
"Kamu ngapain? Biar aku aja," ucap Varissa yang sedikit terperanjat begitu Dikta membantunya memasang sandal rumah dikakinya.
"Diam, Va!" ucap Dikta. Lelaki itu tetap pada aktivitasnya. Memasang sandal teplek itu ke kaki sang istri satu per satu.
"Selesai," imbuhnya dengan senyuman seraya bangkit lalu mengusap puncak kepala Varissa.
Perempuan yang duduk ditepi ranjang itu tersenyum. Dirinya benar-benar diperlakukan seperti ratu. Bahkan, untuk urusan sepele seperti ini saja, Dikta begitu memperhatikannya.
Semakin lama, semakin Varissa bisa menemukan perbedaan antara rumah tangganya yang dulu dengan yang sekarang. Jika dulu bersama Erik, Varissa yang selalu memperlakukan Erik bak raja. Memenuhi segala kebutuhan lelaki itu tanpa pernah mengeluh. Bahkan, untuk urusan seperti ini pun, selalu Varissa yang bertindak sementara Erik hanya menerima. Terus begitu hingga perselingkuhan Erik akhirnya terbongkar.
Dan kini, saat dia telah bersama Dikta, kehidupannya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Dikta yang justru selalu memanjakannya. Melakukan apapun untuk Varissa meski diluarnya lelaki itu tetap saja terlihat dingin.
"Terima kasih, ya!" ucap Varissa tulus.
Dikta hanya mengangguk samar. Lalu, tangannya terulur ke hadapan Varissa dan menunggu wanita itu menyambutnya segera.
Tahu yang diinginkan sang suami, Varissa lekas menyambut uluran tangan tersebut. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum mendapati perlakuan manis yang tak ada habisnya dari sang suami.
"Belajar romantis darimana?" tanya Varissa ketika mereka bergandengan mesra menuruni tangga.
Lelaki disebelahnya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Varissa. "Dari Ayah," jawabnya singkat.
Varissa mengerti siapa Ayah yang dimaksud Dikta. Tentu saja orangtua kandung dari Dikta yang sudah meninggal sejak Dikta masih terbilang kecil.
"Dulu, Ayah dan Ibu selalu bergandengan mesra seperti ini. Masih saling mengucapkan kata cinta satu sama lain bahkan nggak pernah melewatkan kencan setiap malam Minggu hanya berdua saja."
Varissa diam menyimak. Jelas sekali bahwa kenangan manis itu membawa bahagia untuk sang suami kala mengingatnya. Meski, tak dapat Varissa pungkiri bahwa ada setumpuk rindu yang turut membuncah di raut wajah suaminya.
"Kamu tahu, Va?" Dikta menarik nafas. "Ayah selalu bilang, kebahagiaan wanita yang kau cintai adalah surga dunia sesungguhnya untuk kami para lelaki. Karena, jika kau mampu membahagiakan wanitamu, maka julukan lelaki sejati baru pantas tersemat dibahumu. Dulu, aku nggak begitu mengerti apa maksudnya. Tapi, sekarang? Petuah dari Ayah baru aku pahami seluruhnya."
Pandangan Dikta menerawang. Meski kini keduanya tengah duduk di gazebo belakang rumah yang menghadap kolam renang, namun sesungguhnya pusat perhatian Dikta tidak tertuju pada jernihnya air kolam. Sebaliknya, perhatiannya malah berkelana ke masa lalu. Ke masa dimana keutuhan keluarga masih terasa begitu hangat.
__ADS_1
"Pasti Ayah orang yang hebat," puji Varissa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dikta. Tangan mereka masih saling menggenggam seolah tak ingin berpisah.
"Ya. Dia lelaki terhebat yang pernah aku temui. Sama seperti Papa Hadi."
Tak ada lagi percakapan setelahnya. Keduanya larut dalam memori masing-masing. Mereka adalah dua orang dengan orangtua yang sama-sama telah tiada. Tentu keduanya jelas tahu tentang perasaan masing-masing. Tentang seberapa besar rindu yang terpendam. Tentang seberapa besar penantian yang tak kunjung datang.
"Dicari kemana-mana, rupanya kalian disini?" cerocos seorang wanita tua berumur 70-an tahun yang masih tampak bersemangat diusia senjanya.
"Loh, Nenek?" Varissa segera berdiri. Bergerak menyalami Widya yang baru datang lalu menyalami Sani dan juga Wildan yang tampak mengekor dari belakang.
"Kok pulang nggak bilang-bilang? Kan bisa Varissa masakin yang spesial," imbuh Varissa yang merasa tak enak pada keluarga suaminya.
Dikta masih betah duduk di gazebo. Terus terang, dia masih merasa asing dengan keluarganya sendiri. Meski sudah saling memaafkan dan meluruskan segala kesalahpahaman, namun nyatanya sekat itu masih ada. Tak mudah untuk mengembalikan keakraban yang selama belasan tahun telah terputus.
"Ta?" panggil Widya pelan. Ada rasa sedih ketika sang cucu belum juga membuka hati sepenuhnya untuknya.
Dikta hanya menganggukkan kepala. Tersenyum tipis sesaat sebelum membuang pandangannya kembali ke arah lain.
"Kita masuk kedalam yuk, Nek! Pasti kalian capek," ajak Varissa dengan sedikit canggung. Ditengoknya sang suami yang masih betah duduk sendiri sebelum berlalu masuk kembali ke dalam rumah bersama Nenek, Paman dan Bibi Dikta.
"Maafin sikap Dikta ya," ucap Varissa tak enak.
"Nggak apa-apa. Wajar kok. Sejak kecil, suamimu memang pendiam. Dia lebih cenderung memendam perasaan ketimbang mengeluarkannya. Nenek yakin, kok. Suamimu hanya butuh waktu untuk mengakrabkan diri dengan kami kembali seperti dulu," balas Widya panjang lebar yang langsung diangguki oleh Wildan dan Sani.
"Bagaimana keliling ibukotanya? Seru?" tanya Varissa mengalihkan pembicaraan. Ia merasa tak perlu membahas hubungan Dikta dengan keluarganya lagi. Hal itu mungkin saja bisa membuat semuanya malah bersedih.
"Seru, Va! Lihat tuh Nenek kamu. Beli oleh-oleh banyak banget buat karyawan dirumahnya," jawab Wildan sumringah.
"Kan jarang-jarang kita ke ibukota, Wil!" ujar Widya memberi pembelaan.
Varissa dan Sani hanya terkekeh menanggapi perdebatan keduanya. Lalu, tak lama kemudian datang seorang ibu tua yang menghampiri mereka yang sedang bercengkrama di ruang tamu.
__ADS_1
"Ibu, sudah datang?" Wildan gegas berdiri. Menyalami wanita paruh baya itu diikuti Sani.
"Iya. Maaf ya, Ibu langsung masuk. Soalnya, kata Security depan, nggak apa-apa," kata wanita paruh baya itu.
"Bu Widya apa kabar?" Kini giliran Widya yang disapa.
"Baik, Bu Ami. Silahkan duduk. Oh iya, kenalkan, ini istri cucuku. Cantik kan?"
Dengan cepat Varissa menyalami Bu Ami. Meski belum tahu siapa tamu barunya, namun Varissa bisa menebak bahwa beliau masih keluarga suaminya.
"Wah, benar cantik ya. Nggak ada bedanya sama yang di foto." Bu Ami tersenyum memuji.
"Va, ini Bu Ami. Ibunya Om Wildan kamu. Rencananya, Bu Ami mau berkunjung ke Bandung ke rumah adiknya Wildan. Tapi, Nenek suruh ke sini dulu. Nggak apa-apa, kan?" Nenek Widya mulai menjelaskan.
"Nggak apa-apa, Nek. Varissa malah senang kalau rumah ini jadi rame," tukas Varissa dengan senyuman.
"Kamu sudah menikah sebelumnya tapi belum hamil juga ya, Nak?" Bu Ami tiba-tiba bertanya tanpa basa-basi.
Dengan sedikit tak enak hati, Varissa mengangguk membenarkan.
"Sudah pernah periksa? Kata dokter apa?" tanya Bu Ami lagi.
"Normal aja...," Varissa bingung harus memanggil Bu Ami apa.
"Panggil Oma saja," ucap Bu Ami mengerti.
"Normal aja, Oma. Nggak ada yang salah," ucap Varissa mengulang kata-katanya.
Hening beberapa detik sebelum Bu Ami kembali membuka suara.
"Kamu di urut sama Oma, mau ya?"
__ADS_1