
Tawa renyah Dikta terdengar memecah hening ditengah kegelapan malam. Bulan benderang dikelilingi bintang diatas sana menjadi pemandangan yang sedap dipandang sebagai penerbang lara. Asap pekat melayang di udara ketika lelaki itu mengembuskannya usai menghisap sebatang rokok dalam-dalam.
Varissa mencebik. Mood-nya terjun bebas mendengar tawa Dikta yang masih terus-menerus mengolok dirinya karena kejadian keselek bakso disaat makan malam tadi.
Selesai merokok, Dikta berpindah untuk duduk di gazebo tepi kolam renang bersama Varissa. Bangku putih yang berjarak sekitar dua meter dari gazebo itu sudah ia tinggalkan. Waktunya menenangkan kekesalan Varissa usai dia memuaskan diri dengan kebiasaan rutinnya setelah makan itu.
"Kenapa nggak ngerokok disini aja, sih? Jauh amat sampai ke sana-sana." Meski kesal karena diolok terus-terusan, namun Varissa masih saja memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Asapnya bahaya buat kamu, Va!" jawab Dikta lembut.
"Buat kamu juga bahaya, tapi masih dilakuin," sergah wanita yang duduk di sampingnya.
Dikta mengangguk membenarkan perkataan Varissa. "Tapi, untuk perokok pasif, jauh lebih bahaya."
Varissa mengerucutkan bibirnya. Wanita itu mengendikkan bahu mendengar ucapan Dikta. Terserahlah!
"Perusahaan, gimana?" tanya Dikta mengalihkan pembicaraan.
"Masih kurang stabil. Tapi, setidaknya keuangan kita sudah sedikit membaik."
"Pabrik yang dijual Erik di Majalengka, statusnya gimana?"
"Sudah diambil kembali sama perusahaan karena terbukti proses jual-belinya dilakukan secara ilegal. Tapi, ya gitu. Masih belum bisa beroperasi sebelum kasus ini benar-benar selesai."
"Dan...," Ragu bersarang dihati Dikta untuk melanjutkan. "Kamu tetap nggak mau memenjarakan Erik?"
Varissa menggeleng. Tatapannya tertuju pada bias cahaya lampu yang mengenai air kolam. Sedikit tersenyum, dia menjelaskan secara gamblang kepada Dikta mengenai alasannya untuk tak memenjarakan Erik.
"Biar bagaimanapun, aku juga berhutang budi sama Mas Erik. Saat Papa meninggal, dia selalu berada di samping aku. Dia bahkan berhasil mencegah aksi nekat aku untuk bunuh diri karena frustasi ditinggalkan Papa." Varissa menatap manik tajam yang menagih penjelasan lebih terhadapnya dengan senyuman tipis. "Andai bukan karena dia, mungkin aku sudah menyusul Papa waktu itu dengan cara yang hina. Dia yang berhasil meyakinkan aku bahwa bukan hanya Papa yang aku miliki didunia ini. Meskipun, pada akhirnya aku tahu kalau semua itu palsu di bagian akhir, aku sama sekali tidak menyesali itu. Justru sebaliknya. Berkat pengkhianatan dia, aku jadi dipertemukan kembali sama kamu."
"Apa rasa untuk Erik benar-benar sudah pudar dihati kamu, Va?" tanya Dikta sendu. Tenggorokannya terasa sakit saat dia menanyakan itu kepada Varissa.
"Aku bisa jamin 100 persen kalau cuma Pradikta Anantavirya yang kini menjadi pemilik hati aku," ucap Varissa sembari memegang dadanya dengan bibir tersenyum.
Jawaban itu melegakan ruang hati Dikta. Dalam sekejap, senyum tampan itu kembali menghiasi wajah datarnya. Dia lalu menggenggam erat jemari Varissa. Mengecupnya berulangkali sambil mengelus lembut punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
"Sebenarnya, kita ini pacaran, nggak sih?" Wanita itu bertanya penuh harap-harap cemas.
Dikta menggeleng yang sontak menabur kecewa di wajah Varissa.
"Kita nggak pacaran. Kamu 'kan calon istriku," jawab Dikta sumringah.
Dahi Varissa berkerut heran. Calon istri? Yang benar saja?
"Kamu kapan ngelamarnya, Ta? Main klaim gitu aja!" sungut Varissa dengan tawa sumbang. Buru-buru dia menarik tangannya dari genggaman Dikta dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan kepanikan.
"Ini, aku lagi ngelamar," jawab Dikta santai.
Varissa kembali tertawa. Lamaran macam apa ini?
"Dimana-mana,orang ngelamar itu pakai nanya dulu. Kamu mau nggak nikah sama aku? Gitu, Ta!" terang Varissa dengan kesabaran.
Dikta mengatupkan kedua bibirnya sambil menyandarkan punggung di pinggiran gazebo. Gayanya santai-santai saja tanpa gurat ketegangan sama sekali. Hal itu semakin membuat Varissa terheran-heran, ini orang, serius atau tidak sih?
"Buat apa nanya kalau jawabannya sudah jelas?" Dikta menaikkan kedua alisnya.
"Jelas darimana?" protes wanita itu.
Wajah Varissa mendadak memanas. Angin malam yang semula membuat bulu kuduk sedikit meremang kini mulai tak terasa. Hawa udara mendadak berubah. Dingin malam berganti panas yang mengundang keringat Varissa mulai merembes dari pori-porinya.
"Jangan kepedean." Dia berusaha membuat dirinya tetap tenang meski sepertinya tak cukup untuk menipu penglihatan si tiang telepon pengundang keresahan itu.
Dikta memanyunkan bibir. Kedua tangannya terlipat didepan dada dengan punggung yang tegak. Wajahnya seperti sedang serius memikirkan sesuatu.
"Sekalipun kamu nolak, aku akan tetap maksa kamu. Toh, cincin yang sudah terlanjur terpasang mana bisa di balikin," tutur Dikta.
"Kapan kamu....," ucapan Varissa terpotong tiba-tiba ketika tak sengaja dia menemukan sebuah cincin dengan permata berwarna biru ternyata sudah melingkar manis di jari manisnya. Wanita itu menutup mulutnya yang terbuka takjub dengan tangan, sambil matanya terus terbelalak menatap cincin indah itu.
"Ta, kapan kamu...," Dia tak mampu berkata-kata lagi. Cincin indah itu sudah benar-benar membuyarkan fokusnya.
"Tadi, pas aku genggam tangan kamu," jawab Dikta yang mengerti akan hal yang ingin ditanyakan Varissa.
__ADS_1
"Aku kok, bisa nggak tahu?" tanya Varissa yang semakin bertambah takjub.
"Aku kan pesulap!" ujar Dikta berbangga diri.
Tak berselang lama, Dikta beringsut merapatkan tubuhnya dengan tubuh milik wanita itu. Di tangkupnya kedua pipi Varissa dengan tatapan yang saling mengunci satu sama lain. Seketika, Varissa mendadak bisu. Suaranya tiba-tiba menghilang seiring wajah Dikta yang semakin lama semakin bertambah dekat ke wajahnya.
"I love you, Va! Dulu, sekarang dan selamanya," bisik Dikta pelan dengan tatapan sayu.
Deru nafasnya yang cepat menyapu wajah Varissa. Wanita itu berkaca-kaca mendengar pengakuan cinta dari lelaki yang sama sekali tak pernah ia sangka akan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya itu. Pasrah, kini Varissa hanya mampu memejamkan mata. Membiarkan sesuatu terjadi andai waktunya memang sudah tiba sekarang.
Ibu jari Dikta menyapu lembut bibir lembap yang sedikit terbuka milik Varissa. Ia ikut memejamkan mata. Semakin mendekatkan bibirnya untuk mengecap rasa yang sudah sedari lama ia damba. Dan kini, kesempatan itu datang. Waktu 4 bulan lebih yang sudah terlewat menjadi tembok terakhir yang sudah mereka lewati bersama-sama.
"Ternyata, enak juga nyantai di sini!" seru Dokter Imran yang muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Dikta dan Varissa sontak saling menggeser tubuh mereka menjauh. Keduanya sama-sama saling membelakangi dengan posisi sama-sama berada diujung sisi kanan dan kiri gazebo.
"Bunganya bagus. Cantik," gumam Dikta sembari memegang daun bonsai yang berada di samping tiang gazebo.
"Tiangnya kokoh! Hebat!" Varissa juga ikut bergumam omong kosong yang terdengar bodoh sambil memukul-mukul pelan tiang gazebo yang dipeluknya.
Dokter Imran tertawa terbahak-bahak sebelum mengambil tempat duduk ditengah-tengah mereka. Dia menepuk bahu Dikta dan Varissa bersamaan sambil menatap keduanya secara bergantian.
"Jangan suka berduaan kalau belum sah. Nanti, kalau kebablasan, Om juga yang repot."
Varissa dan Dikta sontak saling tengok sebelum kembali membuang pandangan ke arah lain. Kemanapun, asal tidak saling beradu pandang. Ck, memalukan sekali, pakai acara ketahuan segala.
"Kita nggak ngapa-ngapain kok, Om!" sangkal Varissa gugup.
"Bweehh!" Dokter Imran tertawa meremehkan. "Nggak usah bohong! Kalian pikir, kalian bisa membohongi orangtua yang sudah berpengalaman ini?" tanyanya sambil mengangkat alis.
"Gini-gini, Om juga pernah muda. Pernah pacaran bahkan mengalami fase menguji iman seperti kalian sekarang ini."
BLUSH!!
Semakin memerah-lah pipi Varissa.
__ADS_1
"Lihat, tuh!" Dokter Imran menunjuk daun telinga Dikta. "Kuping Dikta sampai merah, gitu! Kamu apain, Va? Di godain, ya?"
Dan, semakin riuh terdengar suara pria paruh baya itu mengisi keheningan malam.