
Berhubung banyak yang merindukan Erik sekeluarga, maka akan Thor beri kalian asupan penambah darah agar yang darah rendah bisa normal, dan yang darah tinggi semakin tinggi. 😂😂😂😂 Enjoy reading!!!
Wajah Erik semakin merah padam mendengar ucapan mantan istri yang sialnya semakin bertambah cantik dari hari ke hari. Entah,pakai perawatan apa mantan istrinya itu. Yang jelas, wajah glowing dan kulit putih mulus itu berhasil membuat Erik semakin silau. Timbul hasrat dalam hati hendak memiliki Varissa kembali. Namun, perkataan pedas Varissa juga melukai separuh harga diri yang kini tak banyak tersisa.
"Setidaknya, tunjukkan balas jasamu pada kami. Kamu lupa, siapa yang berdiri di samping kamu saat papa kamu meninggal? Bukan Dikta, Va. Tapi aku!" ucap Erik menggebu.
"Bukannya yang selama ini sudah kalian curi dariku sudah lebih dari cukup? Mau apa lagi, Mas? Nggak sedikit harta peninggalan Papaku yang kamu timbun sendiri. Belum lagi, bukannya uang bulanan buat keluargamu juga dari aku? Bahkan, uang kuliah Tika dan juga uang untuk menghidupi gundik kamu juga dari aku. Masih kurang?" Varissa berucap tak kalah garang. Sama sekali tidak terintimidasi oleh serangan Erik dan Retno. Meski sudut matanya menangkap sosok Tika yang tampak muram, Varissa tetap bergeming. Akan dia gempur Erik dan Retno tanpa gentar agar dua alien itu tahu seperti apa Varissa yang sebenarnya.
"Kok kamu lebih emosi? Nyolot banget dari tadi?" Retno mendelik kesal.
Varissa memijit ujung pelipisnya. Pusing mendadak mendera kepala. Aih! Kenapa pula dia harus menghabiskan tenaga untuk melawan orang gila berdebat? Tentu yang ada, dia juga akan ikut-ikutan gila seperti mereka. Namun, ada sesuatu di balik hati Varissa yang merasa sedikit bersorak. Hal yang dulu tidak pernah mampu dia lakukan kini ia perbuat sesuka hati. Tanpa harus menahan sakit seperti dulu, kini dia bisa membalas ucapan menusuk mantan ibu mertuanya tanpa beban moral apapun.
"Susah ngomong sama manusia purba," gumam Varissa yang masih mampu didengar oleh Erik dan Retno.
"Siapa yang kamu sebut manusia purba, hah? Kamu ngatain Mama?" Retno bersiap menerjang Varissa. Namun, Tika lebih sigap menangkap tubuh ringkih ibunya sebelum berbuat hal yang lebih memalukan lagi.
"Udah, Ma! Kita pulang aja, yuk!" bujuk Tika dengan tampang tak enak pada mantan kakak iparnya.
"Lepaskan, Tika!" Retno menghempas tangan putrinya kasar. "Kita mau pulang kemana kalau nggak ke rumah ini? Mau tidur dijalan, hah? Mama sih, ogah!"
"Tapi, kita kan memang sudah nggak ada hubungan sama Mbak Varissa. Malu dong, kalau Mama maksa Mbak Varissa buat beliin rumah." Tampak Tika semakin menundukkan kepala. "Pergi aja yuk!" Tangannya kembali memegang lengan sang Ibu.
"Enggak!" Retno menolak kasar. Tubuh kurus anak perempuannya bahkan dia dorong kasar. "Kalau Varissa nggak beliin Mama rumah, berarti Mama akan tinggal disini! Titik."
Nafas Varissa tercekat mendengar keputusan Retno. Bibirnya berkedut hendak mengeluarkan sumpah serapah kepada alien tua itu. Entah, berasal dari planet mana mantan ibu mertuanya itu datang sehingga memiliki sifat kebal dari rasa malu sehebat itu.
"Aku nggak salah dengar kan? Tinggal disini? Memangnya, Tante punya hak apa dirumah ini?" Alis Varissa terangkat heran.
Retno mendengus. Bingung harus menjawab apa. Berbicara masalah hak, tentu saja dia tak punya.
"Kalau nggak mau Mama disini, beliin rumah dong. Gampang kan?" kilahnya dengan masih mempertahankan keangkuhan yang dia miliki.
"Ya udah, oke aku beliin!"
Mendengar ucapan Varissa, wajah Retno dan Erik seketika bersinar. Senyum terbit di wajah keduanya. Mereka saling berpegangan tangan dengan alis yang naik-turun.
"Serius? Kamu nggak lagi bercanda, kan?" tanya Erik antusias.
"Seriuslah. Memangnya, kapan aku pernah bohong?"
"Aku nggak salah duga. Ternyata, kamu memang masih menyimpan rasa ke aku, Va!" tukas Erik penuh percaya diri.
Varissa hanya memutar bola matanya malas. Kepedean sekali mantan suaminya itu. Apa Erik benar-benar berpikir bahwa hanya dia lelaki satu-satunya yang hidup didunia ini hingga Varissa harus mengemis cinta padanya?
__ADS_1
"Selain rumah, kalian mau apa lagi?"
Mata Retno semakin berbinar. Senyumnya semakin lebar terkembang. Bak kejatuhan durian runtuh, wanita paruh baya itu benar-benar sangat beruntung. Tidak salah dia datang pada mantan menantunya yang bodoh itu.
"Mobil," sambar Erik cepat.
"Lalu?" Varissa memainkan kukunya. Bertanya dengan sedikit tidak bersemangat.
"Sediain pembantu sama uang bulanan buat Mama seperti dulu," imbuh Retno.
Tampak Varissa menghela nafas panjang. Dia pun memaksakan diri untuk tersenyum. Dua orang security yang mengawasi perbincangan mereka dia beri kode untuk mendekat secara perlahan.
"Kalau gitu, kalian pulang dulu. Cuci kaki kalian, dan naik ke tempat tidur lalu tarik selimut. Nah, setelah itu, tutup mata rapat-rapat sampai benar-benar terlelap. Nanti, aku akan datang ke mimpi kalian buat kasih semua yang kalian minta. Bagaimana?"
Mendengar ucapan mantan istrinya, tinju Erik terkepal erat. Dia hendak mendekati Varissa. Namun, cekalan ia rasakan di kedua tangannya akibat ulah dua security yang sedari tadi berjaga dengan awas.
"Keterlaluan kamu, Va! Berani kamu mengejek kami?" teriaknya penuh amarah.
"Kamu yang keterlaluan, Mas! Kita ini sudah jadi orang asing. Apa nggak malu, kamu kesini dan minta-minta layaknya pengemis?" balas Varissa tak kalah besar volume suaranya di banding Erik. "Ah, salah! Bahkan, pengemis pun ogah disamain kayak kamu, Mas. Setidaknya, mereka masih ketuk pintu dulu dan meminta izin. Nggak kayak kalian yang main terobos masuk ke rumah orang kayak kambing liar."
"Sombong sekali kamu, Va! Mentang-mentang kaya karena warisan orangtua, gayamu sudah sok-sok'an seperti raja. Apa nggak malu, hah?" tuding Retno tanpa lelah. Ada sedikit kekhawatiran saat melihat putranya tak berkutik dibawah kuncian dua security penjaga rumah Varissa.
"Kenapa harus malu? Kan, harta punya Papaku juga. Kalau mau anakmu sesombong aku, ya wariskan juga dong harta yang banyak. Jangan cuma akhlak tercela saja yang Tante wariskan."
"Ka-kamu...," Retno tak mampu meneruskan kalimatnya. Jantungnya kembali terasa sakit ketika mendengar ucapan Varissa yang jauh lebih pedas dari cabai Bhut Jolokia yaitu cabai terpedas yang pernah tercatat di Guinness world records pada tahun 2007 yang berasal dari Bhutan.
"Kalian berdua memang cuma bisa bikin Tika malu. Sekarang, ayo pulang! Kita bisa nginap di rumah Tante Ratna setelah ini."
Gadis itu menggeret kembali dua koper besar yang tadi dia bawa menuju pintu keluar.
"Ayo!" bentaknya pada Erik dan juga Retno.
Mendengar bentakan kasar Tika, nyali Retno menciut. Penuh tatapan dendam ke arah Varissa, dia melangkah keluar dari rumah itu dengan terburu-buru. Dia bahkan sempat lupa, bahwa tubuhnya belum sepenuhnya sehat.
"Ayo, Bang! Cepetan!" Giliran Erik yang menjadi sasaran kemarahan Tika.
Lelaki itu berdecak kesal. Sekali sentakan, pegangan dua security Varissa akhirnya terlepas dari tubuhnya. Namun, sebelum pergi, telunjuknya masih mengacung pada Varissa. Memberi peringatan kepada mantan istrinya bahwa dia akan datang kembali.
"Ini belum selesai, Va!" ancamnya dengan nada rendah.
"Abang!" teriak Tika yang semakin bertambah marah sekaligus malu. Seluruh tubuh gadis itu bergetar. Ingin sekali rasanya dia menyeret Ibu dan Abangnya seperti koper yang saat ini dia bawa.
Erik menoleh dengan tatapan tak suka pada adiknya. Dengan sedikit kasar, diraihnya tas besar yang sempat dia letakkan didepan sofa tempat duduknya tadi. Tak berselang lama, dia ikut menyusul langkah sang Ibu keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Maaf, Mbak!"
Hanya itu yang Tika katakan pada Varissa ketika gadis itu berjalan gontai mengikuti langkah Ibu dan kakak lelakinya. Terbersit rasa kasihan dihati Varissa saat melihat kondisi Tika. Gadis itu sepenuhnya hanyalah sebatas korban dari salah didik dan keangkuhan keluarga. Masa depan Tika semestinya cerah. Namun, Erik dan kedua orangtuanya-lah yang menjadi dalang hilangnya cahaya pada jalan yang ditempuh gadis muda itu.
"Udah pergi?" tanya Dikta ketika sang istri kembali menghampiri di meja makan.
Varissa menghela nafas panjang. Tatapannya kosong menatap langit-langit ruang makan. Hanya beberapa menit saja meladeni Erik dan Retno, rasanya tenaga Varissa sudah terkuras habis.
"Udah. Tapi, kayaknya bakal dateng lagi!" jawab Varissa tak bersemangat.
"Kalau mereka datang lagi, biar aku yang hadapi mereka dengan caraku. Aku minta, kali ini kamu jangan ikut campur. Ini semua demi keselamatan dan kesehatan mental kamu juga."
"Tapi, jangan sampai kamu bikin mereka terbunuh ya, Ta!"
Tawa Dikta pecah mendengar permintaan polos istrinya. Bi Nunik yang melihat pun sejenak terpana. Wajah tampan itu selalu terlihat sempurna saat sedang tertawa seperti ini. Sayangnya, bak menunggu gerhana yang datang hanya sesekali, melihat tawa Dikta terbilang sangat langka.
"Kamu kebanyakan nonton film action, Va! Mana mungkin aku sejahat itu!"
"Kecuali mereka yang memaksa aku melakukannya," imbuh Dikta dalam hati.
"Aku kasihan sama Tika." Tiba-tiba saja Varissa berucap selirih itu. Jika mengingat ekspresi wajah Tika tadi, rasanya Varissa sungguh tak tega. Ingin membantu, namun dia sadar bahwa Erik dan Retno pasti akan membuat masalah yang terus-menerus akan menyusahkan Varissa. Hendak mengacuhkan, namun Varissa juga tidak sampai hati jika Tika harus menjadi korban dari kesalahan Ibu dan Kakaknya.
"Kenapa harus kasihan?" tanya Dikta tak acuh. Dibenak lelaki itu, seluruh sifat keluarga Erik sama saja. Jahat, licik, tak tahu malu dan amoral.
"Dia cuma korban, Ta! Dia gadis yang terjebak di lingkungan keluarga yang nggak sehat. Aku nggak tega ngeliat wajahnya tadi."
"Itu resikonya. Jika dia memilih bertahan di keluarganya, maka dia harus siap menghadapi konsekuensi terburuk."
"Aku harap, Tika bisa cepat lepas dari Abang dan Mamanya."
"Kalau gitu, doain aja Erik sama si ibunya itu agar cepat mati."
"Ta!" protes Varissa kesal. Jahat sekali mulut suaminya.
"Apa?" tanya Dikta dengan raut wajah yang cuek. "Aku cuma kasih solusi. Nggak harus marah, kan?" imbuhnya seraya mengendikkan kedua bahunya tanpa rasa bersalah.
"Omongannya kok tega banget!" dengus Varissa sebal. Sebenci-bencinya dia pada Erik dan Retno, yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa agar dua manusia itu lekas diberi kesadaran. Bukan malah menyumpahi agar mereka pendek umur seperti yang dikatakan Dikta.
"Kamu memang menikah dengan lelaki yang nggak baik, Va! Jadi, maklumi kalau kalimat aku terkadang sedikit sarkas."
"Tapi, nggak akan selingkuh, kan?" tanya Varissa dengan suara rendah.
"Nakalku cuma sebatas rokok, Va! Ya..., paling fatal kalau aku mukulin orang yang nggak aku suka lah. Itu aja." Dikta sedikit menerawang masa lalu.
__ADS_1
"Cih! Untung ganteng!" bisik Varissa dengan bibir mengerucut usai mendengar pengakuan sang suami.
"Ya, good looking memang kedok utamaku, Sayang! Orang-orang memang akan lebih berpihak pada yang good-looking meski sebobrok apapun sifatnya. Makanya, wajah ini aku rawat sepenuh hati." Dikta kembali terkekeh sendiri.