
Erik menangis putus asa ketika Ayahnya dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit. Sementara, Retno saat ini sedang mendapatkan perawatan akibat serangan jantung ringan yang menyerangnya saat kabar buruk itu diumumkan oleh Dokter yang menangani. Katanya, Harun sudah meninggal sekitar 45 menit sebelum tiba di rumah sakit.
Sementara, Tika yang lebih dulu menemukan sang Ayah dalam keadaan sekarat, kondisi psikisnya tampak terguncang. Gadis itu hanya duduk tercenung dengan air mata yang terus menetes.
"Tika?" panggil Varissa ragu. Takut salah orang mengingat penampilan gadis yang ia lihat itu tampak berantakan. Banyak noda berwarna merah di baju dan kedua tangannya.
"Mbak...," balas Tika saat melihat sosok Varissa tengah berdiri disampingnya. Tak lama, gadis itu lekas memeluk sang mantan Kakak ipar yang sontak membuat Varissa kebingungan.
"Ada apa, Tik? Kenapa pakaian kamu penuh noda darah begini?" tanya Varissa bingung.
"Papa, Mbak...," lirih Tika tertahan.
"Papa? Papa kenapa?"
"Papa meninggal," seru Tika disertai isak tangis yang kencang.
Sepasang bola mata Varissa membulat sempurna. Lama tak mendengar kabar keluarga mantan suaminya, kini yang datang justru kabar buruk.
"Gara-gara apa, Tik? Papa sakit?" tanyanya seraya mengelus punggung Tika naik-turun.
"Dibunuh Mbak Mauren, Mbak!"
Nafas Varissa tercekat mendengar pengakuan Tika. "A-Apa? Mauren bunuh Papa?" tanyanya seolah tak percaya.
Gadis yang berada dalam pelukan Varissa hanya mengangguk. Tangisnya masih terus berlanjut dan membuat Varissa enggan bertanya lebih jauh. Pertanyaan itu akan ia simpan sampai kondisi Tika jauh lebih baik.
"Kamu udah makan?" tanya Varissa seraya menyodorkan sebotol susu kaleng untuk Tika yang baru dibelinya dari mesin penjual otomatis.
Gadis dengan tatapan sayu dan mata membengkak itu menggeleng lemah. Jangankan makan, minum saja dia tak berminat.
"Mama sama Mas Erik dimana?" Varissa duduk disisi Tika. Membuka susu kaleng yang hanya dipegang Tika dan meminta gadis itu untuk meminumnya.
"Abang lagi nemenin Mama yang masih belum sadarkan diri," jawab Tika. Susu pemberian Varissa ia teguk sekali. Setelah itu, ia merasa tak berminat lagi.
"Mama juga sakit?" Varissa tambah terkejut. Banyak sekali hal malang yang menimpa keluarga Erik secara beruntun.
"Kena serangan jantung saat Dokter bilang kalau Papa...," Nafas Tika tersengal. Airmatanya kembali luruh. "Papa...," Sulit sekali melanjutkan kalimat itu.
Varissa kembali memeluk tubuh rapuh Tika. Gadis itu kembali menangis. Membuat hati Varissa merasa iba dengan kondisi yang kini menimpanya.
"Va?"
Erik yang datang mencari Tika tampak menemukan semangat baru saat melihat Varissa tengah memeluk adiknya di ruang tunggu rumah sakit. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat. Sedikit beban itu terasa terangkat saat melihat kembali sosok wanita yang dulu tak pernah lelah memberinya semangat dalam hal apapun.
"Varissa...," panggilnya lagi.
Wanita yang disebut namanya sontak menoleh. Melepaskan pelukannya dari tubuh Tika dan tersenyum canggung ke arah mantan suaminya.
"Mas...," balasnya datar. "Aku turut berduka cita, ya!"
"Terimakasih, Va!"
"Gimana keadaan Mama kamu?" tanya Varissa pada Erik.
__ADS_1
"Sudah sadar. Dia mau ketemu Tika makanya aku cari kemari," jawab Erik tersenyum. Merasa ada harapan untuk kembali saat mendengar nada suara Varissa yang tidak lagi sinis terhadapnya.
"Kalau gitu, Tika temuin Mama dulu, ya!" pamit Tika.
Varissa mengangguk. Mengelus kepala Tika sejenak lalu melambaikan tangan saat gadis itu sudah melangkah pergi.
"Mungkin Tika juga butuh perawatan medis, Mas! Mukanya pucat banget," tutur Varissa seraya menghela nafas.
Erik mengangguk. Menatap penuh arti ke arah Varissa yang kian bertambah cantik dari hari ke hari.
"Apa benar Mauren yang membunuh Papa kamu?" tanya Varissa penasaran. Saat ini, dia dan Erik sedang duduk di lobi rumah sakit.
"Belum tahu pasti, Va! Saat ini, Mauren masih dalam pencarian pihak kepolisian," jawab Erik dengan wajah suram.
"Yang sabar ya, Mas!" hibur Varissa seraya tersenyum prihatin. Sebenci-bencinya dia terhadap Erik, namun Varissa tak pernah berharap tragedi senaas ini akan menimpa keluarga Erik.
"Va,aku minta maaf!" ucap Erik lirih.
Varissa hanya menanggapi dengan senyum tipis. Tidak mengiyakan, tidak juga menolak permintaan maaf itu.
"Apa kamu masih membenci aku, Va?" Erik meraih kedua tangan Varissa secara tiba-tiba. Matanya menatap dalam ke mata Varissa yang tampak terkejut.
"Apa aku bisa dapat kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya?"
Varissa kembali tersenyum. Kedua tangannya dia tarik dari genggaman Erik. Tubuhnya pun perlahan beringsut semakin menjauh dari Erik.
"Kisah kita sudah tertinggal jauh dimasa lalu, Mas! Dan sekarang, aku sudah merajut kisah yang baru bersama orang lain. Bukannya, kamu juga begitu?"
Varissa mengendikkan kedua bahunya. "Aku memang prihatin sama kondisi yang sekarang menimpa kamu, Mas! Tapi, bukan berarti aku masih memiliki perasaan ke kamu. Tolong jangan salah paham!"
Patah. Erik kini merasakan sakit yang luar biasa. Penolakan Varissa sudah memupuskan semua harapan yang tersisa. Sekarang, dia harus apa? Kemana lagi dia harus mencari tempat untuk bersandar? Sementara, sandaran terakhir dan satu-satunya yang tersedia hanya Varissa. Tak ada lagi selain wanita itu. Tak akan pernah ada orang yang mau menerimanya sebesar dan selapang Varissa lagi.
"Aku memang bodoh, Va! Tampar aja aku! Kenapa bisa-bisanya dulu aku menyakiti kamu demi perempuan iblis seperti Mauren?" tangis Erik pecah. "Dan sekarang, kamu udah nggak mau nerima aku lagi. Jadi... sekarang aku harus apa, Va? Aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku?"
Rasanya Varissa sudah tidak betah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Erik. Apa lelaki itu berpikir bahwa Varissa masih akan menerimanya usai semua pengkhianatan itu terjadi?
"Nggak harus ngapa-ngapain, Mas!" Varissa menatap Erik tanpa berkedip. "Sudah aku bilang, kan? Kisah kita sudah tertinggal jauh dimasa lalu. Dan aku, sama sekali nggak berniat untuk kembali ke sana lagi. Aku jauh lebih bahagia dengan hidupku yang sekarang tanpa kamu." Varissa menjelaskan panjang lebar agar lelaki itu mau mengerti. Tak ada jalan untuk kembali bagi mereka seperti dulu.
"Kamu benar-benar mencintai dia?" tanya Erik dengan suara parau.
"Apa perlu ku jawab?" Varissa mengangkat kedua alisnya.
Erik mendengus. Rasanya sulit mempercayai setiap kalimat yang keluar dari mulut Varissa. "Kamu nggak lagi menggunakan Dikta sebagai alat untuk membuatku cemburu kan, Va? Karena kalau iya, maka kamu sudah berhasil." Erik mencoba mendekati Varissa. Namun, wanita itu reflek menjauh darinya.
"Berhenti bermain-main, Va! Please!" Erik memohon. "Aku tahu kamu bukan tipikal perempuan yang mudah jatuh cinta. Mustahil kamu jatuh cinta sama Dikta hanya dalam waktu yang sebentar aja, Va! Itu nggak mungkin!"
"Aku nggak peduli tentang semua opini kamu, Mas!" Varissa berdiri. Bersiap untuk pergi karena sudah jengah mendengar setiap kalimat 'sampah' yang keluar dari mulut Erik. Sok tahu sekali, mantan suaminya itu.
"Yang jelas, aku dan Dikta sebentar lagi akan menikah."
Mendengar kalimat terakhir Varissa, mata Erik terbelalak kaget. Dia lalu bangkit berdiri. Mencengkram erat lengan Varissa hingga mantan istrinya itu merasa kesakitan.
"Pernikahan bukan mainan, Va! Kamu nggak bisa seenaknya main nikah gitu aja sama lelaki lain."
__ADS_1
"Yang menganggap pernikahan itu mainan siapa, Mas? Bukannya itu kamu, ya?" balas Varissa sinis sambil berusaha menepis tangan Erik yang memegang kuat lengannya.
"Aku nggak butuh kamu percaya kalau aku beneran cinta sama Dikta. Toh, cinta kami nggak butuh pengakuan dari kamu. Ini hidup aku yang sekarang. Aku berhak menentukan jalan bahagiaku sendiri."
"Kamu akan menyesal dengan pilihan kamu, Va! Kamu pikir, lelaki itu jauh lebih baik dari aku, hah?"
"Ya, dia jauh lebih baik!" jawab Varissa lantang. "Dia jauh berbeda dari kamu. Dia pria yang bertanggungjawab. Dia tahu apa yang paling aku butuhkan dan selalu peka tentang bagaimana perasaan aku. Nggak kayak kamu, Mas!"
"Va...," Telinga Erik terasa panas mendengar Varissa terus menerus memuji kelebihan Dikta.
"Jauhkan tanganmu dari dia!" ucap seorang pria dengan nada datar sembari mendorong keras dada Erik dan memeluk Varissa.
Erik terpundur. Lelaki itu tertawa sinis saat menemukan lelaki yang sedari tadi diagung-agungkan oleh Varissa kini datang bak pahlawan kesiangan.
"Bro! Yakin, lu ikhlas nerima bekas gue? Bukannya lu nerima dia hanya karena harta dia juga?"
Bola mata Varissa membulat mendengar ucapan sarkas Erik. Ingin rasanya dia maju hendak menampar Erik namun tubuhnya ditahan oleh Dikta.
"Saya bukan bencong seperti Anda yang hanya bisa menumpang hidup seperti parasit pada seorang wanita." Dikta menyeringai. "Tenang saja! Uang saya jauh lebih dari cukup untuk menghidupi Varissa sampai anak-cucu kami juga nantinya."
Erik mendengus sinis. Sombong sekali lelaki ini.
"Alah! Kerjaan nganggur doang, bangga amat lu!" ucap Erik main tuduh.
Bukannya tersulut emosi, lelaki berambut panjang itu justru tertawa kecil. Hanya Varissa yang tampak sangat keberatan mendengar hinaan Erik.
"Kalau uang bisa bekerja untuk saya, kenapa harus saya yang bekerja untuk uang?" Dikta mengangkat sebelah alisnya. Memandang remeh keberadaan Erik yang baginya tak lebih dari butiran debu.
"Tapi, tetep aja. Perempuan yang Lo terima itu bekas gue. Apa hebatnya?" hina Erik penuh kepuasan.
BUGH!
Habis sudah kesabaran Dikta. Pukulan keras mendarat di hidung Erik hingga lelaki itu terjungkal dan jatuh.
"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu tentang Varissa!" peringat Dikta dengan nada rendah dan tatapan tajam.
"Ta, udah! Ini di rumah sakit!" pekik Varissa cemas. Dia tak ingin Dikta mendapatkan masalah gara-gara Erik.
"Dia ngehina kamu, Va!" ucap Dikta tak terima.
"Tapi, ini di rumah sakit. Banyak orang! Lagian, dia pasti memang cuma mau mancing emosi kamu aja, Ta! Please! Jangan diladenin!"
Dikta menarik nafas panjang. Oke! Sekali ini dia mengalah. Itu pun, demi Varissa.
Selang beberapa saat, Dikta mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana jeans yang dia kenakan. Beberapa lembar uang seratus ribu-an dia tarik tanpa menghitung jumlahnya lalu melemparkannya ke wajah Erik yang masih terduduk di lantai sambil mengelap darah yang masih mengucur dari hidungnya.
"Cukup untuk bayar biaya berobat dan membungkam mulut sampahmu, kan?" tanyanya dengan sinis pada Erik.
Tinju Erik terkepal erat. Andai kepalanya tidak terasa pening, mungkin saat ini dia akan bangkit dan membalas pukulan Dikta jauh lebih sakit dari yang dia terima.
Sementara, Dikta yang tak mendapatkan jawaban kembali membuka dompetnya. Mengeluarkan lagi beberapa lembar uang seratus-ribuan dan melemparnya lagi ke wajah Erik.
"Yang itu, untuk bayar harga diri kamu yang nggak seberapa. Cukup?"
__ADS_1