
Varissa bertopang dagu dengan kedua tangannya. Satu gelas cola ukuran jumbo dia seruput sejak tadi sambil terus memperhatikan sosok pria yang makan dihadapannya dengan sangat lahap. Tanpa gangguan, apalagi rasa bersalah karena telah membuat Varissa salah sangka di mobil tadi.
"Ckckckck... Dasar nggak peka!" Varissa menggeleng. "Benar- benar nggak peka!" Menggeleng lagi.w
Menyadari bahwa sejak tadi dirinya menjadi objek sasaran tatapan tajam dari Varissa, Dikta menyudahi makannya. Meneguk air mineral kemasan di sampingnya lalu ikut balik menatap Varissa tak kalah tajam.
"Kenapa sih? Aku ada salah?"
"Ck... Benar-benar makhluk nggak peka! Dasar jerapah!"
"Va...," panggil Dikta lagi.
Varissa berdecak. Kembali meminum cola dihadapannya meski yang tersisa kini hanya tinggal es batunya saja. Toh, memang rasa cola-nya sudah hambar sejak pertama datang akibat ulah pria berpostur jangkung dengan rambut panjang didepan Varissa ini. Menyebalkan!
"Akhir-akhir ini, kamu nggak pakai kacamata lagi. Kenapa?" Daripada membahas salah paham di mobil tadi, lebih baik Varissa mencari topik baru.
"Oh," Dikta tanpa sadar mengucek matanya sejenak. "Aku pakai lensa kontak sekarang. Lebih praktis," ucapnya seraya tersenyum.
Varissa mengangguk.
"Bagusan yang mana menurut kamu? Pakai kacamata seperti sebelumnya, atau yang kayak sekarang?" Lelaki itu tampak antusias menunggu jawaban Varissa.
"Ya, senyaman-nya kamu aja, Ta! Apapun yang bikin kamu nyaman, aku akan dukung!"
Dikta tersenyum puas mendengar jawaban Varissa. Wanita pilihannya memang paling pengertian.
"Aku boleh nanya sesuatu lagi, nggak?"
"Boleh," angguk Dikta.
Varissa mengulum bibirnya ragu. Kedua matanya menyipit sambil menatap Dikta dengan perasaan gamang. Haruskah dia menanyakan pertanyaan yang satu itu?
"Kamu kerja apa sih?" tanya Varissa sedikit tak enak. Takut, andai Dikta tersinggung karena pertanyaannya.
"Memangnya kenapa?"
Varissa menegakkan punggungnya. Kembali menyeruput gelas cola yang sepenuhnya hanya terisi es batu yang mulai mencair.
"Ya, habisnya aku nggak pernah liat kamu kerja." Wanita itu nyengir. Semakin bertambah takut Dikta akan tersinggung.
__ADS_1
"Aku pengangguran," jawab lelaki itu enteng. Tanpa beban. Tanpa perasaan tak enak sama sekali. Seolah-olah, pengangguran adalah profesi paling membanggakan namun tak perlu mendapatkan apresiasi lebih.
"Hah?" Rahang Varissa nyaris menyentuh lantai. Bola matanya hampir melompat keluar dan berguling di atas meja. Ada perasaan sedikit kecewa dan ngeri jika membayangkan harus kembali menghidupi seorang lelaki lagi. Hilang Erik maka tumbuhlah Dikta.
"Tapi, asal dia nggak bertingkah kayak Erik, harusnya sih, nggak apa-apa." Varissa berusaha menguatkan hati andai benar-benar harus kembali menghidupi seorang lelaki.
Hei! Tapi tunggu dulu! Ada yang aneh disini. Bagaimana bisa, seorang pengangguran, mampu punya mobil semewah mobil yang parkir didepan sana? Bagaimana bisa seorang pengangguran membeli sebuah apartemen mahal di wilayah elit ibukota? Dan, bagaimana bisa seorang pengangguran bisa hidup dan menetap di luar negeri tanpa sokongan biaya besar selama bertahun-tahun? Terakhir, bagaimana bisa seorang pengangguran membeli pakaian ber-merk seperti yang saat ini dia kenakan? Jangan mengada-ada, Ferguso!
"Santai aja, Va!" sentil Dikta sembari tertawa.
"Kamu bercanda, ya?" protes wanita itu.
"Bercanda?" Dikta menaikkan alisnya heran. "Siapa yang bercanda? Aku memang pengangguran."
"Pengangguran kok bisa punya mobil, apartemen, sama pakaian ber-merk gitu?" Varissa mendengus. Ogah menelan perkataan Dikta yang menurutnya hanya pura-pura semata.
"Aku memang pengangguran, Va! Mobil itu punya Om Imran. Apartemen juga punya Om Imran. Dan, baju ini...," Dikta mengangkat kerah leher bajunya. "KW!"
Tak mau percaya begitu saja, Varissa lekas berpindah ke tempat duduk Dikta. Mendekat pada lelaki itu sambil menyingkap kerah bagian belakang baju yang dikenakan Dikta. Berniat memastikan apakah benar, baju itu KW atau asli.
"Ka-kamu ngapain?" Dikta berusaha menghindar.
"Geli, Va!" ujar Dikta sambil menahan kedua tangan Varissa.
Wanita itu mendadak mematung. Di telannya saliva dengan sedikit payah saat mata tajam lelaki itu sedang mengunci sosoknya lekat. Lagi. Jantung kurang ajarnya kembali berulah. Berdetak tak karuan tanpa bisa dicegah oleh sang empunya.
"Aku paling nggak bisa diraba di bagian tengkuk," terang Dikta sedikit canggung. Dilepasnya kedua tangan Varissa sambil membuang muka ke arah lain. Malu.
"Untung di tempat ramai. Kalau ditempat sepi, bisa kelepasan gue."
Kedua pipi Varissa sontak memerah. Sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, wanita itu kembali duduk di tempatnya semula. Sama seperti Dikta, Varissa juga sangat malu. Terlebih lagi, aksinya ternyata mengundang beberapa pasang mata untuk melirik ke arah meja mereka akibat kegaduhan kecil yang telah dia sebabkan.
"Va! Kalau kita sedikit jaga jarak, gimana?" tanya Dikta di tengah perjalanan pulang.
"Kenapa?" tanya Varissa sedikit terkejut.
Terlihat Dikta sedikit gelisah. Dibasahinya beberapa kali bibir yang terasa kering dengan ludahnya sendiri. Entah kenapa, dia merasa mulai kehilangan kontrol dirinya jika terus berdekatan dengan Varissa.
"Aku tahu kamu udah resmi cerai sama Erik. Tapi, apa nggak terlalu cepat kita sedekat ini? Apa kata orang nanti? Aku nggak mau kamu di cap jelek sama orang-orang."
__ADS_1
"Apa kamu senang kalau kita jadi seperti itu?" Varissa menoleh menatap Dikta. "Jaga jarak?"
"Nggak," geleng Dikta pelan. "Tapi, bersabar untuk sesuatu yang berakhir indah, nggak apa-apa, kan?"
"Ya, aku ngerti!" angguk Varissa.
"Tapi, kamu harus janji! Mulai detik ini, kamu nggak boleh kasih kesempatan ke lelaki manapun untuk mampir di hidup kamu. Cukup aku, Va! Dengan hanya aku, aku yakin kamu sudah merasa lebih dari cukup."
"Ta..., jangan terlalu lebay deh!"
Dikta meraih tangan Varissa. Menggenggam jemari mungil itu erat sebelum melabuhkan kecupan agak lama dipunggung tangan wanita itu.
"I love you so much, Va! Jika kali ini kamu kembali memilih lelaki lain dan bukannya aku, maka kamu sama aja dengan membunuh aku dua kali, Va!" Dikta menatap wajah pujaan hatinya dengan tatapan memohon. "Please, jangan terlalu jahat sama aku, Va!" Airmatanya menganak sungai.
Sesak memenuhi dada Varissa ketika tatapan penuh permohonan itu ia terima dari seorang lelaki yang selama ini dia kenal datar dan tanpa emosi itu. Serapuh inikah Dikta yang sesungguhnya? Kenapa rasanya begitu sakit melihat Dikta memohon padanya seperti ini?
"Hei! Jangan sedih!" ucap Varissa parau. Diusapnya pipi lelaki yang sedang menyetir itu dengan lembut. "Aku nggak akan pilih siapapun selain kamu lagi, Ta! Aku janji!"
"Really?" Genggaman tangan Dikta kian erat.
"Ya" angguk Varissa menyakinkan.
"May I Kiss you now?"
Varissa mencebik. "Katanya mau jaga jarak?" sindirnya mengembalikan kata-kata Dikta.
"Ya, kalau didepan orang aja, Va! Tapi, kalau cuma berdua gini, masa nggak boleh?"
"Ishh..." Varissa mencubit lengan Dikta gemas.
"Ouch...," ringis lelaki itu.
"Are you crazy? Aku baru ketuk palu beberapa jam yang lalu loh, Ta! Masa udah langsung...," Varissa tak mampu melanjutkan kata-katanya. Speechless. Mulutnya hanya bisa menganga lebar tanpa mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
"Bercanda doang, Va!" Dikta tergelak. Betapa mudahnya membuat Varissa menjadi salah tingkah seperti ini.
Dikta Anantavirya
__ADS_1