalu! Janji-Nya tak pernah ingkar untuk mereka yang benar-benar tulus meminta.
__ADS_1