Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Ada aku!


__ADS_3

Dokter Imran melepas kacamatanya. Mengurut pangkal hidung lalu menarik nafas dalam sambil menatap sendu ke arah Varissa. Dia kemudian menegakkan punggung. Kembali mengambil nafas panjang sebelum mulai menyingkap kisah lama yang sudah hampir terlupakan dalam benaknya.


"Ya, kamu benar," angguk Dokter Imran. "Dikta memang sempat mendapatkan perawatan dari ahli kejiwaan ketika pertama kali dibawa pulang oleh Papa kamu."


Netra Varissa membulat sempurna. Detik berikutnya, terasa ada kabut yang menutupi penglihatannya. Lalu, disusul oleh luruhnya bening yang tertampung di sudut mata.


"Hidup Dikta sangat berat kala itu, Va! Dia kehilangan Ayah, Ibu beserta saudaranya dalam satu waktu. Dan, yang jauh lebih miris adalah semua keluarga yang lain menyalahkan dia. Menganggap Dikta sebagai biang dari kebakaran hebat yang melalap rumahnya waktu itu." Dokter Imran mendesah prihatin.


"Mungkin kamu nggak pernah tahu. Tapi, dulu Papa kamu sudah berusaha maksimal menyembuhkan trauma Dikta. Papa kamu bahkan mendatangkan ahli kejiwaan ternama dari luar negeri demi mengatasi trauma anak itu." Pria tua itu mendesah samar. "Tapi, kelihatannya dia selama ini hanya menipu Papa kamu bahkan Om." Dokter Imran tertawa prihatin.


"Kami mengira, trauma itu sudah lama sembuh. Tapi, setelah mendengar cerita kamu, sepertinya belum. Ck! Memang dasar anak nakal, calon suamimu itu!," imbuh Dokter Imran sambil berdecak kesal.


"Jadi, Va harus ngapain, Om?" tanya Varissa dengan suara bergetar. Menyesal tentu saja sudah menyusup ke sukma. Biar bagaimanapun, dia adalah pemicu dari trauma masa lalu itu muncul kembali.


"Terus semangati dia. Jangan biarkan dia merasa sendiri. Peran kamu saat ini, pasti sangat berpengaruh. Ingat! Kamu adalah orang yang paling dia cintai sekarang ini. Jadi, tunjukkan bahwa kamu juga bisa memberikan cinta sebesar yang dia berikan untuk kamu. Dengan begitu, mungkin saja, perasaan dibuang yang dia rasakan, perlahan bisa menghilang."


Berbekal nasihat panjang lebar dari Dokter Imran dan Tante Hesti, Varissa memutuskan pulang menggunakan taksi online. Biarlah! Untuk malam ini, dia akan mencoba mengesampingkan ego. Berusaha menahan keinginan untuk bertemu Dikta agar lelaki itu bisa menikmati kesendirian demi meluruhkan luka yang selama ini tak pernah dia tunjukkan pada Varissa ataupun orang lain.


Varissa mengerti. Amat sangat mengerti. Dikta pasti tak ingin menunjukkan kelemahannya didepan dirinya.


*****


Suara bel memaksa Dikta yang masih meringkuk diatas petiduran untuk terbangun. Diliriknya jam yang berada diatas nakas. Pukul 8.35 pagi. Waktu yang terbilang sangat siang untuknya terbangun. Entah kenapa, lelah begitu sangat terasa sejak semalam. Dikta bahkan tidak ingat, kapan dia mulai bisa tertidur pulas. Mimpi-mimpi yang sudah tidak pernah datang kini kembali berseliweran ketika dia mulai memejamkan mata dan kesadaran itu sudah setengah menghilang. Rasanya menyiksa. Terlebih lagi, ketika tak satu pun tempat untuk dia berbagi.


Lelaki tampan itu mematung sejenak didepan pintu. Setelahnya, dia tertunduk lalu menggeser tubuhnya agar wanita yang datang itu bisa masuk ke dalam. Lalu, dia menyusul langkah anggun wanita tersebut usai menutup kembali pintu apartemennya.


"Kenapa nggak langsung masuk aja tadi?" celetuk Dikta sembari mengekori langkah Varissa yang bergerak menuju dapur. Pasalnya, wanita itu sudah tahu password apartemen miliknya.

__ADS_1


"Aku takut, kamu masih marah!" jawab Varissa sambil meletakkan bungkusan yang dia bawa diatas pantry.


"Aku memang marah, tapi bukan sama kamu," ucap lelaki itu jujur. Ia duduk di kursi pantry. Mengikuti pergerakan Varissa yang kini menjadi penguasa dapurnya melalui sepasang netra legam yang dia miliki.


"Jam segini, kenapa baru bangun? Sakit?" Varissa mengeluarkan dua piring kecil dari dalam rak piring. Bergerak membuka bungkusan yang dia bawa lalu memotong kue yang merupakan isi dari bungkusan tersebut.


"Nggak," jawab Dikta singkat.


Rasanya canggung. Varissa tak tahu harus bersikap apa saat ini dalam menghadapi Dikta. Terlebih lagi, saat dia tahu bahwa lelaki itu menyimpan luka menganga yang selama ini sukses disembunyikan dari dirinya dengan sempurna.


"Kue coklat?" Alis Dikta terangkat. Memandangi kue yang diberikan Varissa bersama segelas kopi hitam panas tanpa gula.


"Katanya, coklat bisa naikin mood. Makanya, aku beli buat kamu," terang Varissa tersenyum. Kue miliknya sendiri sudah ia santap penuh sukacita disamping Dikta.


"Maaf!" Usai hening sejenak, suara dalam Dikta terdengar memecah.


"Untuk apa?" tanya Varissa bingung.


Varissa mengangguk. "Ya, aku maafin kok! Meskipun, jujur, aku agak jengkel, sih!"


"Va?" Raut putus asa tercetak jelas di wajah Dikta.


Aih!! Varissa lekas memalingkan wajah. Kenapa tampang Dikta harus seperti itu? Rasanya seperti melihat seekor anak kucing yang menggemaskan.


"Bercanda, Ta!" Wanita itu tergelak. "Kamu nggak ada pengen cerita sesuatu ke aku, Ta?" tanyanya beberapa saat kemudian.


Kali ini, Varissa ingin serius. Jika ingin memulai lembaran yang baru, maka lembaran lama harus benar-benar selesai. Termasuk, antara dia dengan Erik, dan juga antara Dikta dan keluarganya.

__ADS_1


"Nggak ada," geleng Dikta seraya membuang muka. Jelas sekali, bahwa dia sedang berusaha menghindar.


Varissa menghela nafas panjang. Berhadapan dengan Dikta memang sedikit sulit. Apalagi, jika yang diniatkan adalah mengulik kisah masa lalu dari Dikta. Lelaki itu, selalu memasang tembok pertahanan yang tinggi dan menolak siapapun termasuk Varissa untuk masuk kedalamnya.


"Masa' nggak ada? Tentang keluarga kamu?"


Yang ditanya hanya bungkam. Masih enggan menatap ke arahnya.


"Ta," Varissa menyentuh lembut punggung tangan Dikta. "Kita kan bentar lagi mau nikah. Apa kamu nggak ada keinginan untuk meminta restu ke keluarga kamu?"


"Aku nggak punya keluarga," jawab Dikta cepat dan reflek. Nafasnya mulai kembali memburu. Namun, sebisa mungkin, dia berusaha bersikap normal didepan Varissa.


Varissa menggigit bibir bawahnya sambil berusaha menahan tangis yang menagih untuk di lepaskan. Lihatlah! Kedua tangan Dikta mulai gemetar. Bibirnya perlahan mulai memucat. Namun, gestur tubuhnya masih berusaha menampakkan bahwa dia baik-baik saja. Dan, itu semua hanya demi Varissa.


"Aku mau ke kamar sebentar," pamit Dikta sambil memaksakan diri untuk ke kamar dengan sisa tenaga yang ada. Obat. Dia membutuhkan barang itu saat ini juga.


"Maaf!"


Dikta mematung ketika pelukan itu melingkar erat dari belakang. Sambil menelan saliva yang terasa payah, dia tak bisa melakukan apa-apa selain hanya mendengarkan.


"Maaf, Ta! Maaf karena aku udah ngebiarin kamu ngelewatin semuanya sendiri. Maaf karena aku nggak peka sama perasaan kamu."


"Va? Kamu ngomongin apa, sih?" Masih berusaha berpura-pura.


"Bodoh!" Tepukan keras mengenai punggungnya. "Kalau punya beban, harusnya dibagi. Bukan dipendam sendiri. Katanya, kita saling cinta. Tapi, kalau cuma aku yang boleh berbagi sedih sama kamu sementara kamu nggak, buat apa kita punya hubungan?"


"Va?"

__ADS_1


"Jangan buat aku jadi perempuan yang nggak berguna, Ta! Aku cinta sama kamu. Setidaknya, jadikan aku sandaran ketika kamu lagi sedih atau dalam kondisi terpuruk. Tolong! Berbagi beban itu sama aku! Apapun masalahnya, sebesar apapun konfliknya, bahkan sesakit apapun rasanya, tolong berbagi! Please! Jangan dipendam apalagi dilalui sendiri. Ada aku disini! Kamu punya aku, Ta!"


Lelaki itu perlahan menundukkan kepala. Lalu, menengadah menatap langit-langit. Sudut matanya mulai terasa menghangat. Dan, sepersekian detik berikutnya, lelehan bening itu akhirnya mencair juga. Suara isak tangisnya memecah hening. Bak anak kecil, Dikta benar-benar menunjukkan lukanya.


__ADS_2