Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Ciuman pertama


__ADS_3

Hampir satu jam menunggu didekat pintu gerbang sembari berusaha terus bersembunyi agar tidak ketahuan oleh dua satpam yang berjaga, membuat kedua kaki Erik terasa hampir patah. Sekali lagi, dia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam 10 pagi. Seharusnya, di jam segini, Varissa sudah keluar rumah.


"Apa jangan-jangan, Varissa nggak ngantor, ya?" gumam Erik berspekulasi.


Selang beberapa menit, tepat ketika dia memutuskan untuk pergi saja dari sana, suara Varissa yang meminta untuk dibukakan gerbang terdengar. Langkah Erik langsung berbalik. Mendekat lagi ke arah pintu gerbang seraya mengintip dari jarak yang aman.


"Tambah cantik aja kamu, Va!" puji Erik dengan senyuman saat dia melihat betapa bersinarnya Varissa yang tengah berjalan menuju mobil dengan


terpaan sinar mentari yang bersahabat.


"Mau berangkat kerja, Nyonya?" tanya salah satu security.


"Nggak, Pak. Saya mau jemput Dikta buat ke butik bareng-bareng." Wanita itu menjawab dengan ramah.


"Loh, kan biasanya Mas Dikta yang jemput Nyonya kemari."


"Mobilnya lagi dibengkel, Pak. Lagian, sesekali saya yang jemput, juga nggak apa-apa, kan?"


Security itu mengangguk tersenyum. Memang benar. Kehidupan sepasang kekasih yang saling mencintai harusnya memang seperti ini. Saling membutuhkan, saling mengayomi dan tentu saja saling memberi. Tidak seperti ketika Varissa masih bersama Erik yang hanya memberatkan di satu pihak saja. Hanya Varissa yang terus menerus memberi tanpa pernah memperoleh timbal balik yang setimpal dengan pengorbanannya.


"Hati-hati, Nyonya!"


Suara klakson terdengar sebagai balasan. Sementara, Erik langsung memutar tubuhnya saat mobil Varissa melintas. Demi apapun, entah kenapa dia tak ingin terlihat untuk saat ini dihadapan Varissa.


"Mau ngapain kamu jemput lelaki itu, Va?" geram Erik dengan tangan terkepal. Hati nuraninya membisikkan kabar yang kurang baik. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang ganjil didalam hubungan persaudaraan antara Varissa dan Dikta. Erik merasa, hubungan kedua orang itu sudah melampaui batas kakak dan adik angkat.


Terus mengikuti instingnya, Erik memutuskan untuk membuntuti Varissa diam-diam. Dia menjalankan sepeda motornya dalam jarak yang aman dari mobil Varissa. Tiba di sebuah gedung apartemen elit, mobil wanita itu berhenti. Sang pemilik lalu turun, kemudian melangkah memasuki bangunan tersebut dan menaiki lift menuju ke apartemen tujuannya.


Di lobby, Erik mendengus keras. Tinjunya melayang di udara karena kesal. Sial! Dia kehilangan jejak. Mustahil untuk menyusul Varissa naik ke atas karena hal itu malah akan membuatnya ketahuan.


Sementara itu, Varissa yang tiba di depan apartemen Dikta lekas masuk. Tak perlu menekan bel atau mengetuk pintu lagi seperti dulu. Kini, dia bebas masuk karena sang pemilik sudah mengizinkan.


"Ta! Kamu dimana?" teriak Varissa saat menjumpai ruang tamu dan dapur yang kosong. Padahal, biasanya di jam segini, Dikta pasti sedang nongkrong di ruang tamu sambil membaca majalah atau buku yang menurut Varissa isinya terlalu berat untuk dicerna.


Pintu kamar utama terbuka. Pria yang dia cari muncul dari dalam sana dalam keadaan sedang mengancingkan kemeja putih yang dikenakannya.

__ADS_1


Tenggorokan Varissa mendadak terasa kering. Tubuh lelaki itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi, perut sixpack dan dada berotot itu benar-benar terlihat seksi. Ditambah, dengan beberapa tato yang terukir hampir memenuhi seluruh dada pria itu, semakin menambah kesan seksi yang dimilikinya.


"Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Va?" gumam Varissa dengan mata melebar menikmati pemandangan dihadapannya tanpa berkedip.


"Kenapa, Va?" tanya Dikta pura-pura. Padahal, dia tahu bahwa Varissa sedang terpesona melihat tubuhnya.


"Ha?" Fokus wanita itu masih buyar. Matanya bahkan masih menatap dada Dikta yang kini sudah tertutup penuh oleh kemeja yang sudah terkancing sempurna.


"Masih pengen lihat?" goda Dikta dengan seringai lebar.


"Apanya?" Varissa menggaruk tengkuknya dengan wajah kecewa. Cepat sekali pemandangan indah itu berlalu.


"Kancing kemejanya mau aku bukain lagi, nggak?" Dikta memegang kancing teratas kemejanya seraya menatap Varissa.


Mengerti bahwa Dikta tahu betul tentang isi pikirannya, Varissa langsung salah tingkah. Wajahnya kembali memerah dan memanas karena ketahuan. Aish! Peka sekali lelaki ini.


"Maksudnya apaan sih? Aneh deh!" Varissa tertawa sumbang.


"Bukannya kamu lagi ngeliatin badan aku, ya?"


"Siapa juga yang lagi ngeliatin badan kamu? Kepedean deh!" elak Varissa malu.


Varissa semakin merasa tak nyaman. Dikta ahlinya menyudutkan orang. Tentu saja dia akan kalah karena lelaki itu selalu benar. Instingnya tak pernah salah.


"Udah, ah! Kalau kamu udah siap, kita jalan sekarang! Udah siang!" ucapnya mencoba lari dari masalah.


"Awas, Va!" Dikta menarik tangan Varissa dengan keras hingga wanita itu masuk kedalam pelukannya.


Wanita yang masih belum mengerti apa-apa itu hanya bisa mendongak. Menatap mata tajam itu tanpa bisa beralih lagi. Dia terjebak dalam pusaran cinta yang diciptakan lelaki itu. Jantungnya bahkan mulai berdegup kencang saat netra legam milik Dikta terus memindai wajahnya.


"Jalan itu pakai mata!" ucap Dikta pelan seraya menyentil dahi Varissa dengan jari telunjuknya.


"Aww!" Varissa memekik. Di sentuhnya dahi yang terasa sakit usai Dikta melepaskan pelukannya.


"Meja segede ini, masa' nggak kelihatan, Va?" ujar Dikta seraya mengetuk-ngetuk permukaan meja yang tadi hampir ditabrak Varissa. "Kalau tadi kamu nabrak, gimana? Yang sakit kan, bukan mejanya. Tapi kamu!"

__ADS_1


"Maaf!" ucap Varissa tertunduk. Diusap-usapnya dahi yang masih terasa sakit karena sentilan Dikta. Lagian, gara-gara siapa, Varissa hampir menabrak meja? Bukannya itu salah si tiang telepon ini? Andai dia tidak membuat Varissa malu, tentu dia juga tak akan gegabah melangkah tanpa melihat-lihat.


"Sakit, ya?" Dikta mendekat. Menyentuh dahi Varissa sembari meniupnya perlahan.


"Sakit...,"


Padahal mah udah nggak!


"Mau diapain biar sembuh?" tanya lelaki itu penuh kelembutan.


"Mau dicium," jawab Varissa malu-malu sambil menahan senyum.


"Dimananya yang mau dicium? Disini, sini, atau sini?" Meraba dahi, pipi dan bibir.


Ahhayyy...


Harus jawab apa? Kalau bisa semuanya, kenapa harus satu? Tapi, bukankah Varissa seorang wanita? Gengsi, dong kalau sampai dia mengatakan bahwa Dikta boleh mencium semua yang dia tunjuk tadi. Mau ditaruh dimana mukanya?


"Disini aja!" ucap Varissa pada akhirnya. Dia menunjuk dahinya yang sakit tadi.


Cup.


Satu kecupan mendarat disana sesuai permintaannya.


"Udah sembuh belum?" tanya Dikta sambil mengusap kepala Varissa.


"Mendingan," jawab wanita itu tersenyum. Rasanya senang dimanja seperti ini oleh lelaki yang dicintainya.


Cup.


Satu kecupan lagi mendarat dipipinya. Mendadak, Varissa mematung. Matanya melebar menatap wajah Dikta yang tampak biasa-biasa saja meski sudah memberi kejutan besar untuk jantung Varissa. Dasar!


"Masih sakit?" tanya lelaki itu sekali lagi.


Varissa menelan saliva susah payah saat menyadari kemana tatapan mata Dikta tertuju. Lelaki itu sedang memperhatikan bibirnya yang setengah terbuka. Dan, tanpa memberi aba-aba terlebih dulu, kini bibir lelaki itu sudah menempel telak di bibir kemerahannya.

__ADS_1


"Curang!"



__ADS_2