Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Undangan


__ADS_3

Seminggu berlalu. Sebuah undangan pernikahan datang ke rumah Varissa. Amplop hitam berpadu dengan warna gold itu tampak mewah. Dengan foto berpelukan sepasang calon pengantin yang nampak begitu bahagia di bagian depannya.


Wanita itu meringis. Bukan karena melihat nama yang tertera diundangan itu, melainkan karena air perasan jeruk lemon yang ia minum. Bagi Varissa, pernikahan kedua Erik tidak berarti apa-apa baginya.


"Undangan dari siapa, Nyonya? Bagus banget!" Lastri mendekat. Penasaran melihat undangan mewah ditangan Varissa.


"Nih!" Varissa menggeser undangan itu agar Lastri bisa leluasa melihatnya.


Tak sampai 10 detik mengamati, Lastri sudah membanting amplop itu ke lantai. Nafasnya menggebu-gebu dengan tatapan mata tak suka. Betapa menyesalnya dia karena harus penasaran pada undangan pernikahan sepasang manusia laknat itu.


"Memang nggak tahu diri! Baru seminggu cerai, masa' udah mau nikah lagi?"


"Biarin aja, Las! Ngapain di pusingin, sih? Bikin penyakit hati sendiri, tahu!" ujar Varissa menghibur.


"Dasar manusia-manusia sampah!" ART termuda itu menyumpah.


"Sabar!" ucap Varissa seraya menepuk bahu Lastri.


Bisa dibilang, Erik dan Mauren memang sengaja menggelar pernikahan mereka dengan mewah demi pamer kepada Varissa. Semuanya mereka persiapkan dalam waktu singkat tapi menghabiskan budget yang terhitung luar biasa banyak. Tak peduli meski isi tabungan habis dan harus hutang sana-sini. Asal bisa membuat Varissa merasa sedikit hati, hal itu tak seberapa bagi mereka berdua.


"Wah, si janda baru kok bisa ada disini?" ucap Mauren dengan nada sedikit tinggi saat melihat Varissa memasuki butik yang juga dia dan Erik datangi.


Seraya mengembuskan nafas malas saat melihat calon istri mantan suaminya, Varissa memilih putar balik. Hendak keluar dari butik itu sebelum mood bahagianya berubah jadi jelek.


"Mau kemana? Nggak pede ya, ketemu sama saya, Mbak?" tanya Mauren sambil mencegat langkah Varissa. Sudut bibirnya tersenyum sinis. Kedua tangan sengaja ia lipat didepan dada dengan tatapan merendahkan ke arah mantan istri kekasihnya.


Varissa memutar bola matanya malas. "Mbak? Bukannya tua-an situ ya, Tan-te?" balasnya menyindir.


"Ta-tante?" Mauren mendelik. Tersinggung dengan panggilan yang disematkan Varissa untuknya. Tante? Yang benar saja!


"Iya, Tante! Anda lebih tua tujuh tahun dari saya, kan?" lanjut Varissa lagi.


Tangan Mauren terkepal erat. Ingin rasanya dia menampar wajah perempuan dihadapannya itu. Tua? Memangnya, kenapa kalau Mauren lebih tua tujuh tahun darinya?


"Saya mungkin memang lebih tua," Mauren menyeringai. Makin mendekatkan langkahnya pada Varissa yang sedikit lebih pendek darinya. "Tapi, suami kamu jauh lebih mencintai saya dibanding kamu," bisiknya di telinga Varissa.


"Jadi istri itu, jangan cuma sibuk ngurusin dapur. Kayak saya dong! Bisa nyenengin mata suami kamu plus bisa bikin suami kamu puas di atas ranjang," lanjut Mauren tersenyum puas.

__ADS_1


"Puasin suami saya di ranjang?" Varissa tertawa. "Saya akui. Saya memang tidak se-berpengalaman Tante yang sudah tidur dengan banyak pria di luar sana. Tapi, menurut saya, suami saya selingkuh bukan karena alasan itu. Memang dasarnya saja dia yang nggak bisa bersyukur dengan hanya memiliki satu wanita. Lagipula, apa bagusnya punya wanita yang penampilannya nggak ada beda sama lacur? Badan di ekspos sana-sini buat apa? Masa' dinikmati buat rame-rame, sih?"


Kini, giliran Varissa yang melangkah mendekati Mauren. Berjinjit sedikit lalu balik berbisik, "Hati-hati loh, Tante! Biasanya, orang yang selingkuh sekali, pasti akan melakukannya untuk yang kedua kali. Siap-siap aja! Kalau dia bisa selingkuh sama kamu saat masih menikah sama aku, maka jangan heran kalau dia akan selingkuh sama wanita lain saat sudah bersama kamu."


Varissa menyeringai puas saat dilihatnya wajah Mauren yang mulai terlihat panik. Pasti, sedikit banyak, omongan Varissa berhasil mengenai mental pelakor itu.


PLAK!


Mauren reflek menampar Varissa. Dada wanita itu naik turun sambil berusaha meredam amarah yang semakin memuncak.


PLAK!


Varissa tak mau kalah. Tamparan yang dilayangkan Mauren dia balas jauh lebih keras.


"Jangan pernah lancang menyentuh saya!" peringat Varissa tegas.


Mauren mendengus. Pipinya bagai terbakar oleh tamparan keras Varissa yang tak pernah dia sangka-sangka akan semenyakitkan itu.


"Varissa!" teriak lelaki yang melangkah ke arah mereka dengan tergesa-gesa. Ya. Erik yang melihat kekasihnya ditampar oleh mantan istrinya langsung mendekat dan memeriksa keadaan Mauren.


"Apa-apaan kamu, Va? Kamu keterlaluan!" todong Erik penuh kemarahan.


Varissa hampir muntah. Merasa jijik dengan pemandangan yang saat ini dia lihat didepan mata. Baginya, melihat kemesraan Erik dan Mauren sama saja dengan tidak sengaja menemukan kotoran yang tidak di siram saat berada di toilet umum. Gegas, Varissa berbalik dan buru-buru hendak kabur dari sana.


"Varissa!" Tanpa diduga, Erik ternyata menahan tangannya.


"Lepas!" ucap Varissa sambil menghempas lengannya. Buru-buru dia melangkah pergi saat pegangan Erik terlepas.


"Va! Tunggu!" teriak Erik yang masih terus mengejar Varissa.


"Apa?" tanya Varissa yang mau tak mau harus meladeni mantan suaminya itu.


"Aku mau kamu minta maaf sama Mauren. Sekarang!" perintah Erik dengan tegas.


Sepasang alis Varissa berkerut. "Minta maaf? Ngapain?" tanyanya yang merasa tak memiliki salah apa-apa.


"Kamu udah nampar Mauren. Kamu udah permaluin dia di depan umum!" jawab Erik dengan emosi.

__ADS_1


"Mempermalukan dia depan umum?" Lagi-lagi Varissa tertawa. "Dia yang duluan nampar aku, Mas! Apa aku harus diam?"


Erik menghela nafas panjang. "Kalau dia memang nampar kamu duluan, mungkin kamu yang udah bikin dia tersinggung. Mauren itu lagi hamil. Wajar kalau emosinya sedikit labil. Masa' gitu doang, kamu nggak ngerti? Kamu kan wanita juga, Va!"


"Jadi, karena aku wanita, aku harus bisa mengerti posisi dia?" tanya Varissa dengan bibir tersenyum geram.


Ragu, Erik tetap mengangguk meski tatapan matanya tak mampu bertabrakan dengan netra tajam sang mantan istri.


"Sebelum kamu meminta aku untuk mengerti posisi dia, harusnya dia yang lebih dulu mengerti tentang posisi aku, Mas! Kalau dia memang pengertian ke sesama wanita, nggak mungkin dia dengan teganya merebut suami dari wanita lain! Itu salah, Mas! Kamu dan dia sangat tahu akan hal itu!"


Hati Erik mencelos. Sindiran Varissa telak mengenai ulu hatinya. Niat hati hendak menyudutkan mantan istri yang semakin hari semakin terlihat cantik itu, justru kini dia yang malah terpojok akibat omongannya sendiri.


"Udahlah, Va! Semuanya udah lewat. Ngapain masih dipermasalahkan?" ujar Erik mencoba menghindar.


"Aku nggak mempermasalahkan!" Varissa mengendikkan bahunya. "Kamu yang duluan memulai perdebatan ini, Mas!"


"Ya udah, aku mau pergi! Males lihat muka kamu!" tukas Varissa sambil berlalu.


"Tunggu!" tahan Erik.


"Apa lagi, sih?" geram Varissa.


"Apa kamu udah mulai dekat dengan lelaki lain lagi, Va?" tanya Erik dengan tatapan curiga.


"Memangnya, kenapa?"


Erik menatap Varissa dari atas ke bawah. Begitu terus hingga beberapa kali.


"Kamu akhir-akhir ini kayaknya sering dandan. Udah gitu, pakaian kamu kayaknya juga baru."


"Ya iyalah! Kan, aku udah nggak punya suami rewel yang mesti dilayani mulai bangun tidur sampai tidur lagi, Mas! Jadi, waktu aku buat dandan dan perawatan itu banyak banget. Terus, aku juga udah nggak punya mertua dan adik ipar yang harus aku kasih uang bulanan, jadi uangnya aku pakai buat beli baju sama perhiasan baru!" terang Varissa dengan wajah sumringah.


"Aku baru nyadar sekarang loh, Mas!" Varissa menatap Erik sambil menggaruk kecil dagunya. "Selama ini aku terlalu sibuk membahagiakan kamu dan keluarga kamu sampai aku sendiri lupa untuk membahagiakan diri aku sendiri."


"Dan mungkin, kamu nggak pernah menghargai cinta yang aku beri karena kamu menganggap cinta aku terlalu murah untuk kamu hargai." Varissa menghela nafas panjang. Betapa bodohnya dia di masa lalu yang terlalu mengedepankan kebahagiaan suami dan mertuanya hingga lupa pada dirinya sendiri.


"Mungkin memang aku yang salah, Mas! Aku yang terlalu datar dalam hubungan kita selama ini. Aku pikir, dengan selalu mengalah dan menuruti kemauan kamu, itu akan mempertahankan hubungan kita. Tapi, ternyata...," Varissa tersenyum getir.

__ADS_1


"Aku harap kamu bahagia dengan pilihan kamu!" ucapnya sambil menepuk bahu Erik.


Perasaan macam apa ini? Melihat hidup Varissa yang justru terlihat semakin baik saat berpisah dengannya, Erik menjadi tidak senang. Gelisah dan marah bercampur menjadi satu. Perlahan-lahan, sebuah ketakutan menjalar dan merangkak mengisi setiap sudut aliran darahnya. Satu kecemasan mulai terlintas dibenak Erik. Bagaimana andai Varissa jatuh cinta kepada lelaki lain?


__ADS_2