Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Pelajaran untuk Mauren


__ADS_3

Tatapan mata Mauren dipenuhi kebencian saat melihat siapa yang ingin menemuinya secara pribadi. Bahkan, saking pribadinya, ruangan yang digunakan untuk bertemu adalah ruangan yang biasa digunakan untuk interogasi. Dengan pipi yang masih dibalut perban, Mauren mendengus seraya duduk dengan terpaksa dihadapan dua orang yang begitu enggan ia lihat. Cara duduknya masih seperti dulu. Terkesan begitu sangat sombong meski kondisinya jauh dari kata layak untuk berlaku seperti itu.


"Mau apa perempuan mandul seperti kamu menemui aku?" Belum apa-apa, Mauren sudah menyerang Varissa dengan kata-katanya yang sarkas.


"Masih belum tobat juga kamu," ucap Varissa dengan seringai tipis.


"Tobat? Memangnya apa salahku pada Tuhan?"


Varissa terpaku mendengar ucapan Mauren. Astaga! Sungguh manusia yang memang patut dilaknat Mauren ini. Bahkan, kepada Penciptanya sekalipun, dia bisa bersikap seangkuh itu.


"Kamu memang manusia bejat, Mauren!" ringis Varissa.


"Jangan sok men-judge. Kamu pikir, kamu wanita suci, hah?"


Varissa menggelengkan kepalanya. Terdengar decakan berulangkali dari mulut wanita dengan celana denim biru dan blouse putih itu. Sebuah kacamata hitam, bertengger diatas kepalanya yang semakin menambah kesan berkelas pada dirinya.


"Dengan tampang seburuk itu, kamu masih berani menghinaku, Mauren?" ucap Varissa dingin.


Mauren segera menutupi pipi yang masih terbalut perban dengan telapak tangannya. Kondisi wanita itu secara kasat mata sangat memperihatinkan. Rambut acak-acakan, pipi yang dibalut perban, serta hidung yang sedikit bengkak. Jangan lupa, bibirnya masih sangat pucat karena baru keluar dari rumah sakit. Usut punya usut, ternyata dia juga sempat diberi bogem mentah oleh Erik hingga hidungnya patah. Kasihan sekali!


"Jangan sok cantik, Varissa! Sesempurna apapun kamu, kalau tetap mandul, tetap aja bakal ditinggal." Mauren berucap tak mau kalah.


"Dan, kamu bangga karena kamu dulu telah mengambil sampah seperti Erik dariku?" Varissa tampak tetap tenang menghadapi kasar dan pedasnya mulut Mauren. Ibarat ular, kini taring Mauren sudah lepas namun bisa yang dia hasilkan tetap saja beracun. Namun, setidaknya racun itu tidak menembus kulit Varissa.


"Jelas bangga. Makanya, jadi perempuan harus pintar-pintar melayani suami di ranjang biar nggak direbut perempuan lain," tukas Mauren dengan pongah.


"Maaf, Mauren! Aku bukan perempuan penghibur sepertimu. Jelas aku yang berpendidikan dan punya tata krama kalah dari gundik yang bisanya cuma melebarkan paha demi mendapatkan rupiah untuk makan sepertimu."


"Kamu!" Mauren menggeram. Ia berdiri sembari memukul meja dengan keras. Buku-buku jarinya tampak memutih ketika dia mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ayolah, Mauren! Kenapa kamu tersinggung? Itu kan, fakta." Varissa menyeringai puas melihat emosi Mauren perlahan mulai terpancing. "Bukannya keahlianmu memang cuma ngangkang?" imbuh Varissa yang semakin menambah bara di dihati Mauren.


Dikta yang duduk disamping istrinya tersenyum tipis. Sepertinya, sisi lain dari istri baiknya mulai terbangkitkan.


"Tunggu saja kamu! Kalau aku bebas dari sini, akan ku rebut suamimu agar kamu kembali terluka. Kita lihat, bisa apa kamu setelah suami yang kau banggakan itu bertekuk lutut dibawah kakiku," ucap Mauren dengan tawa puas.


Varissa melirik sekilas Dikta yang tampak sangat tidak setuju dengan Mauren. Hellooo... Siapa juga yang minat dengan wanita seperti Mauren? Memangnya, Dikta tidak waras?


"Menurutmu, dengan tampang sejelek itu, suamiku akan mau? Maaf, Mauren! Penglihatan suamiku sangat sehat. Beda dengan Erik yang dulu memang sedikit rabun," balas Varissa sambil memeluk lengan Dikta. Sengaja ingin memanas-manasi perempuan tak tahu diri itu.


"Jangan bangga dulu, Varissa! Kalau aku sudah oplas, kamu pikir wajahku akan tetap seperti ini?"


"Uang darimana? Memangnya, hartamu masih ada yang tersisa?" tanya Varissa lagi. Tak ada tanda-tanda wanita itu akan mengalah begitu saja pada pelakor seperti Mauren.


Mauren semakin geram mendengar ucapan Varissa. Dalam sekali sentakan, dia berhasil menarik rambut panjang Varissa.


Varissa tak mau kalah. Dengan sigap, dia berdiri dari kursinya dan balas menjambak rambut Mauren. Satu tangannya sengaja memegang pipi Mauren yang masih sakit hingga perbannya terlepas.


Usaha Varissa berhasil. Mauren segera melepaskan tangannya dari rambut Varissa dan berusaha memegang pipinya yang kembali berdarah akibat cakaran Varissa.


"Sakit," ringis wanita itu.


"Itu masih belum seberapa, Mauren!" Varissa kembali maju. Dia menarik kerah baju tahanan Mauren dan ditamparnya sebelah pipi Mauren yang tidak terluka berkali-kali tanpa perlawanan dari wanita yang terlanjur kesakitan itu.


"Seharusnya aku lakukan ini sejak dulu," ucap Varissa disela tamparannya.


"Bukannya kamu perempuan berkelas dan bertata Krama? Kenapa kamu lakukan ini, Varissa?" teriak Mauren yang tidak berdaya dipojok ruangan.


"Sebaik apapun aku di luar sana, namun tetap saja aku wanita, Mauren! Lagipula, nggak ada salahnya aku memukulmu bahkan sampai mati didalam ruangan ini. Toh, uangku banyak. Aku bisa saja menutup semua mulut orang-orang agar tidak ada yang membahas tentang kematian kamu setelah ini."

__ADS_1


"Ternyata, kamu juga sama saja, Varissa! Dasar, perempuan sok suci. Padahal, aslinya kamu lebih jahat. Akan ku beritahu orang-orang seperti apa wajah aslimu setelah ini," ucap Mauren murka.


"Aku jahat kepada orang-orang yang jauh lebih jahat, Mauren! Untuk apa mengasihani perempuan hina seperti kamu, hah? Bahkan, dengan teganya kamu membiarkan anak kamu sendiri meninggal di luar sana."


"Itu bukan urusanmu, Varissa. Lagipula, anak sial itu memang sepantasnya tidak dilahirkan," dengus Mauren kesal.


Varissa kehabisan kata-kata. Mata hati Mauren benar-benar sudah tertutup. Lihatlah, wajahnya! Tak sedikit pun ada raut penyesalan di wajah itu bahkan ketika Varissa mengungkit tentang anak yang sudah dia terlantarkan hingga meninggal. Inikah gambaran manusia tak punya hati?


"Kamu benar-benar bukan manusia lagi, Mauren! Kamu iblis!" lirih Varissa dengan mata memerah.


Mauren tertawa lebar. "Baru sadar, hah?"


PLAK!!


Satu tamparan kembali Varissa daratkan dipipi Mauren.


"Lihat aja, Mauren! Karma pasti akan mengejarmu secepatnya."


"Aku tunggu! Hahahaha.... Aku tunggu, Va! Kita lihat saja nanti!" ungkapnya penuh percaya diri.


"Kamu...," Varissa kembali menampar pipi Mauren berkali-kali hingga sudut bibir wanita tak punya hati itu mengeluarkan darah.


"Sudah, Sayang!" Dikta segera menangkap tubuh istrinya dan berusaha menenangkan Varissa yang kalap. Jika terus dibiarkan, maka Mauren bisa-bisa akan benar-benar meninggal.


"Tapi, dia sudah keterlaluan," ucap Varissa gemas.


"Biarkan saja! Karma yang dia tantang itu akan segera datang. Kita lihat saja," ungkap Dikta dengan bibir menyeringai seraya menatap Mauren dengan tajam.


"Hah... Semoga kamu nggak akan pernah menyesal, Mauren!"

__ADS_1


Mauren tak menjawab. Panas dipipi bekas tamparan Varissa terasa begitu nyeri. Belum lagi, pipi sebelahnya juga sangat sakit dan terus mengucurkan darah. Dia kembali merasa lemas. Dengan kondisi yang sepenuhnya belum pulih, dia kewalahan melawan Varissa yang sehat bugar.


"Awas kamu, Va!" geram Mauren dengan tangan terkepal.


__ADS_2