
Dada Erik bergemuruh hebat saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya pagi tadi. Harusnya, hari ini dia mulai cuti mengingat pernikahan yang akan berlangsung tiga hari lagi. Namun, sebuah kabar tak mengenakkan tiba-tiba singgah tanpa adanya angin apalagi hujan. Varissa, hendak melengserkan dirinya dari jabatan sebagai direktur utama dari perusahaan.
Erik tak bisa duduk tenang. Meski tahu bahwa dirinya akan tetap menang, namun kegelisahan tetap hinggap di relung hatinya entah kenapa. Jujur! Dia tak ingin hubungannya bersama Varissa semakin memburuk. Bahkan, Erik tak pernah menyangka bahwa Varissa akan berusaha menyingkirkannya seperti ini.
"Ibu Varissa!" pekik Delina senang ketika sosok wanita itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ruang rapat dengan didampingi oleh Pengacara Reno.
"Delina," sapa Varissa tersenyum. Langkahnya terhenti sesaat. Menghambur memeluk teman sekolahnya itu meski banyak karyawan lain yang melihat.
"Bu, kita di kantor," bisik Delina pelan sambil menepuk pelan punggung Varissa.
"Biarin! Aku nggak peduli, Del! OMG, I Miss you so much, girl!" balas Varissa.
"Me too," jawab Delina sambil menitikkan air mata. "Semoga menang, ya! Fighting!" Delina mengepalkan kedua tinjunya memberi semangat.
"Thank you!" angguk Varissa seraya melanjutkan kembali langkahnya bersama Pengacara Reno.
Tegang. Itu yang Varissa rasakan saat pertama kali menginjakkan kembali kedua kakinya di ruang rapat yang sudah sangat lama tidak ia masuki itu. Seluruh mata yang hadir disana langsung tertuju padanya. Tak terkecuali Erik.
"Kamu akan menyesal udah mempermalukan aku, Va!", ancam Erik berbisik.
"Kita lihat nanti saja, Pak Erik! Saya atau anda yang akan menang!" balas Varissa tak kalah mengintimidasi.
Erik menggeram kesal. Dia kembali duduk di kursinya dengan amarah yang meluap-luap.Tak peduli meski beberapa orang tampak menatap sedikit keberatan akan kelakuannya itu.
Pemungutan suara yang berlangsung sejauh ini tampak lebih mengunggulkan Erik. 30 banding 35 persen suara, sudah cukup membuat lelaki itu merasa berada diatas angin. Namun, tak sedikitpun rasa gentar yang memenuhi relung hati Varissa. Dia masih berkeyakinan mampu merebut kembali kursi yang sempat ia berikan kepada seorang lelaki yang ternyata tidak amanah untuk menjaga.
"Maaf, saya terlambat!"
Suara bariton itu memecah ketegangan yang sempat tercipta. Pria dengan setelan jas rapi tersebut memasuki ruang rapat lalu bergabung bersama anggota dewan direksi yang lain tanpa merasa terganggu meski bisik-bisik riuh mulai terdengar membicarakan dirinya.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Seorang Gisam Butena yang terkenal sebagai seorang investor perusahaan-perusahaan besar, baru kali ini terlihat terlibat dalam sebuah rapat dewan direksi seperti sekarang. Itu bukan gayanya mengingat betapa bencinya lelaki itu terhadap sesuatu yang menurutnya terlalu rumit.
Satu gerakan tangan darinya, sudah cukup membuat Sekretaris pribadi yang sedari tadi mengekor dibelakangnya menyerahkan sebuah map pada moderator yang memimpin jalannya rapat.
"Suara untuk Ibu Varissa Azalea bertambah 3 persen yang artinya bertambah menjadi 33 persen!"
Riuh bisik-bisik mulai terdengar kembali. Semua tampak tak percaya bahwa seorang Gisam Butena mampu memberikan suaranya kepada Varissa yang notabenenya merupakan seorang wanita. Padahal, Gisam terkenal kurang mempercayai seorang wanita untuk menjadi pemimpin di sebuah perusahaan.
"Berubah pikiran, itu hal yang wajar, kan?" ujar Gisam memberi pembelaan. Tak ada komentar. Semua memilih diam termasuk Erik.
"Saya rasa, hasilnya sudah bisa diumumkan sekarang!" Pihak Erik mulai menyerang.
"Kita masih harus menunggu dua orang lagi!" Pak Reno menginterupsi.
"Mereka tidak akan datang!" Pihak Erik tetap berusaha menyudahi pemungutan suara sampai di sini.
Pemegang saham yang berdiri di pihak Varissa tampak mulai gelisah. Mereka kemungkinan besar akan kalah jika tak ada keajaiban yang menaungi mereka untuk saat ini. Dua orang yang mereka tunggu adalah dua orang yang tidak pernah muncul selama ini meski ada hal apapun yang terjadi pada perusahaan. Mereka berdua merupakan sosok yang tak pernah terungkap dan hanya berhubungan dengan yang lain lewat email atau sekadar panggilan telepon.
Varissa memejamkan matanya seraya tertunduk sejenak. Berdoa dalam hati semoga hal yang dia perjuangkan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Apa saya terlambat?" Seorang wanita tua memasuki ruang rapat sambil dipapah oleh seorang wanita muda. Dia duduk tepat di samping Varissa sambil menebar senyum bersahaja pada perempuan cantik itu.
"Oma Dhena?" tebak Varissa ragu.
"Kau masih ingat Oma?" Perempuan tua itu terkekeh lalu mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Di mintanya perempuan muda yang memapahnya tadi untuk memberi map tersebut kepada sang moderator.
"Aku Dhena Rasyanda. Memberikan suara untuk Ibu Varissa Azalea!" kata wanita tua itu seraya menepuk bahu Varissa pelan. Sebelah matanya mengerling manja. Seolah mengisyaratkan bahwa semua akan menjadi baik-baik saja.
Tinju Erik terkepal dibawah meja. Nafasnya mulai memburu kasar. Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa Varissa dapat meyakinkan seorang Dhena Rasyanda untuk hadir ditengah-tengah mereka untuk saat ini? Sejak kapan, mantan istrinya punya power sekuat itu untuk menggoyahkan keras kepala wanita tua tersebut? Padahal, Dhena Rasyanda bukan tipikal orang yang suka ikut campur seperti ini.
__ADS_1
"Kedudukan sekarang imbang! Tapi, dikaji dari beberapa kesalahan yang Bapak Erik lakukan selama ini, sepertinya sudah cukup untuk melengserkan beliau dari posisinya yang sekarang!"
"Tapi, tidak ada bukti kalau semua dana perusahaan saya yang menggelapkan! Lihat sendiri, kan?" Erik menepuk-nepuk kertas yang ada ditangannya. "Ini semua atas nama Bapak Sugandi. Bukan atas nama saya."
Licik. Erik memang sepintar itu. Agar terhindar dari pemecatan, selama ini dia mencuci uang menggunakan nama pamannya sendiri. Suami adik dari ibunya yang ia angkat sebagai Direktur pemasaran. Sedikit uang untuk tutup mulut, sudah cukup melancarkan aksinya tanpa perlu takut akan dampaknya di kemudian hari. Selama tak ada bukti yang mengarah padanya, maka semua aman terkendali.
"Kalian tidak berhak memecat saya atas tuduhan penggelapan jika tak ada bukti! Apalagi, jumlah suara yang sekarang terkumpul, jelas menunjukkan bahwa saya tidak bisa di perlakukan seperti ini. Hanya pemegang saham terbesar yang berhak melakukan pemecatan terhadap saya!" ucap Erik penuh percaya diri. Pasalnya, dia tahu betul bahwa sang pemilik saham terbesar tidak akan pernah datang mengingat pria itu katanya tidak tinggal didalam negeri.
Seluruh tubuh Varissa bergetar karena marah. Bodohnya dia pernah mencintai lelaki selicik Erik selama ini. Bahkan, kini warna asli Erik semakin terlihat. Manusia serakah itu memang tidak tahu malu.
"Kalau begitu, dengan berat hati, saya harus katakan kalau anda sekarang resmi di pecat, Bapak Erik Evansyah!" Suara itu menggelegar seiring berjalannya seorang pria tampan memasuki ruang rapat. Meski sedang tersenyum, namun auranya cukup membuat atmosfer seketika berubah. Angin kini kembali berbalik arah dalam hitungan detik.
"Ah, perkenalkan! Saya Ryan Edgar! Pemilik saham 15 persen dari Good Food Corporation!" ucap lelaki itu memperkenalkan diri saat semua mata tampak mempertanyakan siapa dirinya. Terkecuali Gisam Butena dan Dhena Rasyanda. Dua orang itu tampak biasa dan malah menganggukkan kepala memberi salam.
Sang moderator menerima map yang diberikan lelaki itu dengan tangan bergetar. Saat mencocokkan semua data perusahaan dengan data yang dibawa lelaki itu, sang moderator mengumumkan secara resmi bahwa pria itu benar Ryan Edgar. Sang pemilik saham terbesar yang baru pertama kali semua orang lihat.
"Jadi, bagaimana? Bukankah Bapak Erik sekarang sudah bisa menerima pemecatan ini dengan lapang dada?"
Erik terperosok di kursinya. Seluruh persendian yang melekat di tubuhnya seolah mati rasa. Tak berguna. Apa yang baru saja dia dengar? Dia di pecat? Terlebih lagi oleh pria itu?
"Dikta?" gumam Erik setengah tak percaya.
Lelaki itu mengangguk. "Ya, saya Pradikta Anantavirya. Putra angkat Bapak Hadi Ananta yang selama 7 tahun belakangan berganti nama sebagai Ryan Edgar selama tinggal di Amsterdam."
Tak hanya anggota dewan direksi saja yang terkejut. Varissa juga. Rahangnya bahkan nyaris terjatuh saat mengetahui siapa pemilik saham terbesar di perusahaannya. Bukan dia. Bukan pula Erik. Melainkan, Dikta.
__ADS_1