
"Mama sudah puas udah hancurin pesta pernikahanku? Sudah puas bikin aku harus bayar 10 juta gara-gara ulah Mama?"
Retno tertunduk dalam. Wanita paruh baya itu terisak tanpa mengeluarkan pembelaan apa-apa dihadapan menantu barunya.
"Mbak jangan marahin Mama, dong!" protes Tika kesal.
"Hei, bocah! Diam kamu!" tunjuk Mauren dengan nada sedikit berteriak.
"Apa?" tantang Tika tak mau kalah.
"Sudah!" Erik berteriak keras. "Tika, naik ke kamar!" perintahnya dengan tegas.
Tika mendengus. Ditatapnya penuh benci Erik yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang disisi istrinya.
"Abang jahat!" teriak Tika sambil menangis. Gadis itu berlari menaiki tangga menuju lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Tak ada satupun yang berjalan lancar dalam hidupnya semenjak Varissa memutuskan menceraikan kakaknya. Hidupnya kini sudah berubah drastis.
"Maafin Mama ya, Ren!" ucap Retno pelan sambil berusaha menggenggam tangan Mauren. Namun, sang menantu menolak. Dihempasnya tangan Retno dengan cepat sambil melengos. Tak sudi menatap wajah ibu mertua yang sudah membuat uang 10 jutanya melayang sia-sia.
"Rik, Mama minta maaf," ucap Retno yang kini beralih pada anak lelakinya.
Sama seperti Mauren, Erik juga melengos. Tampaknya, amarah itu masih belum juga reda dari dalam dirinya sedari tadi.
"Mama ngapain sih pakai acara bikin kegaduhan di acara pernikahan kami? Mama udah bikin aku sama Mauren malu. Mau ditaruh mana muka kami berdua, Ma?" tutur Erik frustasi.
Mauren yang duduk sambil mengapit lengan suaminya ikut membenarkan perkataan sang suami.
"Mama 'kan udah minta maaf, Nak!" sahut Retno putus asa.
"Minta maaf nggak akan mengembalikan nama baik dan juga uang aku, Ma! Sadar 'kan?" sungut Mauren.
"Mauren! Kok kamu ngomongnya kayak gitu? Mama 'kan juga orangtua kamu, Nak!" Retno mengelus dada. Syok.
Mauren tertawa sinis. Sikap angkuh wanita itu perlahan mulai ia tunjukkan tanpa rasa canggung lagi.
"Sejak kapan uang mengenal hubungan keluarga? Mama pikir, aku Varissa si bodoh itu? Aku bukan keledai seperti dia yang bisa Mama perah sesuka hati Mama, ya!" ucapnya sambil bersedekap.
"Mauren! Omongan kamu keterlaluan!" protes Erik yang merasa gaya bicara istrinya mulai semakin menyakitkan. "Dia tetap Mamaku! Nggak pantas kamu ngomong kayak gitu ke orangtua kita."
"Orangtua kita? Orangtua kamu aja kali, Mas!" Mauren berdiri dari duduknya. "Mana mau aku punya mertua tukang porot kayak dia! Nggak sudi!"
Jantung Retno mendadak sakit. Susah payah wanita paruh baya itu menetralkan nafas yang tiba-tiba sesak. Harun dan Erik segera mendekat dan mencoba menenangkannya.
"Mama kenapa, Ma?" tanya Erik panik.
__ADS_1
"Ma, kenapa?" Harun ikut bertanya pada istrinya.
Sementara, Mauren bersikap acuh tak acuh. Wanita itu memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat dibanding melihat kondisi ibu mertuanya.
BRAKK!!
Pintu kamar terbuka secara kasar. Sosok Erik muncul dengan nafas yang berderu dan dada yang naik-turun. Ia berdiri tepat dibelakang istri barunya yang terlihat sedang memakai skincare rutin sebelum tidur.
"Kenapa?" tanya Mauren sinis. Tanpa berbalik, ia hanya menatap Erik melalui pantulan cermin didepannya.
"Kamu hampir bikin Mama celaka. Kalau Mama kena serangan jantung, gimana?"
Mauren mengendikkan bahunya. Wajahnya sama sekali tidak kaget atau merasa bersalah. Sebaliknya, wanita itu tampak tenang-tenang saja.
"Makanya, suruh Mama kamu olahraga. Umur udah tua, kurang-kurangin makan yang berminyak. Jangan suka nyari penyakit sendiri tapi ujung-ujungnya kita juga yang direpotin. Kan, males!"
"Kok omongan kamu makin keterlaluan gitu?" tanya Erik yang tak habis pikir dengan respon istrinya.
"Keterlaluan?" Mauren masih menatap Erik melalui pantulan cermin. Sejenak, wanita itu menghentikan aktivitasnya yang sedang mengusap toner diwajah. "Aku cuma bicara fakta, Mas! Orangtua aku aja pada olahraga. Pola makan mereka serba sehat dan teratur. Dan, terbukti kan? Mana pernah mereka nyusahin kita kayak orangtua kamu."
"Mauren!" teriak Erik dengan sangat keras. Kesabarannya sudah habis. Dicengkeramnya lengan kiri Mauren kemudian memaksa wanita itu untuk berdiri. Satu tamparan keras bersiap melayang mengenai pipi wanita yang baru ia persunting itu.
"Aku lagi hamil, Mas!"
"Tega kamu, Mas!" lirih Mauren menangis.
Erik frustasi. Di sisirnya rambut dengan jemari sambil terus bernafas keras.
"Kamu yang mulai duluan, Mauren!" ucapnya penuh penekanan. Nyaris muak dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.
"Aku cuma bicara fakta, Mas! Salah?" Mauren masih berusaha membela diri. Merasa tak ada yang salah dari segi ucapan maupun perbuatan.
"Aku mohon sama kamu, Ren!" Erik memegang kedua bahu istrinya. Kali ini, dia sedikit melembut. "Tolong, hormati orangtuaku seperti kamu menghormati orangtuamu!"
Mauren berdecih. Dilepaskannya kedua tangan Erik dari kedua bahunya.
"Daripada kamu cemasin masalah sikap aku ke orangtua kamu, mending kamu cemasin diri kamu sendiri, deh! CARI KERJA! Ingat, sekarang itu, kamu pengangguran. Ngerti?"
Emosi Erik kembali mendidih. Kenapa begini? Semuanya kenapa bisa berantakan seperti ini? Padahal, sebelumnya hidupnya baik-baik saja. Apa yang salah?
******
"Kita ngapain ke sini, Ta?" tanya Varissa heran.
__ADS_1
"Nanti juga, kamu bakalan tahu," jawab Dikta tersenyum.
Digandengnya tangan Varissa memasuki sebuah bangunan bertuliskan Panti Asuhan 'Kasih Ibu' dihadapan mereka. Keduanya sama-sama tersenyum dan tertawa ketika segerombolan anak kecil datang dan menghambur memeluk Dikta secara berebutan.
"Ta, kamu akrab sama mereka?"
Jujur, Varissa takjub melihat betapa akrabnya anak-anak itu dengan Dikta. Mereka bahkan memanggil Dikta dengan sebutan 'Om Ganteng'. Itu artinya, mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
"Ya. Begitulah."
"Kok bisa?" tanya Varissa penasaran.
"Karena, seminggu sekali aku pasti sempatin ke sini!"
Wah! Paket komplit. Bak kejatuhan durian runtuh, Varissa merasa sudah menemukan pria yang benar-benar tepat. Tak hanya perhatian dan mau berkorban apapun untuknya. Dikta ternyata juga suka mengunjungi anak-anak yatim serta berbagi kebahagiaan bersama mereka. Terbukti dari beberapa cerita yang berhasil Varissa korek dari beberapa anak panti. Kata mereka, Dikta sering ke tempat itu dengan membawa mainan atau sekadar datang untuk bernyanyi menghibur mereka.
"Bu, ini ada sedikit uang untuk bantu-bantu memenuhi kebutuhan anak-anak, ya!" ucap Dikta seraya menyerahkan sebuah amplop berisi uang tunai kepada Ibu pengelola panti. Namanya, Ibu Nani. Wanita paruh baya berbadan gempal dengan kacamata tebal yang selalu bertengger dihidungnya.
"Ya ampun, Mas Dikta! Terimakasih banyak, ya! Mas Dikta sangat baik sama anak-anak." Ibu Nani tersenyum hangat menerima uang itu. Sudut matanya sedikit mengeluarkan airmata karena terharu akan kebaikan lelaki tampan yang duduk berseberangan dengannya. Pun, dengan Varissa. Kini dia tahu, kemana larinya uang 10 juta itu. Semuanya Dikta beri kepada Ibu Nani demi mencukupi kebutuhan anak-anak panti.
"Sama-sama, Bu!"
"Ngomong-ngomong, yang cantik disebelah Mas Dikta ini siapa? Calonnya, ya?" goda Bu Nani.
Dikta tampak salah tingkah. "Pengennya sih, gitu, Bu! Cuma, nggak tahu. Dianya mau jadi calon saya apa nggak!" Melirik tipis-tipis ke arah Varissa.
Wajah wanita yang duduk disampingnya tampak bersemu merah. Kedua tangannya saling meremas karena malu.
"Ya pasti maulah. Iya kan, Mbak cantik?" tanya Bu Nani pada Varissa.
Wanita cantik itu hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang super rapi. Terlalu malu untuk menjawab pertanyaan itu didepan orangnya langsung.
"Tuh kan, Bu. Dia kayaknya nggak mau," sergah Dikta sambil menunjuk Varissa.
Ibu Nani tertawa. "Yah, sayang sekali. Padahal, yang antri mau jadi calonnya Mas Dikta banyak loh, Mbak!"
Mendengar potongan kalimat 'yang antri mau jadi calonnya Mas Dikta banyak' sontak membuat insting mempertahankan teritori milik Varissa mendadak aktif. Jangan sampai kali ini lelakinya di rebut lagi oleh wanita lain. Big No! Amit-amit! Cukup lelaki kardus alias Erik saja yang direbut. Si gondrong yang suka bikin meleleh, JANGAN!
"Saya mau kok, Bu!" sambar Varissa cepat. Dia tampak begitu bersungguh-sungguh hingga membuat tawa Ibu Nani semakin nyaring terdengar.
Saat menengok ke kanan, dijumpainya ekspresi tersenyum Dikta dengan alis terangkat tengah menatapnya.
"Apa-apaan sih, Va? Haruskah sesemangat itu jawabnya?"
__ADS_1
Lagi-lagi Varissa menyesali perbuatannya. Mulut selalu selangkah lebih maju dari otaknya.