Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
SAH


__ADS_3

Pesta pernikahan yang dinantikan akhirnya digelar. Ballroom hotel "Heaven by G" milik Gisam Butena menjadi saksi penyatuan dua insan yang saling mencintai dihadapan Tuhan. Ruangan hening sejenak ketika pengantin wanita berjalan anggun ditemani oleh seorang pria paruh baya memasuki ruangan. Sontak saja, kehadirannya menjadi pusat perhatian seluruh tamu yang hadir.


Sang pengantin wanita tersenyum. Berusaha menahan debaran jantung yang rasanya hampir copot saat melihat calon suaminya sudah menunggu bersama seorang penghulu diatas sana. Sepasang tungkainya bahkan nyaris ambruk ketika gigi gingsul lelaki yang sesaat lagi akan resmi menjadi suaminya itu terlihat kala Gisam Butena nampak membisikkan sesuatu kepadanya.


Berbalut baju pengantin khas Jawa, mereka kemudian duduk berdampingan disebuah kursi dengan Bapak penghulu dihadapan mereka. Segera, setelah semua saksi dan para tamu undangan sudah duduk kembali, pak penghulu lekas meraih tangan sang pengantin pria. Menghentaknya sekali, lalu berucap dengan keras.


"Ananda Pradikta Anantavirya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Varissa Azalea binti Hadi Ananta yang mana walinya telah mewakilkan kepada saya dengan mas kawin seperangkat alat shalat beserta sebuah cincin berlian seberat 5 gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya, Varissa Azalea binti Hadi Ananta dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta sebuah cincin berlian seberat 5 gram, dibayar tunai!" balas Dikta dengan sekali tarikan nafas.


SAH!!!


Kata itu menggema memenuhi ruangan. Sepasang pengantin itu saling berpandangan. Saling menatap dengan senyum yang menghias wajah sumringah mereka.


Akhirnya, penantian itu berakhir. Mereka kini telah terikat dalam ikatan yang sah menurut hukum dan agama. Tidak akan mereka biarkan seorangpun yang datang untuk merusak kebahagiaan mereka. Termasuk Erik.


"Selamat!" ucap Dokter Imran sambil mengusap bahu Dikta lalu memeluknya. " Awas kalau sampai kamu bikin Varissa kecewa. Beneran Om sunat dua kali 'anu' mu itu!" bisiknya agar Varissa tidak dengar.


"Kalau disunat dua kali, Varissa mau pakai apa lagi, Om? Mau dia ngamuk?" balas Dikta tak mau kalah.


Dokter Imran mendesis. Pintar sekali anak ini mengembalikan kata. Memilih tak melanjutkan perdebatan di acara sesakral ini, Dokter Imran lekas melenggang duduk di kursi khusus untuk orangtua pengantin.


"Mereka serasi ya, Nek!" ucap Sani sembari memperhatikan Dikta dan Varissa yang kembali memasuki ruangan usai berganti kostum dengan balutan jas dan gaun cantik berwarna putih gading yang terkesan sederhana.


Widya mengangguk setuju. Disekanya sudut mata yang terasa menghangat kembali. Bahagia bercampur haru memenuhi dirinya saat melihat sang cucu tersenyum tanpa henti hari ini.


"Berapa tahun yang sudah aku lewatkan tanpa melihat senyum mahal itu, Ni?" lirihnya pelan. Sejak kecil, Dikta memang pelit senyum. Berbicara juga sangat jarang. Dia lebih cenderung menunjukkan cintanya melalui perbuatan dan bukan dari perkataan.


Sani mengusap lembut bahu ibu dari kakak iparnya itu. "Bukan cuma Ibu. Sani juga. Rasanya sudah sangat lama Sani tidak melihat senyum Dikta. Sani sangat rindu. Persis seperti senyum milik Mbak Risma," ucapnya yang tiba-tiba teringat akan kakak kandungnya. Gigi gingsul milik Dikta persis seperti milik kakaknya. Pun, dengan mata serta hidungnya. Dikta adalah Risma versi lelakinya. Begitu kata Wildan, suami Sani.


Dia benar-benar bodoh. Hal itu ia sadari saat Dikta benar-benar menghilang sesuai keinginannya. Terkadang, doa memang tidak selamanya harus dipanjatkan. Apalagi, yang diucapkan dalam keadaan emosi. Karena, seringkali jika benar terkabul, maka kita sendiri yang menyesal telah memintanya.


"Jangan senyum-senyum terus," tegur Dikta tanpa menatap Varissa.


Yang ditegur hanya mencebik. Melayangkan tatapan protes kepada lelaki yang sekarang telah sah menjadi suaminya.


"Jangan merengut terus,nggak baik! Nanti orang salah paham. Nanti, dikiranya kita nikah karena terpaksa." Lagi, Dikta menegur istrinya.


"Terus, aku harus apa? Senyum salah, merengut juga salah!" protes Varissa dengan bibir mengerucut.


"Senyum!" perintah lelaki itu saat jepretan kamera tiba-tiba terarah ke arah mereka.

__ADS_1


"Aku belum siap," ringis Varissa. Namun, si tukang foto sudah berlalu pergi.


"Udah bagus," ucap Dikta meyakinkan.


"Bagus darimana? Kalau mataku terpejam sebelah, gimana? Malu-maluin, Ta!"


"Kan, tadi udah dikasih aba-aba," lelaki itu menaikkan sebelah alisnya. Tidak merasa bersalah.


"Apaan ngasih aba-aba kayak gitu?" cebik Varissa.


"Jangan manyun, nanti cantik kamu hilang!" ucap Dikta lagi.


Wajah Varissa sontak menghangat. Sedari tadi, dia belum pernah mendengar pujian itu dari suaminya sendiri. Dan, sekarang, saat pujian itu dilayangkan, pipinya mendadak merah.


"Memangnya, aku cantik?" Dia memegang kedua pipinya.


Dikta tersenyum. Sedikit menunduk, ia mengecup pipi istrinya itu.


"Kalau ada yang bilang kamu nggak cantik, berarti mereka butuh periksa mata."


Aih!!! Ingin rasanya Varissa menghentakkan kakinya ke lantai saking senangnya. Dia baru tahu, kalau di puji oleh suami sendiri ternyata bisa seperti ini dampaknya. Lantas, kenapa dulu pas di puji Erik dia tak pernah sesenang ini? Ah! Dia lupa. Karena embel-embelnya pasti meminta uang.


"Ta!" Varissa kembali memanggil nama suaminya.


"Dari skala 1 sampai 10, cantiknya aku, ditingkat berapa?"


"10-lah," jawab Dikta tanpa ragu. Kini, tatapannya justru bingung melihat tingkah istrinya. Ada apa gerangan?


Lagi, wajah Varissa kembali bersemu merah. Penuh percaya diri dia berdiri tegak disamping sang suami. Meladeni tamu undangan dan beberapa rekan bisnis yang datang tak hanya sekadar untuk memberi selamat. Beberapa diantara mereka, jelas memanfaatkan momen ini untuk menarik perhatian agar kerjasama mereka bisa diperpanjang atau diperluas lagi.


"Kaki kamu, nggak apa-apa?" Tiba-tiba Dikta bertanya lagi ditengah-tengah perbincangan penting dengan seorang pejabat daerah.


Varissa menggeleng seraya tersenyum. Agak lelah memang, namun tidak mungkin dia mengatakan hal itu didepan tamu penting seperti sekarang. Heels yang ia kenakan memang lumayan tinggi. 20 cm dan itu belum cukup mengimbangi tinggi badan sang suami. Namun, demi gengsi, Varissa menahan rasa lelah itu. Toh, dia juga sudah terbiasa. Wanita memang harus menderita sedikit demi menaikkan gengsi.


Tanpa aba-aba, Dikta membimbing Varissa untuk duduk di salah satu kursi. Kemudian, dia sendiri berjongkok dihadapan Varissa. Menyingkap gaun pengantin indah istrinya lalu memeriksa pergelangan kaki Varissa yang memang nampak sedikit memerah.


"Kaki kamu bengkak, Va!" ucapnya datar.


"Cuma bengkak ringan. Udah biasa kok!" jawab Varissa setengah meringis.


"Aku suruh pelayan ambilin obat, ya!"

__ADS_1


"Minta tolong Bi Nunik aja. Tuh, orangnya lagi kemari," ucap Varissa ketika ia melihat Bi Nunik tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Tak sendiri, melainkan bersama dua orang rekannya.


"Kaki Nyonya kenapa?" tanya Bi Nunik sedikit khawatir.


"Biasa, Bi. Kelamaan pakai heels!"


Bi Nunik mengangguk. Ia tak heran lagi. Hal ini memang sering menimpa Varissa jika memaksakan diri memakai sepatu hak tinggi dalam waktu yang lama.


"Bibi ambilin kotak P3K sekalian air hangat, ya! Kalian tunggu disini!" ucap Bi Nunik kepada Bi Darma dan Lastri.


"Kamu ke sana aja, Ta! Aku nggak apa-apa, kok!" tutur Varissa kepada sang suami. Pasalnya, dia mengerti. Tidak akan sopan, meninggalkan seorang pejabat daerah begitu saja tanpa pamit.


"Yakin?" Berat dihati Dikta jika harus meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.


"Iya, kasihan Kang Jamil harus menunggu." Varissa menatap kepala daerah itu dengan sedikit senyum tak enak.


"Oke, habis ini kamu naik ke kamar ya! Istirahat. Sejam atau dua jam lagi, aku nyusul. Minta Bi Nunik sama yang lain buat nemenin sampai aku datang. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat telepon aku. Atau, kalau nggak, kamu bisa samperin anak buah Bang Rambo yang jaga di depan pintu kamar." Panjang sekali Dikta mendikte istrinya. Bukan apa-apa, instingnya mengatakan bahwa Erik pasti tidak akan pernah membiarkan Varissa merasa tenang.


Usai mendaratkan kecupan dikening sang istri, Dikta bergegas menuju ke arah rombongan pejabat daerah itu lagi. Kembali nimbrung dalam diskusi kelas berat tentang perizinan Hotel baru yang akan didirikan oleh Gisam Butena dalam waktu dekat di wilayah kepala Daerah bernama Kang Jamil itu. Dikta merupakan salah satu investor terbesar dalam Mega proyek tersebut. Sebuah Hotel yang nantinya akan menyatu dengan pusat perbelanjaan, apartemen, serta taman hiburan sekaligus. Nantinya, tempat tersebut juga akan menjadi ikon dari daerah itu. Makanya, butuh pendekatan secara khusus dengan sang kepala daerah tanpa harus bermain dengan cara yang kotor. Korupsi dan suap bukan gaya Gisam dan Dikta dalam berbisnis. Bersyukur, Kang Jamil juga merupakan kepala daerah yang berpegang teguh pada agama. Beliau juga bukan pemuja uang haram sehingga rencana Mega proyek dapat dirundingkan tanpa masalah berarti.


"Lepaskan! Saya mau masuk!" geram Erik yang untuk ke sekian kali mencoba menerobos pertahanan yang ada.


"Jangan ngeyel dong, Mas! Udah dibilang, yang boleh masuk kemari, cuma yang pegang undangan." Penjaga di pintu depan menghela nafas kasar. Entah dengan gaya bicara seperti apa lagi dia harus menjelaskan kepada pria tak tahu diri dihadapannya itu.


"Yang menikah itu, istri saya! Masa' iya, saya harus diam dan pergi?" protes Erik tak mau kalah. Dia keukeuh tetap berusaha untuk masuk dan mengacaukan pesta.


"Istri darimana?" Bang Rambo keluar dari tempat acara. Di hampirinya Erik yang sejak tadi berusaha untuk menimbulkan kekacauan didepan pintu masuk.


"Ah!! Susah kali pakai kostum macam ini!" gerutunya sambil melepas jas yang ia kenakan. "Napasku jadi sesak kali!" imbuhnya seraya ikut melepas dasi dan kemeja putihnya. Lalu, dengan hanya memakai baju kutang, ia berbalik ke arah Erik. Mengangkat kerah baju mantan suami Varissa itu dengan satu tangan saja.


"Istri mana yang kau bicarakan, hah?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


"A-anu Bang...," Erik gelagapan. Nafasnya sesak lantaran Bang Rambo mengangkat tubuhnya hingga tak berpijak lagi ditanah.


"Anu apa, hah?" Mata Bang Rambo melotot. "Berani kau bikin kacau di pesta adikku, pulang-pulang tinggal nama kau, Boy!" ancam Bang Rambo lalu melempar tubuh ringkih Erik ke lantai.


"A-ampun, Bang!" pekik Erik yang langsung berlari luntang-lantung menjauh dari sana.


"Bah! Baru diancam begitu, sudah kabur rupanya." Bang Rambo terkikik melihat tingkah Erik.


__ADS_1



__ADS_2